Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jalan pulang (10)
Hujan turun sejak jam pelajaran terakhir dimulai.
Butiran air membasahi kaca-kaca kelas, membuat halaman sekolah tampak samar oleh air hujan. Angin berembus pelan membawa udara dingin yang membuat sebagian siswa memilih tetap berada di kelas meski bel pulang telah berbunyi.
Namun bagi panitia Festival Seni, hujan bukan alasan untuk membatalkan rapat. Ruang OSIS tetap ramai seperti biasanya.
"Kita mulai aja, ya." Arga berdiri di depan papan tulis sambil membuka agenda rapat.
"Target minggu ini harus selesai." Semua anggota mengangguk setuju atas ucapan arga.
Persiapan Festival Seni sudah memasuki tahap yang paling sibuk. Proposal sponsor hampir selesai, daftar penampil mulai lengkap, dan desain panggung sudah disetujui pihak sekolah, tinggal pemantapan nya saja yang mereka oerlukan.
"Nay." panggil Arga membuat Naya menoleh
"Iya, Kak?"
"Catat perubahan jadwal gladi."
"Siap." Seperti biasa, Naya langsung menuliskannya tanpa perlu bertanya lagi karena Naya sudah mengerti. Arga bahkan tidak perlu menjelaskan terlalu banyak.
Mereka sudah sama-sama memahami ritme kerja satu sama lain. Talia yang duduk di sisi lain meja memperhatikan itu dalam diam, seperti ada yang janggal pikirnya. Sesekali ia ingin ikut memberi pendapat.
Namun hampir setiap kali Arga membutuhkan sesuatu, tatapannya selalu lebih dulu mencari Naya. Bukan karena disengaja. Melainkan karena sudah menjadi kebiasaan yang mereka jalani setiap harinya.
Dan kebiasaan sering kali lebih kuat daripada kesadaran.
Rapat berakhir hampir pukul lima sore. Saat semua orang mulai membereskan barang masing-masing, terdengar suara hujan semakin deras di luar, semua melihat ke arah jendela karena hujan nya benar benar deras.
"Kayaknya belum bakal reda." gumam Steven sambil melihat ke luar jendela.
"Aku dijemput." kata Siska sambil mengangkat tasnya dan keluar dari ruangan rapat itu.
"Sama." sahut yang lain.
Satu per satu anggota panitia mulai meninggalkan ruang OSIS. Naya berdiri di dekat pintu sambil memandangi halaman sekolah yang dipenuhi genangan air. Ia membuka ponselnya. Tidak ada pesan dari ayahnya.
Biasanya jika hujan seperti ini, ayahnya akan menjemput. Namun hari itu, tidak ada kabar sama sekali.
"Nunggu jemputan?" Suara Arga membuat Naya menoleh.
"Iya, tapi kayaknya Ayah lagi ngajar les." Arga mengangguk pelan.
"Rumahmu arah Taman Melati, kan?" tanya Arga memastikan
"Iya."
"Kebetulan searah sama rumahku." Naya mengernyit heran.
"Emang Kak Arga bawa motor?" tanya Naya membuat arga mengangguk
"Iya."
"Kalau nggak keberatan..." Arga berhenti sejenak.
"...aku antar aja." lanjutnya, Naya langsung menggeleng pelan dengan canggung, baru kali ini ia di tawarkan tumpangan oleh arga.
"Nggak usah, Kak nanti ngerepotin." ucap Naya dengan senyuman canggung.
"Nggak repot." Arga tersenyum tipis.
"Daripada kamu nunggu hujan berhenti." Belum sempat Naya menjawab, Talia yang sedang memakai jaket ikut menghampiri keduanya.
"Ar, nanti aku nebeng juga ya." Arga menoleh kepada talia.
"Loh, kamu nggak dijemput?" tanya Arga pada talia
"Tadi sopirnya bilang telat." Arga tampak berpikir. Motor yang ia bawa jelas tidak mungkin membawa dua penumpang sekaligus. Suasana mendadak canggung seketika.
"Nggak apa-apa, Kak." Naya tersenyum kecil.
"Aku tunggu aja." Arga memandang hujan di luar. Lalu kembali melihat Naya.
"Kamu bawa payung?" Naya menggeleng.
"Talia?" tanya Arga beralih kepada talia.
"Aku bawa." Talia mengangkat payung lipat dari dalam tasnya. Arga menghela napas pelan sebelum akhirnya berkata
"tal." panggil Arga
"Hm?"
"Kamu pakai payung aja ke halte depan."
"Di sana biasanya masih banyak ojek." Talia tampak terdiam beberapa detik.
