Indonesia
NovelToon NovelToon
Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kutukan
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: Pak Tua

Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.

Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.

Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.

Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.

Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?

Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.

Dan dunia belum siap sama akibatnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: BAYANGAN YANG SEMAKIN DEKAT

Beberapa hari setelah kejadian itu, Bang Tua mulai merasakan perubahan kecil di lingkungan kerjanya, hal hal yang sebelumnya biasa saja, kini terasa sedikit berbeda. Beberapa dosen yang biasanya ramah menyapa, kini terlihat menjaga jarak, seolah ada instruksi tak tertulis untuk berhati hati berurusan dengannya. Bahkan sekretaris jurusan, yang biasanya selalu membalas sapaannya dengan hangat, kini terlihat sedikit canggung setiap kali berpapasan, senyumnya lebih tipis dan sapaannya lebih singkat dari biasanya.

Pak Ferdinand, yang menyadari perubahan itu juga, sempat mengingatkannya sambil berbisik di ruang dosen. "Sahat, kau harus hati hati. Kayaknya kabar soal kau bantu Farel dan bongkar soal topik penelitian palsu itu udah sampai ke telinga Pak Yosia. Orang orang mulai jaga jarak sama kau, mungkin takut kena imbas kalau terlalu dekat."

Bang Tua mendengarkan dengan serius, meski wajahnya tetap berusaha tenang, sesuatu yang kini sudah jadi semacam kebiasaan barunya setiap kali menghadapi berita berita yang mengkhawatirkan, sebuah keterampilan baru yang dia asah tanpa sengaja sejak semua kekacauan ini dimulai.

Bang Tua mengangguk, dalam hati sudah menduga hal semacam ini akan terjadi cepat atau lambat. "Bapak udah nyangka, Pak. Namanya juga udah berani ganggu rencana orang penting, wajar kalau ada efeknya. It comes with the territory, kalau kata orang bule, resiko pekerjaan lah istilahnya."

Pak Ferdinand mengangguk pelan, meski wajahnya masih menyimpan kekhawatiran yang tidak sepenuhnya hilang mendengar jawaban santai Bang Tua itu.

"Kau nggak takut, Sahat?" tanya Pak Ferdinand, terlihat khawatir sungguhan, jauh dari nada bercanda seperti biasanya, matanya menatap lurus ke arah Bang Tua seolah benar benar ingin tahu jawaban jujurnya, bukan sekadar basa basi biasa.

Bang Tua terdiam sejenak, mempertimbangkan jawabannya dengan serius. "Takut sih ada, Pak. Tapi kalau bapak mundur sekarang, gimana nasib Farel, Riko, sama Dinda? Mereka udah terlanjur percaya sama bapak. Lagian, kalau semua orang takut dan milih diam, kapan lagi ada yang berani benerin sistem yang salah ini?"

Pak Ferdinand menghela napas panjang, menatap Bang Tua dengan tatapan campuran antara kagum dan khawatir. "Kau ini keras kepala kali, Sahat, tapi entah kenapa, aku jadi ikut termotivasi juga liat kau semangat kayak gini."

"Yaudah, Pak, kalau semangat, ayo kita mulai gerakan bawah tanah, nama kelompoknya kita bikin 'Dosen Peduli Mahasiswa Anti Intrik', disingkat aja jadi DPMAI, biar keren kayak nama organisasi rahasia di film film," canda Bang Tua, berhasil membuat Pak Ferdinand tertawa terbahak bahak, cukup keras sampai beberapa dosen lain di ruang dosen menoleh heran ke arah mereka berdua.

Sore itu, saat hendak pulang, Bang Tua sempat dipanggil menghadap ke ruang Ketua Jurusan, panggilan mendadak yang membuat firasatnya langsung tidak enak. Di ruangan itu, selain Ketua Jurusan, ternyata Dr. Yosia juga hadir, duduk santai di sofa dengan senyum khasnya yang terlatih, seolah pertemuan itu sudah dia rencanakan dengan matang.

Bang Tua melangkah masuk dengan tenang, meski jantungnya berdegup kencang, mencoba menampilkan wajah setenang mungkin, mengingatkan dirinya sendiri, "santai aja, anggap ini kayak sidang skripsi, bedanya kali ini bapak yang diuji soal moral, bukan soal statistik".

