Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.
Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.
Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.
Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.
Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Ruang rapat di kediaman Moretti bukanlah tempat berdebat, melainkan sebuah teater kekuasaan. Dindingnya, berlapis kayu gelap dan kedap suara, menampung bobot keputusan-keputusan yang menggerakkan jutaan dolar dan merenggut nyawa. Dante duduk di kursi kepala, rahangnya menegang dan tatapannya memperingatkan bahwa kesabarannya nyaris habis.
Di hadapannya, dengan senyum yang tak pernah sampai ke matanya yang bagai mata reptil, duduk Enzo Baratti. Enzo adalah sisi mata uang yang berlawanan dari Dante: elegan, namun dengan kekejaman yang dilebih-lebihkan bagai lakon panggung, seorang pria yang menikmati kekacauan sebesar Dante menikmati ketertiban. Rapat tentang jalur pelabuhan New York itu hanyalah dalih. Enzo datang untuk mengendus rasa takut di rumah Moretti setelah serangan orang-orang Rusia yang gagal.
"Dante, temanku… kau tampak agak linglung," kata Enzo, memainkan sebuah pemantik api emas. "Kata orang-orang usil, kau berhasil merebut kembali sesuatu yang berharga. Sebuah permata yang kaukira lenyap dalam lumpur."
Dante tak mengedipkan mata.
"Apa yang jadi milikku telah kembali ke tempatnya, Enzo. Itu bukan urusan Komisi."
"Segala hal yang memengaruhi keseimbangan kekuasaan adalah urusan kami," balas Enzo, mencondongkan tubuh ke depan. "Sebuah kelemahan adalah peluang bagi yang lain. Dan seorang istri… yah, seorang istri adalah sebuah jangkar."
Pada detik itu juga, protokol keamanan kediaman itu gagal. Bukan karena serangan dari luar, melainkan karena rasa ingin tahu masa kanak-kanak yang tak terjinakkan.
Pintu samping terbuka hanya beberapa sentimeter. León dan Cristo, yang tadi memanfaatkan saluran pipa servis untuk mengelabui Victoria dan Rosa, menjulurkan kepala. León mencari ayahnya untuk menantangnya soal perintah yang diberikan kepada Marco malam sebelumnya. Cristo hanya ingin memetakan sistem keamanan ruang rapat itu.
Keheningan yang mengikuti terasa pekat, seberat timah.
Enzo berputar perlahan di kursinya. Tatapannya menyapu kedua bocah itu, berhenti pada kesimetrisan sempurna wajah mereka, pada tatapan sedingin es milik León dan ketajaman analitis milik Cristo. Kemiripan mereka dengan Dante begitu telanjang hingga tak terbantahkan. Mereka adalah dua salinan persis dari pria yang dibenci Enzo, tapi dalam ukuran mungil.
"Wah, wah…" bisik Enzo, dan suaranya meneteskan racun penuh kegembiraan. "Ini bukan sekadar seorang istri. Mereka pewaris."
Dante melompat bangkit, kursinya membentur dinding dengan bunyi menggelegar.
"Keluar dari sini!" ia mengaum, memandang putra-putranya dengan campuran murka dan rasa ngeri yang belum pernah ia rasakan. "Sekarang!"
León tak langsung mundur. Ia memandang Enzo dengan penghinaan naluriah, mengenali bau seorang musuh. Cristo, di pihaknya, menghafalkan wajah Enzo, mencatat bekas luka di lehernya dan cara tangan kanannya bergetar samar. Mereka tahu pria itu adalah bahaya yang menjelma.
Marco muncul dari lorong, mencengkeram bahu kedua bocah itu dan menyeret mereka menjauh dari ruangan, tetapi kerusakan sudah terjadi. Rahasia yang paling dijaga keluarga Moretti baru saja disodorkan di atas nampan perak kepada pria paling berbahaya di pantai timur.
Enzo tergelak panjang dan nyaring hingga membuat bulu roma Dante meremang. Ia bangkit, membetulkan jas, dengan tenaga yang bangkit kembali.
