Saka mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak pembatas jembatan lalu terjun bebas ke sungai dan meledak.
Ajaibnya Saka masih hidup. Namun saat membuka mata, dia terbangun di tubuh orang lain. Saka hidup dalam tubuh Aryan, pria yang mengalami kecelakaan di hari yang sama dengannya.
Setelah selamat dari kecelakaan tragis, hidup Saka berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan saja harus menjalani kehidupan orang lain, matanya juga bisa melihat kilatan masa depan.
Saka bisa melihat kejadian buruk di masa depan. Kejadian yang memaksanya ikut campur dalam takdir seseorang. Dan membuka tabir rahasia tentang kematiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Ayura
“Saka Pradipta Adiguna, itu namanya. Aku biasa memanggilnya Mas Saka,” jelas Ayura yang langsung membuat Saka paham bahwa tadi wanita itu sedang memanggilnya.
“Maksudmu Saka Pradipta Adiguna, anak bungsu pemilik Adiguna Grup?”
“Kamu tahu?”
“Tentu saja. Adiguna Grup adalah perusahaan besar. Siapa yang tidak tahu soal perusahaan itu.”
“Ya, kamu benar. Orang yang kucintai adalah anak bungsu pemilik Adiguna Grup. Kamu pasti terkejut bagaimana perempuan sepertiku bisa bersama dengannya.”
“Tidak,” jawab Saka cepat. “Cinta tidak mengenal kasta atau status sosial. Bahkan cinta terkadang tidak mengenal logika.”
Ayura tertawa pelan mendengar jawaban Saka. Cinta mungkin tidak mengenal logika, tetapi cinta tidak mengenal kasta? Itu sesuatu yang mustahil.
Nyatanya kandasnya hubungan dirinya dengan Saka karena masalah perbedaan status sosial di antara mereka.
Jawaban Saka membuat Ayura kembali mengingat peristiwa pahit dalam hidupnya. Satu minggu sebelum Saka melamarnya, Wisnu, ayah Saka datang menemuinya. Pria itu terang-terangan menolak hubungannya dengan anak bungsunya.
Sore itu Wisnu mendatangi hotel tempat Ayura bekerja. Wanita itu bekerja di salah satu hotel yang berada di bawah naungan Adiguna Grup sebagai chef pastry.
Wisnu meminta Ayura menemuinya di ruang privat restoran di hotel tersebut yang sudah disewanya.
“Ayura Pratiwi, itu namamu, bukan?” tanya Wisnu dengan suara berat dan tatapan tajamnya.
“I-Iya,” jawab Ayura gugup.
Wisnu mengambil map yang ada di depannya. Di dalam map tersebut terdapat informasi tentang Ayura, wanita yang saat ini dekat dengan Saka.
Sebagai keluarga konglomerat, tentu saja Wisnu tidak bisa begitu saja menyetujui hubungan anaknya dengan perempuan sembarangan.
Dia meminta anak buahnya untuk menyelidiki semua tentang Ayura. Dari hasil penyelidikan, hasilnya sungguh sangat mengecewakan. Ayura hanyalah gadis yatim piatu miskin yang biaya sekolah serta kuliahnya hanya mengandalkan beasiswa.
Di mata Wisnu, Ayura bukanlah wanita yang bisa memperkuat posisi Saka di perusahaan. Justru keberadaan Ayura dinilai sebagai titik lemah Saka. Dia perlu wanita yang bisa memperkuat kedudukan Saka, serta membantu anaknya meluaskan jaringan bisnis perusahaan.
“Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan Saka?”
“Enam bulan,” jawab Ayura jujur. Mereka memang sudah mengenal lama, tetapi baru menjalin hubungan resmi selama enam bulan.
“Apa kamu tahu siapa Saka?” selidik Wisnu.
“Ya. Mas Saka sudah menceritakan tentang keluarganya.”
“Jadi, kamu sengaja mendekati Saka setelah kamu tahu bahwa dia anak pemilik Adiguna Grup?” tuduh Wisnu.
“Tidak. Saya tidak pernah berpikir ke sana,” sangkal Ayura.
“Kamu pikir saya percaya? Perempuan sepertimu pasti hanya mengejar harta saja.”
Tangan Ayura mengepal erat mendengar penghinaan Wisnu. Wanita itu tetap berusaha bersikap tenang di tengah tuduhan dan intimidasi pria di hadapannya.
“Saya mencintai Mas Saka,” jawab Ayura pelan.
“Cinta? Hahaha! Zaman sekarang, apa kamu pikir cukup hidup bermodalkan cinta. Suatu hubungan harus ada timbal baliknya, take and give. Tapi dalam hal ini, kamu hanya memberi tanpa bisa memberi. Apa yang bisa kamu berikan pada Saka?”
Pertanyaan Wisnu seketika membuat Ayura terdiam. Kata-kata Wisnu begitu tajam dan tepat mengenai jantungnya. Pria itu seolah mengingatkan dirinya yang hanya berasal dari keluarga biasa.
Bahkan setelah kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan, mereka hanya meninggalkan utang untuknya.
Rumah tempatnya tinggal disita oleh bank untuk dilelang. Sisa lelang rumah digunakan untuk menutupi utang lain.
Ayura yang kala itu masih berusia 15 tahun terpaksa hidup menumpang pada keluarga ayahnya. Namun selepas sekolah dia harus keluar dari rumah itu.
Ayura mulai hidup mandiri, menyewa kamar kos kecil sebagai tempat tinggalnya. Beruntung dia memiliki otak encer. Dia bisa masuk ke universitas melalui jalur prestasi dan mengambil kuliah di jurusan tata boga.
Sambil menyelesaikan kuliah, Ayura mengambil kerja sambilan sebagai pelayan kafe. Di sanalah dia bertemu Saka untuk pertama kali.
