Indonesia
NovelToon NovelToon
DAMAR: Si Pemandu Arwah

DAMAR: Si Pemandu Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / TKP
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.

​Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu. Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.

​Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 - Keadilan

​Kediaman mewah bernuansa neoklasik milik Baskoro berdiri megah di kawasan elit pinggiran kota.

Di balik pagar besi tempa yang tinggi dan taman asri yang tertata rapi, rumah itu tampak tenang di bawah naungan malam.

Tak ada yang menyangka bahwa kedamaian palsu di dalam vila mewah tersebut dibangun di atas darah belasan korban yang terkubur tanpa nama.

​Di seberang jalan, terselubung oleh sihir kamuflase tingkat tinggi yang dipasang Madam Helga, Bus Armada 000 terparkir tanpa mesin yang bersuara.

​"Dengar semuanya," kata Damar melalui pengeras suara mikrofon yang sengaja diredupkan volumenya.

Ia berdiri di panggung depan bus, menatap puluhan arwah korban yang menyimak di lorong tengah.

"Rencana kita sederhana, tapi butuh presisi total. Kita tidak akan menyentuh Baskoro. Karen Hukum Transmisi melarang interaksi fisik langsung yang menyebabkan kematian manusia. Tapi, Hukum Transmisi tidak melarang kita memindahkan 'benda mati' yang menjadi hak para korban."

​Indra, sang arwah korban utama, melayang mendekati Damar.

"Benda apa, Mas Damar? Baskoro sudah menghancurkan semua bukti belasan tahun lalu."

​"Dia mungkin menghancurkan dokumennya, Pak," sahut Damar seraya menunjukkan layar ponsel pintarnya. "Tapi manusia serakah dan narsistik seperti dia selalu menyimpan 'trofi' atau catatan rahasia dari kejayaannya. Dan Pak Indra sendiri yang bilang waktu Napak Tilas tadi ... Baskoro menyimpan sebuah 'buku besar' kulit hitam dan brankas tersembunyi di balik dinding perpustakaan pribadinya. Kita bisa mulai dari sana."

​Madam Helga melangkah melayang anggun dari balik gorden hitam. Kipas sutranya terbuka setengah, memancarkan pendar sihir keemasan yang sangat halus dan merambat di jemari lentiknya.

​"Sihir ilusi dan manipulasi jarak pendek adalah spesialisasiku," kata Madam Helga dengan nada dingin namun penuh wibawa. "Aku akan membuka celah tak kasat mata pada sistem keamanan rumah itu. Tugas kalian hanya menuntun udara gaib untuk menggeser 'buku besar' dan kunci brankas tersebut keluar menuju meja pos penjagaan depan."

​"Dan tugas saya," lanjut Damar seraya membetulkan letak kemejanya, "... adalah memastikan polisi datang tepat di detik saat bukti itu tergeletak."

​"Apakah ... ini benar-benar akan berhasil, Mas?" tanya Marlina ragu, matanya yang kebiruan menatap cemas ke arah vila megah Baskoro.

​Damar menatap Marlina dan Indra dengan senyum tulus yang memancarkan ketenangan.

"Keadilan mungkin terlambat belasan tahun untuk kalian. Tapi malam ini, kebenaran itu tak akan bisa sembunyi lagi di balik tembok rumah itu."

​Madam Helga memutar tubuhnya anggun, mengibaskan kipas sutranya ke udara.

​WUUUSH!

​Gelombang benang emas ajaib meluncur halus menembus dinding Bus 000, melayang melewati pagar tinggi vila Baskoro tanpa memicu alarm sensor infra merah sedikit pun.

Sihir Helga menyelimuti ruangan perpustakaan pribadi di lantai dua vila tersebut, menciptakan gangguan medan gravitasi lokal yang sangat presisi.

​Di dalam rumah, Baskoro yang sedang menyesap segelas wiski mahal di meja kerjanya mendadak merasakan hawa dingin mencekat yang meniup tengkuknya. Lampu gantung kristal di atas kepalanya bergetar halus.

