Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Anak balita itu rupanya mampu meruntuhkan ego mami Renata untuk tidak ikut terlibat dalam keluarga yang sedang mendapat cobaan itu.
"Biar Talita pulang ke rumah kita saja Bulan..." ucapnya tulus.
"Tapi aku belum bisa pulang Mi..." Bulan harus memantau perkembangan Mentari untuk malam ini. Walau sebenarnya ada dokter piket tapi rasanya tidak bisa lepas tangan begitu saja.
"Biar Talita pulang sama Mami saja," hati mami tergerak untuk menghibur bocah kecil dalam pelukan Bulan itu.
"Nggak mau... aku mau pulang tapi sama Tante Dokter," Begitulah Talita setiap kali memanggil Rembulan.
"Tante Bulan belum bisa ikut pulang sayang... kan masih harus obati Bunda," Bulan menjelaskan dengan kata-kata yang mudah dimengerti oleh Talita. Talita pun akhirnya mengangguk.
Begitu berhasil membujuk Talita, Rembulan segera mengirim pesan kepada Bintang, tampak centang biru tapi tidak di balas.
"Papa..." panggil Talita manja, air mata yang sudah tiris pun kembali mengalir disertai suara kencang, seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya takut kehilangan papa dan bunda.
Bintang mencoba untuk tersenyum berjalan mendekat dengan langkah lebar, wajahnya tampak lelah tapi berusaha untuk tegar di depan putrinya.
Melihat hal itu, Bulan segera menjauh memberi ruang untuk mereka.
Sementara Bintang berlutut di depan Talita, merapikan rambut anaknya yang sedikit berantakan.
"Bunda ke mana Pa? Kenapa nggak ada di kamar itu?" Tanya Talita seolah tidak puas dengan jawaban Rembulan.
"Untuk sementara ini, Bunda diobati di ruang yang sepi Sayang... hanya Papa, Suster, dan Dokter yang boleh masuk," tuturnya lembut, padahal dadanya sesak mengingat istrinya yang tidak berdaya. "Sekarang Lita pulang sama Mbak Entin dulu ya..." lanjutnya.
"Tapi Talita mau pulang ke rumah Nenek..." Talita menoleh Renata, begitu juga dengan Bintang. Pria itu mengangguk santun kepada mami Rembulan yang membalas dengan senyum tidak seperti saat di ruang ICU tadi.
"Biar Talita pulang ke rumah kami Nak Bintang..."
"Tapi... apa tidak merepotkan, Bu?" Tanya Bintang merasa membebani wanita itu.
"Sama sekali tidak," jujur Renata, tapi ketika hendak berangkat, Talita merangkul papanya seolah minta agar ikut pulang bersamanya.
Bintang mengusap rambut lurus putrinya, seakan tahu apa yang Talita pikirkan tanpa harus bertanya. "Papa harus tetap di sini menemani Bunda. Tapi jangan khawatir, besok pagi Ayah akan pulang sebenar," Bintang mencium kening putrinya, seolah tidak rela berpisah walau semalam saja.
Talita lagi-lagi hanya mengangguk.
"Di sana nanti, Lita tidak boleh merepotkan ya... kalau butuh sesuatu bilang Mbak Entin," Bintang menoleh Entin yang hanya diam menunggu keputusan.
"Iya, Pah," Talita akhirnya mengangguk, tapi masih saja memeluk leher papanya.
Bulan memberikan kunci mobil kepada mami, tapi ibunya itu menolak karena memutuskan untuk naik taksi. Mereka lantas berangkat, hanya tinggal Bulan dan Bintang menatap kepergian mereka.
Suasana lorong rumah sakit kembali hening setelah Renata, Talita dan art masuk ke lift. Hanya tersisa Rembulan dan Bintang.
Rembulan duduk di salah satu bangku ruang tunggu, tangannya saling bertaut di pangkuan, menatap lantai tanpa berani menoleh ke samping di mana Bintang berada. Entah kenapa menjadi secanggung ini? Berbeda saat belum ada permintaan dari Mentari. Mereka saling ngobrol membahas penyakit Mentari tanpa ada rasa sungkan.
Mungkin Bintang pun merasakan hal yang sama, pria itu menjauh mencari tempat duduk di sudut ruangan dekat dengan pintu ruang ICU. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan istrinya seorang diri di dalam sana, tapi Bintang ingin menghirup udara luar barang sejenak.
Sesekali menoleh ke arah Rembulan yang bersandar di kursi tampak lelah. Bibirnya ingin mengucap kata "pulang saja, lalu istirahat" tapi ego mengalahkan segalanya. Bagaimana jika Mentari tiba-tiba mengalami hal buruk? Bintang takut menghadapi sendirian. Walau ada dokter jaga tapi tidak teliti seperti Bulan.
