Indonesia
NovelToon NovelToon
Dijual kepada Mafia Rusia

Dijual kepada Mafia Rusia

Status: tamat
Genre:Mafia / Obsesi / Tamat
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Erin C

Ann hanyalah mahasiswi seni biasa di Kota Meksiko—sampai satu malam yang salah mengubah segalanya. Diculik, dilelang, dan dijual kepada dunia hitam, ia terbangun sebagai milik seorang pria yang namanya saja mampu membuat seantero dunia bawah tanah bergidik: salah satu dari empat bos Mafia Rusia.

Mereka berempat berbagi lebih dari sekadar kerajaan bisnis gelap—sang Singa, sang Serigala, sang Beruang Hitam, dan sang Elang adalah sahabat sejak kecil. Dan kini keempatnya mengincar gadis yang sama.

Terkurung dalam sangkar emas seorang pria berbahaya, Ann bersumpah takkan menyerah. Tapi di balik tatapan dingin sang penguasa tersembunyi sesuatu yang tak ia duga—dan garis antara tawanan dan yang dipuja mulai kabur. Di dunia tempa cinta ditempa dengan darah, kesetiaan bisa berujung maut, dan masa lalu tak pernah benar-benar terkubur, satu pertanyaan menggantung: mungkinkah menemukan cinta sejati di tangan orang yang membelimu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin C, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Berjanji Menjagamu 2

Aku berbaring di sisinya di ranjang. Ia tak sadarkan diri, tapi itu justru membuatku semakin meringkuk di dekatnya. Dengan tanganku kubelai kepalanya.

"Sayang, kau akan pulih. Kau kuat dan berani. Aku berjanji akan selalu menjagamu. Aku tak pernah mencintai siapa pun sebelumnya, dan kalau di awal kau merasa aku menghinamu dan membencimu, sekarang kukatakan dengan sepenuh hati: aku tak bisa lagi hidup tanpamu."

Ia masih tak sadarkan diri, tapi apa peduliku. Aku tak akan meninggalkannya sampai ia sembuh. Hari berlalu dengan tenang. Kupastikan lukanya tak berdarah dan memantau perkembangannya.

Aku turun ke dapur dan memotong sedikit buah, menuang sedikit air, lalu kembali ke kamar. Ia masih tidur, tampak begitu sempurna. Aku tak pernah membayangkan akan jatuh cinta pada pria yang membeliku.

Sambil memandanginya, aku mulai memakan buah. Malam akan panjang, dan aku harus memulihkan tenaga. Selagi aku minum, suara dering ponsel memenuhi kamar.

Kucari, sampai kusadari ponsel itu ada di saku celana Alan. Kudekati dan kuambil. Begitu kupegang, kulihat nama di layar: Omar menelepon.

"Halo," kataku.

"Siapa kau? Di mana saudaraku?"

"Namaku Ann, aku wanita Alan," kataku dengan sedikit malu.

"Omar, senang berkenalan, cantik. Di mana Alan? Aku punya kabar baik dan buruk untuknya. Sambungkan aku dengannya."

"Maaf, tapi ia tak bisa menjawab, ia sedang tidur karena obat yang diberikan padanya. Ia datang terluka dan belum sadarkan diri."

"Apa? Kapan itu terjadi? Bagaimana bisa ia terluka?"

"Ya, ia disayat pisau di pinggangnya, tapi sudah ditangani tepat waktu."

"Baik. Kalau ia bangun, suruh ia meneleponku. Katakan Eduardo juga terluka dan sudah ditangani secara darurat di rumah sakit; ia sudah dipindahkan ke Rusia, kondisinya parah tapi akan selamat. Dan soal urusan yang lain, rencananya berhasil."

"Baik, akan kusampaikan. Tapi siapa Eduardo?"

"Ia yang akan memberitahumu. Terima kasih sudah menjawab telepon, cantik."

Ketika ia menutup telepon, kekhawatiran menyergapku. Apa di dunia ini semua orang berakhir terluka?

Alan masih tak sadarkan diri, dan aku masih cemas. Tapi sebuah gagasan muncul di benakku. Aku memegang ponsel Alan; aku bisa menelepon siapa saja yang kuinginkan. Kutekan nomor-nomor itu, dan telepon pun berdering.

"Halo, siapa ini?"

"Mama, ini aku, Ann," kataku terisak.

"Ann, gadis kecilku, kau di mana? Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi denganmu? Ayahmu dan aku sangat khawatir. Kami mencarimu ke mana-mana, tapi tak seorang pun bisa menjawab. Kami pergi dari Michoacán ke Kota Meksiko ketika kau tak menjawab, kami meneleponmu selama seminggu, dan yang mengangkat wanita pemilik kontrakanmu. Katanya ia tak melihatmu berhari-hari dan barang-barangmu masih di rumah. Kami dilanda kekhawatiran dan pergi sampai ke sini, kami sudah mencarimu berminggu-minggu."

