Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Pasar Matahari belum sepenuhnya terbangun dari lelap ketika udara dingin pukul empat pagi masih menusuk tulang.
Namun, di bawah remang lampu pijar yang bertumpuk dengan uap air laut, riuh rendah kehidupan sudah dimulai.
Para pedagang bergegas menggelar lapak—dari deretan daging ayam segar, potongan tempe dan tahu di atas tampah bambu, hingga tumpukan sayur-mayur yang masih basah oleh embun.
Di sudut teramai, bau amis yang khas menyeruak dari sebuah bedak berukuran sedang.
Di atas meja seng yang berkilat basah, berjejer rapi hasil laut yang memanjakan mata: cumi-cumi bertubuh putih bening, udang vaname yang gemuk, hingga ikan asap tengiri, barakuda, lele, dan bandeng bersisik mengilap yang matanya masih jernih menatap langit-langit.
"Ayo, ikan! Ikan asap tengiri, barakuda, lele, bandeng, udang, cumi! Ayo, pilih-pilih, masih segar semua ini!"
Suara lantang bertimbre tegas membelah kebisingan pasar. Itu suara Dayang.
Perempuan muda berparas menawan dengan rambut yang diikat asal-asalan ke belakang.
Kaos oblong kelabu dan celana kain longgar yang dikenakannya sama sekali tak bisa menyembunyikan pesonanya, walau celemek plastik hitam yang melilit pinggangnya sudah terciprat air amis dan darah ikan.
Para pedagang di kanan-kirinya hanya bisa menggeleng pelan mendengar seruan bernada sedikit tinggi itu.
Mereka sudah hafal betul. Bagi penghuni Pasar Matahari, Dayang bukan sekadar penjual ikan cantik bertangan dingin—ia adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Mereka menjulukinya sang "preman pasar".
Julukan itu bukan lahir tanpa alasan. Pasar Matahari bukanlah tempat yang ramah untuk perempuan berparas elok seperti Dayang.
Di tahun pertamanya berjualan, ia adalah sasaran empuk preman-preman lokal yang memeras uang keamanan dengan dalih pajak lapak, hingga tengkulak nakal yang kerap berbuat tidak sopan.
Kebanyakan pedagang memilih mengalah dan menyerahkan uang ketimbang dagangan mereka diacak-acak. Tapi tidak dengan Dayang.
Semua orang ingat betul kejadian dua tahun lalu, saat Bang Tato—kepala pemeras di blok ikan—mencoba meraba lengannya sembari mengancam akan membakar bedaknya jika tak memberi 'pajak ekstra'.
Tanpa kedipan mata, Dayang menyambar seekor ikan barakuda berukuran besar dan memukulnya tepat ke wajah pria itu, sebelum akhirnya melayangkan satu tinju mentah yang membentur telak di rahang sang preman.
Pria bertubuh kekar itu roboh menimpa tumpukan es batu, sementara anak buahnya lari terbirit-birit ketakutan melihat mata Dayang yang berkilat sekeras baja.
Sejak hari itu, tak ada lagi yang berani mengganggu.
Dayang mengambil alih aturan di wilayahnya. Ia tidak pernah memungut sepeser pun dari pedagang kecil, namun ia tak segan menghajar siapa saja—entah itu pemeras, pencuri, atau pembeli kaya bertingkah arogan—yang mencoba membuat kerusuhan di pasarnya.
Di balik wajah cantiknya yang bisa menyihir siapa saja, tersembunyi kepalan tangan yang sanggup merontokkan gigi orang.
Dayang menyapu pandangannya ke arah lorong pasar yang mulai ramai oleh ibu-ibu berbelanja.
Ia kembali menyiramkan segayung air es ke atas tumpukan udang segarnya, tak menyadari bahwa hari itu, keteguhan dan prinsip kerasnya akan diuji oleh seseorang yang sama sekali tak pernah membayangkan akan menginjakkan kaki di tanah pasar yang becek ini.
Langkah kaki dua perempuan setengah baya memecah fokus Dayang yang sedang sibuk merapikan tumpukan es batu.
Ibu Sumi dan Ibu Rina—dua langganan lamanya yang saban hari selalu heboh—menghentikan langkah tepat di depan meja seng lapaknya.
"Pagi, Nduk Dayang! Walah, segar-segar banget ini udang sama cuminya," sapa Bu Sumi sembari menunjuk dagangan dengan mata berbinar.
"Tolong ambilkan udang dua kilo sama cumi dua kilo ya. Pilihkan yang paling mantap, mau dipakai buat acara arisan nanti sore."
"Siap, Bu Sumi! Beres, pokoknya saya pilihkan yang paling gemuk dan manis," sahut Dayang sigap.
Tangan lincahnya langsung menyambar serokan, mengemas udang vaname yang masih melompat-lompat kecil serta cumi-cumi bening ke dalam kantong plastik hitam.
Bu Rina yang berdiri di sebelah Bu Sumi memperhatikan gerak-gerik Dayang.
Dari cara meraup ikan, mengikat plastik, hingga raut wajah cantiknya yang diterpa lampu pijar—semua terlihat begitu cekatan.