​CRACK!

​Panel kayu di balik rak buku besar mendadak bergeser sendiri secara misterius! Sebuah kotak besi tua dan buku tebal bersampul kulit hitam, yang berisi catatan tanggal, lokasi pembuangan jasad, serta barang-barang pribadi milik para korban pembantaian pabrik, terdorong keluar oleh gelombang udara gaib.

​"A-Apa itu?" jerit Baskoro panik, menghentikan gelas wiskinya hingga tumpah membasahi celana mewahnya.

​Sebelum Baskoro sempat melangkah untuk mengambil buku itu, benang emas sihir Madam Helga yang tak terlihat menggulung kotak dan buku tersebut! Dengan satu sentakan halus dari luar pagar, kedua benda bukti krusial itu melayang menembus celah jendela yang terbuka sedikit, melintasi halaman, dan jatuh tepat di atas meja kayu pos penjagaan satpam di gerbang depan.

​Bersamaan dengan jatuhnya barang bukti itu, sirene mobil patroli kepolisian memecah keheningan malam!

​WIU-WIU-WIU-WIU!

​Tiga mobil polisi lalu lintas dan tim reserse mendadak berhenti mendadak tepat di depan pintu pagar utama vila Baskoro. Para petugas polisi turun dengan senjata terpasang, terkejut melihat sebuah kotak besi tua dan buku berdarah yang mendadak berada di atas meja pos penjagaan yang kosong.

​Beberapa menit sebelumnya, Damar telah mengirimkan dokumen data anonim dan koordinat pemetaan sinyal darurat dari ponselnya—yang didukung oleh laporan resmi masyarakat terkait insiden pemburu hantu di pabrik tua—memaksa pihak kepolisian melakukan pengecekan mendadak ke kediaman sang figur publik.

​Satpam rumah yang terbangun panik langsung membuka pintu pagar. Petugas polisi yang cermat segera memeriksa kotak besi tua dan memeriksa buku kulit hitam tersebut.

​"Ini ... ini daftar nama orang-orang yang hilang dalam kasus pembunuhan berantai belasan tahun lalu!" seru salah satu reserse dengan mata membelalak lebar. "Ada foto-foto korban dan lokasi penguburan jasad yang belum pernah terungkap!"

​"Panggil tim forensik dan georadar sekarang!" teriak komandan polisi kencang. "Amankan area ini! Amankan Saudara Baskoro untuk pemeriksaan utama!"

​Baskoro yang berlari keluar dengan wajah pucat pasi histeris saat melihat para petugas polisi memegang buku diari rahasianya. Topeng pengusaha dermawan dan figur publik yang dipakainya selama belasan tahun hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.

​"Tidak! Itu bukan milik saya! Itu fitnah! Saya tidak tahu barang itu dari mana!" jerit Baskoro histeris saat borgol besi mengunci kedua pergelangan tangannya.

​Dari balik jendela Bus Armada 000, para penumpang arwah menyaksikan pemandangan tersebut dengan mata membelalak tak percaya.

​Mereka melihat bagaimana pria yang selama belasan tahun merenggut masa depan mereka kini diseret masuk ke dalam mobil polisi di bawah kilatan lampu kamera pers yang mulai berdatangan. Nama baik mereka yang selama ini dicap sebagai buronan atau orang hilang tanpa kepastian, kini mulai dipulihkan di mata hukum fana.

​Indra berdiri mematung di lorong bus. Aura merah darah yang membakar tubuh gaibnya perlahan-lahan surut. Kabut hitam dendam yang selama belasan tahun menyiksa jiwanya meluruh menjadi butiran-butiran cahaya keemasan yang sangat indah.

​"Akhirnya ...," bisik Hendra dengan suara yang kini terdengar sangat ringan dan damai. Air mata cahaya menetes dari matanya. "Nama saya ... nama kami ... akhirnya bersih."

