Ketika Jiang Chen terbangun di dunia kultivasi, ia mendapati dirinya mewarisi takhta Ketua Sekte Pedang Bintang—sebuah sekte yang dulunya agung namun kini berada di ambang kehancuran absolut. Pilar utama sekte, sang guru, telah tewas terbunuh. Para tetua berkhianat dan membawa lari seluruh harta benda, sementara musuh bebuyutan telah mendobrak gerbang depan untuk merampas wilayah mereka.
Dengan tingkat kultivasi dasar yang sangat lemah dan hanya ditemani oleh satu adik seperguruan yang masih setia bertahan, ajal seolah sudah menanti Jiang Chen di depan mata.
Namun, di saat maut dan keputusasaan memuncak, sebuah suara mekanis yang dingin bergema di benaknya: [Sistem Pembangunan Sekte Abadi berhasil diikat!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Paviliun Pencerahan Dao
Pagi itu, udara di Puncak Bintang Jatuh terasa jauh lebih ringan dan murni daripada surga mana pun di dunia fana. Hujan spiritual yang turun semalaman telah mengubah seluruh ekosistem gunung.
Jiang Chen berdiri di teras Aula Leluhur, menghirup udara yang kini mengandung esensi kehidupan yang sangat pekat. Ia mengeluarkan hadiah terakhir dari Sistem yang didapatkannya kemarin: Cetak Biru Bangunan: Paviliun Pencerahan Dao.
Di dunia kultivasi, sumber daya dan urat nadi spiritual bisa mempercepat pengumpulan Qi, tetapi untuk memahami teknik bela diri tingkat tinggi atau menembus batas ranah yang sulit, seorang kultivator membutuhkan pencerahan (Dao). Di sinilah banyak jenius menemui jalan buntu selama puluhan tahun.
"Sistem, bangun Paviliun Pencerahan Dao di puncak bukit timur!" perintah Jiang Chen.
[DING!]
[Mengkonsumsi Cetak Biru (Tingkat Surga)... Memulai Konstruksi!]
WUUUUUM!
Cahaya putih keperakan melesat dari langit, menghantam puncak bukit timur yang kosong. Dalam hitungan detik, sebuah paviliun kayu tiga lantai yang memancarkan pendaran mistis terbentuk. Bangunan itu dikelilingi oleh ilusi bunga teratai yang mekar dan gugur secara terus-menerus, diiringi sayup-sayup suara nyanyian kuno yang menenangkan jiwa.
[Paviliun Pencerahan Dao (Tingkat Surga)]
Efek: Siapa pun yang bermeditasi di dalam paviliun ini akan mengalami peningkatan Pemahaman Dao sebesar 1.000%. Peluang untuk menembus kemacetan kultivasi (bottleneck) meningkat secara absolut.
Kapasitas: 10 orang pada waktu bersamaan.
Jiang Chen mengangguk puas. Dengan Urat Nadi Spiritual Surgawi untuk memasok Qi tanpa batas, dan Paviliun Pencerahan Dao untuk menghancurkan kemacetan mental, Puncak Bintang Jatuh kini secara harfiah adalah "Pabrik Pembuat Monster".
Ia segera mengirimkan transmisi suara ke seluruh sekte.
"Mulai hari ini, Puncak Bintang Jatuh akan menutup gerbang gunungnya. Tidak ada yang boleh keluar, dan tidak ada yang boleh masuk! Selama seratus hari ke depan, kelima puluh murid luar akan berlatih siang dan malam. Sepuluh murid terbaik setiap minggunya akan mendapatkan hak untuk bermeditasi di Paviliun Pencerahan Dao!"
Suara Jiang Chen yang dilapisi energi Inti Emas menyapu asrama, ruang tempa, dan taman herbal. Mendengar janji fasilitas surgawi itu, mata kelima puluh murid luar menyala dengan fanatisme.
Seratus hari pelatihan neraka tahap kedua pun resmi dimulai!
Seratus Hari Kemudian...
Waktu bergulir layaknya air sungai yang deras. Di dunia luar, sekte-sekte di Provinsi Awan masih hidup dalam ketakutan akan Sekte Pedang Bintang. Namun, Puncak Bintang Jatuh begitu sunyi, tertutup oleh kabut formasi pelindung, seolah-olah mengasingkan diri dari dunia fana.
Banyak yang mengira Jiang Chen sedang bersembunyi untuk menghindari pembalasan dari Sekte Iblis Darah utama.
Namun kenyataannya, di balik kabut tersebut, sebuah pasukan yang mampu mengguncang daratan sedang ditempa.
BOOOM! BOOOM! BOOOM!
Di alun-alun utama, ledakan energi Qi terdengar silih berganti. Kelima puluh murid luar berdiri dalam formasi rapi. Seragam putih mereka kini memancarkan cahaya material pelindung berkualitas tinggi.
