Indonesia
NovelToon NovelToon
TERJERAT TAKDIR

TERJERAT TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masuk RS

"Bu, to... tolongin Bapak..." panggil Pak Bambang terengah-engah. Suaranya hampir tenggelam karena rasa sakit yang luar biasa hebat meremas dadanya.

Napasnya makin sesak, memburu dan patah-patah. Penyakit jantungnya kambuh lagi. Sudah tak sanggup menahan nyeri hebat yang terus menyerang dadanya, Pak Bambang terpaksa merintih memohon bantuan.

"Sakit... arghhh!" keluhnya lagi, tubuhnya gemetar.

Sayang sekali, tidak ada satu orang pun di rumah itu yang peduli. Mereka seolah sengaja menutup telinga dan acuh tak acuh. Jangankan menolong, menengok ke kamarnya sebentar saja tidak ada yang berminat. Karena rasa sakit yang makin tak tertahankan, tubuh Pak Bambang akhirnya ambruk dan jatuh berdebam dari atas kasur.

**BUGHHH!**

Beni yang kebetulan sedang mengambil air minum di dapur mendadak terkejut mendengar suara benturan keras dari arah kamar mertuanya.

"Suara apa itu? Kayak ada yang jatuh." gumam Beni heran pada dirinya sendiri.

"To... long..."

Mendengar bisikan samar meminta tolong dari dalam kamar sang mertua, Beni langsung buru-buru melangkah ke sana. Betapa terkejutnya Beni begitu melihat Pak Bambang sudah tergeletak di lantai sambil mengerang kesakitan.

"Beni... dada Bapak sakit sekali." bisik Pak Bambang sangat lirih sebelum akhirnya kehilangan kesadaran penuh.

"Bapak! Ya ampun!" Beni panik setengah mati dan langsung berteriak memanggil istri serta ibu mertuanya. "Siska! Bu! Cepat ke sini!"

Mendengar teriakan Beni yang kencang, Siska dan Bu Ismi bergegas menghampiri.

"Ada apaan sih, Mas? Malam-malam gini kok teriak-teriak?" cerceh Siska kesal.

"Tahu tuh suamimu, padahal Ibu baru aja mau merem." gerutu Bu Ismi tak kalah sewot.

"Siska, Ibu, lihat ini! Bapak pingsan! Kayaknya penyakit jantungnya kambuh lagi!" seru Beni panik dari ambang pintu kamar Pak Bambang.

"Ck! Bapak kamu itu memang cuma bisa bikin susah aja! Kapan sih nggak nyusahin kita?!" celetuk Bu Ismi kasar.

Bukannya kaget atau khawatir melihat suaminya sendiri tergeletak tak berdaya, Bu Ismi malah sibuk mengomel dan marah-marah. Sementara Siska langsung menerobos masuk ke kamar untuk melihat keadaan ayahnya secara langsung.

"Bapak! Iya, Bu, Bapak pingsan! Terus kita harus gimana ini?!" tanya Siska mulai panik.

Biasanya, semua urusan dan perawatan Pak Bambang selalu dipegang oleh Aira. Tapi sekarang Aira sudah tak ada lagi di rumah itu, membuat Siska benar-benar bingung dan kalang kabut.

"Enggak mungkin kan kita biarin gini aja? Apa kita bawa ke rumah sakit aja sekarang?" usul Beni yang ikut ketakutan melihat kondisi mertuanya.

Sebenarnya, ketidakberadaan Aira di rumah benar-benar membuat seisi rumah kalang kabut. Hanya saja mereka semua terlalu gengsi dan keras kepala untuk mengakuinya. Mereka berpura-pura seolah tidak butuh bantuan Aira.

"Lagian gara-gara nggak ada Aira di rumah, biasanya kan dia yang ngurusin Bapak! Kalau begini kan kita juga yang repot!" keluh Siska jengkel.

Melihat Siska, entah dia benar-benar cemas dengan kondisi ayahnya atau cuma panik karena tidak ada lagi Aira yang bisa dijadikan 'tulang punggung' dan pelayan untuk merawat Pak Bambang.

