Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Skenario Senyap
Sinar matahari kini merayap lebih tinggi, menembus kaca jendela apartemen dan memberi sedikit rasa hangat di dalam ruangan yang hening.
Mia memegang gelas berisi air hangat dengan kedua tangannya, membiarkan uap tipis menampar wajahnya yang masih pucat.
Liam duduk di sofa yang berseberangan dengan Mia, memberikan jeda agar wanita di hadapannya bisa meminum airnya dan sedikit lebih tenang. Tatapan Liam menyorotkan rasa simpati yang mendalam, tanpa ada desakan sedikit pun.
Namun, justru ketenangan dan kebaikan Liam yang perlahan menerbitkan tanda tanya di benak Mia. Rasa penasaran yang sempat tertutup oleh rasa lelah kini menyeruak ke permukaan.
Mia meletakkan gelasnya ke atas meja kaca di hadapan mereka. Ia menatap Liam lurus-lurus, memberanikan diri untuk mengutarakan kebingungan yang mengganjal pikirannya sejak tadi.
“Liam...” panggil Mia pelan.
“Ya? Ada yang kamu butuhkan?” tanggap Liam lembut.
Mia menggeleng pelan. “Bukan. Aku hanya... bingung.” Mia menghela napas pendek, mencoba menata kata-katanya agar tidak terdengar bergetar.
”Mengapa kamu bisa mengaitkan aku dengan Ethan? Sejak awal kita kenal, aku tidak pernah menceritakan apa pun tentang dia padamu?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Liam tidak menunjukkan terkejut, raut wajahnya justru berubah menjadi lebih tenang dan serius. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, mengamati Mia yang menunggu jawabannya dengan cemas.
“Aku seorang pengusaha, Mia, dan dunia tempat Ethan bergerak bukanlah tempat yang asing bagiku,” ujar Liam pelan dengan suara berat yang mantap.
“Jujur, aku sudah tahu hubungan masa lalu kalian jauh sebelum berita pingsannya Ethan di rumah sakit heboh pagi ini.”
Mia terpaku, jemarinya saling bertaut rapat di atas pangkuan. Ada rasa teranjang yang menyengat, namun juga lega karena tidak perlu lagi bersikap pura-pura di depan Liam.
Tetapi yang membuatnya bingung, mengapa Liam menyelidiki tentang kehidupan pribadinya?
“Baiklah, Mia. Aku harus ke kantor sekarang.” Liam bangkit dari duduknya, merapikan lengan kemejanya yang sedikit terlipat.
Ia menatap Mia sejenak, lalu melangkah menuju meja kecil di dekat pintu utama untuk mengambil kunci mobil. Lalu kembali berjalan mendekati Mia, dan meletakkan sebuah kartu akses apartemen di atas meja kaca.
“Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu mau, Mia. Tidak perlu sungkan. Anggap saja seperti rumah sendiri,” ujar Liam lembut, memecah keheningan ruangan.
Mia mendongak, matanya membulat terkejut. “Tapi, Liam... aku tidak bisa terus-terusan merepotkanmu seperti ini. Ini apartemenmu, aku bisa cari tempat tinggal lain.”
“Kamu sama sekali tidak merepotkan,” sela Liam cepat dengan senyum tipis yang menenangkan.
“Justru aku yang ingin minta tolong padamu. Apartemen ini jarang sekali aku tempati karena aku lebih sering menginap di tempat yang lebih dekat dengan lokasi proyek utama. Daripada tempat ini kosong dan tidak terawat, aku merasa senang kalau ada orang yang merawatnya.”
Mia menatap kartu akses di atas meja dengan ragu. Ia tahu Liam hanya sedang mencari alasan yang halus agar dirinya tidak merasa berutang budi.
“Anggap saja kamu sedang membantuku menjaga tempat ini,” tambah Liam, seolah bisa membaca keraguan di wajah Mia.
“Istirahatlah. Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan untuk menenangkan pikiranmu.” Liam melangkah menuju pintu keluar. Saat tangannya sudah berada di handle pintu, ia menoleh kembali ke arah Mia.
“Ada makanan di lemari es kalau kamu lapar. Kalau butuh sesuatu, hubungi aku.”
Mia mengangguk pelan, tenggorokannya terasa tercekat oleh rasa haru. Tanpa perlu berkata banyak, Liam seolah tahu apa yang ia butuhkan dan bagaimana suasana hatinya saat ini.
“Terima kasih, Liam... untuk semuanya.”
Liam memberikan anggukan hangat sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu dengan pelan, meninggalkan Mia sendirian dalam ketenangan apartemen yang luas itu.
Liam menutup pintu mobilnya dengan ketukan mantap. Begitu tubuhnya menyandar pada kursi kemudi, perlahan raut wajah ramah dan penuh simpati yang tadi ia tunjukkan di hadapan Mia memudar, berganti menjadi sebuah senyum tipis yang penuh kemenangan.
