Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Senyum Palsu

Suasana ruang tamu seketika membeku. Semua kepala serentak berputar ke arah jari lentik Mawar yang menunjuk lurus ke depan. Mata mereka terbelalak, mulut menganga tak percaya, dan keheningan yang menyelimuti ruangan terasa begitu menyesakkan hingga suara detak jam dinding pun terdengar nyaring di telinga.

Wajah Jingga pucat pasi. Matanya menatap tak berkedip ke arah suaminya sendiri, lalu beralih kembali ke Mawar. Keraguan yang selama ini ia simpan rapat di sudut hati kini menyeruak keluar, membawa rasa perih yang tak terlukiskan, seolah ada pisau tajam mengiris dadanya perlahan.

Melihat tatapan curiga, penuh tanya, dan terluka di mata sang istri, Bima merasa seolah tanah di bawah kakinya hendak terbelah. Ia segera bangkit berdiri, berusaha menutupi kepanikan yang mulai merayap di dadanya dengan tawa yang terdengar paksa dan kaku.

"Mawar, kau bicara apa sih? Jangan keterlaluan seperti ini di depan semua orang! Anak dalam kandunganmu itu tidak mungkin milikku. Jangan asal menuduh tanpa bukti!" suara Bima terdengar tegas, namun getaran halus di ujung kalimatnya tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya.

"Aku tidak berbohong!" nada suara Mawar melengking tinggi. Tangannya tak bergerak sedikit pun, tetap menunjuk lurus ke arah Bima.

"Satu-satunya pria yang berani bersikap kurang ajar, dan menghancurkan masa depanku… hanyalah dia!"

Kata-kata itu meledak seperti bom di tengah ruangan. Bima menarik napas panjang, berusaha sekuat tenaga tampil tenang. Ia menatap Mawar dengan tatapan yang dibuat-buat kecewa, seolah tuduhan itu adalah hal paling konyol yang pernah ia dengar.

"Mawar, aku selalu menganggapmu seperti adik kandungku sendiri. Aku selalu memperlakukanmu dengan baik. Tapi bukan berarti kau bisa menuduhku semena-mena, mencoreng nama baikku dan merusak keharmonisan rumah tanggaku dengan fitnah yang tak berdasar," ucap Bima perlahan, tenang, dan berwibawa. Tak terlihat sedikit pun kegugupan atau rasa bersalah di wajahnya.

Ketenangan Bima justru semakin membakar amarah Mawar. Ia tak sanggup lagi menahan emosi melihat pria itu berbohong dengan begitu lancang tanpa beban. Amarahnya meluap-luap, membuatnya melangkah maju dengan tangan terkepal erat, nyaris saja ia melayangkan pukulan ke wajah Bima.

"Cukup! Berhenti bicara manis! Kau pikir aku takut padamu?!" teriak Mawar gemetar.

"Cukup, Mawar! Jangan menuduh suamiku tanpa bukti!" Jingga tiba-tiba berdiri di depan Bima, merentangkan kedua lengannya seolah menjadi tameng pelindung.

"Mas Bima bukan pria seperti itu! Dia tidak akan pernah berbuat hal hina seperti yang kau tuduhkan!"

Mata Jingga masih berkaca-kaca, masih diliputi keraguan yang menyiksa, namun naluri menjaga kehormatan rumah tangganya lebih kuat.

"Jangan hanya karena kau sedang bingung dan takut menghadapi kenyataan, kau sampai memfitnah suamiku! Kau pikir kami ini mainanmu?!" Wajah Jingga kini memerah padam menahan tangis dan amarah yang bercampur aduk.

"Aku tidak berbohong, Kak!" Mawar tak mau kalah, air mata mulai menetes di pipinya yang pucat.

"Pria yang harus bertanggung jawab atas kehamilanku, memang dia! Bima!" Mawar menatap sang kakak dengan tatapan memohon agar dipercaya.

Pertengkaran itu semakin memanas, tak ada satu pun yang mau mengalah atau percaya pada yang lain.

"Sudah cukup! Berhenti semua!"

Suara berat dan berwibawa Bu Gendis terdengar memotong pertengkaran mereka. Wanita itu berdiri perlahan, napasnya terlihat berat, seolah menanggung beban yang tak sanggup ia pikul lagi. Ia menatap kedua putri dan menantu laki-lakinya dengan pandangan sendu dan kecewa.

"Ini sudah larut malam. Emosi kalian sedang memuncak, tidak akan ada keputusan bijak yang lahir dari mulut yang dipenuhi amarah. Kita bicarakan hal ini besok pagi saja, saat pikiran kita sudah lebih tenang," ucap Bu Gendis singkat namun tegas. Tanpa menunggu tanggapan siapa pun, ia berbalik perlahan dan berjalan menuju kamarnya di ujung lorong untuk menenangkan diri. Langkahnya terasa berat, seolah setiap langkah mengingatkannya pada kenyataan pahit yang baru saja didengar.

Jingga menatap punggung sang ibu yang menjauh, lalu beralih menatap Bima sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara harapan, ketakutan, dan rasa sakit yang mendalam. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia pun berbalik dan melangkah cepat menuju kamar tidurnya, menutup pintu dengan rapat. Bunyi pintu yang tertutup itu terdengar seperti tepukan yang memisahkan kepercayaan dari keraguan.

