Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Lampu kristal raksasa memantulkan cahaya kemerahan di ruang perjamuan eksklusif The Grand Cihampelas Ballroom. Aroma parfum berkelas, dentingan gelas kristal champagne, serta alunan musik klasik yang mengalun lembut menciptakan atmosfer kemewahan tempat para konglomerat dan petinggi bisnis kota berkumpul. Di tengah kerumunan para pengusaha papan atas itu, Rangga Pratama berdiri dengan balutan setelan jas tailor-made berwarna arang yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Wajahnya tampak kaku, memancarkan aura otoritas mutlak yang membuat siapa pun segan untuk mendekat sembarangan.

Meskipun malam ini Rangga dikelilingi oleh para mitra bisnis penting yang membicarakan proyek-proyek bernilai triliunan rupiah, pikiran sang CEO sama sekali tidak berada di atas meja perundingan. Sejak insiden perbandingan batin yang menghantam nuraninya beberapa malam lalu, bayangan Rania—dengan segala kesunyian, kemandirian, dan sikap dinginnya—terus berkelebat di kepalanya, menciptakan kegelisahan konstan yang tidak bisa ia redam dengan kesibukan korporat.

Di sisi lain ruangan, di bawah sorotan lampu yang hangat, pintu utama ballroom terbuka lebar. Gemuruh percikan decak kagum perlahan-lahan beralih ketika sesosok wanita melangkah masuk. Rania hadir sebagai salah satu undangan kehormatan mewakili brand kuliner independen yang sedang naik daun. Malam itu, Rania mengenakan gaun malam berpotongan midi berwarna emerald green yang memeluk tubuhnya dengan elegan, dipadukan dengan tata rias minimalis yang menonjolkan kecantikan alaminya. Tidak ada lagi bayangan gadis penakut dari keluarga Pratama; yang ada di sana adalah seorang wanita anggun, mandiri, dan memancarkan pesona berkelas yang sukses menarik perhatian setiap pasang mata di ruangan itu.

Rangga, yang tak sengaja menangkap sosok istrinya dari kejauhan, langsung terpaku di tempatnya. Gelas kristal berisi scotch di tangan kanannya terangkat setengah jalan, sementara rahangnya mengeras seketika. Untuk kesekian kalinya, Rangga disadarkan oleh kenyataan bahwa wanita yang selama ini ia anggap remeh dan ia simpan di sudut penthouse kini telah menjelma menjadi pusat perhatian para pria berjas rapi di ruangan ini.

Di dekat meja prasmanan, seorang kolega bisnis senior sekaligus direktur utama sebuah korporat properti ternama, Tuan Gunawan, mendekati Rania dengan senyuman lebar. Pria paruh baya itu tampak terpesona, melontarkan berbagai pujian sambil sesekali tertawa kecil bersama Rania, menciptakan pemandangan yang membuat dada Rangga terasa terbakar hebat.

Melihat interaksi itu dari kejauhan, darah Rangga mendidih seketika. Sensasi panas merambat naik dari ulu hati hingga ke pelipisnya. Rasa cemburu buta yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menghantam kewarasannya tanpa ampun. Tanpa mempedulikan percakapannya dengan mitra bisnis di sebelah kanannya, Rangga melangkah lebar membelah kerumunan orang, menghampiri meja tempat Rania dan Tuan Gunawan berdiri.

"Ah, Tuan Rangga! Luar biasa sekali malam ini," sapa Tuan Gunawan dengan ramah begitu menyadari kehadiran CEO Pratama Group tersebut di sampingnya. Pria tua itu menepuk bahu Rangga ringan sambil tersenyum lebar ke arah Rania. "Saya baru saja memuji istri Anda, Nyonya Rania. Toko roti independen miliknya, Sweet Memories, benar-benar fenomena luar biasa di kalangan elit kota kita. Omzetnya melompat tinggi, konsepnya brilian, dan produknya memenangkan berbagai penghargaan kuliner musim ini. Anda benar-benar suami yang paling beruntung di dunia, memiliki istri yang bukan hanya cantik luar biasa, tapi juga memiliki otak bisnis yang cemerlang."

Tuan Gunawan tertawa renyah, lalu melanjutkan dengan nada setengah bercanda yang membuat atmosfer di sekitar mereka mendadak membeku. "Jujur saja, jika Nyonya Rania tidak terikat pernikahan, saya pasti sudah menjadi antrean pertama yang mendekatinya dan melamarnya untuk bergabung dengan grup perusahaan saya."

Deg!

Kalimat bercanda itu meluncur dengan santai dari bibir Tuan Gunawan, namun bagi Rangga, kalimat itu terdengar seperti provokasi terang-terangan yang menyulut api kemarahan di kepalanya. Urat-urat di pelipis Rangga menegang. Cengkeramannya pada gelas kristal di tangannya mengerat sedemikian rupa hingga buku-buku jarinya memutih.

Sebelum Tuan Gunawan sempat melanjutkan kata-katanya, Rangga maju setengah langkah, menempatkan dirinya tepat di antara sang kolega dan Rania. Aura dingin, gelap, dan mengintimidasi langsung terpancar kuat dari seluruh tubuh sang CEO, membuat Tuan Gunawan mengerjap kaget melihat perubahan ekspresi yang begitu drastis.

Dengan nada suara yang sangat rendah, dingin, dan menusuk tulang, Rangga memotong pembicaraan tersebut.

"Terima kasih atas pujian Anda, Tuan Gunawan," ucap Rangga, setiap suku kata diucapkannya dengan penekanan yang sarat akan kepemilikan mutlak. "Namun, perlu saya tegaskan di sini... istri saya tidak akan pernah ke mana-mana. Dan tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang memiliki kesempatan untuk mendekatinya, karena dia adalah milik saya—secara sah, mutlak, dan selamanya."

