Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Balik Kaca Gelap
Suasana kompleks kampus Gedung Fakultas Seni dan Desain saat malam hari selalu menyisakan kesunyian yang mencekam. Lampu-lampu koridor yang menyala kekuningan hanya sanggup menerangi lorong-lorong sepi yang biasanya riuh oleh langkah kaki mahasiswa.
Di lantai tiga, pintu ruang unit keamanan dan kontrol digital kampus masih sedikit terbuka. Cahaya biru dari deretan layar monitor besar memantul di kaca jendela, memotong kegelapan ruangan.
Reyhan berdiri tegap di tengah ruangan berpendingin udara itu. Kemeja putihnya yang disingsingkan hingga batas siku tampak sedikit kusut, sebuah pemandangan yang sangat langka untuk seorang pria yang dikenal selalu berpenampilan rapi itu.
Kacamata berbingkai tipis masih bertengger di pangkal hidungnya, memantulkan kilatan cahaya dari layar monitor utama yang sedang menampilkan rekaman CCTV.
Seharusnya, pukul delapan malam Reyhan sudah berada di rumahnya yang nyaman, menikmati segelas teh hangat atau membaca jurnal akademis terbaru.
Namun, fakta bahwa Nadhira malam ini tidak berada di rumah melainkan menginap di kosan teman demi memperbaiki maket yang dihancurkan, membuat kediaman mereka terasa terlalu dingin dan lengang.
Rasa tidak tenang yang menggerogoti dadanya sejak siang tadi akhirnya menuntun langkah Reyhan ke ruangan ini. Sebagai dosen pengampu utama dan bagian dari tim penjaminan mutu laboratorium, Reyhan memiliki hak akses penuh untuk meminta salinan rekaman kamera pengawas tanpa perlu melewati birokrasi rumit dekanat.
"Ini rekaman dari dua kamera yang mengawasi lorong dan akses pintu masuk Laboratorium Media Cetak, Pak Reyhan," ujar petugas keamanan kampus seraya menggeser mouse.
"Arsipnya tercatat sejak kemarin sore pukul lima, saat jam operasional laboratorium mulai ditutup," lanjut petugas itu.
"Tolong putar rekaman dari pukul setengah enam sore hingga pukul tujuh malam kemarin," perintah Reyhan dengan intonasi berat dan datar. "Fokuskan pada pergerakan orang yang melintas atau memasuki area pintu belakang."
Petugas keamanan mengangguk, jari-jarinya menari cepat di atas papan ketik. Layar monitor berukuran tiga puluh dua inci itu langsung menampilkan garis waktu video berkecepatan dua kali lipat.
Mata tajam Reyhan meneliti setiap detik pergerakan angka di sudut bawah layar. Sorot matanya sangat pekat, tidak melewatkan satu detail pun.
Pada pukul lima lewat empat belas menit, video merekam sosok Nadhira dan Kania yang keluar dari laboratorium sambil membawa tas portofolio.
Nadhira tampak mengunci pintu laboratorium dari luar, menaruh kunci cadangan di dalam kotak penyimpanan bersandi dekat meja piket, lalu melangkah pergi menyusuri koridor.
"Hentikan di detik ini," potong Reyhan tegas saat garis waktu menunjukkan pukul enam kurang seperempat sore.
Video terhenti. Suasana koridor dalam rekaman itu tampak lengang. Namun, beberapa detik kemudian, sebuah bayangan muncul dari arah tangga darurat sisi timur, area yang berada di titik buta kamera utama, namun tetap tertangkap tipis oleh lensa sekunder di sudut lorong.
Sosok itu mengenakan jaket hoodie berukuran kebesaran berwarna hitam dengan penutup kepala yang ditarik rendah hingga menutupi sebagian besar wajahnya.
Orang tersebut berjalan dengan langkah terburu-buru, mengedarkan pandangan ke sekeliling sebelum mendekati kotak penyimpanan kunci laboratorium.
"Perbesar bagian tangan dan pergelangan tangannya," instruksi Reyhan dingin.
Petugas keamanan melakukan zoom-in hingga piksel gambar membesar. Meski wajah pelaku terhalang bayangan penutup kepala, kamera berhasil menangkap dengan jelas detail pergelangan tangan kanannya saat menekan tombol sandi kotak kunci.
Di pergelangan tangan kanan sosok itu, melingkar sebuah gelang rantai perak tipis dengan liontin berbentuk bintang kecil. Selain itu, saat sosok itu menarik kunci, bagian lengan jaketnya terangkat sedikit, memperlihatkan jam tangan ber-strap kulit warna cokelat muda yang sangat khas.
