Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 IZINKAN AKU MENGUJI NISA
Kalimat mematikan yang baru saja meluncur dari bilah bibir Sekar Mayang itu menghantam batin Zaki dengan telak. Energi gaib Sekar Mayang yang penuh keseriusan langsung menguar pekat di udara.
Sepanjang sejarah hidupnya berdampingan dengan entitas gaib ini, baru kali ini—untuk pertama kalinya—sang perewangan berani melontarkan ancaman pembunuhan terhadap dirinya.
Tanpa mengurai sedikit pun rangkulannya di leher pemuda itu, Sekar Mayang memiringkan wajahnya. Masih menatap kedua mata tuannya itu.
"Apa kau takut dengan ancamanku, Zakiku sayang... Hemmm?"
Suaranya masih terdengar mengalun lembut, namun resonansinya kini terasa semakin menekan kewarasan batin Zaki.
Namun, alih-alih gentar, Zaki meresponnya dengan ketenangan yang luar biasa. "Tidak, Sekar Mayang... Aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu."
Bibir Sekar Mayang kembali menyunggingkan senyum yang memikat.
"Kenapa kau tak takut, Tuanku sayang?"
"Karena aku tidak akan pernah menyakitinya kelak, jika memang semua takdir yang kau katakan barusan itu benar."
"Hihihihi... Tuankuuu... Kau memang selalu pandai membuatku terpesona dengan keteguhan sikapmu," puji Sekar Mayang, senyum di bibir merahnya kian mengembang.
Perlahan, Sekar Mayang melepaskan kalungan lengannya dari leher Zaki. Ia memutar tubuhnya dengan luwes, kembali membelakangi pemuda itu.
Wajah cantiknya menoleh sedikit dari atas pundak kanannya, membuang pandangan ke arah luar jendela kamar tuannya itu.
"Zaki... Tuanku...."
"Ada apa lagi, Sekar Mayang?"
"Bolehkah aku melakukan sesuatu lagi pada wanita itu sekarang?"
Zaki mengernyit.
"Melakukan apa lagi?" tanyanya, mulai disergap rasa penasaran.
"Hihihihi... Tenanglah, Zaki. Aku tak akan melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa wanita itu. Aku hanya...."
Sekar Mayang menggantung kalimatnya. Bukan untuk memancing, melainkan sebuah jeda yang menyiratkan keseriusan mutlak. Zaki yang masih menatap punggung perewangan-nya itu menunggu dengan sabar.
"Aku hanya ingin tahu, seberapa tangguh hatinya yang sekarang. Sebelum hatimu benar-benar kau titipkan ke dalam genggamannya di masa depan nanti," lanjut Sekar Mayang.
Meski wajah wanita gaib itu masih menghadap ke arah bingkai jendela, Zaki bisa merasakan bahwa Sekar Mayang benar-benar serius dengan niatnya barusan.
"Maksudmu apa, Sekar Mayang? Apa lagi yang ingin kau uji dari batin Mbak Nisa? Sudahlah... Kasihan dia. Ingat, kau sudah hampir mencelakainya saat di stasiun kemarin malam. Gara-gara ulahmu, dia nyaris ketinggalan kereta. Untung saja aku bergerak cepat menarik tangannya."
Penolakan panjang lebar dari Zaki itu, anehnya, justru semakin menyulut kobaran rasa penasaran Sekar Mayang terhadap kekuatan batin Nisa.
Sekar Mayang berbalik badan sepenuhnya. Kini ia menatap lurus ke arah tuannya dari jarak tiga langkah.
"Aku sudah tahu betul seberapa kuat isi batinmu, Zakiku sayang... Justru karena itulah aku ingin menguji, apakah hati dan batin wanita itu cukup pantas dan setangguh dirimu. Sebelum garis takdir kembali mempertemukan kalian di masa depan," jelas Sekar Mayang, mencoba memberikan alasan yang rasional kepada tuannya.
Zaki menarik napas berat. Kepalanya sedikit tertunduk, menatap kosong ke arah lantai tanah liat di kamarnya.
Sejenak, ia tampak berpikir keras, menimbang-nimbang keputusan yang tepat. Zaki sama sekali tak ingin rasa penasaran Sekar Mayang justru menjadi bumerang yang mengancam keselamatan Nisa.
Setelah beberapa saat berkutat dengan pikirannya, Zaki kembali mengangkat kepala.
"Baiklah... Aku izinkan kau melakukan apa yang ingin kau lakukan, Sekar Mayang," putus Zaki akhirnya.
"Tapi, aku minta satu hal padamu," tambahnya tegas.
"Apa? Katakanlah...."
"Jangan bertindak berlebihan pada Mbak Nisa. Aku mohon."
Mendengar persyaratan itu, Sekar Mayang justru tertawa lepas.
"Hihihihi... Ahahahaha...."
Tawanya menggema memantul di dinding kamar, seolah permohonan tuannya barusan adalah sebuah lelucon—sebuah cerminan ketakutan manusiawi yang terlalu berlebihan.
Setelah tawanya mereda, Sekar Mayang kembali mengayunkan langkah, memangkas jarak di antara mereka. Ia menatap lekat kedua bola mata Zaki. Sekali lagi, sepasang pupil merah cerahnya menyala terang di keremangan kamar.
Namun, kali ini Zaki merasakan ada yang berbeda dari pendaran mata itu.
Ia tak lagi merasakan percikan hawa nafsu dari Sekar Mayang. Tak ada juga gelombang kemarahan, apalagi aura ancaman mematikan seperti sebelumnya.
