Siapa perempuan yang ingin menjadi mandul .?? tidak ada satupun yang menginginkan itu semua, setiap wanita pasti ingin punya keturunan punya buah hati yang akan menjadi pelengkap dalam bahtera rumah tangga nya, sebagai pemanis dalam cinta yang di arungi bersama teman hidupnya.
Namun rencana yang kuasa tetap lah rencana nya siapa yang dapat menghindar atau mengelak jika ia sudah berkehendak, itu lah yang di alami kora.
11 Tahun pernikahan nya ia selalu mendambakan ada buah hati yang sudi tumbuh dalam rahim nya, 11 tahun penantian yang panjang. Pernikahan yang sempurna, memiliki suami yang sempurna ternyata bukan lah obat dari sebuah penawar kebahagiaan.
pernikahan yang dikira akan berjalan seumur hidup harus kandas kala tuntutan dan penghianatan yang terjadi. kora tidak marah tidak juga menyalahkan siapapun ia memilih mengalah dan merelakan cinta nya pergi dan memilih menghilang untuk menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeinXD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 32
Nisa terjaga dari tidurnya entah kenapa bayangan masa lalu seperti kembali menghantuinya, ia sudah meminum obat tidur begitu banyak namun ia masih belum bisa memejamkan matanya.
Ia masih teringat jelas wajah adiknya saat memohon belas kasihan pada nya, rasanya ingin gila terus membayangkan wajah itu. Nisa merasa apakah ini semua adalah dosa yang membayangi nya dosa ini tidak akan pernah hilang sampai ia menuntut kebenaran.
Nisa memilih pergi ia melajukan mobilnya disebuah tempat, tubuhnya gemetar saat menginjakkan kakinya di tempat itu. Gelap namun kejadian yang pernah terjadi disana jauh lebih gelap dari sebelumnya, Nisa menarik nafas panjang berusaha menetralkan rasa gugup dalam dirinya.
Ia berdiri di tepi tebing curam dengan tatapan nanar bayangan masa lalu berputar dengan jelas di ingatan nya.
" maafkan aku jika pernah membenci mu!!" ucap Nisa sembari menaburkan bunga di tebing itu.
Ia menangis ia menyesal rasa cemburu telah membutakan mata hati nya, tangan nya gemetaran bersama air mata yang mengalir dengan deras membasahi pipinya.
" aku ingin melupakan semua namun kenapa kau tak pernah membiarkan ku hidup tenang, apakah tidak cukup bagimu untuk melihat ku menderita!" ucap Nisa lagi ia ingin mengakhiri semua ini namun ia belum siap dengan resiko yang akan di hadapi nya.
" kakak!" sebuah suara kecil yang terdengar jelas di telinga nya membuat Nisa jatuh tersungkur di tanah ia menangis histeris seperti orang gila entah kenapa perasaan bersalah itu terus menghantui nya.
Tiara yang sudah tau dimana keberadaan Nisa bergegas menyusulnya, dia melihat Nisa yang histeris di tepi curang ia melihat bagaimana gadis itu hancur karena perbuatannya sendiri.
Tiara menarik lengan Nisa untuk menjauh dari tepi curang gadis itu terlalu dekat degan tepi, jika saja tergelincir maka akan membuat wanita itu mati dengan ganas.
Nisa menghardik lengan tiara dengan kasar ia menatap Tiara dengan tatapan nanar dan itu membuat Tiara muak.
" jika ingin mati lompat saja!" tiara berteriak di depan wajah Nisa dengan lantang kenapa wanita ini selalu saja lemah
Nisa terdiam ia menunduk rasanya ia takut, ia masih belum siap untuk mati
" sampai kapan harus menjadi orang lemah seperti ini? sampai kapan?" tiara menatap Nisa dengan tatapan tajam ia kasihan dengan wanita ini namun ia juga takut takut jika kelemahan Nisa membuat semua yang ia susun hancur.
" aku tidak bisa terus hidup dalam bayang bayang rasa bersalah ini!" Nisa kembali menangis ia tak dapat lagi membendung semua nya
" kita semua tidak ada yang bersih semua punya noda dalam diri nya masing-masing, jika kau lemah itu akan menghancurkan mu. Lawan itu semua jangan hanya bisa menangis jika belum siap menanggung semua kenapa melakukan nya?" ucap Tiara tatapan tajam nya memberi peringatan keras bahwa Nisa tidak boleh sampai jatuh sebelum ia naik posisi dari ini semua.