"Pak Sahat, silakan duduk," kata Ketua Jurusan, nadanya terdengar formal, jauh berbeda dari biasanya yang lebih santai kalau berbicara dengannya. "Begini, kami dengar Bapak belakangan ini cukup aktif ikut campur urusan bimbingan mahasiswa yang bukan mahasiswa bimbingan Bapak sendiri. Kami hargai kepedulian Bapak, tapi mohon tetap perhatikan batasan kewenangan ya, supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman antar dosen."

Bang Tua duduk dengan tenang, meski dalam hati dia langsung memahami bahwa teguran ini pasti berasal dari desakan Dr. Yosia, meski disampaikan lewat mulut Ketua Jurusan supaya terlihat lebih formal dan tidak mencurigakan. "Baik, Pak. Saya cuma prihatin aja liat beberapa mahasiswa kesulitan, jadi saya coba bantu semampu saya. Kalau ada yang keberatan, saya minta maaf kalau caranya kurang berkenan," jawab Bang Tua tenang, memilih kata kata diplomatis meski dalam hati dia sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan.

Ketua Jurusan mengangguk kaku, jelas dia sendiri tidak sepenuhnya nyaman menyampaikan teguran itu, matanya beberapa kali melirik ke arah Dr. Yosia seolah mencari persetujuan sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kami cuma mau semua berjalan sesuai prosedur, Pak Sahat. Semoga Bapak bisa memahami posisi kami."

Dr. Yosia tersenyum lebar mendengar jawaban itu, ikut menimpali dengan nada yang terdengar ramah tapi penuh sindiran halus. "Kepedulian Bapak patut diapresiasi, Pak Sahat. Tapi kadang, niat baik yang kurang koordinasi malah bisa bikin masalah baru, bukannya menyelesaikan masalah. Better safe than sorry, kata orang."

Bang Tua tersenyum tipis mendengar kalimat bahasa Inggris yang dilontarkan Dr. Yosia itu, dalam hati membalas dengan komentar tajam, "wah, Bapak juga suka pakai bahasa Inggris rupanya, sama kayak bapak, tapi bedanya, kalau bapak pakai buat lucu lucuan, kalau Bapak ini kayaknya buat nutupin kelicikan pakai bahasa keren". Tapi di luar, dia hanya mengangguk sopan. "Terima kasih masukannya, Pak Yosia. Saya akan lebih berhati hati ke depannya."

Keluar dari ruangan itu, Bang Tua berjalan dengan langkah tenang, meski di dalam dadanya api semangat justru semakin membara, bukan malah surut. Pertemuan tadi, alih alih membuatnya takut, justru semakin menguatkan keyakinannya bahwa dia sedang berada di jalan yang benar, karena orang yang tidak bersalah biasanya tidak perlu repot repot mengintimidasi orang lain lewat cara sehalus itu.

Dalam hati dia bergumam, penuh tekad yang semakin mantap, "kalau kata orang bilang, keep your friends close and your enemies closer, kayaknya sekarang saatnya bapak beneran deketin lebih jauh lagi si Bapak Yosia ini, biar makin jelas semua rencana liciknya". Malam itu, dia menuliskan satu kalimat terakhir di buku catatan kecilnya sebelum tidur, "hari ini, mereka coba menakutiku, tapi mereka nggak tau, mulutku bukan kaleng kerupuk, dan sekarang, aku juga nggak akan lagi jadi penonton diam".

Dia menutup buku catatannya, mematikan lampu belajar, tapi sebelum benar benar terlelap, dia sempat memikirkan langkah langkah berikutnya yang harus dia ambil. Dia perlu mencari cara untuk mendekati lingkaran Dr. Yosia tanpa terlihat mencurigakan, mungkin lewat salah satu dosen yang dia tahu cukup dekat dengan kubu itu, atau mungkin lewat cara lain yang lebih kreatif. Dalam gelap kamarnya, dia tersenyum tipis membayangkan berbagai skenario yang bisa dia coba, "kalau kata orang, when life gives you lemons, make lemonade, kalau kata bapak, when life gives you intrik kampus, bikin aja jadi bahan novel, siapa tau nanti bisa jadi best seller".

1
Aisyah Suyuti
menarik
AGRI
sangat menarik
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di NovelToon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi Oktober untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!