​Indra berbalik menatap Damar. Pria arwah itu membungkukkan tubuhnya dalam-dalam di hadapan sang pemandu tur muda.

​"Terima kasih, Mas Damar," ucap Indra dengan tulus. "Mas tidak cuma memandu perjalanan kami ... tapi Mas juga sudah mengembalikan kehormatan jiwa kami yang dicuri."

​Damar tersenyum hangat, matanya sedikit berkaca-kaca melihat kedamaian di wajah Hendra. "Sama-sama, Pak Indra. Selamat melanjutkan perjalanan ke tempat yang jauh lebih indah."

​Tubuh gaib Indra mulai bersinar terang benderang. Pendar cahaya keemasan melingkupi seluruh sosoknya—prosesi Ascension paling murni dan sempurna yang pernah terjadi di dalam Bus 000. Cahaya itu membumbung tinggi, menembus plafon bus, dan menyatu dengan langit malam yang luas.

​Satu per satu arwah korban pembunuhan di belakangnya ikut tersenyum, merasakan kedamaian yang sama melingkupi dada mereka. Aura dendam Armada 000 resmi mencair sepenuhnya.

​Jam saku Chrono-Compass di genggaman Damar bergetar halus, memancarkan denting melodi perak yang sangat merdu. Di layar clipboard kayu milik Damar, nilai kepuasan tur Armada 000 melompat naik hingga mencapai angka 100% Sempurna.

​Madam Helga melangkah mendekati Damar, menutup kipas sutranya seraya menatap pendar cahaya Ascension yang perlahan memudar di langit-langit bus.

​"Sebuah eksekusi strategi yang sangat tidak biasa," kata Madam Helga dengan nada suaranya yang khas—dingin dan angkuh, namun kali ini ada getaran kehangatan dan rasa bangga yang tak bisa disembunyikannya lagi dari sang pemandu. "Kau berhasil menyelesaikan kasus paling berat di Sektor Lima tanpa menumpahkan darah atau melanggar aturan Dewan."

​Damar berbalik menatap Madam Helga, menyengir tipis seraya mengusap tengkuknya. "Kerja sama tim yang bagus, kan, Madam? Tanpa sihir pemindah milik Madam, rencana saya cuma jadi teori di atas kertas."

​Madam Helga mendengus pelan, mengibaskan syal bulu hitamnya. "Jangan terlalu percaya diri, Damar. Ini baru satu dari sekian banyak rombongan bermasalah yang harus kau tangani."

​Namun, saat Madam Helga berbalik untuk kembali ke kursi utamanya, Damar sempat menangkap ukiran senyum tipis yang sangat anggun di bibir sang atasan—sebuah pengakuan tulus bahwa pemuda di hadapannya bukan lagi sekadar staf pengganti yang ketakutan, melainkan mitra sejati dalam mengarungi alam transmisi.

​Tiiiiiiiiiinnnnn ...!

​Klakson Bus 000 melengking nyaring, namun nadanya kini terdengar begitu lega dan merdu. Armada raksasa itu mulai bergulir perlahan meninggalkan kawasan vila, meluncur di atas jalanan gaib menuju garis perbatasan alam berikutnya di bawah naungan bintang-bintang.

1
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
baru tahu
judulnya gantii yaa 🤔
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
alangkah ajaib nya
ada kesempatan ke 2 untuk menuntaskan urusan dunia
pasti tak kan ada arwah gentayangan
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat jalan pak Tedjo
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kepuasan seorang manusia yg berguna bagi sesama nya
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
yaa pasti rinduu laah pak tedjo
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat berpetualang di rumah orang tanpa undangan ,damar
😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kunci nya , di belakang foto keluarga damarr.. ciee 🤣
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
cepet adaptasi nya Damar
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
lets go Damarr
tour kemana kita yakk
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
masih untung damar
ngga ngompol di tempat
😂😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kontrak kerja Damar
serreemmm bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!