Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
Susu mengangguk cepat dan langsung berlari melaksanakan perintah.
Zhen Yu yang mendengar nada tegas istrinya menoleh, memiringkan kepalanya dengan raut lugu. "Kakak Cantik mau main periksa-periksa? Yu-er boleh ikut?"
Xiu Ying mengelus kepala suaminya dengan penuh kasih sayang. "Tentu saja, Pangeran. Pangeran harus ikut. Pangeran akan duduk di sampingku dan melihat bagaimana aku memetik bulu serigala yang selama ini mencuri makanan Pangeran."
"Bulu serigala? Serigala bisa dipetik bulunya?" tanya Zhen Yu polos sambil mengerjapkan matanya.
Xiu Ying terkekeh pelan, menggandeng tangan besar pria itu dan membantunya berdiri. "Kita lihat saja nanti."
Setengah jam kemudian, di pelataran batu Halaman Utama Istana Zhen.
Angin musim gugur berembus cukup kencang, menyapu debu-debu tipis di sekitar kaki para pelayan yang berbaris rapi. Sekitar empat puluh pelayan wanita dan kasim, serta dua puluh penjaga istana berdiri dengan kepala tertunduk. Suasana terasa sangat kaku dan mencengkam.
Di anak tangga teratas, sebuah kursi kayu berlapis bantalan merah telah disiapkan. Xiu Ying duduk di sana dengan keanggunan seorang permaisuri yang sedang mengadili rakyatnya. Gaun ungunya berkibar tertiup angin, dan tatapan matanya tajam menelusuri barisan.
Di samping kanannya, Pangeran Zhen Yu duduk di sebuah bangku kecil, asyik mengunyah manisan teratai sambil menggoyang-goyangkan kakinya tanpa peduli dengan ketegangan di sekitarnya.
Di barisan paling depan, Bibi Guan berdiri dengan wajah yang tidak senang. Ia melipat kedua tangannya di perut, dagunya terangkat arogan.
"Nyonya," buka Bibi Guan dengan nada suara yang terkesan dipaksakan hormat. "Untuk apa Anda mengumpulkan hamba dan seluruh pekerja istana di tengah hari begini? Hamba dan yang lain memiliki banyak pekerjaan yang harus diurus. Apakah Anda hanya ingin mencari perhatian?"
Mendengar kelancangan itu, Xiu Ying tidak langsung marah. Ia justru menopang dagunya dengan anggun, menatap Bibi Guan dengan senyuman yang teramat tenang.
"Bibi Guan, kudengar engkau adalah pengurus yang sangat setia dan teliti. Benarkah itu?" balas Xiu Ying memancing.
Bibi Guan tersenyum bangga. "Tentu saja! Hamba telah mengurus Istana Zhen selama lima tahun terakhir. Tanpa hamba, kediaman ini mungkin sudah rata dengan tanah karena tak ada yang mengatur!"
Brak!
Tiba-tiba Xiu Ying melemparkan tiga jilid buku pembukuan ke anak tangga batu, tepat di depan kaki Bibi Guan. Suara hantaman kayu pada batu itu membuat seluruh pelayan serempak berjengit kaget. Bahkan Zhen Yu pura-pura terkejut sambil menutupi telinganya dengan manisan.
"Luar biasa teliti," desis Xiu Ying, nadanya kini setajam pedang yang terhunus. "Lalu jelaskan padaku, Bibi Guan... bagaimana bisa seorang pengurus yang teliti menghabiskan dua ratus tael emas untuk memperbaiki atap Halaman Barat yang hingga detik ini masih bocor? Bagaimana bisa pasokan daging ayam setiap hari dihabiskan atas nama Pangeran, sementara suamiku hanya memakan bubur encer?!"
Wajah Bibi Guan yang tadinya sombong seketika berubah pucat pasi. Ia mundur selangkah, matanya melotot kaget. Bagaimana bisa putri buangan ini bisa membaca pembukuan yang sengaja kusulitkan pencatatannya?!
"S-Saya... Nyonya Utama... Anda pasti salah membaca!" gagap Bibi Guan, suaranya yang tadinya lantang kini bergetar hebat. Ia bergegas berlutut, mencoba memungut buku kas yang berserakan, namun tangannya gemetaran. "Pencatatan itu sudah disetujui oleh pengawas istana sebelumnya! Kain sutra dan daging itu... itu rusak dalam perjalanan! Dan perbaikan atap membutuhkan kayu cedar langka yang harganya mahal!"
