Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.
Arkatama Industrial Components, salah satu anak perusahaan Arkatama Group yang bergerak di bidang produksi dan distribusi komponen industri. Pabrik itu menjadi salah satu unit terbesar yang dimiliki keluarga Arkatama dan telah beroperasi selama puluhan tahun.
Di tempat itulah Bram Mahesa bekerja hampir sepanjang hidupnya. Selama lebih dari dua puluh lima tahun, ia bertahan hingga menduduki posisi kepala administrasi dan logistik.
Pagi itu, aktivitas pabrik berlangsung seperti biasa. Mesin-mesin produksi bergemuruh, truk distribusi keluar-masuk melalui gerbang utama, sementara para pegawai administrasi sibuk dengan laporan masing-masing.
Namun, sebuah email dari kantor pusat yang dilaporkan staf kepadanya membuat Bram menghentikan pekerjaan.
“Pak Bram, kantor pusat meminta laporan distribusi tiga bulan terakhir.”
Bram mengangkat wajah dari dokumen yang sedang ia baca. “Bukankah laporan bulan lalu sudah dikirim?”
“Sudah, Pak. Tapi pagi ini mereka meminta data lengkap, termasuk vendor, biaya gudang, dan catatan pengiriman,” jawabnya.
Kerutan tipis terbentuk di dahi Bram. “Untuk apa?”
“Mereka mengatakan akan ada evaluasi operasional.” jawab staf sambil menyodorkan berkas di tangannya.
Bram menerimanya, kemudian membukanya perlahan. Logo ARKATAMA INDUSTRIAL COMPONENTS tercetak di bagian atas, disusul pemberitahuan singkat mengenai pemeriksaan menyeluruh terhadap alur distribusi perusahaan.
Tidak disebutkan adanya pelanggaran, namun satu kalimat di bagian bawah cukup membuat Bram menahan tatapannya lebih lama. Pemeriksaan dilakukan atas instruksi langsung Direktur Utama Arkatama Group.
Bram meletakkan berkas itu di meja. “Kapan?”
“Tim dari kantor pusat akan memberikan informasi lebih lanjut hari ini.”
“Siapkan semua dokumen yang diminta,” perintah Bram setelah terdiam sejenak.
“Baik, Pak.”
Staf itu hendak berbalik ketika Bram kembali memanggil.
“Robin."
Pria itu menoleh. "Ya, Pak?"
“Pastikan tidak ada laporan yang tercecer. Terutama dokumen vendor,” ucap Bram.
“Baik.”
Pintu ruangan menutup.
Bram menyandarkan punggung pada kursinya. Lebih dari dua puluh lima tahun bekerja di bawah Arkatama Group membuatnya cukup memahami satu hal.
Kantor pusat tidak pernah melakukan pemeriksaan menyeluruh tanpa alasan. Apalagi jika perintah datang langsung dari direktur utama. Nama Damar Arkatama pun tidak tertulis di sana, tetapi ia tahu siapa yang membuat keputusan itu.
Jarinya mengetuk permukaan meja beberapa kali. “Sekarang apa lagi yang mereka cari?”
Gumaman itu tenggelam di antara suara mesin pabrik yang terdengar dari balik dinding.
.
.
.
Di tempat berbeda, lantai tertinggi kantor pusat Arkatama Group justru sedang berada dalam suasana yang jauh dari kata tenang.
“Dua audit internal dan kalian memberikan hasil yang sama?”
Suara Raksa Arkatama terdengar berat dari ujung meja rapat. Lelaki berusia lebih dari tujuh puluh tahun itu duduk tegak di kursinya. Di usia yang tidak lagi muda, wibawa di wajahnya sedikitpun tidak berkurang, bahkan masih mampu membuat beberapa direktur di ruangan tersebut memilih diam hanya dengan satu tatapan saja.
Damar Arkatama, sosok pria yang sudah menjadi menantunya selama lebih dari dua dekade yang duduk di sebelah kanannya menutup laporan di hadapannya.
“Tidak ditemukan penyalahgunaan dana dalam jumlah besar.”
Raksa mengetukkan ujung jarinya ke meja dengan ketukan tegas. “Aku tidak bertanya apa yang tidak kalian temukan.”
