Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 : Bukan sekedar perjanjian.
"Jadi ini... kakak iparku."
Kalimat itu tergantung sejenak di udara, ringan namun menyiratkan banyak hal, seolah Celine hanyalah sebuah benda yang baru saja ditemukan, bukan istri sah dari pemimpin klan Salvatore.
Damian tidak membiarkan jeda itu menjadi terlalu panjang. Rangkulannya di pinggang Celine mengencang sedikit, tegasan yang tak terucap.
"Benar. Celine Salvatore. Istriku." Tekanan pada dua kata terakhir itu jelas, dingin dan tegas. "Silakan masuk."
Mereka melangkah masuk ke dalam aula utama yang luas, langkah kaki mereka bergema di lantai marmer yang dingin. Valentina berjalan di depan, punggungnya tegak seolah sedang memasuki wilayah yang seharusnya menjadi miliknya, sementara Matteo berjalan di samping Damian, sesekali melirik ke arah Celine dengan senyum yang sulit diartikan.
"Rumah ini terasa berbeda sejak terakhir kali aku ke sini," ucap Matteo lirih, matanya menyapu setiap sudut ruangan, seolah mencari jejak perubahan. "Dulu terasa lebih... tenang."
"Rumah ini tetap sama, Matteo. Yang berubah hanya cara kau melihatnya," jawab Damian tenang, tanpa menoleh.
Mereka sampai di ruang makan besar yang pintunya sudah terbuka lebar. Meja marmer panjang tertata rapi, piring-piring porselen halus, gelas kristal yang berkilau di bawah cahaya lampu gantung kristal raksasa, dan hidangan yang terlihat begitu lezat namun suasananya jauh dari hangat.
"Silakan duduk," ajak Damian, menarikkan kursi untuk Celine di sebelahnya, posisi yang paling utama di sisi kanan kepala meja sebagai sebuah penegasan posisi yang tak bisa dibantah siapa pun.
Valentina duduk di seberang mereka, bibirnya terkatup rapat menahan kekesalan. Matteo di sampingnya, tersenyum sopan sambil mengambil serbet dengan gerakan anggun.
"Kau terlihat cantik malam ini, kakak ipar," ucap Matteo tiba-tiba, suaranya terdengar tulus namun matanya menyelidik tajam. "Gaun merah anggur itu sangat berani. Biasanya hanya wanita yang sudah lama berdiri di posisi ini yang berani memakai warna sekuat itu."
Celine meletakkan serbetnya di pangkuan dengan tenang. Ia menatap Matteo balik, tidak terintimidasi.
"Terima kasih, Matteo. Damian yang memilihkan warna ini untukku. Katanya, warna ini melambangkan keberanian. Dan aku butuh keberanian untuk bisa berdiri di sini."
Damian meliriknya sekilas, ada kilatan kebanggaan di matanya yang gelap. Ia mengangkat gelas anggur sedikit ke arah mereka.
"Untuk keakraban keluarga," ucapnya singkat, lalu meneguk sedikit tanpa menunggu mereka menjawab.
"Keakraban keluarga..." ulang Valentina, nada suaranya sedikit tajam. "Kak Damian, aku belum bilang setuju kakak menjadikan dia sebagai kakak iparku. Jangan karena Oma mendesak untuk menikah, Kakak lantas memilih sembarang wanita untuk dijadikan istri!"
Kalimat itu meluncur tajam di udara ruang makan yang tadinya baru saja terasa mulai tenang. Celine terdiam sejenak, jemarinya mencengkeram ujung serbet di pangkuan.
Damian meletakkan gelas anggurnya dengan keras. Bunyi itu terdengar begitu jelas di keheningan yang tiba-tiba menyelimuti ruangan. Tatapannya beralih ke arah adiknya, dingin dan tajam.
"Pilihan siapa yang aku jadikan istri, itu bukan urusan persetujuanmu, Valen. Dan bukan juga sekedar karena Oma mendesak," suaranya rendah namun tegas, tidak meninggi tapi cukup membuat siapa pun yang mendengarnya menahan napas. "Aku menikahi Celine karena aku menginginkannya. Apakah itu cukup jelas bagimu?"
Valentina tersentak, wajahnya memerah menahan amarah dan malu. "Tapi Kak... Dia bukan dari lingkungan kita! Dia tidak paham aturan, tidak paham bahaya yang mengelilingi kita setiap detik! Bagaimana kalau dia justru menjadi celah bagi musuh-musuh kita?"
