Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Batas Dan Jangkauan
Di penthouse, Mia baru saja meletakkan ponselnya di atas meja dapur ketika bel pintu berbunyi halus.
Ia mengerutkan dahi sebab tidak merasa memesan barang apa pun. Dengan langkah pelan, ia kemudian berjalan menuju pintu depan dan melihat layar interkom. Wajah Liam yang tampan namun penuh aura dominasi tampak jelas di sana.
Ia menarik napas panjang untuk menetralkan rasa gugupnya sebelum kemudian membuka pintu.
“Liam?” gumam Mia pelan.
Liam melangkah masuk tanpa diundang. Aroma parfum maskulinnya yang kuat langsung mendominasi ruangan. Ia tak menjawab pertanyaan Mia, melainkan berjalan lurus ke arah dapur dan melihat dua piring pasta yang sudah tertata rapi di atas meja makan.
“Kamu memasak?” Liam berbalik, menatap Mia dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Ya. Hanya masakan sederhana. Kebetulan sekali aku buat porsi lebih. Mungkin saja kamu mau mencobanya,” aku Mia canggung, memilin ujung bajunya.
Liam menatap piring pasta itu, lalu beralih menatap wajah Mia yang polos tanpa riasan. Keputusasaan, kepasrahan, dan sedikit rasa ingin tahu yang ia lihat di mata wanita itu tadi malam kini berganti dengan usaha lunak untuk beradaptasi.
Liam melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Mia refleks mundur satu langkah sampai punggungnya menabrak tepi meja granit.
“Aku baru saja mendapat kabar kalau kamu memutus satu-satunya ikatanmu dengan dunia luar,” bisik Liam seraya mengulur tangan, menyelipkan helai rambut Mia ke belakang telinganya.
Sentuhan jarinya yang hangat itu membuat jantung Mia berdegup hebat.
“Kamu resign dari toko perhiasan itu?”
Mia menelan ludah, menatap lurus ke dalam manik mata Liam yang kelam. Lalu mengangguk pelan, menyuarakan keputusan yang sebenarnya terpaksa ia ambil hanya demi menjauh dari masa lalu.
“Aku sudah menyerahkan surat pengunduran diriku pagi ini. Mark menyetujuinya tanpa banyak bertanya,” jawab Mia dengan suara yang nyaris bergetar, mencoba mempertahankan sisa keberaniannya di bawah tatapan tajam Liam.
Bibir Liam terangkat tipis, membentuk senyuman miring yang sulit diartikan. Ada kepuasan tersirat di wajahnya ketika tahu wanita di hadapannya ini kini sepenuhnya berada dalam jangkauannya, tanpa ada celah atau tempat bersembunyi.
“Keputusan yang bijak, Mia,” bisik Liam rendah. Jemarinya yang tadi berada di rambut Mia kini berpindah, mengusap garis rahang wanita itu dengan sangat perlahan, menciptakan getaran halus yang membuat Mia menahan napas.
“Lagipula, kamu tidak butuh pekerjaan itu lagi,” imbuh Liam.
Mia memejamkan mata sejenak, merasakan dominasi pria itu yang begitu pekat menekan dadanya. Setiap sentuhan Liam seolah menegaskan bahwa hidupnya tak lagi sama sejak malam itu.
Ia perlahan membuka matanya dan langsung disambut oleh tatapan tajam Liam yang berjarak begitu dekat.
Belum sempat ia mencerna situasi, Liam kembali memangkas jarak di antara mereka, mendekatkan wajahnya dengan sangat perlahan hingga napas hangat pria itu berembus tepat di atas bibirnya.
Aroma parfum maskulin yang pekat di tubuh Liam makin mengungkung indranya. Jantungnya berdegup kencang, terkunci oleh pandangan kelam Liam yang penuh intensitas dan dominasi.
Pria itu menatap lurus ke dalam mata Mia, menikmati raut gugup dan ketidakberdayaan Mia, sebelum akhirnya memiringkan wajahnya makin dekat, siap menyesap bibir wanita yang kini sepenuhnya ada di dalam cengkeramannya.
Namun, satu detik sebelum bibir Liam menyentuh miliknya, Mia refleks menolehkan wajahnya ke samping. Membuat kecupan Liam mendarat sia-sia di udara, hanya hembusan napas hangatnya yang sempat menyapu pipi Mia.
Gerakan mendadak itu membuat atmosfer di antara mereka seketika membeku. Keheningan yang janggal dan serba salah langsung menyergap ruangan dapur itu.
Mia buru-buru menunduk, tak berani menatap mata Liam. Suasana berubah menjadi sangat canggung dan canggungnya begitu terasa sampai-sampai detak jarum jam dinding seolah terdengar jelas.
