Indonesia
NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 Insiden Lembur di Lantai Empat Puluh Dua

Gedung Evander Corp telah berubah menjadi bangunan raksasa yang sunyi. Suara langkah kaki karyawan yang biasanya bersahutan di sepanjang koridor telah lenyap tergantikan oleh suasana yang sepi. Suara dering telfon dan ketukan jari di atas papan ketik tak lagi terdengar. Sebagian besar lampu di Lantai empat puluh dua telah dipadamkan, menyisakan pendar cahaya dari kubikel Liora dan ruang kerja CEO di ujung koridor.

Di balik dinding kaca raksasa, hujan deras mengguyur kota Jakarta, diiringi kilatan petir yang sesekali membelah langit malam menerangi gedung-gedung pencakar langit sebelum semuanya kembali dalam kegelapan.

Liora mengusap matanya yang terasa pegal. Di atas mejanya menumpuk berkas koreksi analisis proyek Arabell Group yang beberapa halamannya telah dipenuhi coretan tinta merah, sementara laptop di hadapannya masih menampilkan lembar kerja yang seolah tiada habisnya. Kacamata tortoiseshell yang dikenakannya melorot lagi di pangkal hidung, namun ia terlalu lelah untuk membenarkannya secara terus-menerus. Ia seharusnya sudah pulang satu jam yang lalu. Namun, pekerjaannya belum selesai.

“Sedikit lagi,” gumamnya menyemangati diri sendiri.

Liora mendesah pelan dan mendorong naik kacamatanya yang melorot untuk kesekian kali.

Plekk.

Gagang kiri kacamatanya mendadak patah tepat di area engsel plastik yang memang sudah bermasalah sejak minggu lalu.

"Astaga..." Liora menepuk jidatnya pasrah, menatap kacamatanya dengan pandangan tidak percaya. Tanpa kacamata, pandangannya seketika berubah menjadi kumpulan bayangan buram. Semuanya terlihat samar dan berbayang. "Kenapa harus patah sekarang, sih?"

Liora berlutut di lantai, kedua tangannya meraba-raba karpet tebal di sekitar kakinya untuk mencari sekrup kecil atau bagian engsel yang terlepas. Karena penglihatannya yang sangat terbatas, jiwanya yang panik tak menyadari bahwa pintu mahoni ruang CEO telah terbuka.

"Miss Arwen?” Liora tersentak.

“Kenapa belum pulang?"

Liora buru-buru berdiri, namun lututnya justru menyenggol sudut meja yang berada tepat di samping lututnya.

Bukk!

"Aww!" ringis Liora, tubuh mungilnya kehilangan keseimbangan dan hampir terjungkal ke belakang.

Namun, sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, dengan refleks secepat kilat, Ravian maju dan melingkarkan tangannya menangkap pinggang ramping Liora.

Greb.

Tubuh mungil Liora tertahan rapat di dada Ravian. Dada bidang pria itu menjadi penyangga punggungnya.

Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain bunyi rintik hujan yang menghantam dinding kaca.

Liora membeku.

Aroma wangi sandalwood dan cedarwood yang maskulin menyergap indra penciumannya. Aroma yang selama ini hanya ia cium sekilas ketika Ravian berjalan melewatinya kini terasa begitu dekat. Dalam jarak yang tak sampai lima sentimeter, Liora bisa merasakan hembusan napas hangat Ravian menyentuh dahinya.

Tangan pria itu masih bertahan di pinggangnya, seolah takut melepaskannya terlalu cepat. Dan yang paling membuat Liora gugup adalah suara detak jantung yang terdengar begitu jelas.

Entah milik siapa.

Mungkin milik mereka berdua.

Untuk beberapa detik yang terasa abadi, waktu seolah berhenti di lantai empat puluh dua itu.

"K-kamu tidak apa-apa?" suara Ravian terdengar samar dan serak, tertahan di tenggorokan. Matanya terkunci pada manik mata cokelat Liora yang kini terlihat sangat polos dan terbuka tanpa penghalang lensa kacamata.

Liora menelan ludah. "S-saya…” Otaknya seolah berhenti bekerja.

“Saya tidak apa-apa, Pak.”

Barulah Ravian tersadar dengan posisi mereka.

“Maaf.”

Liora menggeleng cepat, meskipun pipinya terasa panas. “Saya yang tidak hati-hati.”

“Kacamata saya patah, Pak,” sambung Liora.

Tangan Ravian perlahan membebaskan pegangan pada pinggang Liora. Akan tetapi salah satu tangannya dengan lembut menuntun Liora untuk duduk di kursi kerjanya. Ravian lalu membungkuk, mengambil patahan kacamata di lantai, dan mengamatinya di bawah cahaya lampu meja.

"Engsel plastiknya aus," gumam Ravian pelan.

