"Setiap orang punya satu nama dari masa SMA yang tak pernah benar-benar hilang." Ini adalah suara kejujuran Satria untuk sosok di masa lalunya—tentang rahasia di balik seragam putih-abu-abu, luka yang mendewasakan, dan keberanian melepaskan demi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3-TEORI DARWIN, EKSTRAKURIKULER, DAN CEWEK AMBISIUS
Nara... Nara... Nara...
Nama itu terus berputar-putar di kepalaku sepanjang hari. Terkesan sedikit berlebihan memang, tetapi itulah yang kurasakan sebagai seorang pemuda ingusan yang baru lulus SMP dan baru pertama kali mengenal getaran jatuh cinta.
Setibanya di rumah selepas sekolah, aku teringat bahwa tadi aku berhasil mendapatkan PIN BBM milik Nara. Tanpa berpikir panjang, aku segera menyalin kodenya ke dalam ponsel, lalu mengirimkan satu pesan singkat.
"Ping!"
Ditunggu beberapa menit, tak ada tanda-tanda balasan. Sepertinya aplikasi BBM miliknya sedang tidak aktif.
Mungkin rasa gelisah yang kukali ini pernah dialami oleh siapa pun yang membaca kisah ini. Ponsel tak pernah lepas dari genggamanku, dilirik setiap beberapa detik demi menunggu balasan yang tak kunjung datang.
"Satria! Satria!" panggil Mama dari luar kamar.
Panggilan itu mengejutkanku. Aku bergegas keluar menyahut.
"Ada apa, Ma?"
"Kamu ini, ya... Pulang sekolah bukannya langsung makan, malah mengurung diri di kamar sambil main HP melulu!" tegur Mama dengan nada sedikit omel.
"Iya, Ma, maaf. Satria tadi sudah makan di luar, jadi masih agak kenyang. Tapi ini mau makan, kok," kilahku.
Di meja makan, pikiranku tetap melayang ke obrolan BBM tadi. Apakah sudah dibalas atau belum, ya?
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Aku tersedak nasi karena makan terlalu terburu-buru.
"Makanya, kalau makan itu dikunyah pelan-pelan dan baca doa dulu!" cetus Mama menggelengkan kepala.
Selesai makan, aku segera mencuci piring sendiri. Di keluarga kami, sudah menjadi kebiasaan sejak kecil bahwa siapa pun yang selesai makan wajib mencuci piring bekas pakainya sendiri. Setelah itu, aku kembali melangkah ke kamar dan langsung memeriksa ponsel.
Dan ternyata... Emmmm, belum dibalas juga.
Daripada mati gaya menunggu balasan, aku mengalihkan perhatian dengan melihat-lihat brosur kegiatan ekstrakurikuler di sekolah kami. Mataku tertuju pada salah satu cabang: beladiri.
Wah, sepertinya keren kalau ikut ekstrakurikuler beladiri. Apalagi kalau bisa ikut kejuaraan lalu menang juara satu, batinku membayangkan.
Aku pun segera mengirim pesan ke Diko.
"Ping!"
"Ping!"
"Ping!"
"Ko, bagaimana? Sudah menentukan mau ikut ekstrakurikuler apa?" tanyaku.
"Belum, nih. Masih bingung mau ikut apa. Kamu sendiri sudah menentukan?" balas Diko tak lama kemudian.
"Bagaimana kalau kita ikut ekstrakurikuler beladiri?" ajakku.
"Wah, gas, nih! Mantap itu, jadi kita bisa baku hantam, hahaha!" gurau Diko.
"Hahaha, gila kamu! Bukan begitu juga konsepnya!" balasku tertawa.
Akhirnya, kami berdua sepakat untuk bergabung dengan ekstrakurikuler beladiri.
"Waduh! Kesiangan!"
Pagi harinya, aku terbangun dan melihat jam yang sudah mepet. Dengan kecepatan kilat dan "mandi ayam" seadanya, aku langsung meluncur ke sekolah.
