Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Pulang ke Pelukan Waktu

Aroma mahoni yang pekat dan menyesakkan rongga dada berpadu sempurna dengan debu beton yang beterbangan di lorong sempit itu. Lin Meiying terperanjat hebat, menatap lekat-lekat sosok pria berjas hitam legam yang kini berlutut satu kaki tepat di hadapannya. Jantungnya berdegup gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya, sementara napasnya tercekat di tenggorokan tanpa mampu melontarkan sepatah kata pun.

Sorot mata tajam yang dibalut kelembutan luar biasa itu terpampang nyata di bawah temaram cahaya redup, menghancurkan seluruh benteng logika dan keraguan yang selama ini ia bangun setengah mati. Suara berat dan serak yang memanggil namanya barusan adalah nada suara yang sama—nada suara dari seorang pria yang telah berpulang ke pangkuan keabadian di bawah reruntuhan besi proyek lantai 35 setahun silam.

Pria berparut tipis yang tadi memojokkannya kini terkapar tidak berdaya di atas tumpukan sampah, meringis kesakitan akibat hantaman brutal tanpa sempat memberikan perlawanan berarti. Di sekeliling mereka, serpihan batu bata merah dan debu sisa hancur berkeping-keping melayang di udara, menciptakan latar belakang dramatis bagi pertemuan dua jiwa yang terikat oleh takdir melampaui batas kematian. Meiying merasakan sekujur tubuhnya melemas seketika, jemarinya yang gemetar terulur perlahan ke udara, ragu-ragu menyentuh pipi pria di hadapannya.

"Kau..." suara Meiying tercekat, air matanya tumpah menderu deras membasahi pipinya tanpa bisa dicegah lagi. "Kau benar-benar... Guowei? Atau... apakah aku sedang bermimpi di tengah siang bolong?"

Pria itu—yang selama ini dikenal dunia sebagai Lu Jingyan, direktur utama korporasi raksasa berdarah dingin—mengangkat tangan kanannya yang hangat, lalu menggenggam jemari Meiying yang gemetar erat-erat. Sentuhan itu nyata, memberikan aliran kehangatan yang langsung meresap ke dalam kulit dan tulang Meiying, memupuskan segala keraguan bahwa apa yang ia saksikan saat ini adalah sebuah halusinasi semata.

"Maafkan aku karena membuatmu menunggu begitu lama, Meiying," bisik Jingyan pelan, suaranya bergetar hebat di ambang air mata yang mendesak lolos dari sudut matanya. "Maafkan aku karena tidak bisa mengatakannya lebih awal... karena ada sumpah tak kasat mata yang harus kupertaruhkan demi memastikan kau dan Anqi aman."

Pengakuan itu menghantam dada Meiying bagaikan badai dahsyat yang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan terakhirnya. Tanpa memedulikan lagi siapa pria itu di mata hukum korporasi atau dunia luar, Meiying langsung menerjang maju, melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan kokoh Jingyan, membenamkan wajahnya di balik dada bidang pria tersebut sambil menangis sejadi-jadinya.

"Bodoh... kau benar-benar pria yang bodoh, Guowei!" rintih Meiying di sela-sela isak tangisnya yang memilukan, mencengkeram kuat kain jas hitam mahal milik suaminya. "Kenapa harus merahasiakan ini semua? Kenapa kau harus menanggung semuanya sendirian sementara aku hampir mati memikirkanmu setiap malam?!"

Jingyan mendekap tubuh istrinya erat-erat, seolah ingin menyatukan kembali raga mereka yang sempat dipisahkan oleh maut. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Meiying, menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita yang paling dicintainya di dunia ini, membiarkan air matanya sendiri menetes jatuh di atas pundak Meiying. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi topeng direktur korporasi yang dingin, dan tidak ada lagi rahasia yang disembunyikan di balik dinding kaca menara pencakar langit. Yang tersisa hanyalah seorang suami yang memeluk istrinya di ujung batas waktu pinjaman takdir.

