Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — Penyadap di Rumah Aman
Malam itu tidak ada yang benar-benar tidur.
Arif tertidur di pangkuan Dilla karena kelelahan menangis, napasnya masih sesekali tersengal. Fadil memeluk keduanya dari samping, satu tangannya menahan perban di bahunya yang berdenyut. Di luar kamar, di ruang tamu yang lampunya dibiarkan menyala temaram, Jatmiko, Azam, Pranoto, dan Laras duduk melingkar tanpa suara. Di tengah meja ada tiga benda: kartu nama MAHENDRA HOLDING yang basah oleh embun, selembar sobekan halaman terakhir buku Larasati yang masih berlumpur, dan sebuah kaset pita kecil berdebu yang baru saja ditemukan di peti kayu di bawah gudang.
Kaset itu. Benda kecil itu yang membuat semua orang tidak bisa tidur.
Suara di telepon tadi masih terngiang jelas di telinga Azam.
"Jangan putar kaset itu di rumah itu. Ada penyadap di rumah aman kalian."
Azam menatap sekeliling rumah aman yang sederhana itu. Rumah dengan dinding triplek, atap asbes, dua kamar, satu ruang tamu. Rumah yang ia sewa dengan nama palsu untuk menyembunyikan Dilla dan Fadil dari kejaran Bagaskara. Rumah yang ia kira paling aman di Karangrejo.
"Pranoto," bisik Azam pelan, agar tidak membangunkan Dilla dan Arif di kamar. "Paman bilang Bagaskara yang pasang penyadap. Di mana?"
Pranoto yang sudah hidup 40 tahun di dunia seperti ini, memejamkan mata dan mendengarkan. Bukan mendengarkan suara, tapi mendengarkan kebisingan yang tidak seharusnya ada.
"Matikan semua lampu," perintah Pranoto pelan.
Laras langsung mematikan lampu ruang tamu. Hanya cahaya dari ponsel Azam yang menyala.
Dalam gelap, Pranoto mengeluarkan sebuah alat kecil dari saku batiknya — alat detektor frekuensi sederhana yang bentuknya seperti pulpen. Ia menyalakannya. Lampu kecil di alat itu berkedip merah.
Ia mengarahkan alat itu pelan-pelan ke sekeliling ruangan. Ke stopkontak. Ke kipas angin. Ke bingkai foto.
Saat alat itu diarahkan ke lampu gantung ruang tamu yang terbuat dari batok kelapa — lampu yang dipasang Bu Ratih dua hari lalu karena lampu lama mati — lampu merah di alat itu berkedip cepat dan berbunyi tit... tit... tit... keras.
Semua orang menahan napas.
Jatmiko berdiri perlahan, mengambil kursi, dan menurunkan lampu batok itu dengan hati-hati.
Di dalam batok kelapa, di balik fitting lampu, menempel sebuah benda hitam kecil sebesar kuku jempol, dengan kabel tipis dan lampu kecil yang berkedip setiap 5 detik.
Penyadap. Masih aktif.
Laras langsung pucat. "Ya Allah... jadi selama ini... semua pembicaraan kita di ruang tamu..."
"Didengar Bagaskara dari penjara," lanjut Azam dengan rahang mengeras. "Lewat orang suruhannya."
Jatmiko mengepalkan tangannya begitu keras hingga kukunya menancap. "Suryanto. Pasti Suryanto yang pasang waktu dia pura-pura antar makanan kemarin sore. Pantas dia tahu kita mau ke gudang."
Pranoto mengambil penyadap itu dengan tisu, tidak langsung menghancurkannya. "Jangan dihancurkan dulu. Kalau dihancurkan sekarang, orang Jakarta yang dimaksud Suryanto akan tahu kita sudah tahu."
"Jadi kita biarkan?" tanya Azam.
"Kita biarkan dia dengar apa yang kita mau dia dengar," jawab Pranoto dengan senyum tipis yang licik — senyum seorang pemain lama. "Besok pagi, kita buat drama. Kita bilang kita akan bawa buku itu ke kantor polisi Karangrejo jam 9 pagi. Biar mereka fokus ke sana. Padahal kita berangkat ke Jakarta jam 5 pagi."
Azam mengangguk. Rencana itu masuk akal.
Saat itu, pintu kamar terbuka pelan. Dilla keluar dengan Arif yang masih tertidur di gendongannya, Fadil di belakangnya.
