Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Bintang Dan Suzan
Iya, Bagas sengaja menyusul Suzan setelah dia tidak menemukannya di ruang kerja. Dan Alma yang memberitahu Bagas bahwa Suzan sedang berada di cafe yang terletak tak jauh dari perusahaan Hartanto Group. Alma juga memberitahu Bagas bahwa Suzan terlihat kurang sehat dan mukanya sedikit pucat. Maka dari itu Bagas khawatir dan langsung menyusul Suzan.
Namun sesampainya di cafe, Bagas melihat Suzan bersama dua orang laki-laki. Dan Bagas terlihat kurang nyaman. Iya, Bagas tidak bisa terima akan hal itu.
Bintang menoleh ke arah Bagas yang berdiri di belakangnya. Bagas yang baru menyadari bahwa orang yang berdiri di depan Suzan adalah Bintang, semakin merasa tidak suka. Wajahnya pun menggambarkan kemarahan yang tertahan. Perlahan Bagas mengepalkan kedua telapak tangannya.
Iya, sedikit banyak, Bagas tentu saja tahu siapa Bintang. Sebelum Suzan menikah dengannya, Bagas sering melihat Suzan diantar jemput menggunakan motor oleh Bintang ketika berangkat dan pulang kantor. Bagas tahu jika saat itu mereka adalah sepasang kekasih.
Hingga akhirnya hubungan Suzan dan Bintang berakhir, Suzan dan Bagas mulai dekat, karena tuan Hartanto sering meminta Suzan untuk membantu pekerjaan Bagas. Dan tak lama kemudian tuan Hartanto menjodohkan Suzan dengan Bagas. Hingga akhirnya mereka pun menikah. Lama tidak mendengar kabar Bintang, tak disangka hari ini Bagas justru melihat Suzan bersama dengan mantan kekasihnya tersebut. Ya ,walaupun mereka tidak hanya berdua saja, tapi ada Arman si asisten Bintang di sana.
Namun tetap saja, Bagas tidak menyukai pertemuan Suzan dan Bintang apa lagi tanpa sepengetahuannya.
Dengan ekspresi wajah datar, Bagas melangkah menghampiri Suzan yang berdiri tak jauh dari Bintang.
"Sayang... " ucap Bagas sambil menggenggam tangan Suzan.
Suzan yang masih diam hanya menatap wajah sang suami yang terlihat tidak nyaman dengan situasi ini.
"Kenapa kamu bisa sama dia...?'' tanya Bagas sambil melirik sekilas ke arah Bintang.
"Kami nggak sengaja bertemu di sini..." jawab Suzan dengan tenang sambil menatap wajah Bagas.
Lalu Suzan menjelaskan pada Bagas kalau dia tidak menduga akan bertemu dengan Bintang di cafe. Dan mereka sama- sama tidak tahu kau akan bertemu di cafe tersebut. Dan itu hanya kebetulan saja.
"Kebetulan...?'' sahut Bagas lalu menoleh ke arah meja Bagas dan meja Suzan.
"Itu mejanya dia kan...?'' tanya Bagas sambil menunjuk meja yang tadi diduduki oleh Bintang.
"Lalu kenapa dia berdiri di dekat meja kamu...? Trus kenapa kamu juga berdiri seperti sedang menyambutnya...?'' tanya Bagas sambil memperlihatkan ketidaksukaannya kepada Bintang.
"Maaf pak Bagas... Anda jangan salah paham dulu..." ucap Bintang
Namun sebelum Bintang menyelesaikan ucapannya, Bagas langsung memotongnya.
"Saya tidak meminta anda untuk berbicara..." sahut Bagas sambil menatap tajam ke arah Bintang.
Sementara itu Arman yang sejak tadi duduk di mejanya merasa khawatir jika akan terjadi keributan antara Bagas dan Bintang. Iya, tentu saja Arman bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah Bagas yang menunjukkan kemarahan yang tertahan. Namun Arman tidak bisa berbuat apapun dan hanya bisa berdoa supaya di antara mereka tidak terjadi keributan.
"Dan sebaiknya anda tahu diri. Anda tentunya tahu kan kalau Suzan ini istri saya. Dan tidak pantas seorang laki- laki untuk mendekati istri orang , apa lagi tidak ada suaminya di sana. Karena itu akan menimbulkan fitnah..." sambung Bagas yang masih belum mau mengalihkan padangannya dari Bintang.
"Mas..." ucap Suzan karena merasa sikap Bagas sudah berlebihan.
Iya, menurut Suzan, tidak seharusnya Bagas bersikap seperti itu pada Bintang, karena pada kenyataannya di antara dia dan Bintang tidak terjadi apapun yang perlu dicurigai.
