Indonesia
NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga / Obsesi
Popularitas:27.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Ainun terpaksa menggantikan kakaknya, Liona, untuk menikah dengan Sagara Jeno Dirgantara. Namun, pernikahan itu justru membuatnya hidup dalam siksaan fisik dan batin.

Saat mengetahui dirinya hamil, Ainun memilih menyembunyikannya. Ia hanya punya satu tujuan: pergi dari Sagara dan membawa anaknya bersamanya.

Ketika Liona kembali, Ainun mengira inilah kesempatan untuk bebas. Namun, ia baru menyadari bahwa sejak awal, Sagara bukan sekadar menginginkannya. Pria itu terobsesi kepadanya.

Akankah Ainun berhasil lepas dari Sagara, atau justru kembali terperangkap dalam obsesinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benarkah Dia Terobsesi?

Suasana siang berjalan tenang.

Di ruang tamu, Liona duduk santai di atas sofa dengan sebuah majalah di tangannya. Sesekali ia membalik halaman, membiarkan dirinya larut dalam bacaan.

Kling!

Suara notifikasi membuat jemarinya berhenti.

Liona segera menurunkan majalah ke pangkuan, lalu meraih ponsel yang tergeletak di meja.

Begitu melihat nama pengirimnya, matanya langsung berbinar.

Sagara.

Tanpa ragu, ia membuka pesan tersebut.

{Mari kita bahas pernikahan kita di restoran siang ini, aku menunggu.}

Bibir Liona perlahan membentuk senyum.

“Ya ampun, kenapa tiba-tiba banget, sih?” gumamnya sambil kembali membaca pesan itu.

“Ibu!”

Suara Liona terdengar cukup keras hingga membuat langkah seseorang dari arah kamar terhenti.

“Ada apa, Liona?” tanya Bu Siti yang baru keluar dari kamar.

Liona segera bangkit dari sofa. Ponselnya masih berada dalam genggaman.

“Aku mau siap-siap bertemu Mas Sagara. Kami mau membahas pernikahan.”

“Benarkah?” Bu Siti mendekat. “Di mana?”

“Di restoran, dong, Bu.” Liona tersenyum lebar. “Aku harus tampil cantik. Nggak boleh sampai mengecewakan Mas Sagara.”

Ia melirik jam di dinding.

“Sudah, ya, Bu. Aku nggak punya banyak waktu. Waktunya sudah mepet.”

“Iya, iya. Sana bersiap,” sahut Bu Siti.

Liona segera berbalik dan melangkah menuju kamarnya.

Senyum di wajahnya belum juga menghilang.

Hari ini, ia akan kembali membicarakan pernikahannya dengan Sagara.

Setidaknya, itulah yang membuat langkahnya terasa ringan saat menuju kamar.

Dua puluh menit kemudian, Liona akhirnya tiba di restoran yang disebutkan Sagara. Begitu turun dari mobil, ia segera merapikan rambut dan pakaiannya sebelum melangkah masuk.

Pintu kaca terbuka di hadapannya.

Liona melenggang masuk dengan langkah anggun. Tatapannya segera berkeliling, mencari sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

Hingga pandangannya berhenti pada satu meja di sudut restoran.

Sagara sudah berada di sana. Pria itu duduk dengan tenang, tatapannya tertuju lurus kepadanya.

Jantung Liona berdetak sedikit lebih cepat. Ia spontan merapikan rambut di sisi wajahnya, lalu melangkah mendekat.

Begitu tiba di hadapan Sagara, Liona tersenyum.

“Mas...”

“Duduk,” potong Sagara singkat.

Senyum Liona sedikit memudar, tetapi ia tetap mengangguk.

“Iya.”

Ia menarik kursi, kemudian duduk tepat di hadapan pria itu.

“Jadi...”

“Makan dulu,” sela Sagara lagi.

Liona terdiam. Keningnya berkerut ketika pandangannya turun ke meja. Di hadapannya hanya tersedia nasi, seekor ikan goreng sederhana, dan sambal bawang.

Liona menatap hidangan itu dengan wajah tidak percaya. Ia kemudian mengangkat pandangan kepada Sagara.

“Mas, ini apa?”

Sagara tidak menjawab.

Liona menunjuk ikan di atas piring dengan ujung jarinya.

“Kenapa makanan kucing ada di atas meja?”

“Makan saja.”