Damar menatap ayah mertuanya. “Biaya distribusi naik hampir dua puluh persen dalam tiga bulan, sementara volume pengiriman turun. Saya tahu itu tidak masuk akal.”
“Lalu?”
“Itulah sebabnya saya meminta pihak luar memeriksa,” jawab Damar.
Seorang pemuda yang sejak tadi duduk beberapa kursi dari mereka akhirnya mengangkat wajah. Ravian Arkatama, putra Damar sekaligus cucu dari Raksa Arkatama.
“Menggunakan konsultan dari luar bukankah justru akan membuat orang berpikir kita tidak percaya pada tim sendiri?” tanya Ravian.
Raksa menoleh cepat. “Menurutmu kita harus percaya?”
“Aku tidak bilang begitu, Kek," jawab Ravian cepat.
“Kalau begitu jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan,” sahut Raksa tegas yang membuat nyali Ravian menyusut seketika.
Damar mengembuskan napas pelan. “Ravian hanya menyampaikan pendapat, Ayah.”
“Dan aku sedang mengajarinya mempertanggungjawabkan pendapat itu,” sahut Raksa lebih tegas lagi.
Damar tidak bisa membantah. Ketegasan yang dimiliki ayah mertuanya sulit untuk dipatahkan. Hal itu pula lah yang membuat ayah mertuanya mampu mendirikan Arkatama Group dan tetap bisa berdiri hingga kini.
Ravian menundukkan pandangan pada dokumen di depannya. Namun, baru sepersekian detik ia berpikir bisa bernapas, sang kakek justru menyodorkan dokumen berbeda padanya.
“Kamu sudah membaca laporan distribusi ini?” tanya Raksa.
“Sudah.”
“Apa yang kamu temukan?” tanya Raksa.
Pertanyaan itu membuat Ravian terdiam. Warna pada wajahnya nyaris hilang seketika. Beberapa pasang mata yang menghadiri rapat beralih kepadanya, sementara ia membuka halaman demi halaman seolah berharap menemukan jawaban yang tepat.
“Biaya operasional meningkat," ucap Ravian.
Raksa tersenyum tipis tanpa kehangatan. “Itu tertulis jelas di halaman pertama. Aku tidak perlu calon penerus perusahaan untuk membacakannya kembali kepadaku.”
Rahang Ravian mengeras. Bukan karena marah, tetapi karena malu hingga ia mengepalkan tangannya di bawah meja
"Cukup, Yah," Damar segera menyela sebelum suasana semakin tegang.
Raksa menatap menantunya sekilas, kemudian bersandar. “Konsultan mana yang kamu gunakan?”
“Daneswara Crisis Management.”
Jawaban itu membuat salah seorang direktur mengangkat wajah dengan gerakan cepat. “Perusahaan Nona Keira Daneswari?”
Damar mengangguk. “Benar. Mereka mulai pemeriksaan minggu ini.”
Raksa menggenggam kepala tongkat yang sejak tadi bersandar di samping kursinya. “Jangan beri tahu mereka apa yang ingin kita temukan.”
“Aku memang tidak berniat melakukannya,” jawab Damar.
“Aku ingin laporan sebenarnya, bukan laporan yang dibuat untuk menyenangkan kita.”
Damar mengangguk.
Rapat berakhir beberapa menit kemudian. Satu per satu orang meninggalkan ruangan.
Ravian masih membereskan dokumennya ketika Damar menghampiri. “Jangan terlalu dipikirkan.”
Ravian tersenyum hambar. “Kakek benar.”
Alis Damar terangkat. “Benar tentang apa?”
“Aku bahkan tidak bisa menemukan sesuatu yang aneh dari laporan itu,” jawab Ravian.
“Karena kamu belum terbiasa.”
“Usiaku sudah dua puluh tiga tahun, Ayah,” sahut Ravian tidak puas.
Damar menepuk bahu putranya dengan penuh kasih. “Dan bukan berarti di usia dua puluh tiga tahun kamu harus sudah memahami seluruh perusahaan.”
Ravian tidak menjawab.
Dari sisi lain ruangan, Raksa sempat memperhatikan ayah dan anak itu sebelum berbalik pergi dengan kekecewaan yang tidak bisa disembunyikan di wajah tuanya.
. . .
. . .
. . .
To be continued...
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????