Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. MULAI POSESIF
Pagi harinya, suasana di SMA Garuda Mulia telah berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi tatapan meremehkan atau bisik-bisik gosip miring yang menghantui koridor. Berita mengenai tindakan tegas Abiyasa Mahendra yang menyeret oknum penyebar fitnah ke jalur hukum telah menyebar luas, membuat seluruh siswa menatap Nadira dengan rasa hormat dan segan.
Saat sedan Toyota Camry hitam berhenti tepat di depan gerbang utama sekolah—bukan lagi dua blok di belakang—Nadira menoleh ke arah Abiyasa yang duduk di sampingnya.
"Mas Abi beneran mau ngantar sampai depan gerbang?" tanya Nadira dengan raut ragu bercampur malu.
Abiyasa tersenyum tipis, membetulkan posisi tali tas sekolah di bahu Nadira dengan penuh perhatian. "Kenapa harus bersembunyi lagi? Seluruh sekolah sudah tahu kamu ini siapa, Nyonya Mahendra."
"Tapi aku risih ditontonin anak-anak lain, Mas..." cicit Nadira, pipinya merona hangat.
Abiyasa meraih jemari kecil Nadira, lalu mengecup punggung tangannya dengan sangat mesra di hadapan Pak Maman yang tersenyum-senyum melihat dari kaca spion tengah.
"Biar mereka tahu kalau kamu ada yang punya," ujar Abiyasa santai namun sarat akan nada posesif yang kuat. "Nanti sore saya jemput lagi jam empat tepat. Jangan pulang bersama laki-laki lain, paham?"
"Iya, Pak Bos Posesif!" balas Nadira terkekeh pelan. "Aku berangkat sekolah dulu ya!"
Sebelum Nadira sempat membuka pintu mobil, Abiyasa dengan cepat menahan pergelangan tangannya, memajukan wajah dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir manis Nadira.
"Salam perpisahannya kurang," bisik Abiyasa di depan wajah Nadira dengan kerlingan mata nakal.
Wajah Nadira seketika memerah padam seperti buah tomat rebus. "M-Mas Abi! Ada Pak Maman ih!" pekik Nadira panik, langsung mendorong pelan dada Abiyasa dan ngacir berlari keluar dari mobil menuju gerbang sekolah.
Dari dalam mobil, Abiyasa memperhatikan langkah cepat istrinya seraya terkekeh renyah—sebuah pemandangan manis yang selalu berhasil melenyapkan beban kerjaannya sebelum memulai hari.
Suasana di kelas 12 IPA 2 berjalan jauh lebih menyenangkan bagi Nadira. Sheila, sahabat karibnya, kini merangkap peran menjadi 'pengawal pribadi' yang sangat protektif.
"Minggir, minggir! Nyonya Mahendra mau lewat!" seru Sheila bergaya heboh saat mereka berjalan menuju kantin di jam istirahat.
"Sheila! Malu-maluin tau gak!" bisik Nadira seraya menepuk bahu Sheila gemas.
"Biarin! Biar anak-anak yang kemarin ikut-ikutan kemakan gosip miring pada kapok!" cerocos Sheila seraya menarik kursi kantin untuk Nadira.
"Eh tapi Nad, serius deh... Pak Abiyasa tuh manis banget ya sama kamu? Tadi pagi aku lihat sendiri lho dari lantai dua, kamu dicium dulu sebelum turun mobil!"
Nadira seketika menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Sheilaaa! Jangan keras-keras ngomongnya!"
"Aduh, sahabatku ini bener-bener ketiban bulan jatuh," goda Sheila tertawa geli. "Tapi jujur aku seneng banget lihat kamu bahagia gini, Nad. Sekarang kamu bisa fokus persiapan Ujian Nasional tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi."
Nadira tersenyum tulus, menggenggam tangan sahabatnya. "Makasih ya, Sheila. Kamu selalu ada buat aku."