Liona mengerutkan hidung. Aroma ikan yang cukup kuat membuat perutnya terasa tidak nyaman.

“Mas, aku nggak bisa makan makanan seperti ini.” Ia mendorong piring sedikit menjauh. “Aku alergi.”

Tatapan Sagara terangkat.

“Makan.”

Satu kata itu terdengar lebih tegas.

Liona menelan ludah. Tatapan pria di hadapannya membuat jemarinya yang tadi hendak mendorong piring berhenti.

Ia mendengus pelan. “Benar-benar aneh.”

Dengan wajah terpaksa, Liona mengambil sedikit nasi dan ikan. Ia memasukkannya ke dalam mulut.

Rasa asin dan gurih langsung memenuhi lidahnya. Namun, bukannya menikmati, ia justru menahan rasa mual yang perlahan naik ke tenggorokan.

‘Kenapa Mas Sagara menyuruhku makan makanan seperti ini?’

Ia mengambil suapan berikutnya. Belum sempat menelannya, suara Sagara terdengar.

“Liona.”

Tangan Liona berhenti. Ia mengangkat wajah.

“Ya?”

Sagara meletakkan sendoknya perlahan. Tatapannya lurus dan tajam.

“Kamu tahu, kalau ada seseorang yang mengusik milikku, kamu tahu hukuman paling beratnya apa?”

Sendok di tangan Liona bergetar kecil.

Tatapan pria itu membuat tengkuknya terasa dingin.

“I-iya, Mas. Aku tahu.”

Sagara tidak menjawab. Ia hanya mengambil kembali makanannya dan melanjutkan makan dengan tenang.

Liona menundukkan pandangan. Jemarinya kembali menggenggam sendok.

‘Kenapa tiba-tiba Mas Sagara mengatakan hal seperti itu?’

Ia tidak berani bertanya.

Satu per satu suapan kembali masuk ke mulutnya. Dengan susah payah, Liona menghabiskan potongan ikan yang tersisa di piring.

Namun, rasa tidak nyaman di dalam dirinya justru semakin kuat. Ia menelan suapan terakhir, kemudian meletakkan sendok perlahan.

Sementara di hadapannya, Sagara tetap diam.

Tatapannya membuat Liona semakin sulit menebak apa yang sebenarnya sedang dipikirkan pria itu.

‘Apa dia sedang marah kepadaku karena nggak menghubunginya?’

Pikiran itu membuat perutnya kembali terasa tidak nyaman. Namun, ia segera menggeleng kecil.

“Sayang, aku sudah selesai makan.” Liona menyeka sudut bibirnya dengan tisu, kemudian menatap Sagara penuh harap. “Jadi, bagaimana?”

Sagara mengisap rokoknya dalam-dalam. Tatapannya tetap tenang sebelum akhirnya diarahkan kepada wanita di hadapannya.

“Kita adakan pernikahan semewah mungkin,” ucapnya datar. “Pernikahan kita harus disiarkan ke seluruh negara tanpa terkecuali. Itukan yang kamu mau?”

Mata Liona langsung berbinar.

“Iya!” serunya. “Kalau bisa, undang penyanyi favoritku juga, ya, Sayang. Kamu tahu, kan? Adele?”

Sagara hanya mengangguk singkat.

“Hmm.”

“Terus, aku mau beberapa idol K-Pop menjadi bridesmaid-ku.”

“Terserah.”

Liona tersenyum semakin lebar. Ia tampak semakin bersemangat membayangkan pesta pernikahan yang diinginkannya.

“Oh, iya! Untuk mahar, aku mau rumah Holden Gemini itu, loh. Lalu cincin pernikahannya yang dari batu kristal biru. Terus nanti aku mau pakai mahkota Cambridge Lover's Knot.”

Sagara terdiam.

Ujung rokoknya kembali ia hisap sebelum asapnya keluar perlahan dari sela bibir.

‘Tidak tahu diri.’

Tatapannya sempat jatuh pada Liona, lalu kembali lurus ke depan.

‘Tidak apa-apa. Semakin mewah acaranya, semakin menarik permainannya.’

Sagara mematikan rokoknya pada asbak. Setelah itu, ia mengambil ponsel dari atas meja.

Jemarinya bergerak mencari satu nama di daftar kontak.

Liam.

Panggilan tersambung beberapa detik kemudian.

“Pak...” suara Liam terdengar dari seberang.