"Ayo kita kembali ke kantor..." Bagas menarik tangan Suzan cukup kasar dan terus menuntunnya keluar dari cafe.
Bintang yang menyaksikan perlakuan kasar Bagas terhadap Suzan menatap nanar ke arahnya sambil mengepalkan kedua telapak tangannya. Iya, tentu saja Bintang tidak menyukai tindakan Bagas tersebut.
"Bos..." ucap Arman yang sudah berada di samping Bintang.
"Aku bukan bos kamu..." sahut Bintang dengan sedikit ketus.
"Iya...iya... bos kita memang tuan Anggara. Tapi pak Bintang ini sudah saya anggap seperti bos saya sendiri. Lagi pula selama ini tuan Anggara jarang ke perusahaan, dan pak Bintang yang mengurus semua pekerjaan kantor, jadi wajar kan kalau saya panggil pak Bintang bos... Hehee..." sahut Arman yang memang suka bergurau.
Bintang berdecak.
"Bos... Sepertinya suaminya bu Suzan cemburu sama bos..." sambung Arman.
Kali ini Bintang hanya melirik sekilas ke arah Arman.
"Tapi bos... Saya kan baru dua kali nih ketemu sama bu Suzan, tapi kok wajahnya nggak asing sih. Saya pernah orang yang wajahnya mirip sama bu Suzan, tapi di mana ya..." ucap Arman.
Bintang yang belum ingin membuka suara hanya menghela nafas mendengar ocehan asistennya yang memang cerewet itu.
"Oh iya..." Arman sepertinya ingat sesuatu.
"Bos... Kok mukanya bu Suzan mirip dengan foto cewek yang ada di meja kerja bos...?'' tanya Arman.
"Hah...? Jangan - jangan...?" sambungnya lagi.
"Jangan- jangan apa...? Sudahlah kita kembali ke kantor saja..." sahut Bintang yang hendak melangkahkan kakinya namun segera dicegah oleh Arman.
"Eh... Bos...nanti dulu..." Arman menarik tangan Bintang.
"Apa lagi..." sahut Bintang.
"Kita sarapan dulu..." jawab Arman.
"Duduk dulu lah bos, itu kopinya belum di minum..." Arman menunjuk dua cangkir kopi di atas meja.
Bintang yang sebenarnya sudah tidak selera untuk minum kopi terpaksa duduk kembali di mejanya. Arman langsung menyeruput kopi miliknya, sedangkan Bintang hanya mengaduknya sambil melamun.
"Bos...foto yang ada di meja kerja bos, itu bu Suzan bukan sih, kok mirip...?'' tanya Arman kepo.
Bintang kembali menghela nafas.
"Beneran bos...? Wah...wah...wah...jadi mantan pacarnya bos Bintang itu bu Suzan...?" sambung Arman.
Bintang kembali berdecak.
"Jadi bu Suzan yang sudah bikin bos Bintang nggak bisa move on dan masih melajang sampai sekarang...?'' tanya Arman yang jiwa keponya semakin tinggi.
"Kamu ini cerewet sekali... Ayo kita balik ke kantor..." Bintang langsung bangun dari duduknya dan langsung berjalan ke arah pintu keluar cafe.
"Eh...bos tunggu dong..." Arman bergegas mengejar Bintang.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Sementara itu Bagas dan Suzan yang sudah berada di dalam mobil terlibat perdebatan kecil. Iya, Bagas merasa tidak suka dengan keberadaan Bintang yang tidak lain adalah mantan pacar Suzan ada bersamanya.
"Jadi kamu pergi ke cafe tanpa pamit sama aku karena mau menemui mantan pacar kamu...?'' tanya Bagas sambil menatap lurus ke depan sementara tangannya mencengkeram stir mobil.
"Kamu ini ngomong apa sih mas..." sahut Suzan melirik tajam ke arah sang suami.
Iya, tentu saja Suzan kesal dengan pertanyaan yang Bagas lontarkan padanya. Padahal beberapa saat yang lalu di sudah memberitahu Bagas bahwa dia dan Bintang tak sengaja bertemu.
"Tadi aku sudah menjelaskan sama kamu kan kalau aku tidak sengaja ketemu sama Bintang..." sambung Suzan.
"Tidak usah menyebut nama laki- laki itu di depanku..." sahut Bagas dengan ketus.
Suzan memutar kedua bola matanya.
"Oke... Kalau kamu memang tidak sengaja bertemu dengan laki- laki itu, tapi kenapa dia berdiri di dekat kamu...? Dia mendekati meja kamu...? Mau ngapain dia...?'' tanya Bagas.