Bu Rina menggeleng-gelengkan kepala penuh kekaguman, lalu tiba-tiba memiringkan kepala dan bertanya dengan nada setengah berbisik tapi cukup berniat goda,
"Nduk, mau jadi istri anak saya?"
Gerakan tangan Dayang yang hendak menimbang plastik seketika terhenti.
Ia mendongak, menatap Bu Rina selama dua detik dengan alis terangkat, sebelum akhirnya kepala Dayang mendongak dan tawa nyaringnya pecah menembus riuh lorong pasar.
Dayang tertawa terbahak-bahak sampai matanya menyipit dan bahunya berguncang hebat.
"Aduh, Bu Rina, Bu Rina!" ujar Dayang di sela-sela tawanya yang belum reda.
"Jangan gitu, Bu! Anak Ibu yang baru lulus sarjana itu nanti bisa jantungan tiap hari. Bukannya dapet istri manis yang nyambut di pintu pakai senyum, malah dapet istri yang tiap pagi baunya amis ikan, jemarinya kasar, dan kalau dia berani nolak makan sayur langsung saya smash pakai barakuda!"
Mendengar celetukan Dayang, gelak tawa seketika meledak dari bedak-bedak di sekelilingnya.
Pak Mat yang sedang memotong daging ayam di sebelah sampai menghentikan parangnya sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Mang Ujang penjual tempe di seberang sampai menepuk-nepuk mejanya sendiri.
"Betul itu, Bu Rina! Jangan coba-coba! Mending anak situ cari yang lembutan dikit, daripada baru pulang kerja udah kena pukulan tinju preman pasar!" teriak Pak Mat diselingi tawa riuh pedagang lain.
Seluruh lorong pasar seolah ikut bergoyang oleh candaan pagi itu.
Bu Rina tak merasa tersinggung sedikit pun. Ia hanya tersenyum kecil, paham betul watak Dayang yang memang ceplas-ceplos tapi ramah dan jujur.
Rasa sukanya pada ketegasan gadis itu justru makin bertambah.
"Halah, kamu ini ada-ada saja, Nduk. Tapi ya sudah, ini uangnya," ucap Bu Rina seraya menyerahkan beberapa lembar uang kertas yang pas.
"Terima kasih ya, Bu Sumi, Bu Rina! Hati-hati di jalan, jangan lupa cuminya dimasak jangan terlalu lama biar nggak alot!" seru Dayang sambil menyunggingkan senyum lebar, melambaikan tangan saat kedua pelanggan setianya berlalu menyusuri lorong yang makin becek oleh lalu lalang pembeli.
"Laris manis, alhamdulillah." gumam Dayang seraya memasukkan lembaran uang hasil penjualan ke dalam dompet kain yang melilit di pinggangnya.
Saat tangannya sibuk mengusap peluh di dahi, matanya menangkap sosok kecil yang berjalan terseret-seret di antara genangan air pasar.
Seorang anak laki-laki berbaju lusuh dan penuh tambalan berdiri tak jauh dari lapaknya, menatap tumpukan ikan asap dengan perut berbunyi dan mata menatap iba.
Dayang melambaikan tangan, memanggil anak itu mendekat.
"Le, sini!"
Anak kecil itu ragu-ragu melangkah, takut diusir seperti di lapak-lapak lain.
Namun, senyum tipis di wajah Dayang membuatnya memberanikan diri mendekat.
"Nama kamu siapa?" tanya Dayang lembut, sangat berbeda dari nadanya saat berteriak menjajakan dagangan.
"Budi, Mbak." jawab anak itu pelan, matanya tertunduk menatap kakinya yang tanpa alas.
Tanpa banyak bicara, Dayang menyambar seekor ikan asap tengiri berukuran paling besar dan membungkusnya rapi dengan daun pisang serta plastik.
Ia mengulurkannya tepat ke genggaman jemari mungil Budi.
"Nih, ada ikan asap, bawa pulang. Makan sama keluargamu di rumah, ya."Mata Budi berbinar seketika.
"Terima kasih, Mbak!" serunya dengan suara bergetar penuh rasa syukur.
Tanpa menunggu lama, Budi langsung berlari cepat menembus kerumunan pasar, memeluk bungkusan ikan hangat itu seolah-olah harta paling berharga.
Pak Mat, penjual daging ayam di sebelah lapaknya, menggeleng-gelengkan kepala melihat pemandangan itu.
Ia mengelap parangnya lalu melangkah mendekati Dayang.
"Kamu ini gimana toh, Yang? Ikan asap tengiri sebesar itu kan harganya mahal. Kamu nggak takut rugi?" tanya Pak Mat setengah menyayangkan.
Dayang menoleh, menatap Pak Mat dengan kening berkerut tipis sebelum bibirnya mengukir senyum tenang.
"Rugi?"
Ia kembali merapikan tumpukan es batu di meja sengnya, lalu menatap langit-langit pasar
Matahari yang mulai diterpa cahaya fajar.
"Semua ini milik Allah, Pak Mat. Kita cuma dititipi sementara. Dan kalau buat berbagi sama orang yang kelaparan, nggak akan pernah ada kata rugi." ujar Dayang dengan senyuman khasnya.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