Reyhan menyipitkan matanya di balik kacamata. Ingatan visualnya yang kuat langsung bekerja bagai mesin pemindai. Jam tangan cokelat muda dan gelang rantai perak itu, ia pernah melihatnya belum lama ini.
Dalam rekaman video selanjutnya, sosok ber-hoodie itu membuka pintu laboratorium menggunakan kunci resmi, masuk ke dalam selama kurang lebih delapan menit, lalu keluar kembali dengan tergesa-gesa.
Sebelum pergi melarikan diri ke arah tangga darurat, sosok itu sempat berbalik sebentar ke arah kamera pengawas, dan refleks tangan kirinya menaikkan penutup hoodie yang agak melorot.
Pada detik singkat itulah, sebagian sisi wajah sebelah kiri pelaku tersapu cahaya lampu koridor.
"Stop!" seru Reyhan pendek.
Gambar terkunci. Meski hanya sepersekian detik, garis rahang, bentuk anting kecil di daun telinga kiri, serta profil samping wajah itu terpampang cukup jelas.
Petugas keamanan itu menarik napas pendek. "Pak Reyhan... ini bukannya mahasiswi angkatan dua puluh tiga juga? Yang tadi pagi ikut berdebat di lab?"
Reyhan tidak langsung menjawab. Rahangnya mengetat keras hingga garis otot di sekitar pipinya menegang. Sorot mata di balik lensa fisiknya mendadak begitu dingin dan menusuk, memancarkan amarah yang terhalang oleh kendali diri yang luar biasa tebal.
Sosok dalam rekaman itu tidak lain adalah Siska.
Mahasiswi yang tadi pagi berdiri paling depan menyuarakan agar Nadhira didiskualifikasi dan tidak diberikan toleransi waktu.
Mahasiswi yang pura-pura bersikap paling menjunjung tinggi keadilan dan peraturan pengumpulan tugas, padahal dialah eksekutor berdarah dingin yang menyusup masuk, menekan struktur akrilik milik Nadhira hingga patah, dan menumpahkan tinta stempel di atas karya tersebut.
"Pak Reyhan... mau saya langsung buatkan laporan pelanggaran ke pihak dekanat malam ini?" tawar petugas keamanan ragu melihat aura intimidatif yang meluap dari diri dosen muda di sebelahnya.
Reyhan menyandarkan satu tangannya di tepi meja kontrol, membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengah. Napasnya teratur, namun setiap helaannya membawa hawa dingin yang mencengkeram.
"Tidak perlu malam ini," jawab Reyhan dengan suara rendah yang amat tenang, namun mengandung bahaya terselubung. "Simpan salinan rekaman video ini dari tiga sudut kamera ke dalam flashdrive. Ambil pula tangkapan layar berresolusi tinggi pada bagian jam tangan, gelang perak, dan profil wajah pelaku."
"B-baik, Pak."
"Jangan salurkan rekaman ini ke pihak manapun sebelum ada instruksi langsung dari saya," tambah Reyhan tegas. "Prosedur penanganan kasus ini akan saya ambil alih sepenuhnya besok sore."
"Siap, Pak Reyhan."
Lima belas menit kemudian, Reyhan melangkah keluar dari gedung unit keamanan membawa sebuah kandar kilat hitam di dalam saku kemejanya.
Langkah kakinya menggema di sepanjang lorong sepi yang gelap. Udara malam yang berembus makin dingin menampar wajahnya, namun pikiran Reyhan dipenuhi oleh perhitungan matematis yang cermat.
Sebagai seorang akademisi, Reyhan bisa saja melaporkan Siska saat ini juga dan membiarkan dekanat menjatuhkan sanksi skorsing. Namun, Reyhan tahu betul bagaimana dunia akademis bekerja.
Jika ia memprosesnya sekarang tanpa kehadiran korban, ada kemungkinan pihak keluarga pelaku atau pengacara akan mencoba mencari celah hukum untuk mengaburkan bukti.
Reyhan ingin Siska berdiri di tempat yang sama besok sore pukul empat tepat, di saat Nadhira menyerahkan hasil maketnya. Ia ingin menjatuhkan hukuman tersebut di puncak rasa percaya diri sang pelaku, di depan tim dosen dan rekan-rekannya, agar tidak ada satu orang pun yang bisa meragukan kebenaran sabotase ini.
Reyhan merogoh saku celananya, mengambil ponsel pintarnya. Ia membuka layar utama dan melihat peta digital berbagi lokasi yang dikirimkan oleh Nadhira tadi sore.
Sebuah titik hijau berkedip pelan di area pemukiman kos-kosan dekat pintu samping kampus, menunjukkan posisi istrinya.
