Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Kamar Serba Pink dan Aliansi Dua Cewek Sakit Hati
Suasana di kelas 12 IPS 2 SMA Garuda sedang heboh-hebohnya. Jam kosong akibat guru Matematika mendadak rapat dimanfaatkan maksimal oleh murid-murid. Di pojok belakang, Alexa sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja, memayunkan bibirnya hingga beberapa sentimeter sambil meremas ujung pensilnya.
"Aku kangen Mama... Kangen Papa... Kangen kasur empukku yang gambarnya Hello Kitty," gumam Alexa merengek pelan, suara cemprengnya yang mendayu-dayu memancing helaan napas dari ketiga sahabatnya.
Rin yang sedang asyik memainkan pulpen di jemarinya menoleh. "Ca, kamu itu baru seminggu nggak pulang ke rumah orang tuamu lho. Lagian kamu kan udah jadi istri orang, tinggal di apartemen mewah sama CEO ganteng. Masa masih merengek kaya anak TK hilang induk?"
"Tapi kan beda, Rin!" jerit Alexa heboh refleks, memicu beberapa anak kelas melirik. Ia cepat-cepat memelankan suaranya seraya menepuk mulutnya sendiri. "Di apartemen itu semuanya serba rapi, serba dingin. Aku mau makan sambal terasi buatan Mama, mau tiduran santai tanpa takut kepergok Mas Exel pas lagi ngiler!"
Safi yang sedang menikmati es boba—pemberian rahasia dari Achmad yang diantar lewat kurir pagi tadi—terkekeh manis. "Aiyo, Ca... Kalau kau kangen sangat, cakap je lah dekat suami kau tu. Mas Exel kan sayang sangat dekat kau. Mesti dia bagi punya."
"Masa sih?" Alexa memiringkan kepalanya, matanya berbinar ragu. "Mas Es Batu kan sibuk banget belakangan ini gara-gara urusan kantor..."
Melati tersenyum hangat, mengelus bahu mungil Alexa. "Coba telepon atau chat dulu, Alexa. Pria se-protektif Mas Exel pasti nggak bakal tega nolak permintaan istrinya."
Sementara itu, di lantai teratas gedung Dirgantara Group, atmosfer kerja terasa panas. Di ruang eksekutif, Exel sedang menatap tiga layar monitor yang menampilkan pergerakan grafik saham perusahaannya yang mulai stabil setelah intervensi tim keuangan.
Namun, fokus sang CEO terganggu saat pintu ruangannya diketuk pelan. Achmad melangkah masuk membawa map dokumen terbaru, tetapi raut wajah sang asisten pribadi tampak lebih tegang dari biasanya.
"Ada perkembangan dari tim pelacak digital?" tanya Exel dingin tanpa memalingkan wajah dari monitor.
"Soal kebocoran data sudah terkendali, Bos," ujar Achmad meletakkan map di meja. "Tapi ada kabar buruk lain. Clara makin nekat. Dia tidak bergerak sendirian di luar sana."
Exel menoleh lambat-lambat, mata cokelat gelapnya menyipit tajam. "Maksudmu?"
Achmad menghela napas panjang. "Tim intel kita menemukan bahwa Clara baru saja mempekerjakan Siska—mantan Office Girl kantor ini yang lu pecat minggu lalu gara-gara godain lu di ruangan ini."
Sebuah senyuman sinis dan dingin terukir di bibir kaku Exel. "Dua wanita frustrasi berkumpul. Kombinasi yang sangat menyedihkan."
"Jangan diremehkan, Cel," tegas Achmad pelan. "Siska itu dendam setengah mati sama lu dan Dek Alexa gara-gara dipecat tak hormat. Dia yang tahu celah-celah area publik kantor dan pernah lihat wajah Dek Alexa langsung. Clara memanfaatkan dendam Siska buat mencari informasi jadwal harian Dek Alexa di luar sekolah dan area apartemen lu. Mereka berdua berencana membuat insiden yang bisa mempermalukan atau mencelakai Dek Alexa di depan publik."
Buku-buku jari Exel di atas meja membeku kaku. Aura membunuh yang amat pekat dan dingin seketika memancar dari tubuh tegap sang CEO, membuat suhu di ruangan ber-AC itu terasa merosot tajam.
"Perketat semua akses," perintah Exel dengan suara sangat rendah dan berbahaya. "Kalau ada salah satu dari mereka berani mendekati area jangkauan Alexa... jangan segan untuk langsung mengeksekusi secara hukum dan finansial hingga mereka tidak punya tempat tinggal di kota ini."