"Celah?" Damian mengangkat alisnya, senyum tipis yang penuh sarkasme muncul di sudut bibirnya. "Selama ini justru orang-orang dari lingkungan kita sendiri yang sering menusuk dari belakang, bukan?"
Ia melirik ke arah Matteo sekilas sebelum melanjutkan, "Dan Celine... dia tulus. Itu sesuatu yang sudah lama tidak aku temukan di dunia penuh kepura-puraan ini."
Matteo segera menyela, meletakkan tangannya di lengan istrinya pelan seolah menenangkan, namun sorot matanya justru menatap Celine dengan tatapan yang seolah iba namun penuh perhitungan.
"Sudah, Valen. Jangan terlalu emosi. Kak Damian punya pertimbangannya sendiri." Ia beralih menatap Celine, nada bicaranya melembut namun tetap terasa menekan. "Celine... aku yakin kau mengerti kekhawatiran kami. Dunia Damian bukan sekedar kemewahan dan kekuasaan. Di balik itu ada darah, ancaman, dan nyawa yang selalu dipertaruhkan. Kalau suatu hari kau merasa tidak sanggup... tidak ada yang akan menghakimimu jika kau memilih untuk pergi."
Celine menarik napas panjang, menatap Matteo tanpa gentar sedikit pun.
"Terima kasih untuk perhatianmu, Matteo. Tapi aku tidak datang ke sini untuk menyerah di saat baru saja melangkah masuk. Aku tahu bahaya dan beratnya. Tapi aku juga tahu satu hal, Damian tidak pernah membiarkan aku berdiri sendirian."
Belum sempat Matteo menjawab, Valentina tiba-tiba mendorong kursinya mundur dan berdiri kasar.
"Kak Damian! Aku ingin bicara sebentar. Berdua saja!" pintanya tegas, menatap kakaknya tanpa mengalihkan pandangan.
Damian menghela napas pelan, lalu menoleh ke Celine, suaranya seketika melembut. "Kau makan dulu ya. Tunggu aku di sini sebentar. Jangan ke mana-mana."
"Baik." jawab Celine pelan, tersenyum tipis memberi isyarat tenang.
Damian berdiri, melangkah keluar ruangan diikuti Valentina yang berjalan di sampingnya dengan langkah cepat, seolah tak sabar melontarkan segala keluh kesahnya. Suara langkah kaki mereka perlahan menjauh, hingga akhirnya pintu ruang kerja tertutup rapat di ujung lorong.
Kini hanya tersisa Celine dan Matteo di ruang makan yang luas itu. Keheningan kembali menyelimuti, namun terasa lebih berat dari sebelumnya.
Matteo tidak langsung bicara. Ia menyesap anggurnya perlahan, menatap Celine dari balik gelas dengan senyum yang sulit diartikan. Lalu perlahan ia meletakkan gelasnya, berdiri, dan berjalan mengelilingi meja hingga berhenti di sisi tempat Celine duduk.
"Kau tahu, Celine..." mulainya pelan, nadanya seolah penuh keprihatinan yang tulus. "Aku kagum dengan keberanianmu. Tapi keberanian saja tidak cukup untuk bertahan di dunia kami ini. Kau tahu kan kenapa Oma dan keluarga ini begitu keras kepala soal pernikahan Damian?"
Celine tidak menoleh sepenuhnya, tetap memegang sendok di piringnya namun berhenti bergerak. "Katakan saja apa yang sebenarnya kau inginkan, Matteo. Tidak perlu berputar-putar."
Matteo terkekeh pelan, seolah sedikit terkejut namun tetap tenang.
"Langsung pada intinya ya? Bagus. Aku suka wanita yang cerdas." Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya makin rendah. "Dengar, aku tidak bermaksud jahat. Aku bahkan bisa membantumu. Kau bisa meninggalkan Damian dengan baik-baik. Tanpa skandal, tanpa ancaman. Aku akan menanggung biaya hidupmu dan ibumu, menyewakan rumah yang layak di tempat yang tenang, bahkan memberimu modal untuk membuka usahamu sendiri. Kau bisa kembali hidup normal, Celine. Tanpa harus setiap hari menengok ke belakang karena takut ada peluru datang."
Celine akhirnya menoleh, matanya tenang namun tajam. "Dan keuntungannya apa untukmu? Apa kau melakukan ini murni karena 'baik hati'?"