Tatapan mata Rangga menatap tajam kepada Tuan Gunawan dengan sorot mata yang menyiratkan peringatan mematikan. Merasakan tekanan psikologis yang luar biasa dari sang CEO muda, Tuan Gunawan tertawa canggung, meminta diri dengan sopan, dan segera menjauh dari area tersebut.

Seketika, suasana di sekitar mereka menjadi senyap. Rania berdiri tegak di tempatnya, menatap suaminya dengan ekspresi wajah yang datar, tenang, dan tidak menunjukkan rasa tersanjung sedikit pun atas pengakuan publik yang baru saja dilontarkan oleh Rangga. Tidak ada binar bahagia, tidak ada rona merah di pipinya. Yang ada hanyalah dinding pertahanan es yang semakin menebal.

Rangga menolehkan kepalanya, menatap Rania lekat-lekat. Ada amarah, kebingungan, dan rasa frustrasi yang bercampur aduk di dalam dadanya melihat ketenangan sang istri.

"Rania, kita pulang sekarang," perintah Rangga dengan suara yang ditekan, meraih pergelangan tangan istrinya dengan lembut namun tegas untuk membimbingnya keluar dari gedung perjamuan. Rania tidak melawan; ia membiarkan dirinya ditarik keluar menuju area parkir bawah tanah, tempat mobil sedan mewah berlogo perak milik Rangga telah menunggu.

Di dalam kabin mobil yang kedap suara, atmosfer berubah menjadi sangat pekat dan mencekam. Mesin mobil menyala dalam keheningan, sementara AC mendinginkan ruangan secara perlahan. Rangga duduk di kursi pengemudi—malam ini dia sengaja tidak menggunakan sopir pribadi—sementara Rania duduk di kursi penumpang sebelah kiri, memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela, memperhatikan lampu-lampu jalanan kota yang berkelebat cepat.

Rangga mencengkeram lingkar kemudi erat-erat. Ketegangan di dalam dadanya tidak kunjung mereda. Bayangan pria tua tadi yang memuji Rania dan bercanda ingin mendekatinya terus berputar di kepala Rangga, memicu ego kekanak-kanakan dan rasa cemburu yang menggerogoti harga dirinya.

Akhirnya, pertahanan Rangga jebol. Ia memutar kepalanya ke kiri, menatap tajam ke arah profil wajah Rania yang diterangi oleh temaram lampu jalanan dari luar kaca mobil.

"Rania," panggil Rangga dengan suara parau yang sarat akan tuntutan.

Rania perlahan menolehkan kepalanya. Ia membalas tatapan tajam suaminya dengan sorot mata yang begitu tenang, tanpa beban, dan sangat dingin. "Ada apa?" jawab Rania singkat.

Rangga mengernyitkan keningnya dalam-dalam, rasa penasaran dan ego yang terluka bergolak hebat di dadanya. "Jelaskan padaku," tukas Rangga dengan nada menuntut. "Kenapa... kenapa kau tidak pernah bercerita soal kesuksesan toko rotimu padaku? Selama ini, saat orang-orang membicarakan omzet besar dan popularitas Sweet Memories di kalangan elit, aku justru mendengarnya dari orang lain, bukan dari mulut istriku sendiri! Kau sengaja menyembunyikan semua itu dariku, hah?"

Pertanyaan itu meluncur dengan nada protes yang kentara—sebuah protes dari seorang suami yang merasa diabaikan dan tidak dianggap penting dalam pencapaian istrinya sendiri.

Namun, reaksi yang ditunjukkan Rania di luar dugaan. Wanita itu tidak terlihat gentar, tidak pula menunjukkan rasa bersalah. Sebaliknya, sudut bibir Rania terangkat perlahan membentuk sebuah senyuman yang sangat tipis, menyayat, dan penuh dengan kepahitan yang mendalam.

Rania menatap lurus ke dalam bola mata Rangga, lalu dengan suara yang datar, dingin, dan tanpa emosi sedikit pun, ia melontarkan kalimat telak:

"Bukan urusanmu."

Deg!

Tiga kata sederhana itu menghantam telinga Rangga bagaikan sambaran petir di siang bolong.

Bukan urusanmu.

Kalimat itu begitu pendek, namun memiliki daya hancur yang luar biasa besar bagi harga diri seorang Rangga Pratama. Selama ini, segala urusan hidup Rangga adalah pusat gravitasi di dunia bisnis, dan setiap orang berusaha menarik perhatiannya. Namun kini, istrinya sendiri—wanita yang tidur di bawah atap yang sama dengannya—mengatakan bahwa pencapaian terbesar dalam hidupnya bukan lagi urusan suaminya.

Rangga tertegun kaku di kursi pengemudi. Napasnya tercekat, dadanya terasa dihantam palu tak kasat mata, dan sensasi ngilu yang amat sangat menjalar di sekujur tubuhnya.

Rania kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela, mengabaikan sepenuhnya keberadaan suaminya di sebelah, meninggalkan Rangga dalam keheningan total yang membawa penyesalan terdalam di sepanjang perjalanan pulang malam itu.

Aku agak gak mudeng sama cerita ini, setiap aku mau fokus nulis aku selalu tergiang giang kata Senku,'Juu oku paasento, sosoru ze!'

Tapi makasih banget loh yang udah baca cerita aku😁

Jangan lupa like ya😉 dadah

1
Ketoprak Encok
maaf aja nih kak, otak aku emang buntu banget, dari bab 27 makanya aku cepetin aja namatin cerita ini. tapi thanks kak udah luangin waktunya buat baca
Forta Wahyuni
koq kacau balau novelnya thor, alurnya simpang siur n apa jiplakan.
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!