"Maksudnya. Aku anter Naya dulu." Talia menganggukkan kepalanya dengan agak keberatan, namun mau tidak mau dia harus iyakan karena itu bukan hal dia lagi.
"Rumahnya lebih jauh, Aku nggak enak kalau dia nunggu sendirian." Talia tersenyum tipis. Meski ada sedikit kecewa di matanya, ia tetap tersenyum.
"Oke, hati-hati." Naya sendiri masih berdiri mematung. Ia sama sekali tidak menyangka Arga akan memilih mengantarnya pulang.
Bahkan ketika mantan pacarnya sendiri sedang membutuhkan bantuan walaupun mantan pacar, tapi setidaknya mereka pernah bersama, begitulah pikir naya.
Perjalanan pulang diiringi suara hujan yang masih turun pelan. Naya duduk di belakang Arga dengan canggung. Ia memegang ujung tasnya sendiri, berusaha menjaga jarak.
"Kamu nggak pegangan?" teriak Arga pelan karena suara hujan, yang akan tidak kedengaran jika dia berbicara lembut.
"Nggak apa-apa." balas Naya teriak
"Nanti kalau ngerem jatuh." Beberapa detik Naya terdiam. Akhirnya ia memegang bagian belakang jaket Arga dengan pelan. Bukan bahunya, bukan pinggangnya, hanya ujung jaket karena dia benar-benar gugup sekarang, bayangkan orang yang dia suka dari dulu sekarang berada satu motor dengannya.
Arga tersenyum kecil tanpa diketahui Naya. "Udah?"
"Iya."
"Pegangan yang kuat ya." Motor kembali melaju membelah hujan.
Lima belas menit kemudian mereka sampai di depan sebuah rumah sederhana bercat pink, rumah yang terlihat seperti adem ayem.
"Nah, rumahku." Arga mematikan mesin motornya.
"Makasih ya, Kak."
"Sama-sama." Baru saja Naya hendak turun, pintu rumah terbuka.
"Ya ampun, Nay!" Seorang perempuan paruh baya berlari kecil ke teras.
"Kamu kehujanan?" tanyanya dengan nada panik
"Nggak kok, mah." ucap Naya santai
"mamah kira kamu masih di sekolah." Pandangan perempuan itu lalu beralih kepada Arga.
"Ini temannya?" Naya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kecil.
"Iya."
"Ini Kak Arga, ketua panitia Festival." Arga langsung menyalami beliau dengan sopan dan tersenyum.
"Selamat sore, Tante." sapa arga
"Terima kasih sudah nganter Naya."
"Iya, Tante, pas hujan tadi kasihan kalau nunggu sendiri." Senyum Bu Sari semakin lebar, dia suka anak ini.
"Masuk dulu, Nak, hujannya masih deras." Arga sempat menolak.
"Nggak usah, Tante." ucapnya tidak enak jika harus seperti ini.
"Nanti malah ngerepotin."
"Ah, masa."
"Dikasih teh hangat aja." Belum sempat Arga menjawab, seorang pria berkacamata keluar dari ruang tamu, Arga menoleh.
"Ada tamu?" tanyanya
"Iya, pah." Naya tersenyum kecil.
"Ini Kak Arga." Ayah Naya mengulurkan tangan kepada Arga.
"Terima kasih sudah menjaga anak saya." Arga menjabat tangan itu dengan hormat.
"Nggak perlu berterima kasih, Om."
"Kebetulan rumah kami searah jadi sekalian saja."
"Walaupun begitu..." Pak Hendra tersenyum hangat sambil menatap Arga.
"Tetap terima kasih." Untuk pertama kalinya, Arga merasakan suasana rumah yang begitu hangat. Obrolan sederhana ditemani teh hangat dan kue buatan Bu Sari membuat waktu berlalu tanpa terasa.
Di sudut ruang tamu, Naya memperhatikan semuanya dalam diam. Entah mengapa...
Melihat Arga tertawa bersama kedua orang tuanya membuat hatinya terasa penuh. Ia tahu, mungkin ini hanya pertemuan biasa.
Namun jauh di dalam hatinya...
Ia berharap, pertemuan itu bukan yang terakhir. Sementara Arga sama sekali tidak menyadari bahwa sore itu telah menjadi salah satu kenangan yang paling akan dijaga oleh Naya.
Karena terkadang...
Kebahagiaan tidak selalu lahir dari kata "aku suka kamu".
Kadang, kebahagiaan datang dari seseorang yang bersedia mengantarkanmu pulang, lalu diterima hangat oleh orang-orang yang paling kamu sayangi.
......................
soon to bee