Matteo tidak terlihat tersinggung. Justru sudut bibirnya terangkat lebih lebar. "Keuntungannya... Damian tetap di keluarga ini, dengan pasangan yang lebih sepadan. Dan kau... kau selamat dari neraka yang perlahan akan menelanmu hidup-hidup. Pikirkanlah, Celine. Kau tidak perlu menjawab sekarang. Tapi ingat, semakin lama kau bertahan di sini, semakin sulit jalan keluarnya nanti."
Celine berdiri perlahan, menatapnya setara tanpa gentar sedikit pun. "Terima kasih tawarannya, Matteo. Tapi aku tidak menjual diriku. Dan aku tidak menjual pernikahanku dengan Damian. Silakan kembali duduk, atau silakan pulang. Damian mungkin masih lama di ruang kerjanya, tapi aku yakin dia akan segera kembali dan melihat apa yang sedang adik iparnya ini lakukan di belakangnya."
"Kau tidak bisa mengancamku," Matteo tersenyum dingin, "Pikirkan baik-baik, Nyonya Salvatore. Jika kau tak sayang nyawamu, setidaknya pikirkan nyawa ibumu, dan calon penerusmu kelak. Jangan sampai kau hamil anak Damian dan melahirkan anak di tengah pertumpahan darah."
Udara di ruang makan membeku. Celine manatap Matteo tanpa berkedip.
"Kau memakai anak yang belum ada untuk menakutiku?" suaranya pelan. Tapi setiap kata menghantam. "Itu bukan kekhawatiran, Matteo. Itu pengecut!"
Matteo tertawa kecil. "Pengecut? Aku ini realistis, Celine. Kau pikir Damian benar-benar mencintaimu dan bisa melindungimu selamanya? Jika bukan karena tuntutan dari Oma Rosalina, Damian tidak akan tiba-tiba memilihmu untuk dijadikan istri."
Celine tidak menjawab, pernikahannya dengan Damian memang terjadi karena perjanjian, bukan karena cinta. Dan ia ingat itu.
Matteo tersenyum semakin lebar, "Sekali lagi silakan pikirkan baik-baik, Nona Celine Atharaya. Apakah kamu mau hanya dijadikan alat untuk melahirkan penerus dunia kegelapan?"
Kalimat itu menggantung. Menusuk. Celine terdiam, dadanya sakit karena itu benar. Perjanjian pernikahan, keinginan Oma Rosalina untuk memberikan keturunan.
Matteo menangkap keraguan yang sekelebat melintas di mata Celine, dan ia menyeringai lebar, merasa sudah memenangkan pertarungan ini.
"Lihat?" bisiknya, rendah namun penuh kemenangan, seolah menancapkan paku terakhir. "Bahkan kau sendiri tahu. Cinta itu tidak pernah ada di sini, Celine. Yang ada hanya perjanjian. Hanya transaksi."
Tangan Celine mengepal erat di sisi tubuhnya, kuku menancap ke telapak tangan hingga terasa nyeri. Tubuhnya gemetar pelan, bukan karena ketakutan, melainkan karena amarah yang mendidih di dalam dada.
"Benar..." suaranya terdengar serak di awal, namun ia menarik napas panjang. "Awalnya... ini memang perjanjian."
Matteo mengangkat alis, tersenyum puas seolah baru saja memenangkan sebuah perdebatan besar. "Jadi kau akhirnya mengakui—"
"Tapi sekarang..." potong Celine tiba-tiba, menatap lurus ke dalam bola mata Matteo tanpa gentar sedikit pun. "Sekarang aku memilih tetap tinggal. Bukan karena perjanjian itu. Bukan karena anak yang belum lahir. Bukan karena uang atau perlindungan apa pun yang ditawarkan keluarga ini."
Langkahnya maju selangkah, meninggalkan kursi di belakangnya. Seolah ia bukan wanita yang terancam, melainkan wanita yang berdiri di atas kebenaran.
"Aku tinggal karena aku melihat Damian," lanjutnya, suaranya bergetar namun kuat. "Pria yang bahkan tanpa ragu rela mengorbankan nyawanya sendiri hanya untuk menjaga dan melindungiku. Pria yang melihatku bukan sebagai alat, tapi sebagai seseorang yang berharga. Dan rasa dihargai dan dilindungi seperti itu jauh lebih nyata daripada sekedar kata-kata cinta yang kau jual itu!"
-
-
-
Bersambung...