Tiara menarik kembali tangan Nisa membawanya untuk pulang, jika saja di biarkan bisa saja wanita bodoh ini akan bertindak nekat situasi nya sekarang sedang kacau Tiara memikirkan cara bagaimana ia bisa memantau Nisa agar tak melakukan hal nekat.
...----------------...
Leon menutup pintu rumah dengan pelan ia baru kembali badannya tampak basah.
Saat ia berbalik untuk masuk kedalam kamar lampu ruang tamu menyala, tampak sang ibu berdecak pinggang menatap nya.
" darimana?" ucapan sang ibu sontak membuat Leon terhenyak dan diam mematung di tempat
Ia berbalik dan menatap sang ibu ia berusaha tersenyum namun tampak canggung, ia merapikan kacamata nya dengan benar menampilkan sosok cupu Leon yang di kenal.
" tadi ada urusan di luar!" Leon menggaruk tengkuknya yang tak gatal ia bingung harus menjawab apa
" urusan apa yang di lakukan di larut malam begini?" pertanyaan sang ibu membuat Leon tak bisa lagi mengelak ia hanya berdiri mematung.
" jangan pernah melakukan hal bodoh di luar sana!" ucap sang ibu ia meninggal Leon yang tampak masih berdiri mematung di tempat nya.
Ia menatap nanar punggung sang ibu ia tak bisa menyembunyikan ini semua dari wanita paruh baya itu, sampai kapan mereka terus hidup dalam kekurangan ini ia tak tega harus melihat ibunya menahan rasa sakit.
Leon masuk dan membasuh tubuhnya bayangan di kepalanya terus berputar, ia memukul tembok kamar mandi dengan keras ia merasa gagal.
...----------------...
Hendra masih menunggu kepulangan kora yang bahkan tak bisa ia hubungi sama sekali, apakah kora sedang bersama Dinda?
Namun saat menghubungi Dinda ia juga tak bisa kenapa semua orang seperti bersembunyi?
Hendra sudah pusing dengan kemunculan Dimas di tambah lagi kora yang hilang kabar, ini membuatnya semakin frustasi jika saja semua ini tidak pernah terjadi mereka semua tak akan terjebak dalam kebohongan yang ada.
...----------------...
Helen masih duduk di tempat yang sama ia tak beranjak dari sana, ia menscrol handphone nya ia mencari nama seseorang dalam pencarian nya.
Ia membaca membarapa artikel yang memuat tentang seseorang yang masih ia cari, orang itu sudah lama ia kerja namun entah kenapa sosok itu tak pernah memandang nya.
" aku tak tau sekarang kamu dimana! Tapi kamu tak akan pernah bisa bersembunyi terlalu lama!" Helen tersenyum ia menggoyang-goyangkan gelasnya
Ia mengigat dengan jelas nama yang selalu ia cari, " Dimas Anggara" nama yang selalu membuat nya penasaran dimana lelaki ini pergi
Ia pernah mengikuti nya hingga keluar negri dan tinggal di sana hanya untuk lebih dekat dengan nya, namun ia tak pernah berhasil menemukan nya pria ini terlalu misterius persis seperti saat pertama mereka bertemu.
Saat membayangkan pertemuan itu membuat Helen tersenyum, hanya pria itu yang bisa membuat nya seperti ini sosok yang begitu menarik Sagala minat dalam diri nya.
" jika dia benar-benar ada disini kenapa dia harus bersembunyi, apakah ada seseorang yang sedang ia lindungi?" helen menatap tajam gelasnya yang memantulkan bayangan dirinya yang Tempak terlihat menyedihkan karena mengejar sesuatu yang bahkan tak pernah melihatnya
" mengagumi mu sudah begitu lama, tapi kenapa aku tak bisa bersama nya!"
Helen menghela nafasnya ia menyadarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang ia duduki, kepalanya menatap ke atas ia berpikir apa yang kurang dari dirinya ia punya kuasa punya harta bahkan ia juga cantik sudah banyak pria yang ia tolak hanya karena hati nya hanya ingin memiliki seseorang yang tidak pernah bisa ia miliki.
" jika aku tak bisa memiliki nya, maka ku pastikan tidak akan ada yang bisa memiliki mu!"
Sorotan mata nya yang tajam mengisyaratkan kekejaman yang nyata dari sosok Helen yang dingin, ia begitu terobsesi dengan pria yang selama ini ia kejar.