Liora hanya bisa mengangguk pasrah. “Sepertinya memang sudah waktunya saya beli yang baru.”

“Sepertinya?” nada suara Ravian terdengar datar, tetapi terselip kehangatan di baliknya.

Liora tersenyum malu. “Besok saya beli.”

Ravian tidak menjawab. Ia menarik kursi putar di sebelah Liora dan duduk di sana. Dari salah satu saku jasnya yang tergeletak di meja, Ravian mengambil sebuah tape bening berukuran kecil dan seperangkat alat perbaikan darurat yang biasa ia pakai untuk memperbaiki pena mewahnya.

Liora mengerjap. “Pak… Bapak bawa begituan ke kantor?”

“CEO harus siap menghadapi segala keadaan.”

Jawaban itu begitu serius hingga Liora hampir tertawa. ”Termasuk memperbaiki kecamata anak magang?”

Ravian melirik sekilas. “Termasuk itu.”

Liora terdiam. Ada sesuatu dalam jawaban sederhana itu yang membuat dadanya terasa hangat.

Ravian mulai bekerja. Jemarinya yang panjang dan luwes bergerak hati-hati memperbaiki bagian engsel yang patah. Gerakannya begitu tenang, teliti, dan terampil hingga tanpa sadar Liora terus memperhatikannya.

Dari jarak yang sedekat itu Liora dapat melihat dengan jelas profil samping wajah Ravian. Garis rahangnya yang tegas, bulu matanya yang lebat, alis yang sedikit berkerut karena terlalu fokus. Semua itu tak luput dari perhatian Liora, membuat dadanya bergemuruh aneh.

Ekspresi serius dan dingin yang selama ini selalu membuat seluruh penghuni Evander Corp segan mendekatinya, malam ini, ekspresi itu terlihat berbeda. Lebih lembut. Lebih manusiawi.

Entah mengapa, perhatian kecil itu justru terasa jauh lebih berarti bagi Liora. Bayangan tentang Elara dan rasa terasing yang kemarin sempat menghantuinya perlahan memupus, tergantikan oleh sesuatu yang lebih hangat.

"Selesai.”

Suara datar Ravian membuat Liora tersadar dari lamunannya.

Ravian mengangkat kacamata itu sedikit. “Hanya perbaikan darurat, besok kamu harus beli yang baru," Ravian berbalik menghadap Liora.

Liora tersenyum lega. “Terima kasih, Pak.”

Ravian tidak langsung menjawab.

Tanpa aba-aba, ia justru bangkit dari kursinya membuat Liora mendongak ke arahnya. Ravian mengulurkan kedua tangannya.

“Diam.”

“Hah?”

“Saya pasangkan.”

Liora tak sempat membantah. Dengan gerakan yang hati-hati Ravian memasangkan kacamata itu kembali ke wajah Liora.

Ketika Ravian membetulkan posisi gagang kacamata di telinga Liora, tanpa sengaja ujung jarinya menyentuh helai anak rambut yang jatuh di sisi wajah Liora.

Pria itu berhenti sesaat. Lalu dengan gerakan perlahan, jemari hangatnya mengusap lembut helai anak rambut Liora dan menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu.

Sentuhan itu singkat dan sangat sederhana. Namun cukup untuk membuat aliran darah Liora berdesir hebat.

Dunia yang semula kabur mendadak kembali jernih. Dan hal pertama yang ia lihat dengan jelas adalah wajah Ravian.

Tatapan Ravian begitu dalam, lembut, dan penuh kehangatan yang tak lagi sanggup ia sembunyikan di balik topeng CEO-nya.

"Pak Ravian..." bisik Liora tanpa sadar memanggil nama akademisnya.

Ravian tidak memprotes atau mengoreksinya. Tatapannya justru turun ke bibir Liora yang sedikit terbuka lalu kembali mengunci mata cokelat gadis itu. Batas profesional yang selama ini mereka jaga terasa semakin tipis. Antara dosen dan mahasiswa, antara CEO dan anak magang. Di antara dua orang yang seharusnya tidak membiarkan perasaan apa pun tumbuh di tempat seperti ini.

Namun, malam itu di lantai empat puluh dua yang sepi dengan bintik cahaya remang, diselimuti hujan lebat, keduanya sama-sama tahu bahwa sesuatu telah berubah.

Ravian akhir mundur satu langkah, berdehem pelan seolah sedang mengembalikan dirinya sendiri ke dalam sosok CEO yang selama ini Liora kenal.

"Sudah malam," suaranya kembali terdengar tegas meski getaran tipis masih tersisa di dalamnya.

"Rapikan barang-barangmu.”

Liora berkedip. “Kenapa, Pak?”

Ravian mengambil jasnya dari sandaran kursi. “Saya yang antar kamu pulang."

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!