Xiu Ying terkekeh dingin. Ia menegakkan tubuhnya, tatapannya menyapu seluruh barisan pelayan yang kini semakin menundukkan kepala ketakutan.
"Kayu cedar langka?" tanya Xiu Ying dengan nada penuh ejekan. "Bibi Guan, kau pikir aku ini gadis bodoh yang bisa kau kelabuhi dengan istilah asing? Atap yang kau sebut menggunakan kayu cedar itu hanyalah kayu pinus kualitas terendah yang bahkan sudah digerogoti rayap. Aku sudah memeriksa langsung struktur bangunan itu pagi ini."
Bibi Guan menelan ludah kasar, dahinya mulai dibasahi keringat dingin. "I-Itu..."
"Bukan hanya itu," pangkas Xiu Ying, suaranya menggema tegas di seluruh pelataran. "Lima puluh gulung kain sutra bulanan yang seharusnya menjadi hak Yang Mulia Pangeran, ternyata dijual kembali ke pasar gelap di ibu kota dengan harga separuh pasar. Dan uangnya... masuk ke dalam kantong pribadimu dan dua pelayan senior di belakangmu!"
Dua pelayan senior di belakang Bibi Guan seketika bersimpuh ke tanah dengan tubuh gemetar hebat. "Nyonya Utama, ampun! Hamba hanya menjalankan perintah Bibi Guan!" jerit salah satu dari mereka histeris.
"Pengkhianat!" bentak Bibi Guan pada bawahannya dengan wajah merah padam karena malu dan panik. Ia lalu mendongak menatap Xiu Ying dengan sisa-sisa keberaniannya. "Nyonya Xiu Ying! Anda hanyalah pendatang baru di sini! Anda tidak berhak menghakimi hamba tanpa bukti yang sah dari pejabat istana! Hamba diangkat langsung oleh pengawal Istana Utama!"
"Bukti yang sah?" Xiu Ying tersenyum miring. Ia mengibaskan lengan bajunya yang anggun, lalu melirik ke arah Susu. "Susu, bawakan kotak kayu dari kamar Pengurus."
Susu dengan sigap melangkah maju membawa sebuah kotak kayu berukir yang terkunci, namun engselnya sudah dibongkar paksa. Di dalamnya terisi penuh dengan kantong-kantong perak, perhiasan emas, serta catatn transaksi rahasia yang asli.
Melihat kotak itu berada di tangan Xiu Ying, wajah Bibi Guan seketika memutih bagai mayat. Itu adalah seluruh harta hasil korupsinya selama lima tahun terakhir yang ia sembunyikan di bawah papan lantai kamarnya.
"Bagaimana bisa... bagaimana kau menemukan tempat itu?!" pekik Bibi Guan tak percaya.
Xiu Ying tidak menjawab pertanyaan konyol itu. Bagi seorang Chen Zuyi yang terbiasa membongkar kecurangan audit keuangan perusahaan skala besar, menemukan tempat penyimpanan rahasia seorang pengurus rumah tangga yang ceroboh adalah hal yang terlalu mudah.
"Bibi Guan, dalam hukum Kekaisaran, mencuri harta istana dan membiarkan anggota keluarga kerajaan hidup terlantar adalah kejahatan berat yang diancam hukuman cambuk dan pengasingan," ujar Xiu Ying datar.
"T-Tidak! Anda tidak bisa menghukum hamba!" teriak Bibi Guan histeris. "Yang Mulia Pangeran bahkan tidak tahu apa-apa! Anda tidak bisa bertindak sewenang-wenang!"
Tiba-tiba, Pangeran Zhen Yu yang sejak tadi diam melahap manisannya, mendongak. Ia meletakkan sisa manisannya di piring, lalu menunjuk Bibi Guan dengan wajah polos dan suara yang dinyaringkan.
"Wah! Nenek galak punya banyak koin berkilau!" celoteh Zhen Yu sambil bertepuk tangan gembira. "Dulu Nenek galak bilang koinnya dimakan tikus besar! Ternyata tikus besarnya adalah Nenek galak sendiri! Hahaha! Tikus besar! Tikus besar!"
Gelak tawa tertahan langsung terdengar dari barisan penjaga di belakang. Kata-kata "polos" sang pangeran justru menjadi pukulan telak yang kian memojokkan Bibi Guan.
Wajah Bibi Guan memerah padam karena malu yang luar biasa. Ia mengepalkan tangannya, menatap Zhen Yu dan Xiu Ying dengan pandangan penuh kebencian.
Xiu Ying berdiri dari kursi kebesarannya. Auranya yang begitu dominan dan dingin memancar kuat, membuat seluruh pelataran mendadak hening seketika.
