Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga / Tamat
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Hari itu, Amira tenggelam dalam kesibukan merancang alokasi anggaran dari dana lima miliar rupiah yang baru didapatnya. Meski pinjaman itu berkecepatan pengembalian yang fleksibel dan berbunga rendah, Amira tidak sedikit pun berniat untuk terlena. Bagi Amira, utang tetaplah utang—sesuatu yang kelak wajib dibayar tuntas lewat keringat dan kerja keras.

Di atas meja kerjanya, lembar-lembar rencana pembukaan gudang baru di Karawang dan Cikarang sudah tertata rapi. Amira memandangi rancangan itu dengan binar puas. Jika dua gudang ini resmi beroperasi, ekspansi bisnisnya akan merambah luas ke seluruh Jawa Barat hingga sebagian Jawa Tengah. Ia begitu larut dalam kebahagiaan menyusun masa depan usahanya sampai-sampai lupa waktu.

Baru ketika ia meraih ponselnya, deretan pesan singkat sudah berjejer di layar. Sebagian besar datang dari Luki.

“P.”“Tes.” “(Emoticon)” “Sedang apa, A?” “Dah makan belum?” “Jgn lupa mam, doa dulu sblm mam.”

Amira tersenyum geli membacanya. "Suamiku... selalu saja penuh kejutan," gumamnya pelan.

"Mira, habis ini mau ke mana?" tanya Rini yang tiba-tiba mendekat.

"Pulang," jawab Amira singkat.

"Enggak mau jalan-jalan dulu? Nanti malam ada artis di Lapangan Panatayudha, loh."

"Maaf, untuk sekarang aku hanya mau jalan kalau bersama Luki," tegas Amira tanpa ragu.

Rini menatapnya ragu. "Kamu masih marah padaku?"

"Aku tidak marah. Aku hanya sedang menjaga diri. Saat ini, satu-satunya orang yang aku percayai hanyalah suamiku," tutur Amira datar.

Rini menghela napas panjang. "Baiklah kalau begitu," ujarnya lalu berlalu pergi.

Tak lama, satu pesan baru kembali masuk dari Luki.

“Sayang, malam ini aku pulang terlambat.”

Amira tersenyum tipis lalu jemarinya menari di atas layar, “Iya... Cari uang yang banyak. Ingat, gaun mahal dan cincin berlian itu harus kamu yang bayar sendiri, jangan mengandalkan Pak Surya.”

Amira beranjak berdiri, merapikan barang-barangnya, lalu melangkah keluar ruangan. Ia bersiap pulang—menghadapi rumah yang selalu saja menyuguhkan panggung drama.

Grand Livina yang dikemudikan Amira merayap pelan di tengah kepungan kemacetan jam pulang kerja. Di balik lingkar kemudi, Amira menikmati setiap detiknya. Ada kehangatan tersendiri di hatinya; modal lima miliar sudah di tangan, dan mimpi ekspansinya kian dekat.

Mobilnya menepi di dekat sebuah gerai makanan siap saji. Amira sengaja berhenti untuk makan di sana. Selera makannya di rumah sudah lama menguap, lagipula ia butuh pasokan energi yang cukup sebelum berhadapan dengan ibunya—wanita yang sekian lama buta oleh cinta kepada lelaki tak bermodal. Sebelum beranjak pergi, Amira tidak lupa membungkuskan makanan kesukaan Luki.

Begitu mobil terparkir rapi di garasi rumah, Amira menghela napas panjang. Mengumpulkan keteguhan hati, ia melangkah masuk.

"Amira, Mamah mau bicara," sahut ibunya mendadak, tepat saat Amira baru melewati ambang pintu.

Amira menghentikan langkah lalu menghampiri Ratna yang sedang duduk berdampingan dengan Angga. Pemandangan yang selalu sukses membuat perut Amira mual.

"Mau bicara apa, Mah?" tanya Amira tenang.

"Barang-barang almarhum ayahmu ada di kamu, kan?" tanya Ratna.

"Iya."

"Mamah mau lihat. Sama Papah Angga juga."

Amira menatap ibunya lurus-lurus. "Mamah boleh lihat. Tapi suami Mamah, jangan."

"Amira!" geram Ratna. "Mamah dan Papah cuma mau lihat!"

"Ya, Mamah boleh lihat. Tapi suami Mamah tidak," ulang Amira tanpa gentar.

"Kenapa?"

"Aku tidak mau barang-barang peninggalan Papah disentuh oleh orang luar. Titik."

"Papah Angga itu papah kamu juga!"

"Bukan, Mah," potong Amira dingin. "Papah Mira cuma satu: Papah Salim."

Angga yang duduk di sebelah Ratna menyela dengan suara yang dibuat sehalus mungkin, khas dirinya. "Sudahlah, Sayang... Kalau Amira memang tidak mau, kita jangan memaksa."

Ratna mendelik tajam pada anak kandungnya itu. "Mentang-mentang sudah mendapat pinjaman lima miliar, kamu jangan tinggi hati ya! Uang lima miliar itu bukan pencapaian yang luar biasa, Amira!"

