Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang Ingin Terungkap
"Dania--"
Suara Jax membangunkannya dari ingatan masa lalu.
"Pakai dulu seatbeltnya."
Dania yang masih terpaku dari lamunan, tidak sepenuhnya mendengar omongan Jax.
Laki-laki berwajah rupawan dengan rahang tegas itu berdecak.
"Ck."
Jax mengulurkan tangannya menarik seatbelt, yang otomatis mendekatkan tubuhnya hampir menyentuh dada Dania.
"Sebentar, jangan bergerak dulu."
Mata hitam berkilau dengan bulu mata lebat sangat memukau, membuat Dania tanpa sadar mengamati tanpa berkedip.
Tak hanya sampai di situ, sulitnya sabuk itu terpasang membuat dania mempunyai waktu lebih lama untuk mengamati bagian tubuh yang lain. Tatapannya turun ke leher lalu ke selangka. Tulang tegas dan otot yang keras, membuatnya menelan ludah.
Dengan cepat Dania memalingkan pandangannya dan berdeham kecil.
"Yap! Selesai," celetuk Jax membuat pikiran Dania merutuki dirinya sendiri karena sudah memikirkan sesuatu yang kotor.
"Cepat jalan!! Lama amat, ah!!"
Harga dirinya menepis dengan bentakan tanpa sebab, membuatnya terdengar seperti kucing yang mendesis.
"Iya, Tuan Putri Ndoro Agung."
Candaan Jax semakin menambah salah tingkahnya, menghadirkan pemandangan indah di jendela sampai Dania terpaku melihatnya.
Diam tanpa kata menghembuskan hawa sepi menyekap kecanggungan.
"Wihh.. abis marah-marah langsung diem aja nih. Laper ya?"
Dania masih tidak menjawab.
"Oh ya, tadi kan ada yang sudah bareng teman~nya."
Sepertinya kali ini ucapan Jax berhasil menarik perhatian Dania.
"Apaan sih!!! Bahas aja terus!!!! Aku nggak pernah lho bahas cewek-cewek kamu yang seabrek itu."
Celotehan istri yang biasa tenang tanpa emosi itu, bagai oasis di gurun pasir yang gersang, menyegarkan dirinya yang haus perhatian.
"Aku kira kamu nggak terpengaruh. Seneng sih kalau kamu cemburu~"
"Cih!! Cemburu? Nggak bakalan!!!"
Dania melipat tangannya dan memalingkan wajahnya. Namun di sudut hatinya timbul rasa malu dan gengsi karena telah menampakkan emosi kekanakannya.
"Iya iya, yang nggak cemburu. Nggak usah sewot dong," ucap Jax tersenyum puas.
"Cepetan ah!!! Di gas gas gitu loh!!!!"
Jax hanya tersenyum dengan tingkah konyol wanita pemilik hatinya itu dan terus berusaha fokus pada jalanan, bukan istrinya.
.
.
.
"Fyuh..."
Dania merebahkan tubuhnya di kamarnya. Kedua tangan dan kakinya terlentang dan mengepak-ngepak seperti sedang di atas salju. Lampu yang padam di langit-langit dijadikannya objek lamunan. Matanya yang perlahan buram tak fokus mengembalikan ingatan memalukan yang ia lakukan.
Semburat merah muda kini mewarnai pipi pucatnya. Bisa-bisanya ia menatap suaminya seperti itu.
"Aku harus membersihkan pikiranku."
Lalu ia memiringkan badannya, memeriksa semua pesan yang bertubi-tubi datang dari Liam. Terkadang sahabat baiknya itu sedikit berlebihan kalau sudah menyangkut Dania.
"Aku tahu apa yaang aku lakukan!"gumamnya, lalu membuang Handphone-nya di pojokan kasur.
"Dan... Dania..." Panggil seseorang yang membuat dadanya bergejolak beberapa menit lalu.
"Iya? Ada apa?"
"Kamu lagi istirahat ya? Nonton yuk!" Jax berteriak-teriak karena Dania tak kunjung membukakan pintunya.
"Nonton?" Bisiknya.
Dania bergegas bangkit dari kemalasannya dan membuka pintu kamarnya.
"Nonton apa? Dimana?" Semangatnya membara sampai lupa kalau kancing atasnya sudah terbuka, membuat setengah dadanya terlihat sampai mangkuk bra yang ia kenakan ikut terekspos.
"Mmm... Kamu ganti bajumu dulu deh sama yang lebih santai. Daster juga boleh."
Mata Jax tidak bisa lepas dari pemandangan indah di depannya.
"Kok daster? Masa pakai daster ke bioskop."