Alhamdulillah, tepat waktu! Kalau terlambat semenit saja, selesai sudah, batinku bernapas lega.
Sesampainya di kelas, Diko langsung menyambutku dengan cengiran khasnya.
"Gila! Aku pikir kamu tidak sekolah hari ini, Satria! Hampir saja jadi siswa perdana yang membolos, hahaha!" godanya.
"Gila membolos! Sedungu-dungunya aku, tidak pernah ada catatan membolos, ya!" jawabku seraya tertawa.
Aku bergegas menuju kursiku dan langsung menyapa siswi di barisan depan.
"Hey, Nara!"
"Iya, Satria. Selamat pagi," balasnya sembari memamerkan senyuman manis yang tiada tandingannya.
"Pagi juga," jawabku berusaha membalas dengan senyuman terselong yang kupunya.
Jam pelajaran pertama hari itu diisi oleh mata pelajaran Sejarah Lintas Minat. Disebut "lintas minat" karena materi ini sejatinya bukan pelajaran wajib untuk jurusan IPA, tetapi tetap harus diikuti. Cukup merepotkan menurutku. Hari itu kami membahas teori manusia pertama di muka bumi, lengkap dengan berbagai Hipotesis yang diterangkan oleh guru pengajar.
Tanpa basa-basi, aku menyenggol bahu Nara perlahan dari belakang. Ia langsung memutar kepalanya ke belakang. Dengan secepat kilat aku berbisik, "Kalau aku, manusia yang cinta padamu."
Nara mendadak bengong. Aku tak tahu pasti apakah dia benar-benar mendengar bisikanku atau tidak, mengingat suasana kelas agak bising dan guru di depan sedang heboh menjelaskan teori asal-usul manusia.
Setengah jam kemudian, kami diperintahkan untuk membentuk kelompok diskusi beranggotakan empat orang. Barisan pertama berhadapan dengan barisan kedua, dan barisan ketiga berhadapan dengan barisan keempat.
Asyik! Bisa satu kelompok dengan Nara! sorak batinku.
Dalam kelompok ini, tugas kami adalah membedah teori-teori manusia purba serta perkembangannya hingga menjadi manusia modern. Sejujurnya, topik ini cukup menarik.
Namun, di luar dugaan dan perkiraan BMKG... Nara ternyata bukanlah sosok perempuan anggun yang selama ini kubayangkan—yang selalu imut, manis, penyabar, dan serba ramah. Ketika memasuki ranah akademis, wataknya mendadak berubah 180 derajat! Dia menjelma menjadi sosok yang sangat ambisius, pantang mengalah, dan tidak bisa mentoleransi kesalahan kecil sekecil apa pun. Dia hanya ingin menjadi yang terbaik dan memegang nomor satu.
Mengerikan, bukan? Tapi itulah sosok Nara yang sebenarnya.
Saat kerja kelompok berlangsung, kecerewetannya meledak mirip ibu-ibu kompleks yang sedang bergosip. Aku, Diko, maupun Lina tak luput dari semprotan keomelannya meskipun kami hanya membuat kekeliruan kecil. Tapi anehnya, sisi tegas dan galak itu justru membuatku makin tertarik padanya. Di sisi lain aku sempat bertanya pada diri sendiri: Apakah aku sanggup mengimbangi cewek se-ambisius ini? Atau malah bakal minder duluan? Entahlah, yang jelas cerita ini makin seru.
Materi Sejarah hari itu dipandu oleh Pak Suryadi. Beliau berulang kali menyebutkan istilah Pithecanthropus hingga Homo sapiens sesuai Teori Evolusi Darwin. Di sela-sela penjelasannya, Pak Suryadi melempar pertanyaan ke arah ruangan.
"Apakah ada yang kurang jelas atau ada yang ingin bertanya?"
"Hey, cepat bertanya!" bisik Nara menyenggol lengan kami dengan raut mendesak.
"Biar kelompok lain saja, Ra..." jawab Diko pelan.
"Betul itu. Kalau tidak, kamu saja, Lin, yang bertanya," timpalku pada Lina.