"Pengawal!" perintah Xiu Ying nyaring.
Dua orang penjaga berbadan tegap langsung melangkah maju dan membungkuk hormat. "Hamba mendengarkan perintah Nyonya Utama!"
"Seret Bibi Guan dan dua pelayan senior ini ke halaman belakang. Sita seluruh harta benda di kamar mereka tanpa terkecuali. Berikan mereka masing-masing dua puluh pukulan papan kayu, lalu lempar mereka keluar dari Istana Zhen sebelum matahari terbenam!"
"Nyonya Utama, ampun! Ampunkan hamba!" jerit kedua pelayan senior itu sambil menangis histeris dan memohon ampun di atas batu.
"Kau wanita iblis! Kau tidak akan bertahan lama di istana ini! Ibu Suri akan membalas perbuatanmu!" teriak Bibi Guan sambil meronta-ronta saat kedua pengawal memegang lengannya dan menyeretnya kasar keluar dari pelataran.
Suara jeritan dan kutukan Bibi Guan perlahan memudar di kejauhan, meninggalkan suasana pelataran yang kini diliputi rasa takut dan hormat yang mendalam terhadap Nyonya Utama yang baru.
Xiu Ying menyapukan tatapannya ke arah sisa pelayan dan kasim yang masih berlutut gemetaran. Suaranya terdengar lembut, namun menyimpan ancaman yang sangat nyata.
"Dengarkan aku baik-baik," kata Xiu Ying tegas. "Aku tidak peduli bagaimana cara kalian bekerja di masa lalu di bawah Bibi Guan. Namun mulai hari ini, Istana Zhen memiliki aturan baru. Siapa pun yang bekerja dengan jujur dan setia kepada Yang Mulia Pangeran dan aku, akan mendapatkan imbalan dan kehidupan yang layak. Namun..."
Xiu Ying jeda sejenak, menatap mereka satu per satu. "Siapa pun yang berani berkhianat, mencuri, atau membiarkan Yang Mulia Pangeran disentuh oleh niat jahat sekecil apa pun... nasib kalian akan jauh lebih buruk daripada Bibi Guan. Apakah kalian mengerti?!"
"Hamba mengerti! Semoga Nyonya Utama panjang umur! Semoga Yang Mulia Pangeran panjang umur!" seru seluruh pelayan dan pengawal secara serempak, menundukkan kepala mereka hingga menyentuh lantai batu.
Xiu Ying mengangguk puas. Penguasaan internal Istana Zhen telah selesai. Mulai detik ini, benteng pertahanannya telah kokoh.
Ia membalikkan badan dan menghampiri Zhen Yu yang sedang memiringkan kepalanya menatapnya. Xiu Ying tersenyum hangat, mengulurkan tangannya pada sang pangeran.
"Pangeran, ayo kita masuk. Udara di luar mulai semakin dingin," ajaknya lembut.
Zhen Yu menyambut uluran tangan lentik itu dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. Ia melompat berdiri dari bangkunya dengan wajah berbinar-binar.
"Kakak Cantik hebat sekali!" puji Zhen Yu riang sambil menggoyangkan tangan mereka yang bertautan saat berjalan menyusuri anak tangga. "Tikus besarnya sudah pergi! Sekarang Yu-er bisa makan daging ayam?"
Xiu Ying terkekeh pelan, hatinya menghangat melihat kepolosan pria di sampingnya. "Tentu saja. Mulai hari ini, Pangeran bisa makan daging ayam, paha bebek, dan manisan teratai sebanyak yang Pangeran mau."
"Hore! Kakak Cantik paling baik di dunia!" seru Zhen Yu gembira.
Namun, saat mereka melangkah melintasi ambang pintu paviliun dan memunggungi para pelayan, binar polos di mata Pangeran Zhen Yu mendadak redup berganti dengan kilatan kehangatan dan rasa kagum yang amat dalam. Tatapannya terfokus pada profil samping wajah istrinya yang tegas dan menawan.
Wanita ini... batin Zhen Yu dengan senyuman tipis yang sangat samar di bibirnya. Dia benar-benar menyapu bersih pengutang di kediamanku hanya dalam kurun waktu satu jam. Xiu Ying... siapakah engkau sebenarnya?
Zhen Yu menggenggam jemari Xiu Ying sedikit lebih erat, bertekad dalam hatinya bahwa ia akan terus memainkan peran idiot ini sebaik mungkin, demi memberi panggung bagi sang istri untuk bersinar—sekaligus melindunginya dari balik bayangan.
( Bersambung)