SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Konfrontasi sang?
BAB 24: "KONFRONTASI SANG PENGUASA BAYANGAN"
Suara langkah sepatu beradu dengan lantai marmer yang dingin bergema di sepanjang koridor menuju pintu ganda jati berukir di lantai lima puluh. Pintu tebal bernuansa kemewahan klasik itu kini berada di depan Aira dan Langit. Tidak ada lagi prajurit yang tersisa di luar. Yang ada hanya keheningan mencekam, kontras dengan gemuruh angin malam yang menerpa kaca raksasa pencakar langit di belakang mereka.
Langit mengulurkan tangan kirinya, mendorong pintu ganda tersebut hingga terbuka lebar tanpa keraguan.
SREK... KLEK.
Ruangan kerja seluas lapangan basket itu diterangi remang lampu gantung kristal dan pijar lampu-lampu kota Jakarta di balik dinding kaca raksasa. Di ujung ruangan, berjarak belasan meter dari pintu masuk, sebuah meja kayu jati raksasa berdiri anggun.
Di balik meja itu, Bramantara Adhitama duduk tenang di atas kursi kulit tingginya. Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas hitam buatan penjahit ternama, menggenggam segelas wiski murni di tangan kanannya. Wajahnya yang tegas bergaris rahang mirip Langit tampak sangat tenang—tidak ada sedikit pun raut panik, gundah, atau cemas meski puluhan pasukan terbaiknya di lantai bawah baru saja diratakan.
"Kalian terlambat tiga menit dari perkiraanku," kata Bramantara, suaranya yang berat dan menggema rendah memenuhi seluruh sudut ruangan. Dia memutar gelas wiskinya perlahan, menikmati bunyi denting es batu yang beradu dengan kaca.
Aira melangkah maju berdampingan dengan Langit. Seragam dan jaket kulit yang dikenakannya ternoda debu dan percikan darah tipis dari pertarungan di lantai bawah, namun matanya yang tajam berkilat penuh keangkuhan savage yang tak tergoyahkan.
"Tiga menit itu buat kita beres-beres sampah lu di luar, Pak Tua," balas Aira santai seraya menyandarkan senapan taktis ringkasnya di bahu. "Gak usah sok tenang gitu deh, muka lu udah kelihatan makin tua semenit semenit."
Bramantara meletakkan gelas wiskinya ke meja dengan dentang pelan. Matanya yang dingin berganti menatap Aira, menilai cewek remaja di depannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Aira Shena," sebut Bramantara pelan. "Cewek yang berhasil mengacaukan rencana Valerie, meratakan geng Krava, menumbangkan Black Cobra, dan sekarang berdiri di ruang kerjaku. Kamu punya insting bertarung dan keberanian yang cukup langka untuk ukuran cewek biasa."
"Gue bukan cewek biasa," potong Aira cepat. "Dan gue bukan cewek yang bisa lu atur-atur pake uang atau tentara bayaran lu yang kekeringan taktik itu."
Bramantara tertawa terkekeh—sebuah tawa dingin tanpa rasa humor. Dia lalu memindahkan pandangannya ke arah Langit yang sejak tadi berdiri membisu dengan aura membunuh yang makin membara.
"Dan kamu, Langit..." Bramantara bersandar di kursinya, menyilangkan kaki. "Anak tunggal keluarga Adhitama. Kamu rela membawa kelompok jalanan ini bertaruh nyawa di sini... cuma demi membela cewek yang baru kamu kenal beberapa bulan?"
"Dia bukan sekadar cewek," desis Langit, suaranya begitu rendah hingga bergetar di udara. Langit mengambil satu langkah ke depan, mengurung posisi Aira di balik perlindungan bahunya yang tegap. "Dia alasan gue buat gak jadi monster sialan kayak lu, Bramantara."
Bramantara menggelengkan kepala pelan, memperlihatkan raut kekecewaan yang dibuat-buat. "Kasihan sekali. Kamu mewarisi darah dan kekuasaan tertinggi di kota ini, tapi pikiranmu tersumbat oleh emosi remaja yang picisan. Kamu pikir dengan menghancurkan beberapa anak buahku di sini, kamu sudah menang?"
Bramantara menekan satu tombol tersembunyi di bawah meja jatinya.
BZZZZT!