"Ya udah, bawa aja sana ke rumah sakit! Nanti kalau mati di sini, malah makin bikin kita repot!" sembur Bu Ismi emosi tanpa rasa kasihan sedikit pun.

"Masa aku sendiri yang ngangkat, Bu? Mana kuat aku!" keluh Beni keberatan.

"Aduh, Mas! Kamu kan laki-laki, masa iya harus aku?!" omel Siska.

Mau tidak mau, Beni akhirnya menggendong Pak Bambang sendirian untuk dibawa ke rumah sakit menggunakan mobilnya.

"Siska, kamu aja yang ikut ke rumah sakit. Ibu di rumah aja jaga Karin. Ibu takut Karin nekat ngapa-ngapain, kamu kan tahu sendiri dia lagi patah hati." perintah Bu Ismi santai.

"Ih, enggak mau ah! Kok jadi Siska sih, Bu? Siska kan lagi hamil, mana besok harus kerja lagi! Kata dokter Siska enggak boleh kecapekan!" tolak Siska tak mau kalah. "Ibu sih, pakai ngusir Aira segala dari rumah! Kalau udah gini kan kita sendiri yang ketiban repot!" lanjut Siska malah menyalahkan ibunya.

"Kok malah Ibu yang disalahin?! Aira itu pergi atas kemauannya sendiri, bukan Ibu yang ngusir! Gimana sih kamu?!" tangkis Bu Ismi sengit.

"Siska, Ibu! Cepat buruan!" teriak Beni dari luar karena istri dan ibu mertuanya tak kunjung keluar rumah.

"Udah, pokoknya Ibu harus ikut! Ibu kan istrinya!" tegas Siska.

"Kamu juga anaknya!" balas Bu Ismi enggan mengalah.

"Ya udah, kita berdua aja yang ikut biar adil! Karin enggak akan kenapa-napa kok sendirian di rumah sebentar. Nanti juga kita balik lagi. Toh di rumah sakit kan udah ada dokter sama perawat yang nanganin Bapak." putus Siska egois.

Akhirnya, Bu Ismi terpaksa ikut ke rumah sakit.

Sesampainya di emergency, Pak Bambang langsung ditangani dengan cepat oleh tim medis.

"Kalau begini terus, kita harus keluar uang lagi. Duit dari mana coba buat bayar tagihan rumah sakit? Uang hasil nggadaikan rumah aja udah makin tipis, padahal rencananya kan mau dibalikin lagi!" cerocos Bu Ismi panik memikirkan uang.

"Siska sama Mas Beni juga enggak bisa bantu ya, Bu. Kita lagi butuh biaya besar buat persiapan lahiran nanti. Apalagi kita belum beli perlengkapan buat bayi aku sama sekali." potong Siska lepas tangan.

"Iya, Bu. Kemarin kan uangnya udah dikasih 5 juta buat nyumbang di acara nikahannya Karin. Eh, malah orangnya enggak jadi nikah!" timpal Beni ketus.

Bu Ismi cuma bisa bungkam seketika. Gara-gara rencana pernikahan Karin yang gagal itu, dia memang sudah menguras banyak uang untuk belanja kebutuhan hajatan hingga DP ke sana-sini. Belum lagi Karin yang banyak mau dan menuntut semuanya harus serba mewah.

"Apa kita hubungin Aira aja ya, Bu?" cetus Siska memberi ide.

"Halah, percuma aja! Dia enggak bakal sanggup bayarin biaya rumah sakit. Wong dia itu cuma pengangguran, suaminya juga cuma kuli bangunan! Apa yang bisa kita harapin dari dia?!" cibir Bu Ismi masih saja meremehkan putri dan menantunya.

"Tapi setidaknya kan dia bisa disuruh nemenin dan jagain Bapak di sini." sahut Siska.