"Dia hanya menyapaku..." jawab Suzan.
"Halah itu pasti cuma akal- akalan dia buat mendekati kamu...? Kamu dan laki- laki itu tidak punya hubungan apapun lagi sekarang. Kenapa dia masih mendekati kamu...? Oh... atau jangan- jangan dia masih punya perasaan sama kamu...? Iya...?" Bagas nampak begitu kesal.
''Aku nggak tahu... Kenapa tadi kamu nggak nanya langsung sama dia..." sahut Suzan dengan santainya.
"Suzan...!!'' seru Bagas yang bertambah kesal karena menurutnya sikap Suzan sangat menjengkelkan.
Suzan menghela nafas, lalu menoleh dan menatap wajah sang suami.
"Ngapain teriak mas...? Kamu marah sama aku gara- gara melihatku bersama Bintang...?'' tanya Suzan.
"Hanya karena Bintang mantan pacarku, terus kamu berpikir macam- macam, dan marah- marah nggak jelas seolah aku melakukan perbuatan zina di depan kamu..." sambung Suzan.
"Kamu tadi lihat sendiri kan, aku nggak berduaan sama dia, ada Arman, asistennya Bintang di sana. Dan kami nggak melakukan apapun selain bicara sambil berdiri. Dan itu pun di tempat umum, di dalam cafe. Lalu alasan apa yang membuatmu marah...?" lanjut Suzan.
Mendengar Suzan menyebut nama Arman sebagai asisten Bintang, Bagas tersenyum sinis.
"Ternyata kamu tahu banyak tentang Bintang, sampai kamu tahu asistennya bernama Arman..." ucap Bagas.
"Ya tentu saja aku tahu, karena kita memang sudah bertemu sebelumnya..." jawab Suzan.
"A...apa...?'' sahut Bagas.
Lalu Suzan menjelaskan pada Bagas kalau Bintang adalah orang kepercayaan tuan Anggara yang merupakan partner bisnis tuan Hartanto. Dan tuan Hartanto yang menyerahkan kerja sama dengan perusahaan milik tuan Anggara kepada Suzan.
Bagas mengepalkan kedua telapak tangannya semakin kesal mendengar pengakuan Suzan.
"Jadi kamu sudah berkali- kali bertemu dengan mantan pacarmu dan kamu tidak pernah bilang sama aku...?'' tanya Bagas dengan rahang mengeras dan mata tajam menatap wajah Suzan.
"Kenapa...? Aku sama Bintang ketemu karena urusan pekerjaan. Dan itupun papa yang memintaku menggantikannya, karena papa sibuk. Dan bukannya selama ini kita tidak pernah ada perjanjian untuk memberitahu siapa klien yang kita temui kan....?'' jawab Suzan.
"Bukankah selama ini kamu juga tidak pernah memberitahuku siapa klien yang kamu temui...? " sambung Suzan sambil tersenyum sinis.
Iya, Suzan tahu tugas yang tuan Hartanto berikan pada Bagas soal pekerjaan kantor memang tidak terlalu banyak. Karena tuan Hartanto tidak terlalu percaya pada Bagas. Tapi akhir- akhir ini Bagas sering sekali menemui klien. Dan entah klien yang mana yang ditemui.
"Dengar ya mas... Mau semarah apapun kamu sama aku soal Bintang, aku nggak perduli. Dan aku tidak akan merasa bersalah, karena memang aku tidak pernah melakukan kesalahan. Dan aku juga tidak pernah membahas apapun dengan Bintang, kecuali soal pekerjaan..." ucap Suzan.
"Aku sama Bintang tidak pernah melakukan kontak fisik, kecuali berjabat tangan dan ucapan terima kasih atas kerja sama yang kami lakukan untuk perusahaan. Aku tidak pernah pegang- pegang dia, senyum- senyum centil pun nggak pernah.... Apa lagi cipika- cipiki... Nggak mas... Aku nggak pernah melakukan semua itu..." sambung Suzan bermaksud menyindir Bagas yang pernah melakukan hal itu kepada Sonia.
"Aku mungkin belum pantas disebut sebagai istri soleha, tapi seenggaknya, aku masih bisa menjaga harga diriku sebagai seorang perempuan. Aku masih punya rasa malu, sehingga aku tidak akan melakukan perbutan yang membuat harga diriku hancur..." lanjut Suzan sambil menatap lekat wajah Bagas.
Bagas mencengkeram kemudi, kemudian dia memukulnya dengan kasar seolah sedang meluapkan emosinya. Suzan yang melihat tingkah sang suami hanya diam sambil menatap lurus ke depan.
Bersambung...