Alih-alih, seiring dengan makin terangnya pendaran mata sang perewangan di hadapannya... Zaki justru merasakan perubahan tekanan udara yang drastis di dalam kamar masa kecilnya ini.
Hawa dingin merasuk, meremangkan bulu roma.
Ia bisa merasakan eksistensi energi baru, yang kini baru saja menerobos masuk.
Seolah... ada sosok lelembut lain yang baru saja ditarik dan dipanggil secara paksa melintasi ruang gaib oleh Sekar Mayang.
"Jangan takut, Zakiku sayang... Aku jamin, aku tak akan membuat Nisamu mengalami hal-hal mengerikan yang tak kau inginkan. Karena...."
Sebelum kalimatnya tuntas, Sekar Mayang menolehkan wajahnya ke arah ranjang usang Zaki. Sebuah isyarat tanpa kata yang memberitahu tuannya bahwa sesuatu—atau seseorang—telah hadir di tengah-tengah mereka.
Refleks, Zaki ikut menoleh ke arah ranjang masa kecilnya.
Sontak, jantung pemuda itu seakan berhenti berdetak. Ia nyaris tak memercayai penglihatannya sendiri.
Dengan sangat jelas, kedua matanya menangkap wujud satu sosok entitas lain yang kini sudah duduk diam di atas kasurnya.
Memanfaatkan keterkejutan tuannya, Sekar Mayang membisikkan kelanjutan kalimatnya.
"Karena... Dia sendiri yang akan membantuku untuk menguji hati Nisamu, Zakiku sayang...."
Dan...
Satu sosok lainnya yang kini duduk terpaku di atas ranjang Zaki itu adalah...
DAYANG PUTRI.
SANG PEREWANGAN MILIK NISA.
"Kenapa kau malah memanggil perewangan Mbak Nisa, Sekar Mayang? Bukannya barusan kamu bilang, kamu yang ingin menguji Mbak Nisa?" tanya Zaki spontan sambil mengalihkan tatapan ke perewangannya itu.
"Hihihihi... Justru inilah kesempatan yang bagus, Zakiku sayang..." jawab Sekar Mayang, masih menatap ke arah Dayang Putri di atas kasur.
Lalu, Sekar Mayang menambahkan, "Karena Dayang Putri juga ingin menguji hati wanita itu."
Zaki jadi terpaku sesaat. Ia tampak belum memahami apa maksud perkataan Sekar Mayang.
Di saat Zaki masih terpaku diam, Dayang Putri akhirnya berkata.
"Aku sudah tahu apa yang akan kau lakukan kepada Nisaku, Sekar Mayang..."
"Hihihihi... Sudah tentu kau tahu itu, Dayang Putri. Justru inilah kesempatan yang bagus. Kau ingin menguji hati wanita itu karena kau adalah pendampingnya. Dan aku juga ingin menguji hati wanita itu karena aku ingin memastikan dirinya memang tepat untuk Zakiku." jawab Sekar Mayang.
"Baiklah..." respon Dayang Putri singkat.
Sejenak, suasana di dalam kamar masa kecil Zaki ini semakin terasa berat dan sakral auranya. Hal itu karena kehadiran Sekar Mayang yang kini bertemu dengan Dayang Putri.
"Tapi..." ucap Dayang Putri tertahan.
"Tapi apa, Dayang Putri?" tanya Sekar Mayang.
"Biarkan aku saja yang muncul di hadapan Nisaku. Kau cukup melihatnya dari jauh." jawab Dayang Putri.
"Hihihihi... Baiklah... Aku akan muncul di depan Nisamu, tepat di saat kau merasa sudah cukup untuk menguji hatinya. Paling tidak, aku pun bisa tahu bagaimana kekuatan hatinya yang sekarang." balas Sekar Mayang.
"Tapi... Sepertinya... Hati Nisamu masih terasa kosong, Dayang Putri. Benarkan? Hihihihi..." tambah Sekar Mayang.
"Jangan cepat mengambil kesimpulan, Sekar Mayang! Kau saja belum melihat bagaimana caraku menguji hati Nisaku." jawab Dayang Putri.
"Hihihihi... Hahahaha... Kau selalu saja keras kepala, Dayang Putri. Semoga Nisamu tak keras kepala juga sepertimu." balas Sekar Mayang.
Zaki yang berada di antara dua sosok perewangan itu, terlihat seperti patung. Ia tak bisa bersuara. Tak bisa berkata-kata.
"Baiklah, Dayang Putri... Ajak aku bersamamu untuk menguji hati wanita itu." kata Sekar Mayang.
Lalu...
Sosok dua perewangan itu perlahan memudar.
Dan... Menghilang.
Meninggalkan Zaki seorang diri di dalam kamar masa kecilnya itu.
Namun, Zaki bergumam di dalam hatinya sendiri.
"Mbak Nisa... Semoga kau bisa kuat dan tahan dengan semua tingkah laku Sekar Mayang, jika memang nanti dia ingin menjadi perewanganmu juga..."
Kemudian, Zaki menarik napas dalam-dalam. Dan menghembuskannya dengan berat. Seolah ingin menetralisir energi gaib yang sangat berat, yang sedari tadi ada di kamarnya itu.
Lalu, Zaki melangkahkan kaki keluar kamar.
Dirinya hendak memeriksa seluruh ruangan yang belum dia periksa di rumah peninggalan mendiang kedua orang tuanya itu.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya