Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.

Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.

Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutan Belakang Mansion

Suasana di dalam hutan belakang mansion langsung berubah drastis begitu Serena dan Calum melangkah melewati batas gerbang besi. Hutan lebat itu terasa jauh lebih gelap, dingin, dan mencekam. Kanopi pohon-pohon besar yang saling merimbun menghalangi cahaya matahari sore, membuat bulu kuduk Serena merinding seketika.

​Serena merapatkan jaket tebalnya, menelan ludah dengan susah payah sambil melangkah waspada mengikuti Calum di depan.

"Apa kita beneran akan berburu di tempat seseram ini, Calum?" tanya Serena ragu, suaranya sedikit bergetar menahan rasa ngeri.

​Calum berhenti sejenak, lalu berbalik sambil menyerahkan sebuah pistol kecil khusus latihan kepada Serena.

"Benar, Nyonya. Di hutan ini kita akan melatih insting berburu Anda. Sekarang, pegang pistol ini dengan erat dan bersiaplah," jawab Calum dengan nada datarnya yang khas.

​Semakin dalam mereka berjalan menyusuri jalur setapak yang sunyi, suasana di sekitar terasa semakin menakutkan. Tiba-tiba, mata Serena melotot lebar. Langkah kakinya terhenti mendadak saat ia melihat siluet aneh yang bergelantungan di atas dahan pohon tinggi di sebelah kanan mereka.

"​Ya ampun... Apa aku tidak salah lihat?!" batin Serena histeris.

​Di atas dahan pohon itu, sesosok tubuh manusia tergantung dengan tali melingkar di lehernya! Tanpa sadar, karena rasa takut yang teramat sangat, Serena langsung melompat mendekat dan merapatkan tubuhnya pada lengan Calum, tubuhnya bergetar hebat.

​"C... Calum! Lihat ke atas sana!" ucap Serena terbata-bata, menunjuk benda tergantung itu dengan jari yang gemetar.

"Aku melihat orang gantung diri di pohon! Ngeri banget!"

​Calum melirik sekilas ke arah dahan pohon yang ditunjuk Serena. Alih-alih terkejut, pria berambut putih pucat itu justru tersenyum kecil menanggapi kepanikan sang nyonya.

​"Ah, itu? Jangan khawatir, Nyonya. Itu hanya boneka peraga biasa," ucap Calum tenang sambil tertawa kecil untuk meredakan ketegangan.

​Serena mengerjap-ngerjap, mendongak menatap benda yang tergantung itu dengan kening berkerut dalam. Boneka? Dilihat dari bentuk postur tubuhnya, pakaiannya, bahkan helaan angin yang membuat bayangannya bergerak, rasanya dari sudut pandang manapun benda itu sama sekali tidak mirip boneka! Kulitnya pucat, bentuk tubuhnya nyata, dan ada noda gelap di sekitar bajunya. Atau... apakah itu memang benar-benar boneka manekin latihan buatan mansion? Serena merasa ragu setengah mati.

​"Kalau Nyonya tidak percaya, coba saja tembak boneka itu untuk membuktikan isinya," tantang Calum dengan sopan, menyembunyikan seringai dingin di balik wajah datarnya.

​Serena langsung menggeleng cepat, menolak mentah-mentah. "I... ih, tidak mau! Aku tidak berani menembaknya! Serem banget bentuknya!" tolak Serena bergidik ngeri, memilih menarik tangannya dan kembali menjaga jarak aman dari Calum.

​Calum lantas kembali melanjutkan perjalanan seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal, kenyataan sebenarnya jauh lebih kelam dari apa yang dipikirkan Serena. Sesuatu yang menggantung di dahan-dahan pohon itu bukanlah boneka manekin, melainkan mayat manusia sungguhan, mereka adalah para mata-mata dan pengkhianat klan musuh yang sengaja dieksekusi dan digantung di dalam hutan pribadi milik Sergio sebagai peringatan keras. Dan jika Serena berjalan lebih jauh lagi, ia mungkin akan dibuat syok berat karena bukan hanya satu mayat yang tergantung, melainkan ada puluhan tubuh lainnya di bagian dalam hutan neraka tersebut.

​Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menegangkan. Di tengah perjalanan menyusuri semak-semak, Serena mulai mencium bau-bau tidak sedap yang menguar di udara. Aroma itu semakin lama semakin pekat, bau anyir bercampur aroma busuk yang menusuk hidung.

"​Bau apa ini? Busuk banget..." batin Serena menutup hidungnya menggunakan sebelah tangan. Mungkin cuma bangkai hewan liar yang mati di dalam hutan. Ia berusaha menepis pikiran buruknya dan terus mengikuti langkah kaki Calum.

​Tiba-tiba, Calum menghentikan langkahnya secara mendadak. Pria itu mengangkat sebelah tangannya, memberikan gestur agar Serena diam.

​"Ssstttt... Nyonya, berhenti di situ," bisik Calum pelan, suaranya sangat berhati-hati.

"Ada kelinci liar di depan kita. Ayo bersiap!"

​Mendengar ada buruan di depan, rasa takut Serena mendadak menguap, tergantikan oleh rasa penasaran dan jiwa berburu yang tiba-tiba membara. Ia segera memasang posisi kuda-kuda sesuai ajaran Sergio sebelumnya. Dengan napas tertahan, Serena mengangkat tangan kanannya, memegang erat pistol latihan di genggamannya.

​"Di mana kelincinya, Calum?" bisik Serena antusias, matanya menyipit mencari-cari di balik semak-semak rimbun.

​"Itu... di dekat akar pohon besar berlumut. Kelinci cokelat berbulu lebat. Bidik pelan-pelan, jangan terburu-buru, Nyonya," instruksi Calum berbisik tegas.

​Serena memfokuskan pandangannya. Di balik semak, ia melihat seekor kelinci hutan berbulu cokelat sedang diam mengendus tanah. Mengingat instruksi suaminya, Serena menarik napas dalam-dalam, mengarahkan moncong pistolnya tepat ke arah sasaran, lalu...

​Dorrr!

​Suara letusan pistol kecil itu menggema di tengah keheningan hutan. Serena langsung membelalakkan matanya, terkejut melihat kelinci di depannya merosot jatuh ke tanah.

​"Yeyyy!! Aku dapat! Kamu lihat itu, Calum?!" teriak Serena heboh luar biasa, melompat-lompat girang di tempat tanpa memperdulikan suasana hutan yang tadinya menyeramkan.

"Yeyy... Aku berhasil menembak buruanku sendiri!"

​Calum terdiam sejenak, menatap datar ke arah Serena yang kegirangan bagaikan anak kecil mendapat hadiah permen. Meski pria itu terkenal kejam dan dingin kepada musuh, tingkah ajaib istri bosnya ini selalu berhasil membuat akal sehatnya diuji habis-habisan.

​Calum pun melangkah maju, memungut kelinci tangkapan Serena yang tergeletak di rumput, lalu memperlihatkannya ke hadapan sang nyonya.

​"Kerja bagus, Nyonya. Untuk ukuran seorang pemula, bidikan Anda cukup bagus," puji Calum dengan nada sopan yang datar.

​Serena tersenyum bangga, menerima hasil buruannya dengan mata berbinar-binar. Namun, saat ia mendongakkan kepalanya untuk merayakan keberhasilannya, pandangannya kembali tertuju pada jajaran pohon-pohon tinggi di sekitar mereka. Di beberapa dahan pohon yang menjulang, kembali terlihat siluet-siluet tergantung yang sangat mencolok.

​"Eh, Calum... Coba lihat ke sana!" seru Serena heboh, menunjuk-nunjuk ke arah beberapa pohon di sekitarnya.

"Itu ada boneka lagi, dan di sebelah sana juga ada, itu juga!" teriaknya antusias, mengira benda-benda itu adalah manekin latihan.

​Calum mengikuti arah pandang Serena, lalu mengangguk kaku. "Benar, Nyonya. Itu hanya boneka peraga untuk latihan memanah," terang Calum berbohong dengan sangat tenang, menutupi rahasia kelam mansion Ziegler.

​Serena manggut-manggut paham, rasa ngerinya seketika hilang karena penjelasan logis dari Calum.

"Ohh... Begitu ya!" gumam Serena polos.

"Jadi, alasan kenapa kamu tadi membawa serta tabung panah di punggungmu itu sebenarnya untuk mengajariku teknik memanah juga, ya?" tanya Serena penasaran, menatap busur dan anak panah yang tersandang di tubuh Calum.

​"Benar, Nyonya," jawab Calum singkat dan sopan.

"Setelah sesi menembak kelinci ini selesai, saya akan mengajari Anda dasar-dasar memanah di lapangan terbuka bagian dalam hutan."

​"Wah, asyik juga!" seru Serena bersemangat, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik keseruan latihan berburu dan memanah itu, ia sedang berdiri di atas tanah yang menyimpan ribuan rahasia mengerikan dari dunia hitam suaminya.

Bersambung...

Kalau aku jadi Serena memilih balik aja ke mansion atau pura-pura pingsan saja.

1
Ita Putri
kasihan nasib Callum setelah ini....jangan terlalu kejam hukum Callum nya sergio
It's me Ri🥕: Kayaknya bakalan di bunbun dehh🙏😭
total 1 replies
Mia Camelia
seru banget ngliat tingkah polos serena🤭
Mia Camelia
sergio bisa lembut juga 🤭
Dessy Rinda
klo serenanya jago nela diri sm nembak keren kak thor🤭😁🙏
Dessy Rinda: siiippp
total 2 replies
Mia Camelia
mampir thor🤭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔
Dessy Rinda: semangat nulisnya kk thor,semoga di berikan ide2 cemerlang sehat2 ya kak💪👍
total 2 replies
Sumawita
saya suka dengan cerita nya bagus bangett 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!