Bintang juga ingin bertanya bagaimana tanggapan Bulan tentang permintaan Mentari, tapi ia takut sahabat istrinya itu akan salah pengertian. Karena di hatinya tidak sedikitpun berpikir untuk menikahinya.
Sesekali mereka berpapasan pandang, tapi selanjutnya sama-sama cepat memalingkan wajah.
Bulan pun akhirnya meninggalkan tempat itu melangkah ke ruang dokter, menyapa beberapa dokter yang piket sambil membuka tas ambil peralatan periksa.
"Dokter Rembulan bukannya shift pagi ya?" Tanya dokter Nanda bingung, padahal peraturan rumah sakit tersebut jadwal shift malam di berikan kepada pria khususnya.
"Sebenarnya begitu Dok... tapi untuk malam ini saja," jawab Bulan ketika sedang ambil catatan riwayat penyakit Mentari.
"Jaga kesehatan Dokter... jangan sampai kita yang akhirnya tumbang," pesan dokter Nanda perhatian.
Bulan mengangguk, setelah mengucapkan terima kasih karena sudah diingatkan, lalu berjalan ke arah ruang ICU. Tiba di sana, Bintang sedang duduk di pinggir ranjang istrinya. Begitu melihat kehadiran Rembulan, ia seketika berdiri memberi ruang agar Rembulan leluasa untuk memeriksa istrinya.
Bulan melihat layar alat pemantau jantung sambil mencatat angka-angka di buku catatannya begitu teliti, sama seperti saat menangani pasien lain meski sedikit grogi karena merasa diawasi oleh Bintang yang berdiri tepat di belakangnya.
"Dok... bagaimana sebenarnya kondisi istri saya? Apa yang sedang terjadi pada tubuhnya sekarang?" Tanya Bintang tidak mengerti kenapa sama sekali tidak merespons ketika ia ajak bicara
Rembulan berhenti sejenak, menoleh ke arah Bintang dengan tatapan tulus.
"Tekanan darahnya masih sangat rendah dan belum stabil, Pak. Denyut jantungnya kadang melambat tiba-tiba," kata Bulan menjelaskan hati-hati agar Bintang tidak syok.
"Lalu?" Tanya Bintang ingin tahu secara detail walau wajahnya sudah tampak merah menahan genangan air mata.
"Saya tidak bisa cerita lebih banyak lagi Pak.Tapi, kami tim Dokter rumah sakit ini akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan pasien termasuk Mentari. Dan seperti yang saya katakan pagi tadi, keajaiban itu akan datang," Bulan berhenti bercerita karena tidak mau menambah beban pikiran Bintang.
"Tolong ceritakan semuanya, Dok," desak Bintang, jika rumah sakit ini menyerah, ia akan membawa Mentari berobat keluar negeri.
"Fungsi paru-parunya juga terganggu, maka kami harus bantu napasnya dengan alat. Sel kankernya sudah menekan organ pencernaan dan ginjal, sehingga tubuhnya sulit memproses cairan sendiri. Saat ini kami hanya bisa memberi obat pereda nyeri dan menjaga kestabilan tanda-tanda vitalnya, belum ada tindakan pengobatan lain yang bisa dilakukan untuk saat ini."
"Istriku..." Bintang menjatuhkan dua lututnya ke lantai, berjongkok di pinggir ranjang, mencium punggung tangan Mentari hingga basah air mata yang mengalir deras.
Bulan menarik napas sesak, inilah jika ia berkata apa adanya, pada akhirnya Bintang syok seperti itu.
"Saya akan membawa istri saya berobat keluar negeri, Dok," tegas Bintang, wajahnya penuh tekat.
"Pak Bintang, boleh saya bicara sebentar?" Bulan Berjalan keluar lebih dulu tanpa menunggu persetujuan Bintang, dan berhenti di lorong sepi.
"Mentari sedang dalam pengawasan ketat Pak, jika dipindahkan, kami tidak berani menanggung risiko," Bulan mencoba memberi penjelasan perlahan-lahan karena Bintang tampak prustasi.
"Tapi Dokter rumah sakit ini tidak bisa menyembuhkan penyakit istri saya bukan?! Sudah berapa lama istriku ditangani di rumah sakit ini? Tapi justru semakin parah!" Bintang memberondong kata-kata yang membuat telinga Bulan merah, suaranya menggema di lorong yang sepi, tidak bisa lagi mengontrol emosi.
"Jika memang Pak Bintang tidak percaya dengan tim kami! Kenapa baru sekarang saat Mentari Koma? Kenapa tidak membawa Mentari berobat keluar negeri sejak beberapa bulan yang lalu?!" Bulan pun akhirnya terpancing. Ia tahu pertengkaran seperti itu tidak pantas dia lakukan, apalagi di rumah sakit, rasa campur aduk yang Bulan rasakan sejak pagi merasa tidak dihargai.
"Ada apa ini?"
Saat hati mereka sedang memanas, datang seorang pria bertubuh tinggi dan tampan mendekati keduanya.
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