GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi Bawah Tanah dan Asap Pengkhianatan
Sedan lapis baja milik Siska meraung menembus kegelapan kawasan Pasar Ujung, sebuah wilayah pelabuhan tua yang tidak pernah benar-benar tidur. Di tempat ini, lampu-lampu jalan neon yang berkedip suram menerangi deretan warung remang-remang, tumpukan kontainer berkarat, dan genangan air laut bercampur minyak solar. Udara malam terasa asin, amis, dan pekat oleh aroma asap kretek murahan dari para kuli panggul yang berada di pinggir jalan.
Senja menginjak pedal rem dengan hati-hati, memarkirkan sedan yang babak belur itu di antara dua krat kayu bekas milik gudang es batu. Mesin V8 mobil itu akhirnya mati, meninggalkan keheningan mencekam yang hanya diisi oleh suara napas Siska yang makin tipis di kursi belakang.
“Siska masih bertahan, tapi nadinya makin lambat,” bisik Gala sambil menahan luka pendarahan di bahu Siska menggunakan lipatan kemejanya yang sudah koyak. “Kita nggak punya banyak waktu, Nja.”
Senja melompati pintu mobil, menyapu pandangannya ke sekeliling kawasan kumuh itu. Tangannya memegang erat kotak titanium hitam milik Siska yang timernya terus berjalan mundur tanpa ampun: 21:42:10... 21:42:09...
“Ikuti aku,” kata Senja singkat. “Siska bilang toko tempat kedai ramuan herbal di bawah jembatan.”
Gala memapah tubuh Siska yang terkulai lemas di pundaknya, sementara Senja memimpin jalan menyusuri lorong sempit di antara dua bangunan beton yang terbengkalai. Di ujung lorong, di bawah pijakan tangga besi berkarat, terdapat sebuah pintu kayu kusam tanpa papan nama. Hanya ada sebuah lampu bohlam kuning kecil yang dikerubungi laron di atasnya.
Senja tidak mengetuk. Ia mengepalkan tangan dan menghantam pintu kayu itu tiga kali dengan ritme cepat: dua ketukan keras, satu ketukan pelan—pola yang sempat dibocorkan Siska sebelum ia hilang kesadaran.
KLAK.
Sebuah celah kecil di pintu terbuka dari dalam. Sepasang mata berwarna merah kelelahan, dikelilingi kerutan tebal dan lingkaran hitam, menatap mereka dari balik kegelapan.
“Siapa?” suara dari dalam pintu itu serak, seperti tenggorokan yang dihantam pasir dan alkohol selama bertahun-tahun.
“Gala dan Senja,” jawab Gala setengah berteriak karena beban tubuh Siska mulai terasa amat berat. “Siska yang suruh kami ke sini! Dia kena tembak!”
Pintu kayu itu mendadak ditarik terbuka lebar. Pria di balik pintu itu adalah Detektif Surya. Umurnya mungkin mendekati lima puluh tahun, mengenakan kemeja putih berkerah terbuka yang sangat kusut, celana bahan penuh noda minyak, dan jaket kulit cokelat kusam yang baunya seperti kombinasi tembakau, bubuk mesiu, dan alkohol murahan. Sebuah revolver Colt .38 revolver tua terselip asal-asalan di pinggangnya.
Surya menatap Siska yang tak sadarkan diri, lalu beralih menatap Gala dan Senja. Mata merahnya menyipit tajam.
“Mesin pembunuh Vanguard bisa bocor juga ternyata,” cetus Surya sinis tanpa ada nada simpati sedikit pun. Ia melangkah mundur dan memberi isyarat dengan kepalanya. “Masuk. Cepat. Sebelum anak buah Lilia mengendus bau amis darah wanita itu sampai ke lorong ini.”
Mereka bertiga masuk ke dalam ruangan bawah tanah tersebut. Pintu kayu ditutup rapat dan dikunci dengan tiga selot besi tebal.
Ruangan di balik pintu itu jauh dari kesan kantor polisi resmi. Ini adalah sebuah bunker rahasia era perang dingin yang disulap menjadi markas persembuniyan. Dinding betonnya yang telanjang dipenuhi oleh peta kota, foto-foto korban pembunuhan yang dihubungkan oleh benang merah, monitor-monitor tabung tua yang menampilkan kamera pengawas lorong, serta tumpukan botol minuman keras yang kosong di sudut ruangan.
“Baringkan dia di atas meja,” perintah Surya sambil berjalan menuju lemari besi tua. Ia mengeluarkan sebuah kotak P3K besi yang berkarat, sebotol alkohol murni, dan sepasang tang medis.
