Indonesia
NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjelasan

Suasana di meja makan berangsur-angsur berubah menjadi keheningan yang menyesakkan, setidaknya bagi Clyrine. Iga bakar pedas manis yang biasanya menjadi menu favoritnya kini terasa seperti bongkahan hambar di lidah. Ia hanya mengorek-ngorek saus di piringnya, menusuk sepotong kecil daging tanpa benar-benar berniat mengunyahnya.

Kepalanya terlalu bising. Setiap kali bibirnya bergerak, sensasi sengatan hangat, aroma kopi hitam, dan rasa lembut yang menggelegar dari ciuman Damien beberapa menit lalu kembali menyengat ingatannya tanpa ampun. Wajahnya yang sempat mendingin seketika menghangat lagi setiap kali ia teringat bagaimana bibir Damien melumatnya pelan.

"Tumben lo nggak habis, Cly?" celetuk Adrian memecah lamunan, mengelap mulutnya dengan selembar tisu setelah menandaskan iga bakarnya sendiri. Kening pemuda itu berkerut menatap piring Clyrine yang masih tersisa separuh lebih. "Biasanya lo sanggup nambah nasi dua mangkuk kalau makan iga bakar di sini."

Clyrine meletakkan garpunya dengan dentingan pelan ke piring. Ia menunduk, sengaja tidak melirik ke sisi kanannya di mana sosok Damien duduk bersedekap dengan aura dominan yang menekan.

"Kenyang," sahut Clyrine pelan dan pendek, nada bicaranya sangat tidak mencerminkan dirinya yang biasa berisik.

Adrian melirik jam di pergelangan tangannya, lalu tersenyum santai. "Yaudah kalau kenyang. Habis ini mau ke mana lagi? Mumpung masih siang, mau keliling dulu ke tempat lama atau mau cari es krim?"

Belum sempat Clyrine membuka mulut untuk menyambut tawaran kabur itu, suara bariton di sebelahnya memotong dengan nada dingin dan mutlak.

"Dia pulang bareng gue," tukas Damien tanpa ragu sedetik pun. Pria itu menurunkan kedua tangannya dari dada, menatap lurus ke arah Adrian dengan ekspresi yang tak terbantahkan. "Dia masih harus belajar."

Adrian tersentak kecil, lalu menoleh menatap Clyrine dengan pandangan bingung sekaligus memastikan. "Benar, Cly? Bukannya tadi lo bilang mau main dulu sama gue?"

Clyrine mendongak, berniat menyanggah dan menolak Damien mentah-mentah. Namun begitu manik matanya bertumbukan dengan netra gelap Damien, kata-katanya seketika tercekat di pangkal tenggorokan.

Damien tidak berbicara, tetapi tatapan matanya yang tajam dan sedikit menyipit menatap lurus ke bibir Clyrine yang masih agak memerah, sebelum naik kembali mengunci matanya. Sorot mata pria itu memancarkan pesan intimidasi yang teramat jelas: Kalau lo nggak nurut, gue bakal bongkar apa yang baru saja terjadi di balik bilik ini ke teman lo.

Darah Clyrine berdesir panas menahan malu sekaligus dongkol setengah mati. Pria licik ini benar-benar tahu titik lemahnya! Menghadapi ancaman terselubung itu, Clyrine akhirnya mengepalkan kedua tangannya di atas paha dan memaksakan seulas senyum kaku ke arah Adrian.

"I-iya, Ian... gue lupa ada materi susulan yang harus gue kerjain sama dia," jawab Clyrine terbata-bata, menelan rasa kesalnya bulat-bulat. "Gue duluan ya."

"Oh... yaudah kalau gitu, next time kita jalan lagi," balas Adrian mengangguk maklum seraya tersenyum ramah. "Sampai ketemu di sekolah besok ya, Cly."

"Yuk," pamit Clyrine cepat, langsung bangkit dari kursi dan menyampirkan tas ranselnya ke bahu tanpa menunggu Damien lagi.

