Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5. Wajah yang sama dengan calonku

Langkahku terasa lunglai saat bel berbunyi dan Arga melangkah meninggalkan ruangan. Pintu kelas yang tertutup perlahan seakan menutup pula napasku. Tubuhku merosot lemas di atas bangku kayu itu, mataku masih terpaku pada tempat kosong di depan meja dosen—tempat di mana sosok pria itu berdiri beberapa saat lalu. Kepalaku terasa pening berputar seakan dunia di bawah kakiku tak lagi tenang. Rina yang sedari tadi memperhatikan tingkahku segera duduk di sebelahku, wajahnya tampak cemas melihatku yang begitu pucat dan diam mematung.

“Lisna? Kamu benar-benar tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali, keringat dingin pun menetes di pelipismu,” tanyanya sambil menyentuh lenganku pelan.

Aku menoleh perlahan, mencoba tersenyum walau terasa begitu berat di bibir. “Sungguh tidak apa-apa, Rin. Mungkin saja aku kurang tidur semalam, itu sebabnya kepalaku terasa sedikit pening,” jawabku beralasan, berusaha menutupi kekacauan besar yang sedang melanda hatiku. Bagaimana mungkin aku menceritakannya padanya? Bahwa dosen baru yang baru saja melangkah keluar itu adalah calon suamiku yang dijodohkan oleh kedua keluarga kami? Cerita itu terdengar mustahil dan luar biasa, seakan baru saja terjadi di dalam kisah-kisah dongeng yang jauh dari kenyataan.

Namun meski bibirku berusaha menyangkal, mataku dan hatiku tak sanggup berbohong. Setiap garis wajah pria itu, setiap gerak-geriknya, hingga cara pandangnya menatap ke arahku—semuanya sama persis dengan sosok yang kutemui sore itu di kediaman kerabat. Wajah yang teduh namun berwibawa, sepasang mata yang tajam namun menyimpan kelembutan yang tak terlihat oleh siapa pun selain diriku, hidung yang bangkok, rahang yang tegas, hingga senyum tipis yang tak lama terukir di bibirnya... semuanya adalah milik Arga. Calon suamiku. Pria yang kelak akan mendampingi sisa hidupku ternyata berdiri tepat di hadapanku setiap hari sebagai seorang pendidik.

Bayangan pertemuan kami yang lalu kini berputar kembali perlahan di dalam kepalaku. Saat ia menyapaku dengan sopan, saat tangannya menyentuh ujung jariku sekilas, saat ia menatapku dalam-dalam seakan ingin mengenali setiap sudut wajahku... ternyata semua itu bukan perasaan semata. Itu memang wajahnya. Pria yang berdiri di hadapan para mahasiswa dengan pakaian rapi, kacamata yang bertengger manis di pangkal hidung, dan sorot mata yang tegas tak tergoyahkan—adalah pria yang sama. Satu orang. Satu wajah. Satu nama. Namun dua peran yang begitu berbeda, begitu mustahil untuk disatukan dalam satu kenyataan.

“Dosen baru itu tampan sekali ya, Lisna. Sopan, cerdas, dan berwibawa pula. Tidak heran banyak teman-teman perempuan yang tak mengalihkan pandangan darinya sejak ia masuk tadi,” celoteh Rina dengan nada kagum yang masih tersisa. “Namanya Pak Arga, bukan? Sepertinya beliau pria yang luar biasa. Sayang sekali sepertinya beliau tipe yang dingin dan jauh dari jangkauan siapa pun.”

Aku hanya tersenyum getir mendengarnya. Kalau saja Rina tahu... kalau saja ia tahu bahwa pria yang dikagumi itu terikat janji perjodohanku sejak lama. Bahwa di balik sikap tenang dan tegasnya di depan kelas, ia adalah calon yang kelak menjadi pelindung dan pemimpin rumah tanggaku. Namun bibirku terkunci rapat. Rahasia ini terlalu berat untuk kusampaikan kepada siapa pun, bahkan kepada sahabatku sendiri.

Sepanjang sisa jam istirahat, aku hanya diam mematung. Mataku menatap lurus ke depan namun tak benar-benar melihat apa pun. Pikiranku terus terbelah antara dua perasaan yang saling bertabrakan. Di satu sisi aku merasa begitu terkejut, takjub sekaligus tak percaya. Di sisi lain, ada rasa cemas yang meluap-luap memenuhi dadaku. Bagaimana kelanjutannya nanti? Setiap kali mata kuliahnya tiba, aku harus duduk di antara teman-temanku, mendengarkan penjelasannya, menatap wajahnya yang begitu kukenal namun tak boleh kusapa layaknya calon sendiri. Di hadapan semua orang, ia adalah dosenku dan aku hanyalah salah satu mahasiswinya. Tak boleh ada perbedaan perlakuan, tak boleh ada tanda-tanda kedekatan yang terlihat sedikit pun. Semua harus tersembunyi rapat di balik dinding kesopanan dan kesungguhan belajar.

Lalu teringat kembali kata-katanya yang terucap begitu tegas tadi di awal perkuliahan: “Di kelas ini, saya adalah dosen, dan kalian adalah mahasiswa. Tidak ada perlakuan khusus bagi siapa pun.” Kalimat itu kini terasa begitu bermakna bagiku. Seakan-akan ia sedang berbicara langsung kepadaku, memberi batasan yang tegas agar aku tak melampaui batas. Bahwa di ruangan ini, tak ada calon suami dan calon istri. Yang ada hanyalah pengajar dan yang diajar. Bahwa aku harus bersikap sama seperti teman-temannya yang lain, tak boleh berharap perlakuan istimewa hanya karena ikatan janji yang mengikat kami di luar gerbang kampus.

Jantungku kembali berdetak kencang memikirkan hal itu. Jika memang demikian, perjalananku ke depannya tak akan mudah. Aku harus menjaga sikap, menjaga pandangan, menjaga setiap ucapan dan tingkah lakuku agar tak menimbulkan kecurigaan siapa pun. Aku harus belajar memisahkan perasaanku sebagai Lisna yang dijodohkan dengan peranku sebagai mahasiswi yang duduk mendengarkan kuliahnya.

Bel tanda masuk kembali akhirnya terdengar memecah keheningan pikiranku. Pintu kelas terbuka dan Arga melangkah masuk kembali dengan ketenangan yang tak berubah sedikit pun. Wajahnya tetap tenang, tatapannya tetap tegas menyapu seluruh ruangan. Dan saat matanya kembali jatuh ke arahku, ia menatapku sejenak—sangat singkat, namun cukup lama bagiku untuk menyadari satu hal yang tak terbantahkan.

Ya. Wajah itu memang sama persis. Dia adalah calonku. Tak ada keraguan lagi. Dan mulai saat itu pula, aku menyadari bahwa perjalanan panjangku bukan hanya sekadar menerima sebuah perjodohan, melainkan juga menjalani dua kehidupan dalam satu waktu. Satu di dalam kampus, satu lagi di luar sana. Dan di sanalah, di hadapan wajah yang sama itu, aku harus belajar mematuhi batas yang telah ia tetapkan, sambil menyimpan rasa canggung dan getaran halus yang mulai tumbuh diam-diam di dalam hatiku.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!