Karena memiliki masalah keluarga yang cukup rumit, membuat Ranaya melampiaskan hidupnya di lantai disko. Motonya: Boleh nakal, asal tahu batas. Sayangnya, malam itu, batasnya benar-benar terlewati. Sebuah kecelakaan brutal membuat tubuhnya koma, sementara rohnya malah asyik gentayangan!
Sialnya, jadi arwah itu enggak segampang di film-film. Niat hati melompat elegan masuk kembali ke tubuhnya, Ranaya malah nyungsep di kolong ranjang. Masalah bertambah pelik ketika ia tau apa penyebab kecelakaan yang menimpanya. Ternyata ada udang di balik bakwan.
Berbekal status hantu amatiran dan bantuan seorang cowok indigo yang super cuek bebek, Ranaya harus menyelamatkan nyawanya sendiri. Kalau gagal? Ya wassalam, siap-siap saja jadi Kuntilanak Gen-Z selamanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Peduli
Arka Pradipta. Mahasiswa semester akhir yang sedang berjuang untuk bertahan hidup di tanah rantau dengan menjadi tukang ojek online. Tukang ojek tampan yang sempat dikejar-kejar oleh Ranaya.
Arka menepikan motornya tepat di depan warung Bude Iis. Wajah tampannya terlihat begitu lelah. Pria itu menarik napas panjang sebelum akhirnya masuk ke dalam warung. "Kayak biasa ya, Bude."
Sore itu, warung cukup ramai. Arka mengambil tempat duduk di paling belakang, sedikit jauh dari keramaian. Ia langsung menenggak air putih di meja hingga tandas setengahnya. Rasa haus dan lelah usai narik dari pagi sukses mengalahkan segalanya.
Soal hantu cewek berbaju merah yang sok ngartis di lampu merah tadi? Ah, Arka sudah lupa.
Sebagai orang yang dari kecil bisa melihat hal kasat mata, bertemu hantu bukan hal baru. Walaupun yang tadi memang agak tidak lazim dan sedikit berisik, prinsip Arka tetap satu: jangan direspons, nanti malah ngelunjak.
"Ngelamun aja toh, Mas Arka. Muka ditekuk terus," tegur Bude Iis membuyarkan isi kepalanya, sembari meletakkan seporsi nasi campur di meja. "Lagi mikirin cewek, ya? Hayo ngaku."
Arka menatap Bude Iis dengan ekspresi datar tak terbaca. "Mikirin lambung, Bude. Dari siang belum diisi."
Bude Iis terkekeh geli. Ia sama sekali tak tersinggung, malah terbiasa. "Ya udah, dimakan yang banyak biar kuat."
Arka hanya mengangguk sekilas tanpa repot-repot membalas ucapan wanita paruh baya itu. Perhatiannya sudah seratus persen terkunci pada nasi campur di depannya. Bude Iis hanya bisa menggeleng pelan. Senang saja menggoda Arka, si Ojol tampan tapi kaku dan cueknya minta ampun itu. Andai Bude Iis masih muda, ia juga pasti akan mengantre untuk jadi pacar Arka, hihi.
Bagi Arka, pertemuan dengan Ranaya tadi tidak lebih dari hari sial saja. Ya walaupun dia hampir tertipu dengan penampilan Kuntilanak ngartis itu.
******
Ranaya menatap mamanya yang masih setia duduk di samping kasurnya. Mata wanita itu sudah membengkak karena menangis seharian. Makanan di atas meja tak ia sentuh sedikit pun.
Ranaya sangat merasa bersalah. Selama ini ia selalu menentang ucapan mamanya. Selalu melanggar aturan dan bahkan hidup sesukanya tanpa pernah memikirkan perasaan wanita itu. Ranaya terlalu fokus pada lukanya, tanpa pernah paham kalau mamanya juga menyimpan luka.
"Ma... Maafin, Naya, ya." Ranaya hendak memeluk mamanya lagi, namun ia mengurungkan niatnya saat pintu kamar rawatnya terbuka. Seorang pria dengan kemeja putih yang terbalut jas hitam masuk, Ranaya tau betul siapa pria itu.
Dia Brama William Atmaja. Sosok ayah Ranaya. Pria yang tidak pernah muncul di publik sebagai Ayah Ranaya. Perannya hanya di belakang layar, tersembunyi, sebagai sosok penanggung jawab kehidupan Ranaya dan mamanya selama ini.
Dari dulu sampai sekarang, Ranaya masih membencinya. Sekalipun mama selalu mengatakan kalau ayahnya tidak bermaksud menyakiti mereka, tapi tetap saja. Bagi Ranaya, semua itu menyakitkan! Karena tidak ada satu pun anak di dunia ini yang mau identitas dan keberadaannya disembunyikan! Tidak ada satu pun anak yang mau dicap sebagai anak haram! Tidak ada!
Tidak mau melihat wajah sang Ayah. Ranaya meninggalkan ruangan. Tidak ingin tau juga apa yang akan pria itu lakukan di dalam sana.
"Dia sepertinya ingin tidur lebih lama," ucap Brama, membuat Cassandra menoleh ke arahnya. Lalu detik berikutnya, wanita itu bangkit dari duduknya dan memeluk erat tubuh sang suami.
"Tolong, lakukan apa pun untuk menyembuhkan, Naya. Aku mohon." Lirih Cassandra penuh harapan.
"Pasti, kita pasti akan mengusahakan yang terbaik untuknya."