Di sudut kantin lain, Raka tampak memperhatikan Nadira dari kejauhan. Namun, tidak ada lagi tatapan menuntut atau cemburu dari ketua OSIS itu. Raka tersenyum tipis, memberikan anggukan hormat yang sopan saat matanya tak sengaja beradu pandang dengan Nadira—sebuah tanda bahwa pria itu telah menerima kenyataan dan memilih mundur secara dewasa.
Malam harinya di penthouse, suasana hangat dan romantis melingkupi ruang tengah. Setelah menyelesaikan tumpukan tugas kalkulus dengan bantuan dan bimbingan langsung dari Abiyasa, Nadira duduk bersandar di sofa empuk seraya menikmati secangkir cokelat hangat.
Abiyasa melangkah keluar dari kamar mandi dengan setelan santai: kaos polos hitam dan celana piyama abu-abu. Rambut hitamnya yang masih agak basah menyebarkan aroma wewangian maskulin yang sangat disukai Nadira.
Pria itu duduk di samping Nadira, lalu tanpa ragu menarik tubuh mungil istrinya ke dalam dekapannya, membingkai tubuh Nadira dari belakang.
"Mas Abi... aku lagi minum cokelat, nanti tumpah!" protes Nadira manja, walau ia tetap menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada tegap Abiyasa.
"Biarkan saja," bisik Abiyasa rendah, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nadira dan mengecup kulit mulus di sana dengan lembut. "Saya lebih haus memeluk istri saya malam ini."
Deru napas hangat Abiyasa di lehernya membuat Nadira meremang. Ia meletakkan cangkir cokelatnya di meja kaca, lalu memutarkan tubuhnya di dalam dekapan Abiyasa hingga mereka saling berhadapan.
Nadira merapikan helai rambut Abiyasa yang sedikit basah di dahi suaminya. "Mas Abi capek ya hari ini?"
Abiyasa menatap mata bening Nadira dengan pendar cinta yang begitu melimpah. Tangannya yang hangat mengelus pinggang mungil Nadira. "Rasa lelah saya selalu hilang setiap kali melihat senyumanmu, Nadira."
"Pintar banget gombalnya sekarang," puji Nadira seraya terkekeh manis, lalu memberanikan diri melingkarkan kedua lengan kecilnya di leher tegap Abiyasa. "Makasih ya buat hari ini, Mas."
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya. Karena Mas Abi udah ngelindungin aku di sekolah, udah ngajarin aku kalkulus, dan... udah jadi suami yang paling hebat buat aku," tutur Nadira tulus, matanya berbinar-binar.
Abiyasa terdiam sejenak. Pengakuan tulus dari gadis di depannya ini selalu berhasil menyentuh bagian paling dalam dari hatinya. Pria es yang dulunya hanya memikirkan angka dan keuntungan bisnis itu kini telah sepenuhnya berlutut di hadapan cinta sang istri.
"Saya yang harus berterima kasih, Nadira," bisik Abiyasa sangat lembut. "Kamu sudah mengajari saya artinya mencintai dan memiliki sebuah rumah yang sejati."
Abiyasa mendekatkan wajahnya, lalu merapatkan bibirnya di atas bibir manis Nadira. Kecupan malam itu berlangsung sangat lambat, hangat, dan sarat akan kelembutan yang membuai.
Nadira memejamkan matanya, membalas perlakuan manis suaminya dengan kepolosan cintanya yang murni. Jemari kecilnya menyusup ke rambut Abiyasa, menikmati kehangatan dan rasa aman yang melingkupi mereka berdua di tengah indahnya malam Jakarta.
Di dalam rumah yang megah itu, tak ada lagi keraguan, kekhawatiran, atau rahasia yang mengekang. Yang tersisa hanyalah dua insan yang saling mencintai, siap melangkah bersama menyongsong masa depan yang penuh dengan kebahagiaan.