Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Barikade Istana
Pasca-insiden penyergapan berdarah di jalur perbukitan Bogor, atmosfer di lingkungan kehidupan Devan Dirgantara berubah secara drastis.
Jika sebelumnya pria itu dikenal sebagai pemimpin yang dominan, dingin, dan penuh perhitungan, maka tragedi yang nyaris merenggut nyawa istri serta calon anak pertamanya telah membangunkan sisi tergelap dari naluri protektifnya. Penthouse megah seluas lima ratus meter persegi yang berada di lantai teratas salah satu gedung pencakar langit paling eksklusif di kawasan Jakarta Selatan kini tak ubahnya sebuah benteng pertahanan lapis tiga.
Devan tidak lagi sekadar protektif; tingkat kewaspadaannya telah bergeser ke ranah posesif yang mendekati obsesi.
Di bawah instruksi langsung Devan tanpa kompromi, seluruh tata ruang penthouse dipeta ulang hanya dalam kurun waktu dua belas jam setelah mereka tiba dari rumah sakit. Seluruh sudut ruangan kini dilapisi oleh karpet impor ekstra tebal berbusa kerapatan tinggi guna meminimalisasi risiko sekecil apa pun jika Alina sampai terpeleset atau hilang keseimbangan.
Sudut-sudut furnitur berbahan kayu jati keras dan marmer mahal dilapisi oleh busa pelindung tak berwujud yang khusus dipesan dan diimpor langsung dari Italia.
Bahkan, sistem penerangan otomatis di seluruh area ruangan diprogram ulang agar selalu menyesuaikan dengan ritme sirkadian tubuh Alina, demi memastikan sang istri tidak mengalami disorientasi atau kelelahan indra penglihatan.
Tak berhenti sampai di situ, Devan mengambil keputusan radikal yang mengguncang jajaran eksekutif Dirgantara Group. Pria yang biasanya menghabiskan waktu enam belas jam sehari di kantor pusat lantai 18 itu resmi memangkas seluruh jadwal rapat tatap mukanya. Kursi kepemimpinan di ruang kerja utamanya ditinggalkan tanpa ragu. Sebagai gantinya, sebuah meja kerja darurat berdesain minimalis didirikan tepat di sudut ruang tidur utama, berdampingan langsung dengan tempat tidur berukuran king size tempat Alina beristirahat.
Devan memindahkan pusat kendali bisnis triliunan rupiahnya ke dalam kamar tidurnya sendiri, semata-mata agar matanya tidak pernah kehilangan jejak pergerakan Alina meski hanya untuk selapis detik.
"Mas Devan, ini baru jam enam pagi," gumam Alina pelan. Suaranya serak, khas seseorang yang baru saja terbangun dari tidur yang tidak nyenyak.
Ia berusaha memiringkan tubuhnya, namun pergerakannya terhalang oleh susunan bantal penyangga kehamilan yang mengepung tubuhnya dari berbagai sisi.
Matanya yang masih menyipit berusaha menyesuaikan dengan pencahayaan kamar yang remang-remang, menatap sosok suaminya yang sudah tampak rapi mengenakan kemeja putih bergulung lengan hingga siku.
Devan meletakkan cangkir porselen berisi teh kamomil hangat yang sudah disesuaikan suhunya di atas nakas. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria berbadan tegap itu berlutut di tepi tempat tidur. Jemarinya yang panjang dan hangat bergerak penuh kehati-hatian, menyusup di balik selimut sutra dan membelai lembut perut Alina yang kini mulai memperlihatkan kurva halus di usia kehamilan minggu kesebelas.
Tatapan Devan yang biasanya tajam dan menusuk seketika melunak, dihinggapi oleh kombinasi antara rasa syukur yang teramat sangat dan kepanikan terselubung yang belum sepenuhnya padam.
"Dokter Hendra akan tiba lima belas menit lagi untuk melakukan pemeriksaan ultrasound harian," kata Devan dengan nada suara rendah namun tidak menerima bantahan. "Kamu tidak boleh banyak bergerak sampai beliau memastikan aliran darah ke plasenta dan detak jantung bayinya benar-benar stabil."
Alina menghela napas pendek, menatap suaminya dengan campuran rasa haru dan sesak. "Harian? Mas Devan, kita baru saja pulang dari rumah sakit kemarin petang. Dokter spesialis obstetri mana pun di dunia ini tidak akan merekomendasikan prosedur USG dilakukan setiap hari. Itu sungguh berlebihan."
"Segala hal yang berkaitan dengan keselamatanmu dan anak kita tidak ada istilah berlebihan, Sayang," potong Devan cepat. Suaranya datar, namun ada getaran dominasi murni di balik artikulasinya. Tatapannya terkunci rapat pada manik mata Alina, seolah sedang menegaskan batas-batas kekuasaannya yang kini sepenuhnya melingkupi hidup wanita itu.
