Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rona Ditaman Mawar
"Kenapa wajahmu merah begitu, Sayang, Hm?" tanya Gabriel dengan nada menggoda, sengaja mengerjai Amara yang kini menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan wajahnya.
"I-ini karena panas!" ucap Amara terbata-bata, memaksa suaranya keluar meski terdengar sangat serak dan gugup. Gadis itu buru-buru menyambar buku catatan di pangkuannya. ‘Di dalam gazebo ini... udaranya sangat panas!’
Gabriel terkekeh pelan—suara renyah yang membuat dada bidangnya bergetar. Pria itu menoleh ke sekeliling gazebo kaca yang jelas-jelas sejuk karena aliran udara AC portabel.
"Panas?" ulang Gabriel dengan sebelah alis terangkat tinggi, menahan tawanya. "Padahal AC-nya menyala, dan angin pagi di sini sangat sejuk, Amara. Kenapa alasannya jadi cuaca?"
"Pokoknya panas! Jangan mengejekku terus, Gabriel!" ucap Amara spontan, suaranya lolos begitu saja tanpa sempat ia saring lewat tulisan, meski wajahnya kini sudah semerah tomat matang karena malu.
Gabriel mengerjap kaget sesaat, lalu senyuman paling lebar dan tulus terukir di wajahnya mendengar Amara bicara secara langsung tanpa buku catatan.
"Ah... kau sudah mulai berani melawan suamimu, ya?" bisik Gabriel lembut, matanya berbinar penuh rasa gemas.
"B-bukan begitu, Gabriel!" ucap Amara dengan paniknya, kedua tangannya melambai-lambai gugup di udara menyangkal tuduhan suaminya. "U-udah ah, m-mau pergi!"
Amara langsung bangkit dari duduknya di sofa gazebo, berniat melangkah cepat keluar dari sana karena rasa malunya sudah mencapai ubun-ubun.
Namun, gerakan kilat Gabriel jauh lebih cepat. Pria itu langsung menarik pergelangan tangan Amara dengan lembut, lalu menarik tubuh istrinya kembali ke dalam dekapannya hingga Amara terjatuh tepat di pangkuannya.
"Mau pergi ke mana, Hm?" bisik Gabriel tepat di dekat telinganya dengan suara bariton yang dalam dan menggoda.
Amara meronta kecil, pipinya semakin panas karena posisi mereka yang begitu intim. ‘Lepasin, Gabriel! Aku mau kembali ke dalam!’ tulis Amara cepat di buku catatannya dengan tangan yang gemetar.
Gabriel terkekeh renyah, mengeratkan dekapannya di pinggang Amara agar gadis itu tidak bisa kabur. "Tidak semudah itu, istriku. Kau sudah berani melarikan diri setelah membuat suamimu gemas setengah mati?"
"A-aku tidak lari," protes Amara terbata-bata, suaranya terdengar sangat manis saat ia memaksakan diri bicara secara langsung tanpa buku.
Gabriel menatap lekat manik mata Amara, senyuman jail di bibirnya perlahan melembut menjadi tatapan yang dipenuhi cinta mendalam. "Kalau begitu, temani aku di sini lebih lama. Di pelukanku. Hanya kita berdua."
Amara tertegun melihat sorot mata tulus itu. Perlahan, kekakuannya mencair. Ia mengangguk pelan, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Gabriel.
"Baiklah..." bisiknya malu-malu.
Tak lama kemudian, langkah kaki pelan terdengar mendekati gazebo kaca. Bik Sum datang dengan senyuman hangat, membawa sebuah nampan berisi dua gelas jus buah segar dan beberapa piring kecil berisi kue-kue tradisional kesukaan mereka.
"Permisi, Tuan, Nyonya..." sapa Bik Sum ramah sambil meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di tengah gazebo. "Saya membawakan sedikit minuman segar dan cemilan untuk bersantai di taman."
Gabriel mendongak, melonggarkan sedikit dekapannya dari Amara namun tetap mempertahankan lengannya di pinggang sang istri. "Terima kasih, Bik. Letakkan saja di sini."
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi kembali ke dalam," ujar Bik Sum sopan, lalu berbalik hendak meninggalkan area gazebo.
"Tunggu sebentar, Bik Sum," panggil Amara cepat dengan suara seraknya, menghentikan langkah sang pengurus rumah tangga.
Bik Sum langsung berbalik dan membungkuk hormat. "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
Amara menggeleng pelan, lalu tersenyum manis ke arah wanita paruh baya itu. "Tidak... tidak ada yang lain. Aku hanya ingin bilang, terima kasih banyak untuk makanannya, Bik."
Bik Sum tampak terharu, senyuman lebar langsung terkembang di wajah keriputnya.
"Sama-sama, Nyonya. Sudah kewajiban saya untuk merawat kalian. Senang rasanya melihat Nyonya dan Tuan Gabriel begitu serasi."
Mendengar pujian itu, pipi Amara kembali merona merah. Ia menunduk malu, sementara Gabriel justru terkekeh renyah di sampingnya.
