Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
“Lorenzo, lihat tuh kekasihmu lagi selingkuuuuh! Buka matamu lebar-lebar. Eh, bersihkan beleknya dulu, biar kelihatan jelas!”
Alina hampir saja tertawa melihat Bianca dan Samuel yang sama-sama membeku di dalam kendaraan mereka. Namun, yang tampak di wajah Alina hanyalah senyum tipis.
Lorenzo yang sedang memegang kemudi langsung melirik tajam ke arahnya. Dia tahu persis apa yang sedang dipikirkan istrinya.
Wajahnya memanas antara malu dan kesal.
“Senang, ya, kamu. Bisa membuktikan kalau aku salah pilih wanita,” gerutunya dalam hati.
Alina menoleh kepadanya dengan wajah polos. “Ada apa? Aku cuma tersenyum, kenapa dilihatin begitu?”
“Aku tahu isi kepalamu,” balas Lorenzo ketus.
Alina langsung mengalihkan pandangan ke depan. “Aku kan tidak bilang apa-apa.”
Di dalam hati, dia malah terkikik. “Rasakan! Emang enak diselingkuhi.”
Lorenzo mendengus pelan. Tangannya semakin erat mencengkeram kemudi.
Sementara itu, Bianca masih terlihat panik. Wanita itu menatap Lorenzo dari balik kaca mobil dengan wajah pucat.
“Lo-Loren-zo.,” panggil Bianca gagap.
Samuel yang duduk di sampingnya ikut terlihat gugup. Tangannya bahkan sempat bergerak gelisah di atas kemudi.
“Lo-Lorenzo, kamu jangan marah!” katanya cepat. “A-aku dan Bianca hanya berteman. Tadi kami tidak sengaja bertemu. Sekalian aku antar dia pulang.”
Lorenzo menatap Samuel tanpa ekspresi. Beberapa detik kemudian, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum miring. Senyum yang sama sekali tidak membuat Samuel merasa tenang.
“Heh, Teman?” ulang Lorenzo dalam hati, dia tidak mengatakan apa pun.
Lampu lalu lintas berubah hijau. Lorenzo langsung menginjak pedal gas dan meninggalkan persimpangan itu.
Alina masih menoleh ke belakang beberapa saat, memperhatikan kendaraan Bianca dan Samuel yang semakin jauh. Dia kemudian kembali menghadap Lorenzo.
“Kamu tidak marah?” tanyanya dengan nada benar-benar heran.
Lorenzo tetap fokus pada jalan. “Buat apa marah?”
Alina mengerutkan kening. “Bukannya tadi kamu melihat Bianca bersama Samuel?”
“Melihat.”
“Tidak sakit hati?”
Lorenzo mengangkat bahu. “Tidak.”
Alina semakin bingung. “Hah?! Mustahil!”
Lorenzo meliriknya sebentar sebelum kembali melihat jalan. “Tinggal putuskan saja. Toh, wanita bukan hanya Bianca saja.”
Mulut Alina langsung terbuka lebar. Dia menatap Lorenzo seolah-olah baru saja melihat orang asing duduk di kursi pengemudi.
“Apa pekerjaan dia hari ini terlalu berat sampai membuat dia stres dan berubah kepribadian?”
Biasanya Lorenzo begitu yakin pada Bianca. Sekarang, setelah melihat kekasihnya bersama pria lain, dia malah terlihat santai. Alina menyipitkan mata.
“Jangan-jangan otaknya ikut cedera waktu kecelakaan?”
Lorenzo mendelik.
Alina langsung pura-pura melihat ke luar jendela. Dia menahan senyum.
Lorenzo mengembuskan napas panjang. Jemarinya mencengkeram kemudi lebih erat.
“Benar-benar istri yang menyebalkan.”
Keesokan paginya, suasana rumah masih tenang ketika bel pintu berbunyi. Alina yang sedang berada di ruang tengah langsung berjalan menuju pintu. Dia pun membuka pintu. Senyum di wajahnya langsung menghilang.
Bianca berdiri di depan rumah. Penampilannya benar-benar mengenaskan. Rambutnya sedikit berantakan, matanya sembap, dan wajahnya terlihat pucat seperti orang yang semalaman tidak tidur.
Begitu melihat Alina, Bianca langsung memasang wajah sedih. “Alina,” panggilnya lirih.
Alina memandangnya dari ujung kepala sampai kaki. Kemudian dia memutar bola matanya.
“Kenapa lagi?”
“Aku ingin bertemu Lorenzo.”
Alina menahan napas. Kesepakatan di rumah ini sudah jelas. Orang luar tidak boleh masuk sembarangan, termasuk Bianca. Hanya anggota keluarga dan orang-orang kepercayaan yang diperbolehkan datang.
Namun, sebelum Alina sempat menjawab, terdengar langkah kaki dari arah ruang makan. Lorenzo muncul sambil berjalan sambil membetulkan kancing di lengannya. Dia langsung berhenti ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
“Bianca?” Keningnya berkerut. “Kenapa kamu datang ke sini?”
Bianca tidak menjawab. Wanita itu langsung berlari menuju Lorenzo.