"Siap, Bos. Tim pengawal rahasia sudah bersiap di sekitar SMA Garuda dan jalur menuju apartemen," sahut Achmad mantap.
Tiba-tiba, nada dering khusus yang sangat nyaring dan ceria menggema dari ponsel pribadi Exel di atas meja. Nada dering bernuansa lagu anak-anak—yang sengaja dipasang Exel khusus untuk panggilan dari istrinya.
Seketika itu juga, aura membunuh dan raut wajah 'dewa kematian' milik Exel luntur tanpa bekas. Sang CEO meraih ponselnya dengan gerakan cepat, dan sudut bibirnya terangkat tipis secara refleks.
Achmad yang menyaksikan perubahan drastis itu hanya bisa memutar bolanya malas. Hah... Bucin memang obat paling ampuh buat manusia es, batin Achmad menggeleng pasrah.
"Halo, Sayang?" sapa Exel lembut dengan suara beratnya, sama sekali tidak memedulikan Achmad yang mendadak pura-pura muntah di depannya.
"Maaaasss..." suara cempreng Alexa melengking dari seberang telepon, terdengar sangat manja dan mendayu-dayu. "Mas Exel busy banget gak hari ini? Boleh gak... please banget... malam ini kita tidur di rumah Mama sama Papa? Aca kangen banget sama Mama... Kangen kamar Aca..."
Exel terdiam sejenak. Pikiran rasionalnya sempat menimbang faktor keamanan jika berpindah lokasi, namun mendengar nada memelas yang sangat manis dari istri mungilnya, seluruh benteng penolakan Exel runtuh seketika.
"Boleh, Sayang," jawab Exel halus. "Nanti sore Mas jemput di sekolah, lalu kita langsung ke rumah Papamu, ya?"
"YAY! MAKASIH MAS EXEL GANTENG! MUAH!" jerit Alexa gembira sebelum memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Exel terkekeh pelan, menyimpan ponselnya kembali. Ia mendongak menatap Achmad yang masih berdiri bersedekap dada.
"Urus kepindahan pengawalan malam ini ke kediaman keluarga Pramudya," ujar Exel tenang.
"Siap, Bos," kekeh Achmad. "Tapi jujur ya, Cel... Lu beneran berani tidur di kamar Dek Alexa? Lu ingat gak pernah cerita waktu pertama kali main ke rumahnya dulu? Kamarnya penuh cat hot pink sama boneka beruang raksasa!"
Exel berdeham kaku, merapikan dasinya untuk menutupi rasa canggung. "Tidak masalah. Di mana pun istrinya berada, di situ saya tidur."
"Walah... Bos bucin mah bebas!" ledek Achmad tertawa riang sebelum bergegas keluar ruangan sebelum dilempar map oleh sang CEO.
Sore harinya, mobil Rolls-Royce hitam milik Exel sudah terparkir rapi di halaman kediaman keluarga Pramudya. Kedatangan pasangan pengantin baru itu disambut hangat luar biasa oleh Sarah dan Surya.
"Aduuuh, menantu Papa yang paling tampan!" seru Surya tertawa lebar seraya memeluk bahu Exel. "Ayo masuk, masuk! Mama sudah masak semur daging dan sambal terasi kesukaan kalian!"
"Makasih, Pa," balas Exel sopan, menyalami kedua mertuanya dengan rasa hormat yang mendalam.
Alexa yang sudah melompat duluan ke dalam rumah langsung berlari menuju dapur, mencium aroma masakan ibunya dengan wajah sangat bahagia. Suasana makan malam keluarga itu berlangsung sangat riuh dan penuh kehangatan—sebuah dinamika keluarga sederhana yang selalu membuat hati Exel yang dingin merasa tenang dan terlindungi.
Namun, ujian sesungguhnya bagi sang CEO eksekutif baru dimulai saat malam semakin larut.
Pukul 22.00 WIB.
Exel melangkah masuk ke dalam kamar tidur lama milik Alexa di lantai dua setelah selesai membersihkan diri. Pria bertubuh tegap setinggi 185 cm itu membeku di ambang pintu, matanya berkedip dua kali melihat pemandangan di depannya.
Kamar berukuran sedang itu didominasi oleh warna pastel pink dan hot pink. Dindingnya dipenuhi stiker lampu bintang yang menyala dalam gelap, seprai kasurnya bernuansa bunga-bunga terang, dan di atas kasur queen size tersebut tersusun tidak kurang dari delapan boneka beruang raksasa berbagai ukuran!