Ia menyalakan mesin mobil, lalu menatap ke arah jendela lantai atas tempat apartemennya berada melalui kaca spion. Senyum di bibirnya mengembang makin lebar, menyiratkan kepuasan yang tak tersembunyi.
Semua berjalan persis sesuai dengan skenario yang ia harapkan. Keadaan Mia yang rapuh, konflik wanita itu dengan Ethan, serta keputusan impulsif Mia untuk pergi, adalah celah sempurna yang berhasil ia manfaatkan dengan sangat rapi.
Dengan meletakkan Mia di bawah atap yang sama dengan tempat yang ia kendalikan, keberadaan wanita itu kini berada dalam jangkauannya. Ia tidak perlu lagi melacak ke mana Mia pergi atau bersaing mencari perhatian di luar.
Ia menggenggam kemudi dengan erat, matanya menatap lurus ke jalan raya saat mobilnya mulai melaju meninggalkan pelataran gedung. Rasa percaya Mia sudah berhasil ia genggam.
Sekarang, ia hanya perlu memainkan peran sebagai pria yang sabar dan selalu ada, sampai perlahan-lahan bayang-bayang Ethan menghilang sepenuhnya dari hati Mia dan digantikan oleh dirinya.
****
Di sisi lain kota, ketenangan sama sekali tidak menyentuh ruang perawatan VIP tempat Ethan dirawat.
Ethan duduk di tepi ranjang pasien dengan pakaian rumah sakit yang masih melekat di tubuhnya. Jarum infus di punggung tangannya bahkan telah terlepas, menyisakan bekas tusukan dan tetesan darah kering yang dibiarkannya begitu saja.
Matanya memerah, menahan gejolak emosi antara amarah, penyesalan, dan ketakutan akan kehilangan.
Suara pintu yang terbuka kemudian memecah keheningan. Marcus melangkah masuk setelah menyelesaikan panggilan telepon di luar. Melihat Ethan yang bersiap untuk beranjak dari ranjang, ia menghela napas panjang dan segera menghampirinya.
“Bagaimana?” tanya Ethan dengan suara serak dan berat. “Apa kamu sudah mengetahui keberadaannya?”
Marcus menatap artis utamanya itu dengan pandangan prihatin sekaligus tegas. Ia memegang kedua bahu Ethan, menahannya agar tidak nekat berdiri.
“Kembalilah berbaring,” ujar Marcus dengan nada suara yang tenang namun tak terbantahkan.
“Aku tidak bisa hanya berdiam diri di sini, Marcus!” Ethan menepis tangan manajernya dengan frustrasi.
“Aku hanya perlu tahu di mana dia berada sekarang! Kamu manajerku, kamu punya relasi di mana-mana. Sangat tidak mungkin kamu tidak bisa menemukannya!”
Marcus menghela napas berat, lalu bersedekap di hadapan Ethan. “Aku bisa saja menemukannya jika aku mau, Ethan. Tapi pertanyaannya, untuk apa?”
Ethan tertegun, menatap manajernya itu dengan raut wajah tak percaya.
“Apa maksudmu? Marcus, aku harus menemuinya! Aku harus menjelaskan semuanya sebelum—”
“Sebelum apa?” sela Marcus cepat.
“Sebelum media tahu kamu nekat melarikan diri dari ruang perawatan hanya untuk mengejar seorang wanita? Berita mengenai dirimu yang pingsan pagi ini saja sudah membuat kegemparan besar, Ethan. Dan puluhan wartawan masih berkumpul di lobi bawah!” tambahnya.
Marcus melangkah mendekat.
“Dengarkan aku baik-baik. Pihak agensi sedang berjuang keras menyusun pernyataan resmi demi menyelamatkan kariermu. Namun, kamu justru ingin membuat kekacauan baru hanya karena menuruti emosi?”
“Mia bukan sebuah kekacauan, Marcus! Dia pergi karena kesalahpahaman!” Ethan mencengkeram sprei rumah sakit dengan erat.
“Mia pergi karena dia sadar keberadaannya tidak lagi diharapkan di sisimu. Dan mulai sekarang, lupakan dia!” tegas Marcus.
Ethan membeku di tempatnya. “Apa katamu?”
“Lupakan dia,” ulang Marcus tanpa ragu, kini dengan nada dingin.
“Sadarlah, Ethan. Mia hanya mantan istrimu, seorang wanita yang sejak awal bahkan tidak pernah kamu cintai. Mengapa sekarang kamu bertindak seolah-olah dia adalah segalanya bagimu? Fokuslah pada pemulihan dan kariermu. Biarkan dia pergi, demi kebaikanmu dan juga kebaikannya.”
–tbc–