Gala membaringkan Siska di atas meja kayu tebal yang dipenuhi tumpukan kertas laporan. Senja langsung mengambil kain kasa dan menekan luka di bahu Siska, sementara Surya menyiramkan alkohol murni ke tang medisnya tanpa mematikan rokok kretek yang menjepit di sudut bibirnya.
“Kalian beruntung pelurunya tembus dan nggak meremukkan tulang belikatnya,” ujar Surya sambil memeriksa luka Siska dengan ketelitian seorang mantan perwira forensik. Tangannya yang dipenuhi tato tua bekerja dengan sangat cepat—membersihkan darah, menjahit pembuluh darah yang putus, dan membalut luka Siska hanya dalam waktu kurang dari delapan menit.
Selama proses medis darurat itu, Siska hanya meringis tipis dalam pingsannya tanpa membuka mata.
Gala mengusap keringat di jidatnya, menatap Surya yang kini sedang mengelap jarinya yang berdarah menggunakan handuk kotor. “Detektif... Siska bilang cuma Bapak yang bisa dipercaya di kota ini. Apa Bapak benar-benar tahu siapa The Architect?”
Surya tidak langsung menjawab. Ia meletakkan tang medisnya ke dalam mangkuk seng, lalu berjalan ke mejanya dan menghembuskan asap rokok kretek tebal ke udara. Matanya tertuju pada kotak titanium hitam yang diletakkan Senja di atas meja komputer.
BIP... BIP... BIP...
Timer kotak itu kini menunjukkan angka 21:30:00.
Surya mendekati kotak itu, menatap panel biometriknya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa takut, kebencian, dan nostalgia yang sangat kelam. Tangannya yang memegang rokok bergetar tipis.
“Gue udah kenal babamu sejak zaman krisis sembilan delapan, Senja,” kata Surya pelan, suaranya kini terdengar berat dan lelah. “Pak Broto... dia bukan cuma sekadar sersan marinir. Dia adalah komandan unit hantu yang membentuk Vanguard untuk melindungi aset strategis negara dari cengkeraman mafia internasional.”
Senja melangkah maju, dadanya bergemuruh. “Kalau Bapak kenal ayahku, kenapa Siska bilang Protokol Broto itu program penghancuran otomatis? Apa hubungannya sama aku?”
Surya menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya lagi. “Karena babamu tahu, suatu hari nanti Vanguard bakal membusuk dari dalam. Dan sewaktu The Architect—seorang mantan insinyur intelijen asing—merebut Vanguard, babamu mengunci seluruh akses dana dan jaringan satelit senjata mereka menggunakan kode genetiknya sendiri. Dan kode genetik itu... diwariskan penuh ke darah dagingnya. Yaitu kamu, Senja.”
Gala menepuk meja. “Jadi The Architect mau memburu Senja bukan buat dibunuh, tapi buat diambil darahnya atau dipaksa membuka kotak ini?!”
“Tepat,” kata Surya dingin. “Kotak titanium yang dipegang Siska itu berisi kunci dekoder master. Kalau kotak ini berhasil dibuka di stasiun pemancar utama kota sebelum hitung mundur selesai, seluruh kekayaan The Architect bakal dibekukan permanen dan lokasi semua agennya di seluruh dunia bakal terbongkar ke publik.”
Gala bernapas lega. “Kalau gitu gampang! Kita tinggal bawa kotak ini ke stasiun pemancar, buka kotaknya pakai darah Senja, dan kelar semua masalah ini!”
Surya tertawa pelan. Tawa yang kering, pait, dan tanpa humor sedikit pun. “Gampang, kata lo? The Architect punya seratus pasukan elit yang melingkari kota ini sekarang. Lilia—wanita iblis yang melatih Siska—sudah memegang seluruh akses komunikasi polisi. Kalian nggak bakal bisa jalan seratus meter dari lorong ini tanpa kepalamu bolong kena tembak sniper.”
Suasana di bunker bawah tanah itu mendadak menjadi sangat dingin.
Surya mematikan puntung rokoknya di asbak seng, lalu menatap Gala dan Senja secara bergantian. “Di sebelah ruangan ini, ada ruang isolasi kedap gelombang elektromagnetik. Ruangan itu punya peredam signal Faraday Cage. Kalau kalian simpan kotak itu di dalam sana, sinyal pelacak lokasi milik The Architect nggak bakal bisa menembus dindingnya. Itu bakal memberi kita waktu buat menyusun rencana.”
Gala menatap Senja. Senja mengangguk pelan, merasa alasan Surya masuk akal. Mereka bertiga—Gala, Senja, dan Siska yang masih terkulai pingsan—memang butuh tempat aman untuk bersembunyi sejenak dari radar musuh.