"Kamu mau ke bioskop? Jangan dulu, nanti kamu kecapekan. Kita nonton di rumah aja."
"Ya udah deh..." Dania menurunkan nada bicaranya.
"Ehem, cepat ganti baju sana. Aku sih seneng lihat dadamu. Tapi ini masih sore."
What!!!
Mata Dania mengikuti arah Jax melihat dan mendapati pemandangan yang dimaksudkannya. Dengan cepat ia menutup bajunya dengan kedua tangannya.
"Atau mau aku gantiin? Aku sih mau banget."
Blass!!!
Dania membanting daun pintunya, menyemburkan udara ke wajah Jax yang cengengesan.
"Wah... Seharusnya aku serang aja langsung. Ck!"
Sementara di balik pintu, Dania menghentakkan kedua kakinya dan berteriak tanpa suara. Ia tak berhenti mengutuk perilakunya yang tak bermoral dan memalukan itu.
"Sialan!!!" Dania menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil masih melonjak-lonjak.
Setelah satu jam bertapa dan menenangkan diri, akhirnya Dania menghampiri Jax yang lebih dulu duduk di ruang tengah. Tangannya yang mengulur menekan remote kontrol terlihat cukup biasa saja berbeda dengan Dania yang malu setengah mati.
Mungkinkah karena Jax sudah biasa melihatnya dari wanita lain? Pikir Dania.
Padahal dibalik sikap biasanya itu, ada monster tersembunyi yang siap menelan tubuh molek Dania hidup-hidup.
"Duduklah...kamu mau nonton apa? Horor?" Ucap Jax yang langsung duduk lebih memojok untuk menghindari lepasnya monster api.
"Terserah saja!!" Singkat Dania.
"Oke."
Jawaban yang juga singkat itu terasa sangat tajam menusuk hatinya yang mungil. Sedangkan itu suatu yang remeh dimata Jax.
Dania melipat tangannya dan bersandar ke sofa.
Ia tak menyangka, bocah yang dulu selalu mengikutinya itu telah tumbuh menjadi pemain yang dengan mudah mengobrak-abrik perasaannya.
Cukup lama Dania menatap suaminya sampai tidak sadar ia melakukannya lagi. Memindai wajah dan tubuh Jax seperti ingin memuaskan matanya selagi suaminya itu tak meninggalkannya lagi seperti biasa.
"Ada apa? Kenapa meliatku seperti itu?"
Dania memalingkan wajahnya, " tidak..."
Cup!
Mata Dania seketika membulat saat merasakan bibir basah yang mengecup pipinya tanpa permisi.
"Aku sudah sangat bersabar. Jadi jangan pancing-pancing lagi," bisik Jax tepat di telinga Dania, membuat perut Dania mendesir hebat. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang sembarangan di perutnya, merambat hingga ke ujung kakinya.
Namun yang dilihat Jax hanyalah Dania yang mematung. Mesi tak gemetaran seperti biasanya, tapi Jax masih menganggap itu sebagai penolakan.
Ia menundukkan kepalanya dan kembali ke posisi duduknya semula, bertingkah seperti sedang ingin fokus menonton film bergenre thriller itu. Sementara Dania masih mematung.
Melihatnya seperti itu, Jax beusaha mengalihkan perhatiannya dengan membahas sesuatu yang random.
"Kamu tahu, ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan. Kata nenek, mereka menabrak pohon saat mau pulang dari perjalanan jauh," ucapnya saat layar TV menampilkan scene tembak-tembakan di mobil.
Dania yang awalnya terdiam kaku, menoleh tidak percaya.
"Saat itu umurku masih lima tahun, jadi aku tidak bisa mengingatnya. Mungkin itu juga yang membuatku tak punya perasaan apa-apa tentang orang tuaku. Bagiku aku sudah terlahir seperti ini, tanpa ayah dan ibu."
Dania mengeratkan kedua tangannya yang ia sembunyikan di sisi roknya.
Batinnya bergemuruh, sangat berisik dengan suara-suara yang saling bertentangan dan berkelahi satu sama lain. Satu sisi lain mengatakan kalau memang lebih baik seperti itu. Namun sisi lainnya memberontak, karena memang kenyataannya tidak seperti itu.
Fakta yang selalu ingin ia sembunyikan. Fakta yang mengantarkannya pada keputusan untuk menikahi dan mengabdikan hidupnya demi Jax.
Sebenarnya penyebab kematian kedua orang tua Jax bukanlah kecelakaan mobil melainkan kebakaran.
Dan....
Dania-lah yang menyeret ayah dan ibu Jax ke dalam panasnya api yang membakar Panti Asuhan itu.
.
.
.