Di sudut lorong yang remang-remang, Sekretaris Han yang baru saja menyusul lewat pintu darurat bersama dua pengawal pribadi berdiri terpaku menyaksikan pemandangan tersebut. Pria paruh baya itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan air matanya meleleh di balik kacamata bacanya. Ia tahu persis risiko besar yang diambil oleh atasannya hari ini—menampakkan identitas asli di hadapan Meiying berarti melanggar batas mutlak dari kontrak jiwa yang telah disepakati bersama sang penjaga takdir.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan emosional yang pekat, sebelum tiba-tiba sebuah sensasi dingin yang luar biasa tajam merambat mendadak dari telapak tangan Jingyan menjalar naik ke seluruh lengannya.

Jingyan tersentak kecil di tengah pelukannya. Ia menarik napas pendek secara tiba-tiba, merasakan denyut di dalam dadanya berdetak jauh lebih lambat dari biasanya. Pendar partikel cahaya keemasan yang sangat halus mulai berkilau tipis di ujung jemari tangannya, berterbangan di udara seiring dengan melemahnya ikatan magis raga Lu Jingyan yang telah mencapai batas akhir masa kedaluwarsanya. Waktu pinjaman itu telah habis.

Meiying, yang merasakan perubahan mendadak pada postur tubuh suaminya, merenggangkan pelukannya perlahan. Ia mendongakkan kepalanya, menatap wajah Jingyan dengan kening berkerut cemas saat melihat warna kulit pria itu mendadak memucat pasih.

"Guowei? Ada apa? Kenapa tanganmu dingin sekali?" tanya Meiying panik, mencengkeram pergelangan tangan Jingyan semakin erat.

Jingyan tersenyum pahit, sebuah senyuman paling tulus dan menyayat hati yang pernah ia tunjukkan. Ia mengangkat tangannya yang mulai memudar menjadi pendar cahaya tipis, lalu mengusap lembut pipi Meiying untuk terakhir kalinya.

"Waktuku di dunia ini sudah genap, Meiying," bisik Jingyan parau, suaranya mulai terdengar menggema samar, seolah tertiup oleh angin kejauhan. "Aku diizinkan kembali ke bumi hanya untuk memastikan satu hal: melihatmu tersenyum di bawah cahaya matahari, dan memelukmu sekali lagi sebelum malam benar-benar menutup tirainya."

"Tidak... tidak! Jangan bicara seperti itu!" Meiying menggelengkan kepalanya histeris, air matanya semakin deras mengalir. Ia mencengkeram jas Jingyan erat-erat, menolak melepaskannya. "Kita baru saja mulai! Buku kita sudah terbit, Anqi menunggu kita di rumah! Kau tidak boleh pergi lagi, Guowei!"

"Aku tidak akan pernah pergi, Meiying," ucap Jingyan lembut, mencium kening istrinya untuk yang terakhir kalinya. "Aku ada di setiap lembar halaman buku yang kau tulis, di setiap embusan angin mahoni, dan di dalam detak jantung Anqi. Teruskan hidupmu dengan bahagia... jadilah penulis terhebat di dunia ini."

Sekretaris Han melangkah maju mendekati mereka dengan langkah gemetar, hendak mengatakan sesuatu, namun terhenti saat melihat tubuh Jingyan perlahan-lahan mulai meluruh menjadi partikel cahaya keemasan yang berkilauan di bawah temaram cahaya lorong.

Meiying menjerit histeris, mencoba meraih sosok suaminya yang perlahan-lahan memudar dari pelukannya. Namun, jemarinya hanya menggenggam angin kosong, sementara serpihan cahaya itu berterbangan lembut ke udara, membentuk siluet senyuman terakhir yang sangat familier di hadapan matanya.

Di tengah keheningan lorong yang kembali senyap, Meiying terduduk lemas di atas lantai semen yang kotor, memeluk erat udara kosong tempat suaminya berada, sementara di telinganya, sebuah suara lembut berbisik lirih membawa angin perpisahan yang abadi.

“Selamat tinggal, istriku tersayang...”

Sebelum Meiying sempat bangkit mengejar bayangan tersebut, ponsel di dalam saku mantelnya kembali berdering keras dengan layar yang menampilkan panggilan video darurat dari pihak sekolah Anqi, memuat suara kepsek yang berteriak histeris melaporkan bahwa putrinya telah diculik oleh orang tak dikenal dari halaman depan sekolah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!