....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok bertopeng.
Udara sore terasa lebih sejuk daripada pagi tadi. Angin laut membawa aroma garam dan suara ombak yang menghantam pasir.
Di tepi pantai, dua buah banana boat sudah menunggu. Satu untuk tim perempuan, satu untuk tim laki-laki. Masing-masing berjumlah delapan orang.
Awalnya Cheyrin tidak berniat ikut. Lagipula dia tidak bisa berenang. Ia lebih nyaman duduk di gazebo sambil membaca. Namun Lisa terus merengek dan menarik tangannya.
"Chey ayo ikut!" Lisa menarik lengan Cheyrin yang masih kukuh memeluk bukunya di atas pasir.
"Enggak ah, gue nggak bisa renang..." suara Cheyrin kecil, hampir tenggelam oleh debur ombak.
"Tenang, ada pelampung! Masa lo diem di gazebo doang sih. Udah, ganti baju sana!"
Akhirnya Cheyrin mengalah.
Ia masuk ke kamar sebentar, lalu keluar dengan pakaian renang one piece berwarna biru navy. Di luarnya ia mengenakan jaket pelampung oranye. Rambut panjangnya diikat dan disanggul tinggi agar tidak mengganggu.
Saat semua orang sudah berkumpul, Jayden sempat melirik sekilas ke arah Cheyrin. Dalam hati ia berpikir bahwa Cheyrin terlihat berbeda dan sangat cantik hari itu.
“Cantik banget, gila.”
Steven juga ada di sana, seperti biasa sifat nya dingin dan hanya mengikuti kegiatan.
Setelah semua memakai pelampung dan mendapat arahan dari pemandu, mereka bersiap naik ke banana boat. Juno, yang paling heboh, ia langsung duduk di bagian paling depan dan terus berteriak semangat.
"Yang kenceng ya om!!" teriak Juno dari paling depan, suaranya memecah keheningan.
"Diem lu Jun, berisik banget!" sahut salah satu temannya sambil mendorong bahunya.
Sementara Cheyrin memilih duduk di bagian tengah. Tangannya menggenggam erat pegangan.
"Lepasin dikit napasnya Chey," bisik Lisa di sebelahnya sambil tertawa.
Perahu motor meraung dan mulai melaju. Banana boat tim laki-laki melaju lebih dulu, disusul tim perempuan. Ombak menghantam satu per satu. Teriakan riuh terdengar dari kedua sisi. Juno di depan berteriak paling kencang hingga ditegur oleh teman di belakangnya.
Kelompok laki-laki yang terlalu liar lebih dulu oleng dan terjatuh ke laut. Tawa mereka pecah di tengah air.
Sementara itu, tim perempuan masih bertahan. Hingga akhirnya perahu motor mengambil belokan patah saat menghantam ombak terbesar.
BYURR!!!
Banana boat terbalik. Delapan orang perempuan terlempar ke laut. Tawa dan teriakan masih terdengar, suasana terlihat ramai dan gembira.
Namun di tengah keramaian itu, Jayden yang baru muncul ke permukaan langsung menghitung jumlah orang. Matanya menyapu satu per satu.
Satu... dua... tujuh...
Kurang satu.
"Cheyrin mana?!" suaranya pecah.
"CHEY?!" Lisa sudah panik, menoleh ke kanan dan ke kiri.
Jantungnya berdegup kencang.
Cheyrin tidak ada.
Dara yang baru tertawa juga langsung menyadari. Wajahnya berubah panik saat mencari-cari Cheyrin di permukaan air.
"Ini pelampung siapa anjir?!" teriak seseorang dari kejauhan, sambil menunjuk pelampung oranye yang mengambang sendirian.
"CHEYRIN!"
Tanpa menunggu sedetik pun, Jayden melepas pelampung di tubuhnya. Ia menyelam.
Hampir bersamaan, Steven juga ikut menyelam. Wajahnya yang biasanya datar kini mengeras. Tapi air terlalu cepat, dan jarak terlalu jauh.
Air laut menusuk dan perih di mata, tapi Jayden memaksa untuk tetap terbuka. Cahaya matahari sore menembus permukaan, menciptakan garis-garis keemasan di dalam air.
Dan di sana.
Di kedalaman yang tenang namun mencekam, Cheyrin melayang.
Rambutnya terurai seperti rumput laut, tubuhnya lemas. Wajahnya terlihat pucat dari dalam sana, bibirnya sedikit terbuka. Tangan nya mengarah ke atas seolah meminta bantuan.
Jantung Jayden menghantam rusuknya.
Ia berenang sekuat tenaga dan meraih tangan Cheyrin.
Tanpa pikir panjang, ia mendekat. Menempelkan bibirnya ke bibir Cheyrin, meniupkan napas yang ia punya.
Lalu dengan satu tarikan kuat, ia membawa Cheyrin ke atas.
Steven hanya bisa melihat dari beberapa meter di belakang. Dadanya sesak. Ia terlambat sepersekian detik.
BUKK!!!
Permukaan pecah. Udara masuk.
Cheyrin langsung terbatuk keras, tubuhnya menggigil. Napasnya tersengal-sengal, tidak beraturan, seperti orang yang baru saja ditarik kembali dari ambang.
"Chey! Chey lo gapapa?!" Jayden masih memeluk pinggangnya erat, takut jika ia terlepas lagi.