Ia melangkah cepat keluar dari restoran, mendorong pintu kaca dengan hentakan agak keras demi menyalurkan emosinya yang membuncah. Damien meletakkan selembar uang pecahan besar di atas meja untuk membayar seluruh pesanan mereka bertiga, mengangguk singkat pada Adrian, lalu berderap mengejar langkah tergesa Clyrine.

Langkah kaki Clyrine terhenti di samping pintu penumpang depan sedan hitam Damien yang terparkir di seberang jalan. Begitu remote otomatis berbunyi klik, Clyrine langsung menyentak pintu hingga terbuka, melempar tasnya ke lantai bawah kursi, lalu menghempaskan tubuhnya ke jok kulit dengan napas memburu.

Brak!

Pintu mobil dibantingnya dengan sangat keras.

Damien masuk ke balik kemudi beberapa detik kemudian. Ia menutup pintunya dengan tenang, lalu tanpa membuang waktu menekan tombol pengunci pintu otomatis.

Clack.

Bunyi mekanisme kunci mobil yang mengunci dari dalam membuat kesabaran Clyrine yang setipis benang putus seketika.

Gadis itu langsung memutar tubuhnya menghadap Damien, matanya melotot tajam dengan kobaran amarah yang tak lagi ia tahan.

"Lo gila ya, Kak?!" sembur Clyrine dengan suara bergetar menahan luapan emosi. "Maksud lo apa tadi di restoran?! Lo pikir lo siapa bisa seenaknya nyosor bibir orang sembarangan kayak tadi?!"

Damien tidak langsung menyalakan mesin. Kedua tangannya bertumpu santai di atas lingkar kemudi, matanya menatap lurus ke depan seolah sedang mengabaikan luapan amarah gadis di sampingnya. Namun jika diperhatikan lebih dekat, ada gurat ketegangan yang sangat nyata di rahangnya yang terkatup rapat.

Sikap dingin itu justru membuat Clyrine makin kalap.

"Jawab, Kak! Jangan pura-pura budeg!" seru Clyrine, jemarinya mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Itu ciuman pertama gue, tahu nggak?! First kiss gue! Dan lo ambil gitu aja di bilik warung makan cuma gara-gara lo cemburu nggak jelas?!"

Dada Clyrine naik-turun seiring napasnya yang memburu hebat. Bayangan rasa bersalah dan kebingungan bercampur baur di kepalanya. "Kita ini nggak punya hubungan apa-apa! Lo cuma tutor gue, lo cuma temannya Kak Alaric! Lo nggak punya hak buat ngatur gue harus senyum ke siapa, apalagi sampai nyentuh gue kayak tadi!"

Kata-kata "kita ini nggak punya hubungan apa-apa" seketika membuat tangan Damien di atas setir mencengkeram kulit pembungkus kemudi begitu kuat.

Damien perlahan memalingkan kepalanya, menatap lurus ke manik mata oranye-tembaga Clyrine yang mulai berkaca-kaca karena amarah dan rasa campur aduk. Manik mata gelap pria itu menggelap pekat, menghadirkan intensitas yang membuat Clyrine refleks menahan napasnya.

"Lo pikir cuma lo yang kehilangan ciuman pertama lo siang ini?" desis Damien dengan suara baritonnya yang teramat rendah, berat, dan berbahaya.

Clyrine tertegun. Kata-kata yang sudah tersusun di ujung lidahnya mendadak amblas ke dasar tenggorokan. Matanya membelalak kaget menatap raut wajah Damien yang tampak begitu frustrasi di balik topeng datarnya.

"Apa... maksud lo?" bisik Clyrine terbata.

Damien mencondongkan tubuhnya ke samping, memangkas jarak di antara mereka di dalam kabin mobil yang sempit dan berpenyejuk udara itu. Tatapannya menusuk lurus ke pupil Clyrine yang bergetar.

