Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.
Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.
Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.
Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 Kontrak Yang Berbisik
Malam itu, di sebuah penginapan sederhana, Eliya tertidur dengan pulas. Namun, saat di dalam lelap, suara Zharvion menggema di dalam pikirannya. Suara yang lemah, seperti bisikan angin lembut. Cukup membuatku untuk terjaga.
"Tiga Mahkota berikutnya lebih berbahaya. Petir, Cahaya, Kegelapan."
Bisikan itu membuat kedua mata Eliya terbuka. Malam yang sunyi menyambutnya, hanya nyanyian para binatang malam yang terdengar saling bersahutan.
"Dan?" tanyanya dengan suara yang sangat pelan. Sama pelan seperti angin yang berbisik.
Suara Zharvion tidak lagi terdengar seperti gema di dalam kepala, melainkan seperti gesekan pedang kuno yang ditarik dari sarungnya. Berat, dingin, dan penuh ancaman. Kalimat terakhirnya terus berputar di benak Eliya. Bahkan, setelah keheningan kembali menguasai kamar penginapan yang sempit itu.
Tak ada nyanyian binatang malam, tak ada hembusan angin yang menyelinap dari sela-sela dinding kayu penginapan. Waktu seolah-olah berhenti berputar, merasakan keberadaan sebuah entitas yang tidak biasa.
"Nocthus sudah terbangun dari tidurnya. Dia merasakan kehadiranmu. Mungkin dunia kegelapan tak lama lagi akan menyerang." Suara Zharvion membuat tubuhnya meremang. Mata Eliya terbuka dengan lebar.
Nocthus, sang penguasa kegelapan yang namanya saja tabu untuk diucapkan di benua bawah itu, dan kini telah membuka matanya. Dan yang lebih buruk, dia tahu keberadaan Eliya, sang wadah. Kehadirannya sebagai pewaris tujuh mahkota elemen telah memicu alarm gaib yang selama ribuan tahun tertidur.
"Nocthus? Ternyata selain keluarga, masih ada musuh yang berat untuk dihadapi. Dunia ini benar-benar mengerikan," gumam Eliya, matanya berkedip pelan, menatap sayu lampu minyak yang menggantung di dinding kayu.
Eliya bangkit dari tempat tidur, melangkah pelan mendekati jendela kayu yang berderit saat dibukanya. Di luar, malam terasa lebih pekat dari biasanya. Ia menatap jauh pada kegelapan malam.
Jauh di batas cakrawala, di seberang samudra kabut yang memisahkan wilayah manusia dengan teritori terlarang, langit Benua Nocthus berkedip. Kilatan itu bukan petir biasa, melainkan denyutan cahaya hitam yang menelan bintang-bintang di sekitarnya.
"Sistem dunia ini sedang merespons pergerakanku secara agresif. Jika aku tetap menggunakan ritme leveling yang normal, aku hanya akan menjadi mangsa empuk saat pasukannya menyeberang. Aku harus segera mengumpulkan kekuatan. Tujuh mahkota elemen sebelum mereka datang menyerang," gumam Eliya lagi mematri tatapan pada langit benua Nocthus yang gelap.
Ia harus menjadi tidak masuk akal dalam hal pertumbuhan kekuatan. Tidak bisa tinggal diam. Ketujuh elemen harus segara terisi. Atau saat kegelapan itu datang, dia hanya akan mengalami kekelahan.
"Dataran Badai," gumamnya lagi perlahan, menundukan pandangan, menatap telapak tangannya yang masih menyisakan sisa-sisa energi dari mahkota pertama dan kedua yang berhasil ia dapatkan.
"Tempat di mana petir abadi menyambar tanpa henti. Level rekomendasi untuk masuk ke sana adalah minimal tingkat enam puluh. Sedangkan aku ... entahlah. Aku sendiri tidak tahu berapa tingkat kekuatanku." Ia melanjutkan diakhiri helaan napasnya yang panjang.
Eliya mengepalkan tangan, menggenggam udara kosong di jemarinya. Dia bertekad untuk pergi ke dataran badai dan mendapatkan elemen selanjutnya. Mengisi mahkota yang kosong dan meningkatkan kekuatannya.
"Kau gila," suara Zharvion kembali berbisik, kali ini nadanya dipenuhi sinisme yang kentara.
"Manusia dengan daging lemah sepertimu akan hangus menjadi abu sebelum sempat menyentuh gerbang perbatasan Dataran Badai. Petir di sana bukan sekadar elemen, itu adalah manifestasi kemarahan para dewa kuno. Kau yakin akan pergi ke sana?"
Suara itu menggema, bagai cambuk keras yang membangkitkan tekad Eliya. Kata-kata Zharvion tidak serta merta membuatnya takut atau bahkan putus asa. Justru Eliya merasa tertantang untuk datang ke tempat itu.
"Kalau begitu, ini akan menjadi pertaruhan yang menarik," balasnya sambil tersenyum tipis.
Keadaan mendesak seperti situasi saat sekarang, justru membuat darahnya berdesir. Insting bertahan hidupnya yang paling primitif mendadak bangkit. Memberinya keyakinan dan kepercayaan untuk membangkitkan elemen berikutnya.
"Jika aku mati di sana, kontrak kita selesai dan kau bebas mencari wadah baru. Tapi jika aku berhasil, aku akan mendapatkan Mahkota Petir." Ia menatap jauh pada cakrawala di langit. Tangan kanannya mengepal, menggenggam tekad yang tak tergoyahkan.
Zharvion terdiam. Keheningan makhluk kuno itu adalah bentuk persetujuan terselubung. Dia tahu, seperti halnya Eliya tahu, bahwa tidak ada pilihan lain yang tersisa, selain mengambil semua resiko.
"Aku tidak akan mati semudah itu."
Kalimat yang diucapkannya dengan penuh keyakinan. Memberi Eliya motivasi untuk terus berjuang menyempurnakan kekuatan demi kedamaian dunia. Jika Nocthus terbangun, sementara ia belum memiliki cukup kekuatan, maka dunia Aethervan, dunia yang mereka tinggali tidak akan pernah memiliki kedamaian.
Penguasa kegelapan akan melahap habis seluruh benua di dunia Aethervan.
"Itu tidak boleh terjadi," pungkasnya sebelum jendela kayu itu tertutup.