Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Pagi itu Arnold beranjak dari tempat tidurnya dan melihat Saskia masih nyaman berada di dalam pelukannya.
Perlahan ia menggoyangkan tubuh wanita itu
"Kak, bangun sudah pagi aku mau pulang".
"Ntar aja Arnold aku masih ingin dipeluk sama kamu"Jawabnya manja tapi enggan untuk membuka matanya justru mempererat pelukannya.
Brak brak (pintu di kedor dari luar).
"Ma, mama adek nangis minta digendong sama mama!" Teriak Diego dari luar pintu yang terdengar samar-samar.
Namun Saskia segera membelalakkan matanya dan beranjak sambil mengucek matanya "Arnold! Kamu cepat pergi dari sini! Diego ada di luar!" Ucap Saskia mulai panik.
"Iya kak, tapi lewat mana?"
"Aduh tenang tenang, oh gini aja aku bawa Diego ke belakang, kamu keluar diam diam lewat pintu depan mumpung bibi masih masak di dapur, cepat!"
"Ya udah kak Saskia bawa Diego pergi"
"Ok" Jawab Saskia bergegas berdiri dari tempat tidurnya dan melangkah menuju pintu.
"Eh eh kak Saskia!"
"Aduh, Arnold apalagi!"
"Pakai bajunya dulu, kalau kamu terus begitu jangan salahkan aku kalau aku memakanmu lagi" Ucap Arnold sambil tersenyum tipis kemudian bersiul melihat tubuh kakak iparnya yang bagaikan gitar spanyol, putih, mulus tanpa noda sedikit pun.
Saskia mendengus kesal kemudian berjalan ke arah kursi dan memakai kembali pakaiannya sebelum membuka pintu kamar dan membawa Diego ke kamar adiknya lalu membawa keduanya ke taman belakang.
Sementara Arnold berjalan keluar dari kamar Saskia perlahan lahan agar tidak menimbulkan suara, lalu bergegas menuju ke pintu keluar.
"Om Arnold"
Deg
Arnold menoleh perlahan"D-Diego".
"Om Arnold ke sini pagi pagi sekali? "Tanya Diego dengan polosnya.
"I-ini Diego, om baru saja mau mencari kamu mau om ajak joging".
"Tapi om ini kan hari sekolah, hmph besok hari minggu saja kita joging bersama".
"Baiklah, sampai jumpa hari minggu jagoan" Arnold mengusap lembut kepala keponakannya itu sebelum pergi meninggalkan rumah itu.
Arnold memang sengaja memarkirkan mobilnya di tepi jalan seberang agar tidak membuat orang lain atau tetangga Saskia curiga.
Arnold merasa sangat lega begitu bisa keluar dari rumah kakak iparnya itu dengan aman dan tidak ada satupun orang yang melihatnya kecuali Diego.Ia pun segera melajukan mobilnya pulang ke rumahnya.
Tapi yang tidak disadari olehnya, ternyata di saat dirinya melajukan mobilnya keluar komplek, ia berpapasan dengan mobil kakaknya yang baru pulang dari luar kota.
Adit merasa heran kenapa Arnold sepagi ini keluar dari komplek perumahannya, tapi Adit tidak mau ambil pusing dengan masalah itu dan lebih memilih tidak memikirkannya.
***
Andriana yang sudah berpakaian rapi, lengkap dengan kaca mata dan Jaz kebesarannya pun sudah bersiap berangkat kerja.
"Sayang, jam berapa sih? Kenapa kamu berangkat kerja sepagi ini?" Tanya Arnold tiba tiba yang membuat wanita berusia dua puluh lima tahun itu tersentak kaget.
Andriana memutar tubuhnya "Bukannya aku yang terlalu pagi, tapi kamu pulang kesiangan! Nginep di mana semalam?".
"Aku nginep di rumah mama" Arnold menggaruk kepalanya.
Andriana mendengus dengan malas "Sarapan sudah aku siapkan, kamu makan sendiri saja. O iya mas mulai besok aku sudah rekrut asisten rumah tangga jadi aku tidak perlu memasak setiap pagi, kamu tahu kan jadwal pekerjaanku sangat padat".
"Terserah, bukannya dari dulu aku memintamu merekrut pembantu, kamu saja yang menolaknya dengan alasan ingin memasak untuk suami, tapi akhirnya kamu sendiri kan yang kecapean?" Arnold melangkah menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap ke kantor.
Andriana menatap suaminya dengan kesal,geram dan emosi, ia mengumpatnya dalam hati sebelum akhirnya memilih berangkat bekerja.
'Sialan, kalau bukan kamu yang selingkuh, aku tidak akan membiarkan suamiku memakan masakan wanita lain, tapi kamu sudah mengecewakanku Arnold, jadi mulai sekarang aku tidak akan melakukan apapun lagi untukmu'
***
Ponsel Andriana berdering, ia membuka tas kecilnya dan mengambilnya lalu menggeser layar monitornya.
(Mama mertua: Hallo sayang, kamu lagi sibuk ya?).