"Iya juga sih. Ya udah, besok aja kamu hubungin si Aira biar dia yang urus dan jagain Bapaknya di sini." pukas Bu Ismi asal.

Tiba-tiba, pintu ruangan UGD terbuka.

"Dengan keluarga pasien?" panggil sang dokter yang baru keluar.

"Saya, Dok!" Siska, Bu Ismi, dan Beni langsung merapat. "Gimana keadaan Bapak saya, Dok?" tanya Siska.

"Setelah kami periksa, pasien mengalami tekanan berat di bagian dada akibat berkurangnya aliran darah ke jantung, atau yang dikenal dengan sebutan Angina." terang dokter. "Kondisinya sudah tidak bisa lagi dikontrol hanya dengan obat-obatan, sehingga pasien harus segera menjalani tindakan pemasangan ring jantung secepatnya."

Mendengar penjelasan dokter, Bu Ismi dan anak-anaknya mendadak lemas dilanda kecemasan hebat.

"Ka... kalau untuk biaya operasinya, kira-kira berapa ya, Dok?" tanya Bu Ismi gugup dengan wajah pucat.

Berikut adalah lanjutan revisi untuk bagian akhir "Untuk biayanya... kurang lebih sekitar 40 juta rupiah." ujar sang dokter menjelaskan.

*Deg!*

Bu Ismi, Siska, dan Beni seketika menelan ludah dengan kasar. Angka 40 juta bagai petir yang menyambar di telinga mereka. Bagi Bu Ismi, nominal sebesar itu sangatlah fantastis. Padahal selama ini dia selalu membangga-banggakan kedua anaknya yang dianggap paling sukses dan berada, tapi begitu dihadapkan dengan angka puluhan juta, mentalnya langsung ciut.

Pada akhirnya, mau tidak mau Bu Ismi mengangguk setuju untuk tindakan pemasangan ring jantung tersebut. Jahat-jahat begitu, tidak mungkin juga dia membiarkan suaminya mati konyol begitu saja.

"Ya ampun, Sis... mahal banget sih!" cerocos Bu Ismi begitu dokter berlalu, mengomel setengah berbisik. "Bapakmu itu bener-bener ya, hidup cuma bikin susah keluarga aja! Uang 40 juta itu gede banget!"

"Aduh, Siska juga pusing, Bu..." sahut Siska sambil memijit pelipisnya.

"Nggak mungkin juga kan kalau kita patungan?" sela Beni cepat-cepat, tak mau rugi. "40 juta dibagi empat kan jatuhnya 10 juta per orang. Aku sama Siska mana ada uang segitu!"

"Ah, udah lah! Ibu mau pulang aja. Bisa gila lama-lama di sini cuma buat nungguin bapakmu!" sergah Bu Ismi tak sabaran.

"Loh, kok Ibu malah mau pulang sih?!" protes Siska tak terima. "Siska sama Mas Beni juga butuh istirahat, Bu! Besok kita kan harus kerja!"

"Ya udah, kalau gitu kita pulang barengan aja semua!" kata Bu Ismi asal. "Ibu juga kepikiran sama Karin kalau ditinggal sendirian di rumah. Takut dia nekat macem-macem gara-gara lagi frustrasi!"

Luar biasa! Kalau soal Karin yang gagal nikah dan bikin uang puluhan juta melayang sia-sia, Bu Ismi sama sekali tidak mempermasalahkannya. Padahal Karin sudah menghamburkan begitu banyak uang demi gengsi pernikahan mewahnya yang berujung batal itu.

"Terus... Bapak gimana, Bu? Masa ditinggal begitu aja?" tanya Siska ragu.

"Halah, udah! Gak usah terlalu dipikirin." kibas Bu Ismi santai. "Di sini kan bertabur dokter sama perawat yang ngurusin. Yang penting biaya udah kita beresin dan Bapak juga udah ditangani dokter, kan?"

