Indonesia
NovelToon NovelToon
Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 — Malam di Cendana

Seragam vendor teknisi terasa asing di tubuh Raka, jauh berbeda dari seragam Praetora yang sudah mulai terasa seperti kulit kedua. Ia dan Bara berdiri di lobi Cendana Data Nusantara pukul sebelas malam, membawa kotak peralatan berisi kabel dan perkakas — dan satu perangkat kecil dari Wulan yang tersembunyi di dasar kotak, dirancang untuk menyalin data server dalam hitungan menit begitu terhubung.

Dimas menyambut mereka di pintu keamanan, wajahnya tegang tapi profesional di depan petugas jaga malam. "Tim vendor untuk pembaruan sistem pendingin server, sudah terjadwal," katanya, menunjukkan dokumen yang sudah disiapkan Wulan dua hari sebelumnya.

Petugas jaga memeriksa layar komputernya, mencocokkan nama dengan sistem penjadwalan vendor, lalu mengangguk, membiarkan mereka melewati pemindai biometrik pertama — meski Raka dan Bara hanya perlu menunjukkan identitas palsu untuk pemeriksaan awal, tidak memerlukan sidik jari asli karena status mereka sebagai "kontraktor tamu", bukan karyawan tetap.

"Kalian sudah masuk lobi," bisik Wulan lewat earpiece dari van pemantau di parkiran luar. "Kamera koridor utama akan aku putar ke rekaman loop selama dua puluh menit begitu kalian mendekati area server."

Lorong menuju ruang server dingin dan senyap, hanya diterangi lampu LED putih yang berdengung pelan. Dimas memimpin mereka melewati pintu kedua, menempelkan kartu aksesnya sendiri sambil memasukkan kode — otorisasi tunggal yang cukup untuk area maintenance umum, tapi tidak untuk ruang arsip finansial yang lebih dalam.

"Server utama di sini," Dimas menunjukkan deretan rak yang berdengung, "tapi dokumen kontrak dan data finansial yang kalian cari, disimpan terpisah, di ruang arsip digital lantai bawah — butuh otorisasi ganda dari dua staf senior berbeda."

"Kau bilang kau punya satu otorisasi," kata Bara. "Kita butuh yang kedua."

Dimas menelan ludah, mengeluarkan sebuah kartu akses lain dari sakunya — bukan miliknya sendiri. "Kartu ini milik supervisorku. Aku... meminjamnya tanpa izin sore ini, saat dia lengah meninggalkannya di meja."

"Itu berisiko," gumam Raka, meski tidak ada waktu untuk memilih opsi lain.

Mereka bergerak turun ke lantai bawah, melewati satu pos penjagaan kedua yang untungnya kosong — petugas yang seharusnya berjaga di sana sedang melakukan ronde keliling gedung, sesuai jadwal patroli yang sudah dipetakan Wulan sebelumnya.

Ruang arsip digital lebih kecil dari ruang server utama, berisi beberapa terminal komputer yang hanya bisa diakses dengan otorisasi ganda — Dimas memasukkan kartunya sendiri di satu sisi, dan kartu curian di sisi lain, menahan napas ketika lampu indikator berkedip merah sejenak sebelum akhirnya berubah hijau.

"Kita masuk," bisiknya, lega.

Raka segera menyambungkan perangkat kecil Wulan ke terminal, membiarkan proses penyalinan berjalan otomatis sementara ia dan Bara berjaga di pintu, mengawasi kemungkinan gangguan.

"Data mulai tersalin," lapor Wulan lewat earpiece, suaranya tegang menghitung waktu. "Perkiraan tujuh menit untuk seluruh arsip kontrak dan finansial lima tahun terakhir."

Detik-detik berlalu terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Di menit kelima, langkah kaki terdengar mendekat dari lorong luar — bukan langkah petugas patroli reguler yang sudah mereka petakan, tapi langkah yang tidak terjadwal, tergesa, seperti seseorang yang baru menyadari sesuatu yang salah.