"Emm, sepertinya aku belum ada pertanyaan..." jawab Lina ragu.
"Ihh, kalian ini bagaimana, sih? Kok pada tidak mau bertanya? Kalau kelompok kita sering bertanya, kita bisa dapat nilai keaktifan yang besar, lo!" cecar Nara dengan raut wajah kesal yang mulai merusak suasana hatinya.
Dalam hati aku bergumam: Aneh juga perempuan ini. Kenapa tidak dia saja yang bertanya? Bukankah dia pintar dan haus nilai? Apa dia sudah paham semua materi tadi? Dasar cewek berkepribadian ganda, hahaha.
Lantaran ingin terlihat keren di depan Nara dan teman-teman sekelas, aku memberanikan diri angkat bicara.
"Ya sudah, tenang. Habis ini aku yang bertanya," kataku sok tahu.
"Beneran?" sahut Diko dan Lina berbarengan.
"Iya, lah! Kalian tidak lihat mukaku yang sudah super serius begini?"
"Gitu, dong! Kaulah sahabat kesayanganku!" puji Nara mencoba menyenangkanku.
"Ihh, jangan begitu, nanti aku bisa makin suka padamu, lo! Hahaha!" gurauku.
"Kan kita sahabat, hahaha!" balas Nara santai.
Anjay, kena skema sahabat, batinku mengelus dada.
"Oke, Anak-anak, ada yang mau bertanya lagi?" ulang Pak Suryadi dari depan kelas.
Dengan gagah berani, aku mengangkat tangan tinggi-tinggi dan mengudarakan suara yang nyaring.
"Saya, Pak!"
Seketika seluruh pasang mata di ruangan itu menoleh ke arahku. Untuk beberapa detik, aku merasa seperti orang paling pintar di kelas.
"Baik, silakan Satria."
"Pak, menurut Teori Darwin manusia pertama berasal dari kera karena memiliki sisa tulang ekor. Tapi Pak, dalam ajaran agama kita, manusia pertama di bumi adalah Nabi Adam..." paparku mantap.
Seluruh siswa di kelas langsung tercengang mendengar pertanyaanku, tak terkecuali Nara.
"Ah?" Nara spontan bergumam dengan mulut menganga lebar.
Pak Suryadi berusaha merespons dan menjelaskan perbedaannya. Namun, aku yang sok tahu ini malah mengajak Pak Suryadi berdebat mengenai pertentangan antara sains dan keyakinan agama. Teman-teman sekelas hanya bisa terdiam menyaksikan perdebatan sengit itu. Terdengar bisik-bisik dari bangku belakang, "Orang ini memang bodoh atau sok bodoh, sih?"
Aku tak peduli dan terus melancarkan argumen. Tiba-tiba, seorang siswa senior mengetuk pintu kelas.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum, Pak. Maaf mengganggu, sekarang sudah waktunya Pak Suryadi mengajar di kelas kami..."
"Ah, memangnya sekarang sudah jam berapa?" tanya Pak Suryadi terkejut.
Ternyata durasi mengajar Pak Suryadi di kelas kami sudah kelewatan lebih dari satu jam akibat melayani perdebatanku!
"Waduh! Bapak jadi kelewatan mengajar satu jam di kelas kalian... Ini semua gara-gara kamu, Satria!" seloroh Pak Suryadi.
"Jadi begini Anak-anak, intinya pendekatan ilmiah dan keyakinan agama sulit disatukan dalam satu wadah Sejarah seperti ini. Intinya kita semua adalah keturunan Nabi Adam... sedangkan Satria keturunan Pithecanthropus," seloroh Pak Suryadi sebelum keluar kelas.
Seluruh ruangan meledak dalam tawa. Begitu Pak Suryadi pergi, Nara memalingkan wajah ke arahku lalu mencetuskan dua kata pendek:
"Gila kamu..."
Niat hati ingin membuat Nara terkesima dengan pertanyaan berbobot, yang ada dia malah makin ilfil melihat tingkah ajaibku.
(Bersambung)