Hasil dari seratus hari di bawah hujan spiritual dan rotasi di Paviliun Pencerahan Dao benar-benar tidak masuk akal. Dari lima puluh murid fana tersebut:
Empat puluh orang telah mencapai Puncak Pemadatan Qi Tingkat 9.
Sepuluh orang yang paling berbakat telah berhasil menembus ke Ranah Pembentukan Fondasi Tingkat 1!
Sepuluh ahli Pembentukan Fondasi! Di sekte-sekte menengah, jumlah ini setara dengan seluruh jajaran tetua teras mereka. Namun di Sekte Pedang Bintang, mereka hanyalah murid luar tingkat atas!
Di depan barisan mereka, Lin Mo berdiri dengan aura yang setajam pedang dewa yang baru diasah. Kultivasinya telah meroket ke Pembentukan Fondasi Tingkat 6. Pedang Meteor Darah-nya telah ditempa ulang oleh Han Feng dengan campuran bijih bintang, membuatnya menjadi senjata Tingkat Bumi Kelas Puncak.
Di sampingnya, Su Yue melayang beberapa inci dari tanah. Hawa dingin dari Akar Roh Es Surgawi-nya telah mencapai tingkat di mana ia bisa membekukan hujan sebelum menyentuh tanah. Kultivasinya berada di Pembentukan Fondasi Tingkat 5.
Han Feng, bertelanjang dada dengan otot perunggu yang memancarkan aura logam tak tertembus, berdiri dengan pedang tumpul raksasanya di punggung. Di sisinya, gadis cilik Meng Meng memegang tongkat kayu spiritual, auranya damai namun dipenuhi dengan aroma obat tingkat tinggi yang memabukkan.
"Menyapa Ketua Sekte!!"
Kelima puluh dua murid itu bersujud serempak saat Jiang Chen perlahan melangkah keluar dari Aula Leluhur.
Langkah kaki Jiang Chen tidak menghasilkan suara, tidak juga memicu angin. Ia tampak benar-benar menyatu dengan alam. Setelah seratus hari menyerap esensi murni dari Urat Nadi Surgawi dan memadatkan pemahamannya di paviliun, kultivasi Jiang Chen kini berada di Ranah Inti Emas Tingkat 6. Namun, fondasinya sangat padat hingga ahli Nascent Soul (Jiwa Baru Lahir) biasa pun akan merasa tertekan melihat matanya.
Jiang Chen menyapu pandangannya ke arah pasukannya.
"Seratus hari yang lalu, kalian hanyalah cacing tanah yang dipandang sebelah mata oleh dunia," suara Jiang Chen tenang, namun membakar jiwa setiap orang yang mendengarnya. "Hari ini, kalian adalah pedang-pedang yang telah diasah tajam. Dan sebuah pedang yang tajam akan berkarat jika tidak digunakan untuk meminum darah."
Jiang Chen mengayunkan jubahnya. Sebuah miniatur perahu kayu melayang ke udara, lalu membesar dengan cepat menjadi Perahu Terbang raksasa sepanjang lima puluh meter. Namun kali ini, perahu itu telah dimodifikasi oleh sistem dan Han Feng; lambungnya dilapisi baja hitam, dan deretan meriam formasi energi terpasang di sisi-sisinya.
"Naik ke perahu!" perintah Jiang Chen mutlak.
Tanpa banyak bertanya, Lin Mo memimpin pasukan lima puluh murid luar melompat ke atas geladak Perahu Terbang dengan disiplin militer yang kaku. Han Feng dan Meng Meng juga ikut naik.
Seekor naga hitam kecil—Hei Ming—melompat dan mendarat di bahu Jiang Chen sambil menguap. Naga Petir Neraka itu kini memancarkan aura Tingkat Langit yang semakin stabil setelah memakan ribuan pil gagal dari Meng Meng sebagai camilan.
"Ketua Sekte," Su Yue berdiri di samping Jiang Chen di haluan perahu. "Ke mana tujuan kita hari ini? Apakah kita akan menaklukkan tambang perak di perbatasan timur?"
Jiang Chen tersenyum dingin. Matanya menatap tajam menembus awan, jauh melampaui perbatasan Provinsi Awan.
"Tambang perak? Itu hanya uang receh," jawab Jiang Chen santai, meletakkan tangannya di atas kemudi kemudi formasi perahu. "Kalian ingat janji yang kubuat pada Xue Kui sebelum aku menghancurkan Inti Emas-nya?"
Mata Lin Mo seketika melebar, diikuti oleh seringai gila yang mengerikan. Darahnya mendidih seketika. "Guru... jangan bilang kita akan..."
