Cantika Putri, gadis cantik yang tinggal di pedesaan. dan harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Cantika baru mengetahui kalau dirinya bukan anak kandung dari orang tua yang selama ini merawatnya. Dan dia bertekad akan mencari keluarga kandungnya..
Apakah Cantika bisa bertemu keluarga Kandungnya?? Dan apakah dia di terima baik oleh keluarga kandungnya itu??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina1708, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengantar Amora Pulang
Happy Reading
❤❤❤❤❤❤❤
Jleb
Bisik-bisik mulai merayap di antara para siswa yang menonton. Kainan melirik ke arah Chilla, menangkap guratan kepanikan yang samar di wajah cewek yang selalu mengejar nya itu. Keraguan mulai merayapi pikiran nya.
"Chilla..." Panggil Kainan pelan, suara nya menuntut penjelasan.
"Kai..kainan, kok kamu malah dengerin dia sih?" Chilla mulai panik, mata nya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri. "Ya udah kalau kamu nggak percaya sama aku!" Lanjut Chilla mulai drama lagi.
Tanpa menunggu balasan, Chilla memutar badan dan bergegas pergi meninggalkan kantin. Sorak samar dari beberapa siswa langsung terdengar, menyadarkan Kainan betapa bodoh nya dia hampir memukul orang yang salah.
Kainan menghembuskan napas nya berat, meraut wajah nya kasar. Ia menatap Amora penuh rasa bersalah. "Amora... Maafin gue. Gue hampir..." Ucap Kainan.
"Lain kali, pakai otak di kepala mu buat mikir, bukan cuma dengerin bisikan orang, kalau lo gak bisa mikir jual aja otak lo.. Gak guna!!!" Potong Cantika tegas. Ia lalu berbalik, menggenggam tangan Amora yang lambat laun mulai tenang. "Ayo, Amora. Mending kita lanjut makan di tempat lain." Ucap Cantika.
Amora mengangguk pelan, menyapu air mata di sudut mata nya, lalu berjalan mengekor di belakang Cantika. Di tengah kantin yang kembali riuh, Kainan hanya bisa berdiri mematung, menanggung rasa malu atas kecerobohan nya sendiri.
*****
Hujan telah berhenti dan jam sekolah pun sudah selesai, semua siswa berhamburan pulang. Saat ini Cantika berada di parkiran sekolah, dia bersikap untuk pulang juga.
Saat hendak menjalankan motor nya, mata Cantika tak sengaja melihat Amora yang berjalan keluar gerbang sekolah. Cantika pun bergegas mengejar Amora.
Tiinn... Tinn... Tiinnn...
" Ra, ayo bareng gue aja balik nya. " Ajak Cantika.
" Gak usah Can, gue gak mau ngerepotin lo. " Sahut Amora.
" Udah gak apa-apa ayo... Nanti keburu hujan lagi. " Ucap Cantika.
Dengan sedikit paksaan, akhirnya Amora mau ikut pulang dengan Cantika.
Hujan gerimis kembali turun saat Cantika menghentikan motor nya di depan sebuah gerbang besi menjulang tinggi. Di balik nya, berdiri megah sebuah rumah bergaya klasik modern dengan pilar-pilar besar dan pencahayaan hangat yang mewah.
"Makasih ya, Cantika, udah mau nganterin aku pulang. Supir ku tadi mendadak izin," Ujar Amora seraya tersenyum manis.
"Sama-sama, Ra. Mumpung jalur nya searah kok," Balas Cantika ramah.
"Kamu masuk dulu, yuk? Baju kamu agak basah tuh gara-gara kehujanan. Kita minum teh hangat sebentar," Tawar Amora tanpa ragu, langsung menarik pelan tangan Cantika.
" Eh tapi... " Ucap Cantika.
" atuh lihat, malah hujan na semakin deras.. Kamu di sini dulu aja sampai hujan nya mereda.. Kalau kamu maksain nanti kamu kenapa-kenapa di jalan atau nanti kamu malah jadi sakit. " Ucap Amora.
Cantika sempat segan, tetapi kehangatan sikap Amora membuat nya tak enak hati untuk menolak. Ia melangkahkan kaki melintasi pintu jati berukir yang megah. Interior rumah itu sungguh menawan—lantai marmer yang berkilau, lampu gantung kristal yang megah, serta deretan lukisan berbingkai emas yang tertata rapi di dinding.
Saat Cantika sedang mengagumi vas bunga tinggi di area ruang tamu, langkah kaki bernada anggun terdengar mendekat dari arah tangga utama. Seorang wanita paruh baya berbusana sutra lembut melangkah turun. Tatanan rambut nya rapi dan pancaran mata nya memancarkan keanggunan yang alami.
"Amora, kamu sudah pulang, Nak?" Suara wanita itu terdengar lembut namun tenang.