Di tengah tumpukan boneka itu, Alexa sedang duduk bersila mengenakan piyama kartun kelinci warna merah muda, sibuk mengunyah camilan keripik kentang sambil menonton kartun di televisi kecil.
"Mas Exel! Sini masuk!" panggil Alexa gembira dengan suara cemprengnya, menepuk-nepuk area kosong di sampingnya yang sebenarnya sangat sempit karena terhalang boneka beruang cokelat raksasa.
Exel melangkah masuk kaku. Pria yang biasanya menguasai ruang rapat eksekutif berkapasitas ratusan orang itu kini tampak sangat 'out of place' di dalam kamar serba pink tersebut. Exel menyingkirkan dua boneka beruang besar ke lantai secara perlahan, lalu merebahkan tubuh tegapnya di samping Alexa.
Kasur empuk milik Alexa seketika amblas sedikit menahan bobot tubuh tegap Exel.
"Kamu biasa tidur dengan tumpukan boneka sebanyak ini?" tanya Exel kaku, memandangi boneka beruang bermata besar yang seolah menatapnya dari sudut kasur.
"Iya dong! Ini semua teman-teman tidur Aca dari SMP!" sahut Alexa bangga, lalu menyodorkan selembar keripik kentang ke bibir Exel. "Nih, Mas, makan! Enak lho!"
Exel menerima suapan keripik itu, mengunyahnya pelan seraya menatap wajah mungil istrinya yang sangat bahagia. Rasa canggung akibat suasana kamar pink itu seketika menguap, digantikan oleh rasa gemas dan cinta yang membuncah.
Exel merengkuh tubuh mungil Alexa, menarik gadis itu ke dalam pelukan hangatnya hingga kepala Alexa bersandar nyaman di dada bidangnya.
"Aca..." panggil Exel rendah, jemari tegapnya mengelus lembut rambut bergelombang istrinya.
"Ya, Mas?"
"Maaf ya, kalau belakangan ini Mas sangat sibuk di kantor," bisik Exel tulus di puncak kepala Alexa. "Mas cuma ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun orang jahat yang bisa mengganggu kehidupanmu dan keluarga kita."
Alexa mendongak, menatap mata cokelat gelap suaminya yang begitu dalam. Gadis mungil itu tersenyum manis, meremas kaus hitam yang dikenakan Exel.
"Aca tahu kok, Mas Exel..." balas Alexa lembut. "Rin sama Safi cerita kalau Mas Exel nyuruh pengawal rahasia buat jaga Aca di sekolah. Aca gak marah sama sekali. Aca justru merasa aman banget punya suami hebat kaya Mas Exel."
Exel tersenyum lega. Ia menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang lembut, hangat, dan penuh kasih sayang di tengah kamar bernuansa pink tersebut. Alexa memejamkan matanya, membalas kepasrahan rasa cinta suaminya dengan penuh kehangatan.
Namun, di tengah momen romantis yang baru saja terbangun...
Kruuuuukkkkk...
Suara nyaring dari perut Alexa kembali mengudara dengan sangat tidak sopan di dalam kamar yang hening.
Ciuman mereka terputus seketika. Alexa melotot sempurna, refleks menutupi perutnya sendiri dengan kedua tangan. Wajah mungilnya seketika membara merah padam bagaikan kepiting rebus!
Exel terkekeh renyah—suara tawa gembira yang menggema halus di kamar itu. "Masih lapar, hm? Padahal tadi sudah makan semur daging dua piring."
"Aaaa! Mas Exel jangan diejekin!" jerit Alexa histeris salah tingkah setengah mati, menyembunyikan wajah panasnya di balik boneka beruang raksasa di sampingnya. "Ini gara-gara keripik kentangnya memancing asam lambung tahu gak!"
Exel menggeleng-gelengkan kepala penuh gemas, menarik Alexa kembali ke dalam dekapannya seraya mencium pipi tembamnya berkali-kali. "Ya sudah, ayo turun ke dapur. Mas buatkan susu hangat dan roti panggang keju."
"Beneran dibuatkan?!" mata Alexa seketika berbinar manis.
"Iya, Sayang. Apapun untuk istri mungilku," bisik Exel lembut.
Di balik ancaman teror dari aliansi Clara dan Siska yang kian mengintai di luar sana, malam itu di dalam kamar masa kecil Alexa yang serba pink, ikatan kasih sayang dan rasa saling menjaga di antara Exel dan Alexa makin terpatri kuat—tak tergoyahkan oleh ancaman apa pun yang siap menanti di esok hari.