"Benar," Jiang Chen menyuntikkan qi-nya, dan Perahu Terbang itu melesat membelah langit dengan ledakan sonik yang memekakkan telinga.
"Aliran Lurus dan Aliran Hitam sudah terlalu lama bermain tarik-ulur di wilayah ini. Hari ini, Sekte Pedang Bintang akan berangkat menuju Gunung Tengkorak Darah. Kita akan meratakan markas utama Sekte Iblis Darah hingga ke akar-akarnya, dan mencabut kepala Leluhur Nascent Soul mereka!"
Markas Utama Sekte Iblis Darah: Badai yang Mendekat
Ribuan mil dari Puncak Bintang Jatuh, di sebuah wilayah tandus yang dipenuhi dengan tulang belulang dan sungai yang berwarna kemerahan.
Gunung Tengkorak Darah menjulang tinggi. Ini adalah markas utama Sekte Iblis Darah, salah satu faksi aliran hitam terkuat di wilayah ini.
Di dalam Aula Darah utama, suasana sedang meriah. Para tetua sedang mengadakan pesta perayaan.
Di singgasana tertinggi, duduklah seorang lelaki tua kurus kering dengan kulit yang pucat pasi layaknya mayat. Jubahnya berwarna merah kehitaman, dan matanya memancarkan cahaya hijau yang kejam.
Dia adalah Leluhur Hantu Darah! Sosok mengerikan yang telah mencapai Nascent Soul (Jiwa Baru Lahir) Setengah Langkah!
"Hahaha! Aliansi Aliran Lurus akhirnya mundur dari perbatasan Lembah Kabut! Kita telah memenangkan perang perbatasan ini!" tawa seorang tetua dengan piala berisi darah segar di tangannya.
"Semua ini berkat kekuatan absolut Leluhur Tua kita!" puji tetua lainnya.
Leluhur Hantu Darah tersenyum tipis, membelai jenggot tipisnya. "Aliran Lurus hanyalah sekumpulan orang munafik. Namun, sekarang setelah perang ini selesai... saatnya kita mengurus urusan internal yang tertunda."
Mata Leluhur itu menyipit, memancarkan niat membunuh yang membuat suhu di dalam aula turun drastis.
"Setengah tahun yang lalu, cucuku, Xue Kui, mati di tangan sebuah sekte kecil di Provinsi Awan. Karena perang, aku harus menunda balas dendamku," suara Leluhur Hantu Darah menggeram pelan. "Penatua Pertama! Kumpulkan tiga ribu murid elit dan sepuluh Tetua Inti Emas. Besok pagi, kita akan berangkat ke Puncak Bintang Jatuh. Aku ingin setiap manusia di gunung itu dikuliti hidup-hidup untuk menjadi persembahan bagi jiwa cucuku!"
"Sesuai perintah Leluhur!" jawab Penatua Pertama dengan semangat.
Namun, sebelum Penatua Pertama sempat berbalik untuk memberikan instruksi...
BOOOOOOOOOOMMMM!!!!
Sebuah ledakan yang luar biasa dahsyat mengguncang seluruh Gunung Tengkorak Darah!
Atap Aula Darah yang terbuat dari baja hitam bergetar hebat. Retakan merayap di dinding-dinding aula. Jeritan ribuan murid dari halaman depan terdengar silih berganti dengan rentetan suara tembakan energi yang memekakkan telinga.
Leluhur Hantu Darah melompat dari singgasananya, matanya melotot tajam. "Siapa yang berani menyerang markas Sekte Iblis Darah?! Apakah Aliansi Aliran Lurus melanggar gencatan senjata?!"
Seorang murid penjaga berlari masuk ke dalam aula dengan tubuh berlumuran darah dan kehilangan satu lengannya. Wajahnya dipenuhi teror absolut.
"L-Leluhur! B-Bukan Aliansi Aliran Lurus!" murid itu menjerit histeris. "Sebuah Perahu Terbang raksasa berwarna hitam tiba-tiba muncul di atas formasi pelindung kita! Mereka menghancurkan gerbang utama hanya dengan satu tembakan meriam formasi!"
"Perahu Terbang hitam? Bendera sekte apa yang mereka kibarkan?!" raung Penatua Pertama.
Murid yang sekarat itu menelan ludah, matanya menatap kosong ke arah langit-langit aula yang mulai retak.
"B-Bendera putih... dengan lambang Pedang Bintang perak..."
Mendengar nama itu, seluruh tetua di dalam aula membeku. Jantung Leluhur Hantu Darah berdegup kencang karena keterkejutan yang tak masuk akal.
Sekte Pedang Bintang?! Sekte yang sama yang baru saja akan mereka basmi besok pagi, malah datang menyerang markas mereka siang bolong hari ini?!