Hubungan mereka semakin lama semakin dekat saja. Kala itu Ayura tidak tahu bahwa saka adalah anak salah satu keluarga konglomerat yang kekayaannya tidak akan habis selama tujuh turunan.
Saka baru mengatakan yang sejujurnya tentang identitasnya setelah mereka resmi berpacaran. Bahkan pria itu menjanjikan bahwa perbedaan status sosial sama sekali bukanlah penghalang untuk mereka melanjutkan hubungan ke jenjang serius.
Namun ternyata kenyataan tidak sama dengan khayalan. Dan sekarang halangan itu terpampang nyata di depan Ayura.
Halangan bernama Wisnu Chandra Adiguna dirasakan Ayura sebagai tembok raksasa yang tidak mungkin dia tembus atau hancurkan.
“Tinggalkan Saka,” suara berat Wisnu memecah lamunan Ayura. “Tapi saya tidak memintanya dengan cuma-cuma,” Wisnu mengeluarkan selembar cek dari saku jasnya. Dia menyodorkan cek itu ke dekat Ayura.
“Itu bayaran untukmu. Tinggalkan Saka, lupakan dia dari hidupmu, dan jangan pernah muncul di hadapanmu lagi. Atau ….”
Ayura terdiam sebentar. Harga dirinya merasa dijatuhkan dengan penawaran Wisnu. Seakan pria itu sedang melakukan jual beli atas perasaannya terhadap Saka.
Egonya memaksanya untuk segera pergi tanpa mengambil cek itu. Namun harga dirinya menahan.
Ayura mengambil cek tersebut. Melihat nominal yang tertera di sana, wanita itu tertawa sumbang. “Anda hanya memberiku tiga ratus juta untuk meninggalkan Mas Saka? Apa hanya segini harga Mas Saka di mata Anda?”
Wisnu cukup terkejut melihat reaksi Ayura. Matanya menyipit melihat wanita di hadapannya.
“Di mata Anda, saya hanyalah batu kerikil yang menghalangi masa depan anak Anda. Tapi batu kerikil ini bisa membuat Anda kesulitan berjalan, Bapak Wisnu yang terhormat.
Kalau Anda menginginkan saya meninggalkan Mas Saka, maka berikan penawaran yang lebih baik. Atau saya akan menempel seperti lintah kepada Mas Saka.”
“Berapa yang kamu inginkan?”
“Satu miliar. Saya rasa itu harga yang sepadan.”
Wisnu tertawa sumbang. Penawaran Ayura semakin membuktikan kalau perkiraannya pada wanita itu benar. Tujuan Ayura mendekati Saka karena harta semata.
Pria itu segera memanggil asistennya, meminta pria itu membawakan buku cek. Tak berapa lama kemudian asisten Wisnu datang. Wisnu segera memberikan cek senilai satu miliar rupiah kepada Ayura.
Saat Ayura hendak mengambil cek itu, Wisnu menahannya sebentar. “Saya beri kamu waktu seminggu untuk membereskan urusanmu di sini. Setelah itu pergi dan jangan muncul di hadapan Saka lagi. Kalau kamu berani muncul di hadapan Saka lagi, saya tidak akan bersikap lunak lagi!”
“Satu minggu lagi, anak Anda tidak akan pernah melihatku lagi.”
Ayura mengambil cek tersebut lalu segera keluar dari ruang privat tersebut dengan perasaan diliputi kemarahan.
Dia bertekad untuk membalaskan dendamnya suatu saat nanti. Dia akan membuat Saka mengejarnya bahkan memohonnya untuk kembali.
Namun sebelum itu semua sempat terwujud, Saka sudah lebih dulu pergi untuk selamanya. Menyisakan penyesalan di hati Ayura.
Lamunan Ayura terhenti saat mobil yang ditumpanginya berhenti. Saking asyiknya melamun, Ayura tidak menyadari bahwa mereka sudah tiba di dekat kediaman keluarga Adiguna.
Saka memandangi beberapa pria yang sedang sibuk mengatur kursi di halaman. Sebuah tenda juga sudah terpasang di halaman rumah.
“Sedang ada acara apa di sini?” gumam Saka pelan tapi masih terdengar oleh Ayura.
“Hari ini adalah empat puluh hari meninggalnya Mas Saka,” jelas Ayura.
Saka tersentak mendengarnya. Tidak terasa, empat puluh hari sudah dia berada di tubuh Aryan. Dan sekarang seluruh keluarga sedang memperingati empat puluh hari kepergiannya.
Suara pintu mobil yang tertutup menyadarkan Saka dari lamunannya. Dari balik kemudinya dia memandangi Ayura yang berjalan mendekati gerbang rumah.
Namun wanita itu ditahan oleh seorang pria yang Saka tahu bahwa itu adalah Fredy, asisten ayahnya.
Dia buru-buru keluar dari mobil saat melihat perdebatan antara Ayura dan Fredy. Bergegas dia mendekati keduanya.
“Lepaskan dia!” pekik Saka saat melihat Fredy mencengkeram tangan Ayura. Mendengar suara Saka, Fredy melepaskan cengekeraman tangannya seraya mendorong tubuh Ayura hingga terjatuh.
***
Gimana perasaan Saka datang ke peringatan 40 harinya sendiri🤭
bentar mau ambil air sama baskom...
mau di liat lewat media air dlm baskom... apakah bisa keliatan gk ya .... Saka mau jujur apa mingkem 😂
apakah mau jujur kau...ato kau masih mau ngeles blom mau terbuka 😔
jangan bikin in cemas pembaca Ka....kamu itu kuat dan dgn keyakinan seyakin-yakinnya pasti kerja kerasmu akan membuahkan hasil /Determined//Determined//Determined/