Dilla melihat penyadap di tangan Pranoto. Wajahnya langsung pucat.
"Itu apa?"
Fadil yang melihatnya langsung memeluk Dilla dari belakang. "Penyadap, Sayang. Yang dibilang kakekmu di telepon tadi."
Dilla memandang penyadap itu dengan ngeri. Jadi selama ini, tangisan Arif, pelukan mereka, pertengkaran mereka, doa-doanya di ruang tamu... didengar orang lain.
"Jadi... orang yang culik Arif... dengar kita dari sini?" bisik Dilla, suaranya bergetar.
Arif yang mendengar namanya disebut, terbangun pelan di gendongan ibunya. "Ibu..."
Dilla langsung memeluk Arif lebih erat dan mencium keningnya. "Tidak apa-apa, Nak... Ibu di sini..."
Azam melihat pemandangan itu dan mengambil keputusan.
"Kita tidak bisa tunggu besok pagi. Kita berangkat sekarang. Jam 3 pagi. Biar penyadap ini mengira kita masih tidur."
Jatmiko mengangguk setuju. "Ayah setuju. Ayah tidak mau satu malam lagi di rumah yang didengar musuh."
Bu Ratih yang sejak tadi diam di dapur, keluar dengan membawa sebuah kantong plastik hitam kecil. Wajahnya sembab karena menangis semalaman.
"Dilla..." panggilnya pelan.
Dilla menoleh. Hubungannya dengan Bu Ratih masih canggung sejak pengakuan Bu Ratih bahwa ia yang membocorkan Larasati 28 tahun lalu.
Bu Ratih menyerahkan kantong plastik itu pada Dilla. "Ini... ini tape recorder kecil milik Larasati. Dulu Larasati titip ke saya sebelum ia meninggal. Saya simpan 28 tahun. Saya tidak berani kasih ke siapa pun karena takut Bagaskara tahu. Ini... ini yang bisa putar kaset itu."
Dilla mengambil kantong itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada tape recorder tua merk Sony Walkman yang masih bagus, dibungkus plastik.
"Kenapa baru kasih sekarang, Bu?" tanya Dilla pelan, bukan marah, tapi sedih.
"Karena tadi di telepon... Mahendra bilang jangan putar di rumah ini. Saya baru ingat, Larasati dulu juga bilang... kaset itu jangan diputar di rumah Wiratama. Harus diputar di tempat yang aman, tempat yang tidak ada dinding Wiratama," jawab Bu Ratih sambil menangis. "Maafkan Ibu, Dilla... Ibu pengecut 28 tahun..."
Dilla tidak menjawab. Ia hanya memeluk Bu Ratih dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih menggendong Arif. Pelukan itu membuat Bu Ratih menangis semakin keras.
Sekar yang melihat ibunya dipeluk Dilla, ikut menangis dan memeluk keduanya dari samping.
Fadil dan Azam dan Jatmiko hanya bisa diam melihat tiga perempuan dari tiga generasi yang berbeda — korban dari satu keluarga yang sama — berpelukan dalam satu lingkaran duka.
Pukul 03.17 pagi. Dua mobil melaju pelan meninggalkan rumah aman di Karangrejo tanpa menyalakan lampu depan, agar tidak terlihat dari sawah. Mobil pertama dikemudikan Azam, berisi Jatmiko, Pranoto, dan Laras. Mobil kedua dikemudikan Fadil — meski bahunya sakit — berisi Dilla dan Arif yang kembali tertidur di kursi belakang, memeluk buku hitam Larasati dan tape recorder tua itu.
Di kaca spion, Dilla melihat rumah aman itu semakin menjauh dan menghilang ditelan gelap. Rumah tempat ia tahu siapa ayah kandungnya, rumah tempat anaknya diculik dan kembali, rumah tempat ia mendengar suara ayah kandungnya untuk pertama kalinya.
Di pematang sawah seberang, mobil sedan hitam yang semalam terparkir sudah tidak ada. Hanya jejak ban yang masih basah.
Mahendra sudah pergi duluan ke Jakarta. Menunggu di alamat yang ada di kartu nama.
Perjalanan Karangrejo - Jakarta memakan waktu 4 jam. Sepanjang jalan, tidak ada yang banyak bicara. Arif tertidur pulas. Fadil fokus menyetir sambil sesekali menahan nyeri di bahunya. Dilla memandangi foto polaroid Larasati dan Mahendra yang tertawa bahagia — foto yang ia temukan di sawah pagi tadi — dengan air mata yang jatuh tanpa suara.