"Maaf, Mama. Sebuah perusahaan besar menawariku posisi di luar negeri, tapi di awal aku tak bisa mengakses telepon. Maaf tak mengabari, juga tak menjawab, tapi aku baik-baik saja." Aku berbohong; aku tak tega menceritakan apa yang menimpaku.

"Oh, nak, tapi kenapa tak bilang lebih awal? Ayahmu dan aku mengira sudah kehilanganmu. Kapan aku bisa melihatmu lagi? Kau makan dengan baik? Bagaimana pekerjaanmu, apa gajinya bagus?"

"Iya, Mama, semuanya luar biasa, aku bahagia. Aku bahkan punya kekasih, ia tampan, baik hati, dan sangat mendukungku. Aku sangat mencintainya, dan aku yakin Mama akan menyukainya. Mama akan jadi mertua paling bahagia saat bertemu dengannya. Semuanya baik-baik saja."

"Baguslah, nak. Kalau begitu barang-barangmu kami bawa pulang. Dan ya, aku ingin sekali mengenal pria beruntung itu. Nak, jangan berhenti menghubungiku. Ayah dan aku sangat menyayangimu."

Kututup telepon sambil menangis. Aku sangat senang bisa bicara dengan Mama, aku sangat merindukannya, dan dengan yang kukatakan, ia akan lebih tenang. Ini kebohongan demi kebaikan. Mungkin suatu hari aku bisa membujuk Alan untuk mengajakku mengunjungi mereka. Ia lebih dari sekadar mafioso; ia baik dan penuh perhatian padaku.

Pandanganku beralih ke ranjang. Alan sudah terbangun dan menatapku tanpa ekspresi. Aku mendekat, dan sambil tersenyum ia berkata dengan suara pelan.

"Terima kasih untuk bagian tampan dan baik hati. Aku juga sangat mencintaimu."

"Maaf, aku tak bermaksud kau bangun lalu mendapatiku bicara dengan entah siapa. Tapi aku ingin mengabari ibuku bahwa aku baik-baik saja."

"Sayang, waktu aku bangun kau sedang terisak dan bicara dengan seseorang. Ketika kudengar semua yang kau katakan padanya dan cara kau membicarakanku, jantungku melonjak bahagia. Setidaknya kau berhasil membuat calon mertuaku sedikit menyukaiku."

"Calon mertuamu?" kataku tersipu.

"Ya, begitu katamu. Aku ingin sekali mengenalnya, tapi untuk sekarang belum mungkin. Aku berjanji suatu hari akan mengajakmu menemuinya."

"Terima kasih, sayang. Tapi bagaimana perasaanmu, sudah lebih baik?"

"Sayang, aku lebih baik. Aku hanya merasa sedikit lelah dan pinggangku sakit, tapi memilikimu di sisiku membuatku merasa jauh lebih baik."

"Aku berjanji menjagamu dengan nyawaku, dan itu yang kulakukan. Aku sangat cemas saat melihatmu terluka, dan hatiku sakit. Ketika kulihat sayatan di pinggangmu, kukira aku akan kehilanganmu," kataku terisak.

"Sayang, kau tak akan kehilanganku. Setiap hari kau membuktikan bahwa kau mencintaiku sebesar aku mencintaimu. Tapi katakan, bagaimana perasaanmu setelah bicara dengan Dokter Paula?"

"Lebih baik. Dalam hal itu aku lebih tenang, tapi aku mengkhawatirkanmu, bagaimana kau bisa berakhir seperti ini."

"Aku sedang menyingkirkan seorang sampah, tapi tak berjalan seperti yang kuharapkan. Tapi dibandingkan dia, aku jauh lebih beruntung."

"Apa maksudmu?"

"Bukan apa-apa, tidak penting."

"Seseorang bernama Omar menelepon ponselmu. Katanya ia punya kabar baik dan buruk. Ia bilang rencananya berjalan sempurna, tapi seseorang bernama Eduardo terluka dan akan selamat. Ia sudah dibawa ke Rusia, dan katanya teleponlah ia kalau kau sudah bisa."

"Terima kasih, cantik. Tapi sini, berbaringlah di sisiku dan peluk aku."

Aku mengangguk dan berbaring di samping Alan, menciumnya dan memeluknya. Kami merasa begitu bahagia bisa bersama.

Dasar sampah keparat, kau selamat kali ini. Tapi aku akan memastikan menghabisimu. Ini belum berakhir. Sebentar lagi kita akan bertemu lagi, dan kali ini takkan ada ampun.

"Bos kita sudah siuman, Ann sudah bicara dengan ibunya dan menyebut Alan calon menantu. Eduardo masih hidup dan bisa menimbulkan banyak masalah di masa depan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!