"Iya ma, ada apa ma?"
( Andriana sayang, mama sedih tinggal sendirian di rumah sebesar ini).
"Terus mau mama gimana?"
(Mama ingin kamu dan Arnold tinggal di rumah ini temani mama, rumah kalian itu dikontrakkan saja, ya mau ya kamu tidak kasihan sama mama, mama sudah tua sakit sakitan masa iya tinggal di rumah sendirian).
"Hhh...ma, kan ada bibi yang temani mama".
(Tapi sayang, mama mau anak dan menantu mama yang temani mama).
"Emm gimana ya ma, mas Arnold".
(Arnold pasti mau kalau kamu yang memintanya).
"Baiklah ma, nanti Andriana bicarakan dulu sama mas Arnold".
Andriana terdiam sejenak setelah mengakhiri pembicaraannya lewat ponselnya, ia menatap foto pernikahannya yang terpajang di pigura kecil di meja kerjanya.
Hatinya sangat sakit ketika bayangan pergulatan suami dan kakak iparnya itu melintas di benaknya.
Andriana duduk di kursi kebesarannya dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi itu.
' Apa mas Arnold mau diajak tinggal di sana, dia akan semakin susah bertemu dengan Saskia karena ada mama dan papa mertua, ehm tapi baguslah'
Ceklek
Mendengar pintu dibuka dari luar, Andriana menoleh cepat, ia mendengus malas setelah tahu siapa yang datang.
***
"Mas Adit, ayolah mas kita tinggal di rumah mama saja. Di sana Diego akan ada teman bermain" Rengek Saskia pada suaminya.
Adit memegangi jidatnya sambil menunduk, memejamkan matanya sejenak sebelum kembali menatap Saskia sambil berkacak pinggang " Baik kalau memang itu kemauanmu".
'Baguslah, mungkin dengan kita tinggal di rumah mama, Saskia tidak akan terlalu bebas keluar selain bekerja, karena ada mama yang selalu bersamanya'
Saskia melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya, menatapnya lekat "Mas, hari ini aku malas pergi ke kampus, kamu juga jangan pergi dong".
"Terus kita mau ngapain kalau nggak kerja?"
"Diego sudah berangkat sekolah, Daniar masih terlalu kecil, aku mau kamu hari ini"
Adit tersenyum tipis kemudian merekatkan tubuhnya dengan sang istri lalu mulai melumat bibir merahnya.
Cup
Decapan demi decapan terdengar merdu di dalam kamar, suara desahan samar pun mulai terdengar lirih.
Adit yang sudah dimabuk gairah pun segera merebahkan tubuh Saskia di ranjang, mulai membuka bajunya dan mengungkung tubuh sintalnya.
Saskia merasa kurang tertantang dan memilih diam membiarkan Adit yang menguasai permainan, sangat jauh berbeda dengan dirinya saat bersama Arnold yang sangat liar dan mendominasi.
Saskia mulai merasakan darahnya memanas, di saat melihat Adit yang sudah siap bertempur menggempur pertahanan terakhirnya.
"Sayang, buka kakimu?"
Ah ah....
Cring......
Tiba tiba ponsel Saskia yang berada di atas nakas berdering dengan sangat keras.
"Biarkan saja sayang" Bisik Adit.
Saskia mengernyitkan keningnya "Ya tidak bisa dong mas, gimana kalau penting, aku angkat sebentar ya"
Saskia pun bangkit dan merapikan kembali bajunya yang sudah hampir terlepas semua,ia berjalan ke luar kamar untuk mengangkat telponnya.
Adit merasa sangat kecewa dan sakit di sekujur tubuhnya. Sudah hampir dua bulan ini istrinya selalu menghindar ketika diajak berhubungan badan, dan itu sangat menyakitkan.
Adit terdiam sejenak melihat Saskia berjalan keluar meninggalkannya yang sudah siap melepaskan gejolak gairahnya.
Ia pun memilih pergi ke kamar mandi untuk menyirami seluruh tubuhnya yang sudah sangat panas.
Setelah beberapa saat ia mendinginkan suhu tubuhnya, Adit pun segera keluar dari kamar mandi karena mendengar suara tangisan putri kecilnya yang baru berusia dua tahun itu.
Adit segera melilitkan handuk di pinggangnya dan berjalan bergegas menemui putrinya yang berada di depan kamarnya sedang menangis.
"Sayang, kamu kenapa? Sini sama papa ya"
"Oh tuan, maaf tadi saya tinggal ke dapur sebentar karena matiin kompor" Ucap baby suster baru kepada Adit.
Sejenak Adit terdiam melihat wajah suster baru itu ternyata sangat cantik dan lembut.
"Tuan, tuan ada apa ya?"
"Oh tidak, maaf , baiklah aku pakai baju dulu sus, kamu jaga Daniar baik baik ya?"
"Pasti tuan, aku akan menjaga nona kecil sebaik mungkin".
"Oke" Ucap Adit kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian kerja.