"Kartu supervisorku," bisik Dimas, wajahnya pucat pasi. "Dia mungkin sudah menyadarinya hilang."

"Raka, seseorang baru masuk area lobi dan langsung menuju lift ke lantai bawah," Wulan memperingatkan cepat. "Aku tidak bisa menahannya tanpa memicu alarm sistem yang lebih besar."

"Berapa lama lagi penyalinan selesai?" Raka bertanya, matanya sudah menghitung jarak ke pintu keluar alternatif yang mereka petakan sebelumnya.

"Dua menit."

"Kita tidak punya dua menit," gumam Bara, sudah bersiap di posisi pertahanan dekat pintu.

Raka berpikir cepat, mengambil keputusan dalam hitungan detik seperti yang selalu ia lakukan dalam misi-misi lamanya. "Dimas, kau tetap di sini, berpura-pura sedang memeriksa sistem pendingin seperti yang tertulis di dokumen vendor. Kalau supervisormu datang, kau yang menjelaskan, bukan kami."

"Bagaimana dengan kalian?"

"Kami akan bersembunyi di ruang penyimpanan peralatan di ujung lorong sampai penyalinan selesai," jawab Raka, sudah bergerak menarik Bara ke arah pintu kecil yang mereka lihat sebelumnya.

Mereka berdua menyelinap masuk ke ruang penyimpanan sempit tepat sebelum langkah kaki itu mencapai ruang arsip. Dari balik pintu yang sedikit terbuka, Raka melihat seorang wanita berseragam supervisor memasuki ruangan, wajahnya bingung menatap Dimas yang tengah berlutut memeriksa unit pendingin dengan tenang yang dipaksakan.

"Dimas? Kau lihat kartu aksesku? Aku yakin aku meninggalkannya di sini sore ini."

"Oh, aku... aku tidak melihatnya, Bu. Mungkin terjatuh di ruangan lain?" jawab Dimas, suaranya nyaris sempurna tenang meski Raka tahu betapa kerasnya usaha yang tersembunyi di baliknya.

Wanita itu mengangguk, tampak percaya, mulai memeriksa sekitar meja terminal — tepat di dekat tempat kartu curian itu masih tersambung ke slot otorisasi.

"Penyalinan selesai," bisik Wulan tepat di detik yang sama, membuat Raka menghembuskan napas lega yang tertahan.

Dimas, tanpa terlihat mencolok, mencabut kartu itu sambil berpindah posisi seolah sedang mengambil alat lain, menyelipkannya kembali ke lantai dekat kaki meja seolah baru terjatuh di sana.

"Ah, ini dia," katanya, menunjuk ke lantai. "Mungkin terjatuh saat kau bergerak tadi, Bu."

Supervisor itu mengambil kartunya dengan lega, tidak sedikit pun mencurigai apa yang sebenarnya baru terjadi. "Terima kasih, Dimas. Selesaikan pekerjaanmu, aku akan kembali ke atas."

Begitu wanita itu keluar ruangan, Raka dan Bara menunggu sepuluh detik penuh sebelum keluar dari persembunyian mereka, data berharga sudah tersimpan aman dalam perangkat kecil di tangan Raka.

"Kita berhasil," gumam Bara, meski suaranya masih menyimpan ketegangan yang belum sepenuhnya reda.

Raka menatap Dimas yang masih gemetar ringan dari ketegangan yang baru dilaluinya. "Kau melakukannya dengan sangat baik, malam ini."

"Aku hampir mati berdiri saat dia masuk," Dimas mengakui, tertawa gemetar. "Tapi ya. Kita berhasil."

Mereka keluar dari gedung satu per satu dengan jarak waktu berbeda, sesuai rencana, kembali menyatu dengan kegelapan kota yang tak pernah sepenuhnya menyadari betapa dekat kebenaran besar baru saja hampir terbongkar — atau hampir gagal — di dalam salah satu gedungnya yang paling tersembunyi.

1
Eka P
c
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!