Kini tinggal Bima dan Mawar yang berhadapan sendirian di ruang tamu yang sepi dan remang. Suasana hening kembali menyelimuti, namun terasa jauh lebih mencekam dari sebelumnya. Bayang-bayang di dinding seolah ikut mengawasi, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Bima menatap sekeliling memastikan tidak ada siapa-siapa lagi. Detik berikutnya, wajah tenangnya lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi dingin yang tak pernah dilihat siapa pun sebelumnya. Ia melangkah cepat mendekati Mawar, mencengkeram pergelangan tangan wanita itu dengan kuat dan menariknya paksa menuju ruang yang lebih sepi, jauh dari jangkauan pendengaran orang lain.

"Ikut aku!" desis Bima, suaranya mengandung ancaman samar.

"Lepaskan! Kau menyakitiku!" Mawar berusaha melepaskan tangannya, menepis dan meronta sekuat tenaga hingga akhirnya tangannya terbebas dari cengkeraman Bima. Ia mengusap pergelangan tangannya yang kemerahan dengan pandangan benci yang tak bisa disembunyikan.

Bima tidak mempedulikan tatapan itu. Ia mendekat lagi, menatap tajam ke manik mata Mawar, suaranya berubah menjadi berbisik namun sarat akan kecemasan.

"Mawar, dengarkan aku baik-baik. Jawab sejujurnya… apakah benar bayi dalam kandunganmu adalah milikku? Bukan milik Gala, atau pria lain, kan?" tanya Bima memastikan dengan napas memburu.

Mendengar pertanyaan itu, pipi Mawar memerah menahan marah. Matanya membulat menatap Bima tak percaya.

"Kurang ajar! Kau pikir aku wanita murahan yang tidur sembarangan dengan banyak pria?! Hanya karena kau yang berani berbuat kurang ajar terhadapku, jangan menuduhku sama sepertimu!" bentak Mawar penuh penghinaan.

"Benarkah itu? Memang benar anak itu sepenuhnya milikku?"

Ekspresi cemas dan takut di wajah Bima seketika lenyap, digantikan oleh sorot bahagia yang aneh dan menakutkan. Ia tersenyum lebar, bahkan tertawa kecil seolah baru saja mendapatkan harta karun yang hilang.

"Kau tahu, Mawar? Sudah sangat lama aku mendambakan hal ini," ucap Bima pelan, matanya tak lepas dari perut rata Mawar, seolah sudah bisa melihat sosok kecil yang tumbuh di sana.

"Kakakmu itu mandul. Sudah bertahun-tahun kami menikah, tapi tak pernah ada tanda-tanda dia bisa memberiku keturunan. Keluarga besarku terus menuntut cucu, dan aku tak sanggup lagi menanggung malu itu sendirian."

Bima melangkah maju lagi, menatap Mawar dengan tatapan yang menyiratkan harapan besar, harapan yang justru membuat bulu kuduk Mawar meremang.

"Sedangkan kau… kau mengandung darah dagingku." Bima merangkul bahu Mawar dengan lembut, seolah ingin menenangkan.

"Tenanglah, Mawar. Aku akan segera menceraikan Jingga dan bertanggung jawab sepenuhnya atas kehamilanmu. Aku akan menjagamu, dan memberikan apa pun yang kalian butuhkan. Anak ini akan menjadi kebanggaanku."

Tangan Bima baru saja menyentuh bahu Mawar, namun wanita itu segera menepisnya dengan kasar seolah tersentuh benda menjijikkan. Ia mundur beberapa langkah sambil menatap Bima dengan tatapan jijik yang nyata.

"Tidak usah! Aku tidak butuh tanggung jawabmu! Aku tidak butuh belas kasihan dari pria sepertimu yang licik dan tak tahu malu! Aku hanya ingin kau mengakui kesalahanmu di depan semua orang, bukan menjadikan anak ini alasan untuk kepentinganmu sendiri!" tolak Mawar tegas dengan suara bergetar.

Bima tidak mundur. Justru sebaliknya, ia tersenyum tipis, senyum yang membuat Mawar merinding.

"Mawar, sayangku… kau belum mengerti, ya? Ini bukan sekadar kepentinganku. Ini masa depan kita. Kau, aku, dan anak kita. Bersama-sama."

"Jangan bermimpi!" Mawar membalikkan badan, tak sanggup lagi menatap wajah pria itu. Ia melangkah pergi, namun suara Bima terdengar lagi di belakangnya, rendah namun penuh kepastian.

"Kau tidak akan bisa lari dari kenyataan ini, Mawar. Anak itu milikku. Dan tidak peduli apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu pergi bersama Gala."

Langkah Mawar terhenti sejenak, namun ia tak menoleh. Dengan napas tertahan di dada, ia terus berjalan menjauh, meninggalkan pria itu sendirian di ruangan yang semakin gelap, sementara di dalam hatinya, tekad untuk melindungi dirinya dan calon anaknya semakin menguat.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!