“Lorenzo!”
Tangan Bianca terangkat hendak memeluk pria itu. Namun, Lorenzo bergerak lebih cepat. Dia melangkah ke samping, sehingga Bianca hanya memeluk udara. Tubuhnya bahkan hampir kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya berhenti.
Lorenzo mundur satu langkah. Matanya melirik Alina. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
“Wah, gawat! Bisa-bisa Alina ngomel-ngomel dan memberi hukuman kepadaku karena sudah membiarkan Bianca masuk ke rumah ini.”
Belum sempat Lorenzo mencari alasan, suara Alina sudah terdengar di kepalanya.
“Bagus, Lorenzo! Kamu kasih tahu alamat rumah ini kepada Bianca. Maka bersiap-siaplah menerima hukumanmu nanti.”
Lorenzo menelan ludah. Dia pura-pura tidak mendengar.
Bianca menatap Lorenzo dengan mata berkaca-kaca. “Lorenzo, kamu jangan salah paham.”
Lorenzo menatapnya tajam. “Salah paham?!”
Nada suaranya membuat Bianca tersentak. “Kamu pikir aku bodoh?” lanjut Lorenzo. “Jelas-jelas kamu berselingkuh dengan Samuel. Tapi bilangnya cuma teman.”
“Lorenzo, aku dan Samuel memang berteman!” bantah Bianca sambil terisak. “Tidak lebih!”
Lorenzo tertawa pendek tanpa sedikit pun rasa geli. “Tidak lebih?”
Lorenzo mengambil beberapa lembar foto dari atas meja. Kemudian, tanpa ragu, Lorenzo melemparkannya ke arah Bianca.
Beberapa lembar foto jatuh mengenai wajah dan bahu wanita itu sebelum berhamburan ke lantai. Bianca membungkuk dan mengambil salah satunya. Wajahnya langsung pucat. Foto itu memperlihatkan dirinya bersama Samuel. Bukan sekadar berdiri berdampingan. Ada foto mereka berpelukan, sedang berciuman, bahkan ada foto yang memperlihatkan keduanya berada di sebuah hotel.
Bianca membalik beberapa lembar berikutnya. Semakin banyak foto yang dilihatnya, semakin gemetar tangannya.
“Dia sudah tahu hubungan aku dengan Samuel?!” pikir Bianca panik.
Lorenzo melangkah mendekat. “Ini yang kamu maksud berteman?”
Bianca tidak mampu menjawab.
“Berpelukan, berciuman, bahkan cek-in di hotel.” Suara Lorenzo terdengar semakin dingin. “Masih mau bilang hanya teman?”
“Lorenzo.” Suara Bianca bergetar. “Aku bisa menjelaskan.”
“Tidak perlu.”
Lorenzo mengangkat satu tangan, menghentikan perkataan Bianca. “Aku sudah melihat semuanya.”
Bianca menatapnya dengan mata penuh air mata. “Tapi aku mencintaimu.”
Lorenzo menggeleng pelan. “Kalau itu cinta, aku tidak membutuhkannya.”
Bianca terdiam.
Lorenzo menatap wanita itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata tegas, “Mulai sekarang hubungan kita putus.”
Bianca membeku. “Apa?!”
“Di antara kita tidak ada hubungan apa-apa lagi.”
Air mata Bianca langsung mengalir deras. Namun, Lorenzo tidak lagi menunjukkan keraguan.
Alina yang berdiri beberapa langkah dari mereka hanya memandangi keduanya. “Walah-walah ... Ini ikrar pemutusan ikatan asmara, nih!”
Dia melirik Bianca, lalu Lorenzo. Alina menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tersenyum. Matanya bergerak dari Lorenzo ke Bianca.
“Tapi kok kurang dramatis, ya? Masa tidak ada adegan tampar atau saling dorong, kayak di film-film?”
Lorenzo yang mendengar pikiran itu langsung menoleh tajam ke arah istrinya.
Alina buru-buru memasang wajah serius. Dia menunduk, pura-pura sibuk merapikan ujung bajunya.
Lorenzo mengembuskan napas panjang. "Suka-suka kamu saja lah, Alina!"
1. dia selingkuh selama pernikahan, berniat menceraikan istrinya demi menikahi wanita lain, membiarkan istrinya diperlakukan semena-mena dikeluarganya, tapi tidak dihargai dirumah, 2.Alin dibuat bertahan 3 tahun dengan suami yang dingin, tidak menghargai istri dan selingkuh dengan pacarnya, sekaligus tekanan dari keluarga suami, tidak punya Sandaran, mengurus rumah dan sekaligus masih bekerja dikantor suami yang mana entah itu privat / disembunyikan.
coba kesampingkan humor tentang membaca pikiran, yg aku tangkap dari rumah tangganya itu semua, rasanya terlalu mudah dimaafin, padahal untungnya cuma Alin gak cinta, dan Lorenzo gak celap celup. sisanya kalo dipikir sakit ya
nyesel lho klo beneran Lorenzo lari k wanita lain, apalagi dia skarang mulai menyukai kaaaamu....