Dari belakang, Steven muncul ke permukaan. Napasnya memburu. Matanya langsung tertuju pada satu titik:
Cheyrin. Tubuhnya lemah. Dan berada dalam pelukan Jayden.
"CHEY!! SYUKUR!!" teriak Lisa dari atas perahu motor, suaranya bergetar.
Cheyrin bersandar di bahu Jayden.Tubuhnya lemas. Bahkan untuk bicara pun dia tidak sanggup.
Saat matanya terbuka perlahan, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Jayden.
Terlalu dekat. Basah. Panik. Mata itu menatapnya seolah dunia akan runtuh jika ia kenapa-kenapa.
"Eh cepat tarik mereka" ujar ketua tim yang juga ada di sana.
Tangan-tangan langsung terulur, menarik mereka naik.
Malam hari nya, setelah kejadian sore tadi, semua orang masih diliputi rasa cemas terhadap keadaan Cheyrin.
Cheyrin kini beristirahat di kamar setelah mengganti pakaiannya dengan piyama satin berwarna krem. Karena ia tertidur, teman-temannya memutuskan untuk membiarkannya sendiri. Pintu kamar ditutup rapat. Sebagian dari mereka duduk di ruang tengah, sebagian lagi berada di teras utama.
Dalam tidurnya, Cheyrin masih merasakan air. Ombak yang menariknya masuk ke dalam.
Tangannya menggenggam erat selimut. Keringat mulai membasahi dahinya.
Matanya terpejam semakin kuat. Napasnya tidak teratur.
Ia kembali berada di pusaran air itu. Dadanya sesak, sulit bernapas. Bayangan laut yang menenggelamkannya masih menghantui.
Hingga akhirnya Cheyrin terbangun dengan napas tersengal. "Hah, Hah,"
Ia membuka mata. Telapak tangannya gemetaran.
Pandangannya lalu beralih ke ponsel yang tergeletak di atas meja samping. Layarnya menyala. Ada panggilan masuk dari Papa.
Dengan tangan masih gemetar, Cheyrin mengangkatnya.
"Halo?"
Suara dari ujung telepon terdengar tidak jelas, terputus-putus. Sinyalnya buruk.
Cheyrin mengernyit. Ia berinisiatif berjalan ke arah balkon untuk mencari sinyal yang lebih baik.
"Halo Pa... Cheyrin nggak denger. Nggak ada sinyal di sini."
Pandangannya lurus ke arah laut. Laut yang sore tadi hampir menenggelamkannya.
Ia memandangnya dengan perasaan pilu, masih menggenggam ponsel di tangan yang belum juga terdengar jelas suaranya.
Tiba-tiba, pandangan Cheyrin beralih ke ujung halaman.
Di depan pohon besar.
Jantungnya langsung berdegup kencang. Perasaan tidak menyenangkan merayapi tubuhnya. Merinding.
Cheyrin sampai harus berkedip beberapa kali untuk memastikan.
Sosok bertopeng itu.
Sosok yang sama pernah ia lihat di gedung kosong depan L'Evanne.
Kini berdiri di area vila ini. Diam. Menatap lurus ke arah Cheyrin.
Ini bukan kebetulan.
"AAAAHHH!!!"
.
.
.
Sementara itu, di teras utama, Lisa dan beberapa teman lainnya sedang berkumpul. Mereka membicarakan kejadian sore tadi.
Diana berkata, "Kayaknya tadi tuh karena ombaknya gede banget, makanya dia kelempar sampai pelampungnya lepas."
Yang lain mengangguk setuju.
Lisa menghela napas. "Gue jadi ngerasa bersalah. Gue yang ngot ngajak dia main tadi."
Dara langsung menyambung. "Kenapa Lo yang ngerasa bersalah? Kan Lo nggak ngapa-ngapain. Udah takdir kali dia tenggelam."
Lisa mengernyit mendengar ucapan Dara.
Tidak lama kemudian, Jayden datang menghampiri mereka.
"Cheyrin udah bangun?"
Lisa menggeleng. "Belum."
Belum sempat ada jawaban lain, suara teriakan kencang terdengar dari atas. Itu suara Cheyrin.
Jayden langsung berlari. Disusul oleh yang lainnya.
Ia menaiki tangga dengan cepat, melangkahi dua anak tangga sekaligus.
Sesampainya di lorong atas, ia melihat Cheyrin berlari ke arahnya.
Brukk.
Tubuh Cheyrin menabrak Jayden.
Cheyrin bersikap aneh. Ia ketakutan dan tidak ingin disentuh sedikit pun. Dengan kedua tangan, ia menutup wajahnya rapat-rapat. "Pergi!"
Jayden berusaha menenangkannya. Suaranya pelan.
"Chey... Cheyrin, ini gue. Jayden."
Perlahan Cheyrin menurunkan tangannya dan mengintip.
Begitu melihat Jayden, ia langsung memeluknya erat.
Begitu erat hingga Jayden bisa merasakan detak jantung gadis itu yang terpacu sangat kencang.
Jayden mengangkat tangannya dan mengusap rambut Cheyrin.
"Kenapa, hei?"
Cheyrin hanya bisa menangis dalam pelukan Jayden.
Sementara itu, Lisa dan yang lainnya berdiri di belakang Jayden, menyaksikan semuanya.
Termasuk Dara.