Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 : Sudah melakukan dengan benar?
Kota Highcrest berdiri ramai di bawah langit siang. Gedung-gedung tinggi menjulang rapat, memantulkan cahaya matahari ke jalanan yang sibuk. Di kawasan Nightfall Block, taman-taman kota dipenuhi orang, ada yang duduk di bangku kayu, ada yang berjalan santai, ada pula yang hanya menghirup udara siang seolah ingin melupakan kesibukan sesaat.
Di antara keramaian itu, sebuah mobil hitam melaju cepat di ruas jalan yang lebih lengang.
Blair duduk di balik kemudi, tatapannya lurus ke depan. Tangannya mantap menggenggam setir, kecepatannya konstan hingga akhirnya ia menginjak rem dan menghentikan mobil tepat di depan sebuah gereja tua.
Ia mematikan mesin.
Beberapa detik berlalu sebelum Blair membuka pintu dan keluar. Pandangannya terangkat menatap bangunan itu, dinding batu pucat, jendela kaca patri yang memantulkan cahaya samar. Ada keheningan yang terasa berbeda dari hiruk-pikuk kota.
Blair melangkah masuk, meninggalkan mobilnya terparkir di luar.
Begitu melewati pintu aula, ia menghentikan langkah.
Di salah satu bangku, seorang wanita duduk menunduk. Rambutnya tertutup tudung, membuat wajahnya tak terlihat jelas dari belakang. Bahunya sedikit bergetar. Isak tangis pelan terdengar, nyaris menyatu dengan sunyi ruangan.
Blair menyipitkan mata.
Wanita itu tampak sedang berdoa.
Blair melangkah masuk lebih jauh. Suara hak tingginya memantul pelan di lantai, memecah keheningan. Ia berniat mencari bangku lain, tanpa mengganggu.
Namun sebelum ia sempat duduk, wanita itu tiba-tiba berdiri dengan tergesa.
Gerakan itu membuat Blair berhenti.
Tatapan Blair menajam saat wanita tersebut bergegas menuju lorong keluar. Blair kembali berdiri tegak.
“Apakah kau sudah selesai?” tanya Blair tenang. “atau kedatanganku mengganggumu?”
Wanita itu berhenti tepat di sampingnya. Posturnya sedikit membungkuk. Kepalanya tertunduk saat menjawab, suaranya lirih dan tergesa.
“Tidak,” katanya. “kau tidak menggangguku.”
Ia menarik napas singkat.
“Aku memang sudah selesai… dan harus pergi. Ada urusan yang perlu kuselesaikan.”
Tanpa menunggu balasan, wanita itu melangkah pergi. Cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang baru saja berdoa.
Pandangan Blair mengikuti punggungnya hingga sosok itu menghilang di balik pintu aula. Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Blair menoleh ke bangku tempat wanita itu duduk tadi.
Perlahan, ia melangkah mendekat. Berdiri di samping bangku itu, matanya tertuju pada sesuatu di atas dudukan kayu, selembar kertas terlipat, ujungnya sedikit hangus, seolah sempat disentuh api.
Blair mengambilnya. Ia membuka lipatan itu dengan hati-hati. Tulisan tangan tampak ada di dalamnya.
“Apa aku sudah melakukannya dengan benar?”
Blair terdiam.
Beberapa detik berlalu sebelum jemarinya mengencang, meremas kertas itu di dalam genggamannya. Ia mengangkat kepala, menatap ke arah pintu aula, tempat terakhir wanita itu menghilang.
"Ada apa dengannya?" gumamnya pelan.
...
Di sisi lain, Lucas masih berada di ruang kantor hakim.
Ia berdiri di dekat meja, lalu berjalan ke jendela, kembali berbalik, lalu berhenti di tengah ruangan hanya untuk mengulanginya lagi. Ponsel di tangannya sudah beberapa kali menyala. Ia menatap layar, berharap ada nama Blair muncul di sana.
Tidak ada.
Ia menghela napas, lalu cepat-cepat membuka aplikasi pesan dan mengirim satu lagi.
Blair, di mana kau? Setidaknya beri kabar.
Pesan itu kembali tak terjawab.
Lucas menurunkan ponselnya perlahan. Wajahnya semakin pucat saat menyadari waktu. Sudah lebih dari tiga jam sejak Blair meninggalkan gedung pengadilan.
Tiga jam tanpa kabar.
Jika pria itu, tuan pengawas mengetahui Blair tidak berada di gedung saat jam kerja, masalahnya tidak akan kecil. Lucas menggertakkan giginya, kembali mondar-mandir dengan langkah gelisah.
“Tenang… tenang,” gumamnya, lebih seperti usaha menenangkan diri sendiri. “Dia pasti hanya—”
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.
Lucas tersentak. Suara berat terdengar, datar namun mengandung sindiran tipis.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Lucas membeku di tempat.
“Mondar-mandir seperti itu?”