“Bantu gue angkat Siska ke dalam ruangan itu,” kata Gala.
Gala merangkul tubuh Siska, sementara Senja membawa kotak titanium tersebut. Surya memutar tuas besi tebal di dinding, membuka sebuah pintu baja tebal berukuran dua meter yang mengarah ke dalam ruangan isolasi yang sempit dan ber dinding logam mengilap.
Gala membaringkan Siska di atas dipan besi di dalam ruangan itu, sementara Senja meletakkan kotak titanium di atas meja logam.
“Aneh...” bisik Senja tiba-tiba saat ia berdiri di dalam ruangan itu. Insting bertahannya kembali menyengat tajam. Ia menatap ke arah pintu baja. “Gal, kenapa ruangan ini nggak punya gagang pintu dari dalam?”
Sebelum Gala sempat merespons pertanyaan Senja, Detektif Surya yang berdiri di luar ruangan mendadak menarik pintu baja itu sekuat tenaga.
BAMMMM!!
Pintu baja tebal setebal sepuluh sentimeter itu tertutup rapat. Suara gerendel besi otomatis berbunyi keras: KLANG! KLANG! KLANG! Seluruh sistem penguncian mekanis dari luar terkunci secara otomatis.
“Surya!!” teriak Gala, bertindak cepat menerjang pintu baja itu dan menghantamkan tubuhnya ke kaca pelindung tebal berukuran kecil di tengah pintu. “Apa-apaan ini?! Buka pintunya!”
Senja ikut melompat, mengepalkan tangannya dan menghantam kaca anti-peluru itu sekuat tenaga. BAM! Kaca itu bahkan tidak bergemerak sedikit pun.
Di luar ruangan, di balik kaca tebal, Detektif Surya berdiri dengan tenang. Ia menyalakan batang rokok kretek barunya dengan tangan yang tidak lagi bergetar. Wajahnya yang kusam tampak sangat dingin di bawah sorotan lampu bohlam kuning.
“Maafkan gue, Anak Muda,” suara Surya terdengar melalui pelantang suara interkom kecil di atas pintu, terdistorsi oleh nada statis. “Uang pensiun dari kepolisian nggak cukup buat mengobati kanker paru-paru gue. Dan The Architect... dia menawarkan sepuluh juta dolar bersih untuk kepala Senja dan kotak itu.”
Senja menatap Surya dengan mata menyala penuh kebencian dan amarah yang meledak-ledak. “Kamu mengkhianati ayahku, Surya! Kamu menjual kami pada orang yang mau menghancurkan kota ini!”
Surya tidak menatap mata Senja. Ia mengalihkan pandangannya ke dinding. “Dunia ini sudah lama hancur, Senja. Ayahmu cuma bermimpi saat mikir dia bisa menyelamatkannya.”
Surya melangkah ke panel kontrol dinding, menekan sebuah tombol merah besar berlabel NEUTRALIZATION.
DESSSSSSS...
Dari empat katup ventilasi di langit-langit ruangan isolasi tersebut, gas berwarna putih pekat beraroma manis yang menyengat mendadak menyembur keluar dengan deras.
“Gas tidur kelas militer...” desis Gala, tenggorokannya seketika terasa terbakar saat ia memegang lehernya. Pandangannya mulai kabur, kakinya terasa seperti jeli yang kehilangan tumpuan. “Nja... jangan... jangan hirup...”
Senja mencoba menahan napasnya, merobek bagian bawah kausnya untuk menutupi hidung dan mulutnya, namun gas itu terserap sangat cepat melalui pori-pori kulit dan mata. Kekuatan fisik Senja yang luar biasa perlahan merosot. Tubuhnya runtuh ke lantai dingin di sebelah dipan Siska.
Gala berlutut di sebelah Senja, merangkul jemari istrinya dengan erat di tengah kabut gas putih yang makin tebal.
Melalui kaca tebal yang makin mengabur di matanya, Gala melihat Detektif Surya merogoh saku jaket kulitnya, mengeluarkan sebuah ponsel satelit canggih berpendar biru, dan menempelkannya ke telinga.
“Gedung isolasi sudah terkunci,” kata Surya ke dalam mikrofon ponselnya. “Subjek utama dan kotak Protokol Broto sudah diamankan. Kirim tim penjemputanmu ke Pasar Ujung sekarang... Lilia.”
Mata Gala terpejam rapat. Kegelapan total menyergap kesadarannya, meninggalkan sebuah pertanyaan terakhir yang membeku di otaknya: Ke arena pembantaian seperti apa mereka akan terbangun saat membuka mata nanti?