Reyhan menggeser layar, melihat pesan teks terakhir dari Nadhira yang dikirim satu jam lalu.
Nadhira: Pak Reyhan, saya udah selesai potong pola akrilik yang baru. Sekarang lagi mau ditempel pakai lem presisi. HP saya taruh di charger sebelah meja ya Pak, baterainya aman kok.
Sudut bibir Reyhan yang tajam terangkat sangat tipis. Rasa pegal dan amarah yang membakar dadanya perlahan terurai, berganti dengan rasa bangga yang terselubung rapat. Nadhira tidak menyerah.
Di saat orang lain mencoba menjatuhkannya dengan cara kotor, gadis itu justru berjuang membuktikan kapasitas dirinya tanpa banyak mengeluh.
Reyhan menatap titik hijau di layar ponselnya cukup lama. Ada dorongan kuat di dalam hatinya untuk mengendarai mobilnya sekarang juga, berhenti di depan gang kosan Kania, hanya sekadar untuk memastikan Nadhira tidak melukai jemarinya lagi dengan pemotong akrilik. Namun, janji dan batasan yang ia tetapkan sendiri menahannya.
Pria itu menekan tombol panggil pada kontak Nadhira.
Hanya butuh dua kali nada dering sebelum suara riang yang amat dihafalnya menyapa dari ujung telepon.
"Halo, Pak Reyhan," suara Nadhira terdengar sedikit pelan.
"Ini belum jam sebelas malam kan, Pak? Saya ingat syarat dari Pak Reyhan kok!"
Reyhan menyandarkan tubuhnya pada pintu mobilnya yang terparkir di pelataran Gedung FSD yang sepi. Pria itu menatap langit malam yang bersih tanpa bintang.
"Saya tahu," kata Reyhan datar, mencoba menetralkan nada suaranya agar tidak terdengar emosional. "Saya hanya melakukan pemeriksaan rutin. Bagaimana kemajuan rakitan maket kamu?"
"Lancar banget, Pak! Kania bantuin pegangin sudut akriliknya, jadi sambungan lemnya bersih banget tanpa bekas putih. Media cetak miniaturnya juga udah dicetak ulang pakai kertas foto matte. Besok dijamin rapi sesuai standar Pak Reyhan!" cerita Nadhira beruntun tanpa jeda, memamerkan kebahagiannya.
Reyhan mendengarkan setiap kalimat itu dengan saksama. Kehangatan melingkupi dadanya di tengah dinginnya angin malam kampus.
"Jangan terlalu percaya diri sebelum hasil fisiknya diuji kekuatan sambungannya besok," potong Reyhan kaku, meski matanya memancarkan kelembutan.
"Ingat syarat kedua saya. Tepat pukul sebelas malam, hentikan semua aktivitas pemotongan dan tidur."
"Iya, Pak Dosenku yang galak," goda Nadhira pelan sambil tertawa kecil di seberang sana. "Pak Reyhan udah di rumah?"
"Baru saja selesai mengurus beberapa dokumen di kampus. Saya akan pulang sekarang." Reyhan sengaja tidak menyebutkan bahwa 'dokumen' yang ia urus adalah rekaman CCTV pemburu pelaku sabotase karya istrinya.
"Oh... gitu. Hati-hati di jalan ya, Pak. Jangan lupa makan malam, tadi pagi kan cuma makan bekal sosis dari saya."
Reyhan terdiam sejenak. Kata-kata perhatian yang sederhana itu meluncur begitu alami dari mulut Nadhira, membuat rasa sepi di rumah mereka yang akan ia datangi nanti terasa sedikit lebih tertanggungkan.
"Hm. Kamu juga. Kunci pintu kamar kosan teman kamu dengan benar," pesan Reyhan pendek.
"Siap, Pak Reyhan. Selamat malam!"
"Selamat malam, Nadhira."
Reyhan mematikan sambungan telepon. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja, melangkah masuk ke dalam mobil SUV hitamnya, dan menyalakan mesin.
Saat mobil berputar melintasi jalanan kampus yang lengang, jemari Reyhan menepuk-nepuk kemudi secara teratur. Matanya menatap lurus ke jalan raya di depannya. Salinan bukti rekaman di saku kemejanya terasa begitu berat, siap untuk dibuka besok sore.
"Tunggulah sampai besok pukul empat sore, Siska. Kamu tidak hanya akan melihat Nadhira menyerahkan karya terbaiknya, tapi kamu juga akan membayar harga dari setiap tetes air mata yang kamu jatuhkan dari mata istri saya pagi tadi," ucap Reyhan membatin.
...Bersambung... ...