Benar-benar tak habis pikir! Begitu tega Bu Ismi dan Siska meninggalkan Pak Bambang sendirian di kamar rawat rumah sakit. Ya, memang sudah ada dokter dan suster, tapi membiarkan orang tua yang baru kritis sendirian tanpa ada satu pun keluarga yang menemani sungguh keterlaluan. Sejak Pak Bambang sakit-sakitan, sikap Bu Ismi memang makin tak berhati nurani. Mentang-mentang suaminya itu sudah tidak bisa menghasilkan uang lagi.

...****************...

Di tempat lain, Aira mendadak terbangun dari tidurnya. Perasaannya diliputi gelisah yang luar biasa.

"Kamu kenapa, Sayang? Kok miring kanan miring kiri terus, gak bisa tidur?" tanya Devan lembut sambil mengusap punggung istrinya.

"Enggak tahu nih, Mas..." sahut Aira pelan, merapatkan tubuhnya ke Devan. "Tiba-tiba hatiku rasanya ganjal dan gelisah banget. Aku... jadi kepikiran Bapak." bisiknya jujur.

Devan tersenyum menenangkan, mengelus kepala Aira penuh kehangatan. "Mungkin kamu cuma lagi kangen sama Bapak. Tenang ya, besok kan hari pernikahan adikmu, kita bakal datang ke rumahmu dan ketemu Bapak." hibur Devan.

Aira terdiam sejenak, menghela napas berat. "Gak ada aku di rumah... kira-kira siapa ya Mas yang ngurusin Bapak? Aku takut banget mereka pada cuek dan nelantarin Bapak, padahal Bapak kan lagi sakit..."

"Mas paham banget perasaanmu, Sayang." bisik Devan lembut sambil mengecup dahi Aira. "Tapi sekarang udah larut malam. Kamu istirahat dulu ya, biar besok fit pas kita temui Bapak."

Aira akhirnya mengangguk pelan. Mengingat waktu yang sudah larut, memang tidak memungkinkan baginya untuk nekat menerobos malam ke rumah orang tuanya. Meski hatinya masih dibelit rasa cemas yang teramat sangat, Aira mencoba memejamkan mata di dalam pelukan hangat Devan.

**Bersambung**

1
Sri Supriatin
Lanjut thor 😍😍😍😍
Meee
Devan kasih tau Aira KLO Raka dan ibunya bukan orang tua kndungmu,jangn sampai Aira yng polos termakan rayuan dua ular.
Sri Supriatin
Tks upnya thor😍😍💪💪💪
Sri Supriatin
Lagi bayangin thor n lanjuuut 👍👍😍😍
Sri Supriatin
Lanjuuut thor👍👍👍👍😍😍😍
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍🙏🙏🙏
Sri Supriatin
Kalau maling mah pasti ketangkap
Sri Supriatin
Eeh ada ngohiang Bogor selalu ku incar klu pul ke Bogor.... Asinan n talas 👍👍👍
Sri Supriatin
Susah klu anak lebih dr satu bagi rasa sayang... Tapi kalau bedainnya ky bu Ismi sih kebangetan🤭🤭
Sri Supriatin
Ha ha Anggun kn getahnya... Arum kan cuma mak tiri🤣🤣🤣
Sri Supriatin
Ha ha kapok Arum🤭🤣🤣🤣
Sri Supriatin
Karma dr perbuatan kalian🤭🤭
Sri Supriatin
Mampus Bagas🤣🤣🤣 mana setuju oma nyuntik dana🤭😄😄😄
Meee
pecat aja tuh si Bagas,mulutnya nyinyir banget blom tau dia 🤭🤭
Sri Supriatin
Mimpi Bagas malah kamu yg ditendang🤣🤣🤣
Sri Supriatin
Kaget kan liat undangannya.... Apalagi nnti liat pestanya 🤭🤭😄😄😄😄
Meee
ada seorang ibu seperti itu,gara"Aira terlahir bukan laki".
Sri Supriatin
Ngak sabar nunggu pestanya Devan n Aria di gelar 😍😍😍
Sri Supriatin
Nah karmakN?
Sri Supriatin
Goed job Devan 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!