"Sudah, Mama. Oh iya, Ma, ini kenalin Cantika, teman ku yang kebetulan searah dan udah nganterin Amora pulang," jawab Amora riang.
Nyonya Nirmala mengalihkan pandangan nya pada sosok di samping putri nya. Namun, begitu mata nya menatap wajah Cantika, langkah nya seketika terhenti. Tatapan nya tertahan cukup lama pada iris mata dan garis senyum Cantika.
Di saat yang sama, Cantika merasakan getaran aneh di dada nya. Langkah nya tertahan, hati nya mendadak berdesir hangat sekaligus bingung. Tatapan mata Nyonya Nirmala terasa tidak asing bagi nya, seolah-olah ia pernah melihat kehangatan yang sama di suatu tempat yang sangat jauh dalam ingatan nya.
"Selamat sore, Tante," Sapa Cantika sopan, mencoba memecah keheningan yang mendadak melingkupi mereka.
Nyonya Nirmala melangkah mendekat, mata nya berkaca-kaca tanpa ia sadari. "Selamat sore... Cantika. Senang sekali bisa bertemu dengan mu." Jawab nyonya Nirmala.
Kedua wanita itu saling berpandangan dalam keheningan yang dalam, sama-sama bertanya dalam hati dari mana rasa familiar yang begitu kuat ini berasal.
Nyonya Nirmala baru saja hendak membalas senyuman Cantika ketika mata nya tertuju pada leher gadis itu. Dari balik kerah kemeja sekolah nya yang sedikit terbuka, menggantung sebuah liontin perak berbentuk sebelah hati. Liontin itu memantulkan cahaya lampu kristal di atas mereka, memamerkan ukiran garis halus yang sangat di hafal Nyonya Nirmala di luar kepala.
Napas Nyonya Nirmala tertahan seketika. Jantung nya berdegup kencang, menuntut kepastian atas dugaan yang selama ini mengendap di relung hati nya paling dalam.
"Kalung itu..." bisik Nyonya Nirmala lirih, hampir tak terdengar.
Di dorong oleh rasa penasaran dan kerinduan yang mendalam, Nyonya Nirmala melangkah maju. Tangan nya gemetar, terulur perlahan hendak menyentuh liontin yang melingkar di leher Cantika. Cantika yang menyadari tatapan intens serta gerakan tangan wanita itu hanya bisa berdiri terpaku, merasa ada keterikatan emosional yang tak mampu ia jelaskan.
Namun, sebelum jemari Nyonya Nirmala sempat menyentuh liontin tersebut, derap langkah sepatu yang tegas bergema dari arah pintu samping.
"Ma, Kainan sudah pulang..." Teriak Kainan dengan suara berat dan bernada mantap memecah keheningan yang tegang di ruang tamu tersebut.
Nyonya Nirmala dengan cepat menarik kembali tangan nya, mencoba menguasai diri dan mengusap sudut mata nya sebelum anak laki-laki nya menyadari gejolak di wajah nya.
"Eh, kamu udah pulang bang... " Ucap Nyonya Nirmala. Kainan pun menatap Cantika yang sedang berdiri di sana.
' Ngapain dia di sini??? Apa dia ngadu sama mama soal aku yang tadi hampir menampar Amora?? ' Batin Kainan.
Kainan menatap Cantika. Untuk sejenak, pria itu memperhatikan raut wajah Cantika yang tampak sedikit terkejut, sebelum akhirnya menganggukkan kepala secara sopan. " Kenapa dia ada di sini?? " Tanya Kainan datar.
" Kai, dia antar Amora pulang... " Jawab nyonya Nirmala. " Kenapa gak sama kamu aja tadi pulang nya?? Kan jadi gak ngerepotin Nak Cantika. " Ucap nyonya Nirmala..
" Aku tadi... " Jawab Kainan bingung harus jawab apa.
" Mah, Kak Kainan tadi ada rapat OSIS jadi Rara duluan malas nunggu di sekolah ma. " Ucap Amora beralasan.
' Cih Amora bodoh banget, udah tau si Kai ini gak mau bareng pulang.. masih aja du bela. ' Batin Cantika sedikit kesal.
Kainan pun pergi ke kamar nya, sementara Amora dan Cantika mengobrol di ruang tamu. Meski percakapan bergulir santai, Nyonya Nirmala yang kini duduk sebelah Amora tak bisa mengalihkan pandangan nya dari Cantika. Mata nya terus menatap liontin sebelah hati itu dengan seribu pertanyaan yang berpacu di kepala nya.
' Kenapa dia pakai liontin itu?? Itu mirip sekali dengan liontin nya??? Apa dia.... Putri ku yang hilang??? ' Batin Nyonya Nirmala menebak kemungkinan yang terjadi.
**********
Happy Reading Guys. 🥰🤗
lanjut Thor 👍