"Mas," bisik Dilla pelan agar Arif tidak bangun.
"Ya, Sayang?" jawab Fadil sambil tetap menatap jalan tol yang sepi.
"Kalau nanti kita ketemu ayah kandungku... kalau ternyata dia tidak seperti yang aku bayangkan... kalau ternyata dia marah sama Ibu..."
Fadil meraih tangan Dilla dengan satu tangan dan menggenggamnya erat.
"Kalau dia marah sama ibumu, kita pulang lagi ke Karangrejo. Kita tidak butuh warisan. Kita butuh Arif sehat dan kamu tidak nangis lagi setiap malam," jawab Fadil dengan suara yang tenang dan mantap.
Jawaban itu membuat Dilla tersenyum kecil di tengah tangisnya. Itulah kenapa ia memilih Fadil 6 tahun lalu, dan memilihnya lagi setiap hari — karena Fadil tidak pernah menawarkan solusi kaya, Fadil menawarkan solusi pulang.
Jam 07.12 pagi, mereka sampai di Jakarta. Alamat di kartu nama Mahendra Holding mengarah ke sebuah ruko tua 3 lantai di kawasan Glodok yang sudah tidak terawat. Catnya mengelupas, rolling door-nya berkarat, dan di depannya ada tumpukan kardus.
Azam mengerutkan kening. "Ini? Mahendra Holding? Perusahaan yang dulu 70% saham Wiratama?"
Pranoto turun dari mobil dengan mata berkaca-kaca. "Ya. Ini ruko pertama kami. Tahun 1985. Aku dan Mahendra cat ruko ini sendiri dengan tangan kami. Ayahmu, Ayahanda Wiratama, cuma datang bawa uang 30%."
Jatmiko turun dengan kaki gemetar. Ia mengenal ruko ini. Di ruko inilah ia pertama kali bertemu Larasati, yang saat itu jadi kasir.
Dilla menggendong Arif yang masih mengantuk, turun dari mobil. Ia menatap ruko tua itu. Tidak ada yang menyangka, dari ruko berdebu inilah semua darah, air mata, dan kebohongan 28 tahun bermula.
Fadil memeluk bahu Dilla dari samping. "Kita masuk?"
Dilla mengangguk pelan.
Azam mendorong rolling door yang berkarat itu dengan keras.
KREKK...
Debu beterbangan.
Di dalam ruko yang gelap dan berdebu itu, tidak ada meja kantor mewah. Hanya ada satu meja kayu tua, satu kursi, dan di atas meja itu... ada satu bingkai foto Larasati yang masih muda, tersenyum, foto yang sama dengan yang ada di kalung Dilla.
Dan di belakang meja itu, membelakangi mereka, duduk seorang pria tua dengan batik cokelat yang sama seperti yang dilihat Arif di jendela gudang, rambutnya putih semua, punggungnya sedikit bungkuk.
Pria itu mendengar suara rolling door dibuka. Ia tidak langsung berbalik. Tangannya terlihat gemetar memegang foto Larasati di meja.
"Dilla?" Suaranya serak dan bergetar, suara yang sama seperti di telepon semalam. "Sudah sampai, Nak?"
Dilla yang mendengar suara itu, lututnya langsung lemas. Arif yang ada di gendongannya terbangun dan menatap pria tua itu.
Pria tua itu akhirnya berbalik perlahan.
Dan untuk pertama kalinya dalam 30 tahun hidupnya, Dilla melihat wajah ayah kandungnya secara langsung. Bukan dari foto, bukan dari cerita orang, tapi di depan matanya.
Mata Mahendra yang tua itu langsung berkaca-kaca saat melihat Dilla yang menggendong Arif — cucu yang belum pernah ia temui.
"Dilla..." bisiknya dengan air mata yang akhirnya jatuh setelah 28 tahun ia tahan.
Dilla tidak mampu menjawab. Hanya air mata yang jatuh deras.
Di tangannya, kaset pita suara ibunya, Larasati, masih ia genggam erat. Kaset yang dilarang diputar semalam.
Dan di luar ruko, dari kejauhan, sebuah mobil Avanza hitam berhenti dan mematikan mesin. Seseorang di dalamnya sedang menelepon.
"Pak, mereka sudah sampai Glodok. Dilla bawa buku dan kasetnya. Apa saya masuk sekarang?"
Bersambung...