"Selamat, Dante. Kau telah menggandakan warisanmu… dan menggandakan titik butamu," Enzo mendekati meja, menumpukan kedua telapak tangan di atas kayu. "Sekarang aku paham kenapa kau begitu gugup. Kau tak lagi bertarung untuk dirimu sendiri. Kau bertarung untuk masa depan. Dan masa depan, sebagaimana kau tahu betul, sangatlah rapuh. Sebuah demam, sebuah kecelakaan mobil… atau sebutir peluru nyasar."
"Kalau kau menyentuh sehelai rambut anak-anak itu, Enzo, akan kubakar New York dengan kau di dalamnya," suara Dante bagai benang baja, sebuah janji pemusnahan yang mutlak.
"Oh, bukan aku yang akan menyentuh mereka, Dante. Belum," Enzo melangkah menuju pintu, berhenti untuk memandang sang Capo untuk terakhir kalinya. "Tapi kini semua orang tahu bahwa Dante Moretti yang agung punya jantung di luar dadanya. Dan jantung yang berdetak di luar tubuh sangat mudah dihentikan."
Sepeninggal Enzo, Dante menaiki tangga menuju kamar suite utama bagai badai. Ia mendapati Victoria tengah berusaha menenangkan si kembar, yang menjelaskan kepadanya apa yang tadi mereka lihat. Melihat suaminya, Victoria tahu bahwa sesuatu telah retak tanpa bisa diperbaiki.
"Enzo melihat mereka, ya kan?" tanyanya, suaranya retak.
Dante tak menjawab dengan kata-kata. Ia terpuruk di kursi berlengan, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Pria yang tak pernah goyah itu kini gemetar. Kehadiran Enzo adalah penegasan bahwa gelembung pelindung di kediaman itu telah pecah.
"Perang baru saja berganti nama, Victoria," kata Dante, memandangnya dengan keputusasaan yang membekukannya. "Ini tak lagi soal apakah kau memaafkanku atau apakah kau tinggal bersamaku. Ini soal menjaga mereka tetap hidup. Enzo tak akan berhenti. Dia akan memakai anak-anak untuk memaksaku bertekuk lutut."
Victoria merasa lantai lenyap di bawah kakinya. Ia memandang León, yang tengah membersihkan ketapelnya dengan ketenangan mekanis, dan Cristo, yang sudah menggambar denah mobil Enzo di sebuah buku catatan.
"Ini salahmu!" jerit Victoria pada Dante, memukul dada pria itu dengan kepalan tangan. "Kau yang membawa mereka ke sini! Kau yang menyeret mereka dari kedamaian San Vicente untuk mengubah mereka menjadi sasaran! Sekarang mereka jadi piala perang bagi para musuhmu!"
Dante memeluknya, menahan kedua tangan Victoria erat-erat untuk menghentikan serangan itu. Ia menariknya mendekat, menyembunyikan wajah di leher wanita itu.
"Aku tahu," bisiknya, dan untuk pertama kalinya, Victoria merasakan setetes air mata Dante membasahi kulitnya. "Tapi sekarang, satu-satunya cara melindungi mereka adalah membuat mereka lebih berbahaya daripada Enzo. Tak ada jalan mundur, Victoria. Kedamaian telah mati. Yang tersisa hanya kemenangan… atau pemakaman."
León dan Cristo menghampiri kedua orang tua mereka. Mereka bergandengan tangan, membentuk lingkaran tertutup di tengah kemewahan kamar itu. Mereka bukan anak-anak yang ketakutan. Mereka adalah pewaris yang baru saja memahami bahwa keberadaan mereka adalah hadiah utama dalam sebuah partai catur berdarah. Misi melindungi ibu mereka kini punya sebuah wajah: wajah Enzo Baratti. Dan di dalam benak mungil mereka, sang musuh telah divonis mati.
Bayangan Enzo di dalam mobilnya, tengah melakukan sebuah panggilan. "Siapkan semuanya," katanya lewat telepon. "Dante Moretti punya dua anak singa. Dan aku akan memakai mereka agar dia menyerahkan kunci kota ini padaku."