"Bik Sum benar, kau memang terlihat sangat cantik saat malu-malu seperti ini," goda Gabriel pelan tepat di telinga Amara, membuat gadis itu semakin menyembunyikan wajahnya di balik bahu sang suami, sementara Bik Sum pamit pergi sambil terkekeh geli melihat kemesraan majikan mudanya.
Amara hanya menyembunyikan rasa malunya saja di balik bahu bidang Gabriel, enggan mengangkat wajahnya yang kini sudah panas membara.
"Kamu sudah mulai terbiasa ya menggunakan suaramu?" tanya Gabriel dengan nada lembut yang dipenuhi rasa takjub dan bangga, sebelah tangannya mengusap perlahan punggung sang istri.
Amara menggeleng pelan dari tempatnya menyembunyikan wajah, lalu melonggarkan dekapannya dan mendongak menatap Gabriel dengan mata bulat yang mengerjap ragu. ‘B-biasa bagaimana...’ tulis Amara cepat di buku catatannya dengan jemari yang sedikit gemetar. ‘Tenggorokanku masih sakit kalau dipakai bicara terlalu banyak.’
Gabriel tersenyum tipis, lalu meraih buku catatan itu dan meletakkannya di atas meja kecil di sebelah nampan jus.
"Sakit atau tidak, suaramu sudah mulai sering keluar tanpa harus menulis dulu," kata Gabriel sambil menatap lekat manik mata Amara. "Itu kemajuan yang luar biasa, Sayang. Artinya, perlahan-lahan trauma itu mulai hilang."
Amara menggigit bibir bawahnya, meresapi setiap ucapan suaminya. Ia menatap segelas jus buah segar yang baru saja dibawakan Bik Sum, lalu beralih menatap Gabriel untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Ga-briel..." panggil Amara terbata, memaksa suaranya berbunyi meski terdengar agak serak. "Mi-minumlah... jusnya."
Gabriel tertegun sejenak, lalu tawa kecil yang hangat lolos dari bibirnya. Ia tampak sangat terpesona setiap kali Amara dengan sukarela memanggil namanya tanpa disuruh.
"Baiklah, aku akan minum jika kau juga mau minum bersamaku," ujar Gabriel menantang dengan sebelah alis terangkat.
Amara mengerjap pelan, lalu mengangguk setuju. "Iya... aku mau."
Gabriel meraih salah satu gelas jus buah dari nampan, lalu menyodorkannya langsung ke bibir Amara.
"Minumlah dulu, ratu kecilku."
Amara meneguk pelan jus segar yang disodorkan Gabriel, merasakan manisnya buah melebur di tenggorokannya yang tadinya kering. Baru saja ia hendak melepaskan gelas dari bibirnya, Gabriel tiba-tiba melontarkan kalimat yang membuat jantungnya kembali berdegup kencang.
"Besok kita pergi kontrol telingamu ya, Sayang," ucap Gabriel lembut namun penuh keputusan mutlak.
Mendengar itu, Amara langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Gelas di tangannya nyaris bergeser karena ia begitu panik.
"T-tidak u-usah, kan b-baru..." protes Amara terbata-bata, memaksa suaranya keluar dengan nada memohon.
Gabriel menatapnya dengan senyuman sabar, lalu mengambil alih gelas dari tangan Amara dan meletakkannya kembali ke atas meja. Pria itu menangkup kedua pipi istrinya dengan kedua tangan hangatnya.
"Walaupun alatnya baru, kamu harus tetap kontrol, Sayang," ujar Gabriel lembut, mengelus pelan pipi Amara dengan ibu jarinya. "Dokter harus memeriksa apakah alat bantu dengar itu bekerja dengan baik dan tidak menimbulkan iritasi di telingamu."
Amara mengerjap dengan mata berkaca-kaca, jemarinya mencengkeram erat lutut celananya. ‘A-aku takut... aku tidak suka bau rumah sakit, Gabriel,’ tulis Amara terburu-buru di buku catatannya yang baru saja ia raih kembali dengan tangan gemetar.
Gabriel membaca tulisan itu, lalu menghela napas pelan penuh pengertian. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup lembut kening Amara cukup lama.
"Aku tahu," bisik Gabriel tepat di depan kening istrinya. "Tapi aku berjanji, kita tidak akan pergi ke rumah sakit yang menyeramkan. Kita akan ke klinik privat terbaik, dan aku akan terus menggenggam tanganmu sedetik pun tidak akan kulepaskan."
Amara mendongak, menatap manik mata hitam Gabriel yang memancarkan ketulusan luar biasa. Rasa takut di hatinya perlahan surut oleh kehangatan tatapan itu.
"B-benar... ya?" cicit Amara pelan, suaranya terdengar begitu rapuh namun mulai luluh. "Kamu tidak akan melepaskanku?"
Gabriel tersenyum hangat, mengangguk mantap. "Janji, Sayang. Apapun yang terjadi, aku ada di sampingmu."