“Pa-pastanya nanti dingin kalau tidak segera dimakan,” cicit Mia pelan, berusaha memecah kecanggungan yang mencekam itu meski alasannya terdengar begitu dipaksakan.
Liam tidak langsung merespons. Tangannya yang tadinya berada di rahang Mia terhenti di udara selama beberapa saat, sebelum akhirnya perlahan turun kembali ke sisinya.
Wajah tampan pria itu mengeras tipis, menatap Mia yang kini makin merapatkan tubuhnya ke tepi meja.
Jarak di antara mereka terasa sangat tidak nyaman. Liam menghela napas pendek, bukan marah, melainkan campuran antara terkejut dan rasa canggung yang terselubung oleh gengsinya.
Pria itu kemudian mundur dua langkah, merapikan jasnya yang sama sekali tidak kusut hanya untuk mengalihkan kecanggungan di antara mereka.
“Begitu?” tanggap Liam singkat. Suaranya datar, kehilangan intensitas yang tadi sempat menggebu.
Ia berbalik pelan, berjalan menuju meja makan dan menarik salah satu kursi tanpa melihat ke arah Mia lagi.
“Kebetulan, aku sudah lapar sekali,” ujarnya seraya menatap pasta itu penuh minat.
Mia menahan napasnya selama beberapa detik, membiarkan dadanya yang bergemuruh perlahan kembali tenang seiring bertambahnya jarak di antara mereka.
Melihat Liam yang kini duduk tenang di depan meja makan, eolah momen intens nan canggung tadi tidak pernah terjadi, ia menghela napas lega secara sembunyi-sembunyi.
“Syukurlah. Tadi itu aku hampir saja tidak bisa bernapas,” gumamnya dalam hati.
Dengan langkah ragu, Mia bergerak mendekati meja. Ia mengambil piring miliknya sendiri dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Liam.
Keheningan di antara mereka terasa begitu tebal, hanya terdengar gemerincing halus saat garpu Liam bersentuhan dengan piring porselen.
Liam mengunyah pelan, meresapi rasa pasta buatan Mia sebelum akhirnya mendongak.
“Tidak buruk,” komentar Liam singkat, memecah keheningan. “Bahkan lebih enak dari beberapa restoran yang pernah kudatangi.”
Mia tersenyum tipis, sebuah respon jujur yang terbit tanpa bisa ia tahan. “Terima kasih. Aku hanya pakai bahan seadanya yang ada di kulkas.”
“Kamu tidak perlu lagi memasak dengan bahan seadanya, Mia,” potong Liam tenang namun tegas, menatap lurus ke arah Mia.
“Mulai besok, semua kebutuhanmu akan dipenuhi. Apa pun yang kamu inginkan, kamu hanya perlu mengatakannya.”
Mia meletakkan garpunya dengan perlahan, menciptakan denting kecil yang terdengar cukup nyaring di antara keheningan mereka.
Kalimat Liam barusan menghantamnya dengan rasa bersalah yang tiba-tiba membuncah. Ia mendongak, menatap pria di hadapannya dengan raut ketidaknyamanan yang sulit disembunyikan.
“Liam, kamu tidak perlu repot-repot melakukan semua itu,” ujar Mia lembut namun penuh penolakan.
“Aku sangat berterima kasih atas tempat tinggal ini, tapi untuk kebutuhan sehari-hari, aku masih punya tabungan. Aku merasa tidak enak hati kalau harus bergantung sepenuhnya padamu,” sambungnya.
Ia meremas jemarinya di bawah meja, berjuang menyampaikan isi hatinya tanpa menyulut emosi pria itu. “Aku hanya tidak ingin menyusahkanmu lebih banyak lagi.”
Liam menghentikan gerak jemarinya yang memegang garpu. Tatapan matanya yang tajam mengunci Mia, mengikis rasa lega yang baru saja dirasakan wanita itu. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis lurus yang dingin.
“Menyusahkan?” ulang Liam dengan suara berat dan pelan, sarat akan tekanan dominasi yang tidak terima dibantah.
“Apa menurutmu memenuhi kebutuhanmu adalah sebuah beban buatku, Mia?”
Mia menelan ludah dengan susah payah, merasakan ketegangan kembali merayapi udara di sekitar mereka. “Bukan begitu maksudku, hanya saja—”
“Dengar,” potong Liam tegas. Ia menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di atas meja dan menatap Mia tanpa berkedip sedikit pun.
“Aku tidak pernah membiarkan wanita yang ada di dekatku, wanita yang aku sukai hidup dalam kekurangan.”
–tbc–