"Dokter Hendra sudah menandatangani kontrak eksklusif untuk mendampingi kehamilanmu secara privat. Beliau akan tinggal di salah satu unit di lantai bawah sampai proses persalinan selesai."
Alina melepaskan cengkeraman tangan Devan dari perutnya, mencoba duduk tegak meski ditahan oleh bantal-bantal di punggungnya. "Kamu menyewa dokter spesialis untuk tinggal di gedung ini? Mas Devan, aku ini sedang hamil anak pertamamu, bukan seorang pasien kritis yang sedang berjuang di ruang perawatan intensif! Sikapmu ini membuatku merasa seperti orang sakit."
"Aku tidak memintamu menjadi orang sakit, Alina," balas Devan seraya berdiri, menjulang tinggi di samping tempat tidur. Aura kepemimpinannya memancar kuat, memenuhi ruangan yang hening. "Aku hanya memastikan bahwa tidak ada satu pun celah kesalahan yang bisa dimanfaatkan oleh siapa pun untuk membahayakan kalian berdua lagi. Pengawalan di luar pintu depan penthouse ini sudah ditambah empat personel dari unit keamanan terbaik. Pak Bagas berada di pos penjagaan lorong utama. Dan ingat janji yang pernah kamu ucapkan: jangan pernah melangkah keluar ke area balkon tanpa Pak Bagas mendampingimu secara langsung."
Alina menyandarkan kepalanya pada sandaran tempat tidur, menyadari bahwa berdebat dengan Devan di pagi hari adalah sebuah usaha yang sia-sia. Pria itu telah membangun barikade psikologis dan fisik yang teramat kokoh pasca-penyergapan di Bogor. Ketakutan akan kehilangan orang yang paling dicintainya telah mengubah cinta Devan menjadi sebuah kurungan emas yang kaku.
Satu jam kemudian, pemeriksaan medis singkat oleh Dokter Hendra selesai dilakukan. Sang dokter spesialis menyatakan bahwa kondisi janin di dalam rahim Alina dalam keadaan sangat sehat, dengan detak jantung yang nyaring dan kuat. Namun, fakta medis tersebut rupanya belum cukup untuk menurunkan kadar kewaspadaan Devan.
Restriksi dan aturan baru yang diterapkan Devan terus berlanjut hingga ke aspek-aspek paling personal dari kehidupan sehari-hari Alina.
Sebelum Alina sempat beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri, ia mendapati bahwa seluruh lemari pakaian dan ruang penyimpanan pribadinya telah mengalami reorganisasi total. Seluruh koleksi sepatu hak tinggi, wedges, bahkan sandal dengan sol sedikit tebal milik Alina mendadak lenyap tanpa bekas dari rak-rak kustomnya.
Sebagai gantinya, berbaris rapi puluhan pasang sepatu datar berbahan serat kain lembut berteknologi memory foam yang dirancang khusus oleh perancang busana medis internasional untuk kenyamanan ergonomis ibu hamil. Tidak ada lagi gaun-gaun berpotongan ketat atau pakaian bermaterial kasar; semua digantikan oleh pakaian longgar berbahan katun organik paling halus yang ramah untuk kulit sensitif.
Saat Alina melangkah keluar dari walk-in closet dengan raut wajah tidak puas, Devan sedang berdiri di dekat meja kerjanya, baru saja mengakhiri panggilan telepon dengan tim analis keuangan perusahaan.
"Mas Devan, ke mana pergi semua sepatu dan pakaian kerjaku?" tanya Alina, menunjuk ke arah lemari yang kini hanya berisi pakaian-pakaian berpotongan longgar.
Devan meletakkan ponselnya, lalu melangkah menghampiri Alina tanpa terburu-buru. Dari dalam saku celananya, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil. Tanpa menjawab pertanyaan Alina terlebih dahulu, Devan membuka kotak tersebut dan mengeluarkan sebuah gelang logam berwarna perak dengan desain sangat minimalis namun memancarkan kesan futuristik.
"Pakai ini," perintah Devan tenang.
Alina menerima gelang tersebut dengan dahi berkerut rapat. Bahannya terasa dingin di kulit, namun sangat ringan. "Ini apa lagi, Mas Devan? Perhiasan baru?"
"Ini adalah gelang pemantau medis pintar berteknologi tinggi yang terkoneksi langsung dengan satelit privat milik Dirgantara Group," jelas Devan tanpa ragu, mengambil gelang itu dari tangan Alina lalu mengancingkan pengaitnya di pergelangan tangan kiri istrinya dengan gerakan cekatan. "Gelang ini dilengkapi sensor pencatat denyut jantung real-time, saturasi oksigen, suhu tubuh, hingga pelacak GPS presisi tinggi. Jika denyut jantungmu melonjak di atas batas normal karena stres, panik, atau kelelahan fisik, sinyal darurat berkode merah akan langsung terhubung ke ponselku, ponsel Dokter Hendra, dan pusat kendali keamanan Pak Bagas."