"Siapa juga yang bilang itu pencapaian? Itu utang, Mah, dan harus dibayar," sahut Amira tenang. "Tapi setidaknya, aku bekerja keras dari pagi sampai malam. Tidak seperti orang-orang yang tahunya cuma menghabiskan uang."

"Risma itu sedang kuliah Magister dan sebentar lagi mau menikah dengan Raka, Amira! Dia tidak menghabiskan uang!" potong Ratna kesal.

Amira menaikkan sebelah alisnya. "Kapan aku bilang Risma yang menghabiskan uang, Mah?"

Ratna bungkam seketika, tersudut oleh kata-katanya sendiri. "Sudahlah! Kamu memang makin sulit diatur. Cuma mau lihat barang-barang peninggalan ayahmu saja susah sekali."

"Itu peninggalan Papah, dan aku yang akan menjaganya karena Mamah tidak akan bisa. Jangan coba-coba ada yang berani masuk ke kamarku. Semua barang Papah sudah aku masukkan ke dalam lemari brankas, dan hanya aku yang tahu kata kuncinya," ucap Amira penuh penekanan.

"Malammm! Taraaaa!"

Suara manja yang melengking memecah ketegangan di udara. Risma dan Raka muncul dari balik pintu depan, melangkah masuk seraya membawa rentetan kantong belanja dari merek-merek ternama.

"Sayangggg!" Ratna langsung berdiri menyambut anak tiri dan calon menantunya itu dengan binar mata antusias—pemandangan yang bertolak belakang dengan sambutan dingin yang baru saja dilayangkannya pada Amira.

"Mamah... Mas Raka baru saja dapat proyek besar!" cerocos Risma penuh kebanggaan. "Lihat, aku dibelikan banyak sekali barang bagus dan mahal. Mas Raka juga membelikan tas Chanel khusus untuk Mamah!" Risma mengangsurkan sebuah kantong belanja mewah ke tangan Ratna.

"Wah... kamu baik sekali, Sayang," puji Ratna takjub. "Bisa menghadiahkan barang semewah ini..."

Ratna melirik penuh kebanggaan ke arah Amira yang justru sibuk mengotak-atik ponselnya. "Lihat itu, Amira! Lihat adikmu dibelikan barang-barang mahal. Sebaiknya kamu segera bercerai dari Luki dan cari lelaki kaya seperti Raka, supaya Mamah juga bisa dapat tas bagus darimu!"

Amira tak bergeming. Dahinya hanya berkerut menatap layar ponsel.

Risma menyindir halus, "Kak Amira kenapa? Enggak senang ya melihat aku memborong barang sebanyak ini?"

"Jangan banyak bicara dulu, aku sedang sibuk," tangkas Amira tanpa mengalihkan pandangan.

"Amira! Kamu sedang apa, sih?!" bentak Ratna makin kesal.

"Aku sedang mengecek saldo perusahaan," jawab Amira santai. "Takut berkurang karena dipakai Mamah untuk memberi uang belanja pada Risma."

"Gila kamu, Amira! Mana mungkin Mamah menggunakan uang pinjaman itu untuk belanja! Mamah juga tahu aturan!"

"Ooh, kirain," balas Amira enteng. "Toh, Mamah juga berniat mengeluarkan uang miliaran untuk pesta pernikahan, padahal lelakinya cuma datang bermodal perut kosong saja."

"Amira! Apa maksud kamu?!" Raka tersulut emosi, wajahnya memerah. "Aku tahu kamu masih kesal padaku karena batal menikah denganku! Tapi itu bukan salahku, Amira! Itu salahmu sendiri! Kamu tidak perlu menyesal, lalu melampiaskannya dengan bersikap kekanak-kanakan seperti ini!"

Amira akhirnya mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Raka.

"Ya, aku memang menyesal," potong Amira tegas.

Raka tersenyum miring, merasa di atas angin.

Namun kalimat Amira selanjutnya menyengat telak. "Aku menyesal... kenapa tidak putus dari dulu saja dengan lelaki sepertimu. Lelaki arogan yang bahkan tidak pernah mau mendengarkan penjelasan."

1
Indriani Kartini
mantap Almira, AQ gedek bngt SMA ibunya yg sudah di butakn cinta
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
akhirnya semua kebusukan Angga, Rini dan Risma kebongkar, tapi kalo Ratna ttp percaya sama Angga itu namanya bener² bodoh....
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
gemes bgt ma Amira katanya CEO tapi kok polosnya gak ketulungan, masa dia gak bisa liat situasi sih dan gak bisa liat kalo suaminya itu beneran kaya🤦🏻‍♀️ harusnya Amira bisa memikirkan kenapa suami nya selalu ada buat dia dan orang² selalu hormat pada suaminya...😏
santi damayanti: terimakasih ka masukan nya
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
Luar biasa
Piyah
lanjutkan
Piyah
jngn banyakan drama muter2 critanya
santi damayanti: siyap bossss kita tancap gassss
total 1 replies
Mei Susilowati
500jt sebulaaan🤔🤔🤔
Piyah
lanjutkan
Piyah
eh si Ratna matanya g melek2
Piyah
lanjutkan bgsc critanya
santi damayanti: terimakasih anda orang pertama komen
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!