Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 — Wirawan Bertindak Langsung
Ruang kerja pribadi Jenderal Wirawan Kusnandar di lantai tertinggi Andratama Tower — tempat yang jarang dimasuki siapa pun kecuali orang-orang paling dipercayanya — dipenuhi ketegangan yang jarang terlihat di wajah pria tua itu.
"Gudang kita di pinggiran kota dibongkar tadi malam," lapor Setiawan, berdiri tegak meski suaranya tak sepenuhnya mampu menyembunyikan kegelisahan. "Dua orang kita ditemukan terikat, dokumen operasional dan satu hard drive cadangan hilang."
Wirawan tidak langsung menjawab, jarinya mengetuk perlahan meja kayu di depannya, matanya menatap tajam ke arah bawahannya yang selama ini ia percaya penuh. "Berapa kali sudah kau gagal menangani satu orang yang bahkan sudah tiga tahun kau kira sudah mati, Setiawan?"
"Dia lebih cakap dari yang saya perhitungkan, Pak. Tim eksekusi kemarin terlatih, tapi—"
"Aku tidak butuh alasan," potong Wirawan, dingin, suaranya mengeras seperti seorang jenderal yang memimpin ratusan pertempuran, bukan sekadar eksekutif korporasi. "Aku butuh hasil. Setiap hari kegagalanmu, adalah satu hari lebih dekat menuju kehancuran rencana yang sudah aku bangun selama lima tahun."
Setiawan menundukkan kepala, untuk pertama kalinya sejak menjabat posisi tingginya, merasakan kembali rasa takut yang sama seperti bertahun-tahun lalu saat masih menjadi perwira muda di bawah komando Wirawan.
"Kita ubah rencana," kata Wirawan akhirnya, berdiri dari kursinya, berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota. "Penandatanganan tidak akan menunggu enam hari lagi."
"Pak?"
"Aku sudah mengatur ulang jadwal lewat jalur pribadiku sendiri," lanjut Wirawan, tanpa menoleh. "Besok siang. Bukan di hotel, bukan di tempat yang bisa dipantau publik seperti sebelumnya — di ruang rapat pribadi Andratama Tower, hanya dihadiri notaris dan pengacara yang sudah lama bekerja untuk kita. Sah secara hukum, tapi tanpa sorotan yang bisa mengundang kejutan lain."
Setiawan mencerna itu cepat, menyadari besarnya keputusan itu. "Bagaimana dengan pihak Wijayakusuma? Mereka harus setuju dengan perubahan jadwal ini."
"Kau akan memastikan mereka setuju," jawab Wirawan tegas. "Katakan pada Handoko, ini demi keamanan bersama, menghindari risiko insiden lain seperti sebelumnya. Kalau perlu, tambahkan sedikit tekanan finansial — ingatkan dia betapa besar kerugian yang akan ia tanggung kalau merger ini gagal karena keterlambatan yang tidak perlu."
"Dan kalau Raka mencoba menghalangi lagi?"
Untuk pertama kalinya malam itu, senyum tipis muncul di wajah Wirawan — dingin, penuh perhitungan seorang pria yang sudah lama berhenti menganggap nyawa manusia sebagai sesuatu yang lebih berharga daripada rencananya sendiri.
"Kalau dia benar-benar seberbahaya yang kau khawatirkan," katanya pelan, "maka biarkan besok menjadi hari di mana kita berhenti mengejarnya dalam bayangan, dan menariknya langsung ke tempat yang sepenuhnya kita kendalikan."
Di bengkel tua, beberapa jam kemudian, Wulan menerima pemberitahuan mendadak dari sistem pemantauan yang masih ia pasang di jaringan email internal Wijayakusuma Grup — sebuah surat resmi dari Andratama, meminta persetujuan darurat untuk mengubah jadwal penandatanganan menjadi besok siang.
"Ini tidak masuk akal," gumam Bara, membaca pemberitahuan itu berulang kali. "Enam hari jadi besok? Mereka pasti menyadari kita sedang mengejar waktu, dan memutuskan mendahului kita."
Raka menatap layar itu lama, merasakan seluruh rencana yang sudah mereka susun hati-hati selama berhari-hari, kini terancam runtuh oleh satu keputusan mendadak dari lawan mereka.
"Alya belum siap menerbitkan," gumamnya, menghitung cepat konsekuensinya. "Satya belum punya waktu mengatur regulator. Kita kehilangan hampir seluruh waktu yang kita rencanakan."
"Aku sudah menghubungi Alya," Wulan melapor cepat, jarinya masih mengetik pesan darurat ke jurnalis itu. "Dia bilang draft artikelnya sudah delapan puluh persen selesai, tapi dia butuh setidaknya semalam lagi untuk verifikasi terakhir sebelum berani menerbitkannya secara bertanggung jawab."
"Satu malam," gumam Bara. "Itu waktu yang kita punya sebelum penandatanganan besok siang."
Raka menutup mata sejenak, menyusun kembali semua kepingan di kepalanya — keluarga yang harus dijaga, bukti yang harus disampaikan, dan sekarang, tenggat waktu yang tiba-tiba dipersingkat drastis oleh lawan yang sudah tidak lagi berpura-pura sabar.
"Kalau kita tidak bisa menghentikan penandatanganan lewat jalur hukum tepat waktu," katanya akhirnya, suaranya berat tapi penuh keputusan, "maka kita harus menghentikannya secara langsung, di tempat itu sendiri, besok siang."
Bara dan Wulan saling menatap, memahami besarnya risiko dari kata-kata itu — bukan lagi soal mengumpulkan bukti diam-diam, tapi konfrontasi terbuka dengan seluruh jaringan yang selama ini mereka lawan dari bayangan.
"Kalau begitu," kata Bara akhirnya, menghela napas panjang sebelum tersenyum tipis penuh tekad lama yang mereka kenal satu sama lain sejak masih di Garuda Hitam, "sepertinya kita akan menutup semua ini persis seperti kita memulainya — bertiga, melawan segalanya, tanpa jalan mundur.