“Siapkan pernikahan saya dengan Liona,” perintah Sagara sambil menyandarkan tubuhnya. “Siapkan semua mahar yang dia sebutkan, termasuk cincin pernikahannya.”

“Baik, Pak. Akan segera saya urus.”

Sagara memutuskan sambungan telepon.

Ia meletakkan ponsel kembali di atas meja, kemudian mengalihkan tatapan kepada Liona.

“Sudah.”

Liona tersenyum lebar. “Terima kasih, bebe.”

Sagara hanya mengangkat sudut bibirnya. Senyum tipis itu tidak bertahan lama.

Di sisi lain.

Setelah meninggalkan kota, Ainun masih duduk di belakang Laras dengan kedua tangan berpegangan pada sisi motor. Jalanan panjang terbentang di hadapan mereka.

Namun, semakin jauh mereka pergi, semakin besar pula rasa cemas yang mengusik pikirannya.

Ainun mengangkat wajah. “Kita ada di mana, Ras?”

“Tenanglah, perjalanan kita masih empat jam lagi,” jawab Laras sambil tetap memusatkan pandangan ke jalan.

“Kenapa lama?” tanya Ainun.

“Lebih cepat daripada naik mobil, Ai. Kita berhenti sebentar untuk makan siang, ya.”

Ainun mengangguk kecil. “Aku nggak punya uang cash. Aku pinjam kamu dulu, ya?”

“Tenang saja, aku traktir.”

Ainun mengembuskan napas lega. Setidaknya, dalam keadaan seperti ini, ia masih memiliki sahabat yang bersedia membantunya tanpa banyak bertanya.

Beberapa menit kemudian, Laras menghentikan motornya di sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan.

Keduanya turun.

Ainun mengikuti Laras masuk ke dalam warung, lalu memilih duduk di salah satu meja yang masih kosong. Tubuhnya terasa lelah setelah perjalanan yang cukup panjang.

“Bu, nasi Padang dua porsi sama es teh dua. Tapi yang satunya nggak pakai es,” pesan Laras kepada penjual.

“Siap, Mbak. Ditunggu.”

Laras kemudian duduk di hadapan Ainun.

“Sudah, jangan takut. Pria itu nggak akan mengejarmu.”

Ainun menunduk. Jemarinya saling bertaut di atas meja.

“Tapi, Mas Sagara bukan orang biasa, Ras.” Suaranya mengecil. “Bisa saja dia membayar orang untuk mengikuti atau bahkan menculikku.”

Laras menatapnya.

“Aku jadi penasaran. Kamu dikurung karena apa?”

Ainun menggeleng perlahan.

“Aku nggak tahu.” Tatapannya jatuh ke meja. “Tapi sepertinya karena aku melawan Mas Sagara. Makanya dia marah dan mengurungku.”

Ucapannya terhenti.

Jemari Ainun meremas ujung bajunya ketika ingatan tentang kamar sempit itu kembali terlintas.

“Tapi...” Laras mendesak pelan. “Kenapa?”

Ainun menarik napas dalam-dalam.

“Dan sepertinya Mas Sagara sudah lama memantauku dari kamera, Ras.”

“A-apa?”

“Kalau nggak salah, waktu aku kehausan dan memilih mencari air di dekat vas bunga, aku menemukan kamera kecil.” Ainun menelan ludah. “Awalnya aku pikir cuma satu. Tapi ternyata aku menemukan dua. Sepertinya bukan cuma itu. Bisa jadi masih ada kamera lain yang disembunyikan di tempat yang nggak bisa kulihat.”

Ainun masih bisa mengingat bentuk kamera kecil yang ditemukannya.

Benda sekecil itu ternyata mampu membuat seluruh kamar terasa seperti penjara yang tidak pernah memberinya privasi.

“Gila...” Laras menggeleng. “Sagara sudah gila. Tapi...” Ia terdiam sesaat. “Mungkinkah dia terobsesi padamu?”

Ainun terdiam.

‘Obsesi?’

Kata itu berputar di kepalanya. Perlahan, Ainun menggeleng.

“Mas Sagara selalu menghinaku, memukulku, dan setiap kali berhubungan denganku, dia selalu menyebut nama wanita lain.” Bibirnya menegang. “Apa itu bisa disebut obsesi?”

“Jangan salah.” Laras mengangkat bahu. “Cara orang terobsesi pada sesuatu itu berbeda-beda. Bisa menyerang secara psikis, mental, melakukan penyiksaan, atau justru memberikan perhatian berlebihan.”