"Gue 21 tahun, Clyrine," ucap Damien dingin namun sarat getaran emosi yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. "Dan seumur hidup gue, gue nggak pernah menyentuh atau mencium cewek mana pun sebelum lo dorong gue sampai ke batas kesabaran gue tadi siang."

Hening total seketika menyelimuti kabin mobil.

Clyrine membeku di kursinya, otaknya mendadak lumpuh memproses pengakuan tak terduga yang meluncur langsung dari bibir pria sedingin Damien Vance.

"Kenapa lo malah nyalahin gue?!" sembur Clyrine dengan suara yang bergetar hebat, membalas tatapan tajam Damien tanpa gentar sedikit pun. Rasa perih dan dongkol di dadanya kian meluap. "Lo yang aneh! Tiba-tiba cium orang yang jelas-jelas nggak punya hubungan apa pun ke lo! Dan apa hak lo marah-marah sampai bersikap posesif nggak jelas kayak gini ke gue?!"

Damien menarik napas panjang, berusaha meredam getaran di tangannya yang masih bertumpu pada lingkar kemudi. Manik mata gelapnya menatap Clyrine lekat-lekat, menyiratkan rasa frustrasi yang teramat pekat.

"Yang jadi masalah sekarang, kenapa lo semarah ini ke gue dari tadi pagi, Cly?" suara bariton Damien terdengar menekan, menuntut penjelasan yang sejak tadi mengganjal di kepalanya. "Gue tahu gue salah karena telat ngabarin. Gue udah minta maaf, dan gue coba tebus kesalahan gue dengan datang jemput lo ke sekolah! Gue benar-benar ada urusan mendadak tadi pagi!"

"Urusan mendadak?" potong Clyrine dengan tawa sumbang yang terdengar begitu sinis. Sudut bibirnya terangkat mengejek, menyembunyikan rasa sesak yang meremas ulu hatinya. "Oh... urusan mendadak nganter Kak Kayvara, gitu?"

Kata Kayvara yang meluncur telak dari bibir gadis itu seketika membuat tubuh Damien menegang kaku.

Raut wajah pria 21 tahun itu berubah drastis. Matanya membelalak kecil, terpaku menatap Clyrine dalam keterkejutan total. Di kepalanya, potongan-potongan peristiwa sejak pagi tadi mendadak tersambung dengan sangat jelas: pesan penolakan yang begitu dingin, alasan pulang bersama teman, hingga sengaja mengabaikannya di restoran tadi siang.

"Lo... lihat gue?" bisik Damien, suaranya tercekat sesaat.

"Bener, kan?!" serang Clyrine lagi, air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia membuang muka ke arah jendela samping, enggan memperlihatkan kerapuhannya di hadapan pria itu. "Kalau lo udah punya janji sama cewek lain, nggak usah repot-repot ngajak gue bareng dari semalam! Nggak usah bikin gue panik nungguin lo di gerbang sampai hampir telat ujian susulan!"

"Clyrine, bisa dengerin gue dulu nggak?!" pinta Damien tegas, tangannya bergerak cepat mencengkeram lembut pundak Clyrine, memaksa gadis itu untuk kembali menghadap ke arahnya. Tatapan Damien yang biasanya dingin kini dipenuhi urgensi untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut.

Namun Clyrine langsung menyentak bahunya kasar, menepis tangan kokoh itu tanpa ragu.

"Nggak ada yang perlu Kakak jelasin!" tolak Clyrine dingin dengan napas memburu, kedua tangannya terkepal erat di atas pangkuan. "Terserah Kakak mau jalan sama siapa, itu bukan urusan gue. Dan urusan gue mau pergi sama Adrian atau siapa pun, itu juga bukan urusan Kakak lagi!"

1
falea sezi
keliatan kuat ehh sama aja menye sama bokap aja g berani cupu🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!