Layar proyektor raksasa di dinding samping mendadak menyala terang. Layar itu menampilkan belasan grafik saham, aset bank, dokumen perizinan yayasan sekolah, hingga berkas-berkas kepemilikan markas Averus serta Penthouse yang ditinggali Aira dan Langit.
"Semua ini..." Bramantara menunjuk layar proyektor dengan pulpen emasnya. "...adalah fondasi hidup kalian. Satu klik dari komputetku malam ini, seluruh aset keluarga Shena yang baru saja kamu dapatkan, Aira, bakal disita oleh otoritas keuangan internasional atas tuduhan pencucian uang. Sekolah kalian bakal ditutup, dan seluruh anggota Averus bakal diburu oleh aparat sebagai organisasi kriminal terlarang."
Bramantara tersenyum tipis, penuh kemenangan yang mutlak. Pria tua itu tahu persis bahwa kekuatan sejati di dunia ini bukanlah tinju atau pisau, melainkan rantai kekuasaan dan finansial yang tak tersentuh.
"Aku bisa menghancurkan masa depan kalian berdua tanpa perlu mengotori tanganku dengan darah," sambung Bramantara dingin. "Sekarang, berlututlah. Langit, kamu kembali ke keluarga Adhitama dan turuti penjodohan bisnis yang sudah kusiapkan. Dan Aira Shena... kamu akan dikirim ke luar negeri untuk tidak pernah kembali lagi ke negara ini."
Suasana ruangan mendadak menjadi sangat hening dan mencekam.
Langit mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih, kemarahan yang tertahan di dadanya membakar habis aliran darahnya. Dia tahu betapa besarnya gurita kekuasaan ayahnya di dunia perbankan dan politik.
Namun, di tengah intimidasi finansial yang begitu berat, sebuah suara tawa renyah mendadak memecah ketegangan.
"BWAHAHAHAHA!"
Aira tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai dia harus memegangi perutnya. Tawa gila dan penuh ejekan itu sukses membuat kening Bramantara berkerut keheranan untuk pertama kalinya malam itu.
"Lu... lu bener-bener kocak banget ya, Pak Tua!" kata Aira sambil mengelap ujung matanya yang sedikit berair gara-gara tertawa. "Lu pikir kita berdua takut sama angka-angka di layar proyektor lu itu?"
Aira melangkah maju melewati Langit, menatap Bramantara dengan tatapan savage paling mematikan yang pernah dipancarkannya.
"Lu pikir gue peduli sama aset miliaran atau gedung penthouse itu?" cerocos Aira dengan senyuman miring yang mengejek. "Gue hidup dari bawah, Pak Tua! Gue pernah gak punya apa-apa dan tetap bisa bantai musuh-musuh gue! Mau lu sita harta gue? Sita aja! Mau lu tutup sekolah? Tutup aja! Selama gue masih punya tangan buat memukul dan kaki buat menendang... gue gak bakal pernah berlutut sama manusia angkuh kayak lu!"
Aira menepuk dada Langit pelan, lalu menunjuk ke arah layar proyektor di dinding.
"Lagian..." Aira melirik ke arah pintu ruangan yang baru saja terbuka pelan. "...lu pikir cuma lu doang yang jago main komputer dan dokumen, Pak Tua?"
Di ambang pintu, Galang melangkah masuk sambil memangku laptop khususnya yang sedang menyala terang, didampingi oleh Kenzo yang tersenyum lebar.
"Lapor, Bos! Ratu!" seru Galang dengan nada bangga. "Seluruh server rahasia Vanguard Holdings baru aja gue retas total lima menit yang lalu lewat jalur kabel optik di lantai empat puluh sembilan! Seluruh data kejahatan finansial, penyuapan pejabat, dan transaksi ilegal Bramantara Adhitama sudah dikirim langsung ke Mabes Polri dan Interpol!"
Raut wajah Bramantara yang tadinya sangat tenang mendadak berubah pucat pasi! Pulpen emas di tangannya merosot dan jatuh memukul meja jati!
"A-apa...?" bisik Bramantara tak percaya, tangannya gemetaran saat mencoba memeriksa layar komputernya sendiri yang kini sudah berubah warna menjadi merah dengan tulisan SYSTEM COMPROMISED.
Aira menyunggingkan senyuman savage puncak victories-nya. "Gimana, Pak Tua? Enak kan kena checkmate balik sama anak-anak sekolah?"
see you next bab 25
dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?