Ainun menatap Laras.

‘Tapi semua yang dikatakan Laras nggak termasuk ke dalam sifat Mas Sagara.’

Pikirannya kembali berputar.

Selama ini, Sagara tidak pernah menunjukkan perhatian kepadanya. Pria itu justru membuatnya merasa tidak berharga.

Namun, jika bukan karena perhatian, lalu mengapa kamera-kamera itu dipasang di kamarnya?

1
Rahmawati Amma
wah klu benar jadi nikah sama si faizan kayanya aku mundur bacanya maksud hati ingin kasih koin tapi klu gini ceritanya aku mundur aja deh bacanya caow aku masih berharap chong ma balikan( SAGAR) 😭😤
Silvi Febiola: maaf ya kak, sudah ngecewain.
total 1 replies
Rahmawati Amma
weh thor chong ma mana harusnya kan udah bebas balikan sama chong ma aja kayanya ngak suka aku dengan faiz 😡😤 tapi chong ma nya udah berubah lebih baik benar2 baik dari sebelumnya hidup chong ma (sagara)si liam ibaratnya lee jaha kan kaki tangan chong ma ngak kala sadis wa ha..ha...ha. 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
fiks sagara kaya leluhurnya chong ma sadis tapi melindungi org terkasih sama chong ma sama2 sadis tdk pandang jenis kelamin mau perempuan mau laki klu ada yg gangu atau deketin babat abis tapi saya suka thor itu si sagaranya jangan terlalu sadis thor kaya chong ma aja ama mohyong sadis banget 😭😭😭😭
Linda: kalau saran saya jgn buat pisah sagara dgn ainun buat lah sagara sadar
total 1 replies
Linda
kalau saran saya ainun dn sagara jgn buat pisah bagi sagara sadar dan biar nanti dia hidup bahagia dgn keluarganya, dan laras dgn pak faisan
falea sezi
😒 bapak sama anak sama bejatnya g rela q si bangke ini ama ainun
falea sezi
😒laki bangke
Rahmawati Amma
kaya leluhurnya cheon ma sadis babget😭
falea sezi
moga bisa pergi. laki menjijikkan
Rahmawati Amma
aku meng hargai karyamu thor tapi terlalu kelam kapan bahagianya klu begini ceritanya 😭😭😭
Rahmawati Amma
kenapa terlalu drak thor😭😭😭
Rahmawati Amma
oh... ternyata mas saganya🤭🤭🤭
falea sezi
bkin ainun cerai Thor 🤣🤣 laki menjijikkan hukum itu ya di hukum cambuk bukan hukum ngeweee😒
falea sezi
🤣🤣 kn emank bejat g akan bisa berubah
Datu Zahra
apaansih Sagara, jijik banget.
Datu Zahra
kebanyakan pelakor, Liona belom beres, nongol Alif. terlalu ruet
Ais
sebenarnya saraga sm bapaknya ini sm"hyper kayaknya jijik tp kok ditiduri jg perempuan yg udah nyakitin istrinya aku pikir alif pelacur ini bakalan disiksa dlm artian disiksa bnr bkn disiksa dlm tanda kutip trus laras lihat kejadiannya apakah laras jg bakalan jd mangsa sagara berikutnya kasihan ainun kata aku seh smoga ainun cepat tau jd bs kabur sm anaknya jng smp rantai setan ini jg mengikat prilaku aksara anak ainun mau sebaik apa ibunya klo bapaknya hyper dan iblis anak jg pst akan kebawa namanya buah ngak akan jatuh jauh dr pohonnya
merry
jgn bgtt ainum sm bu Lina sm dm disiksa,, trss di selingkuh in lgg,, cb mrk bersatu hancurin ank Bpk iblis itu,, bastian tdrin mantan mantu ya eee anky selingkuh dgn alif ud gk bs dijadiin suami itu,, curi kek yang bu Lina trs pergi keluar negeri gt
dika edsel: klo bisa ainun dibuat mati aja...sad ending lbh baik..,ini novel bner2 di luar logika org waras
total 2 replies
Ila Latifah
jangan sampai ainin menderita lagi hara2 si alif bkin ulah. kasian bu lina. mamamnya sagara
Ila Latifah
masih 1 tipe. banyak tokoh jahatnya
Ila Latifah
menjijikan. dimakan bapaknya untuk dimikahi anaknya. anak tiri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!