Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Seminggu setelah melahirkan, rumah Vivienne terasa jauh lebih tenang. Suara tangisan kecil sesekali terdengar dari kamar bayi, lalu disusul suara langkah Estelle yang tergesa-gesa ketika membantu merawat Arabella.
Vivienne sendiri masih dalam masa pemulihan. Tubuhnya belum sepenuhnya kembali kuat, tetapi setiap kali melihat bayi mungil di dalam pelukannya, rasa lelah itu seakan menghilang.
Bayi perempuan itu diberi nama Arabella Aschroft dan dipanggil Ara.
Pagi itu, Vivienne duduk di sofa sambil menggendong Ara. Bayi kecil itu tidur pulas dengan wajah damai. Vivienne menundukkan kepala, lalu mengecup keningnya.
"Halo, Ara," sapa Vivienne pelan sambil tersenyum. "Tidurnya nyenyak sekali."
Estelle yang sedang membawa botol susu dari dapur tersenyum melihat pemandangan itu.
"Dia memang anak yang pintar," ujar Estelle sambil meletakkan botol di meja. "Tidak banyak rewel kalau sudah digendong kamu."
Vivienne tertawa kecil. "Dia tahu siapa ibunya."
Estelle duduk di sampingnya. "Jangan terlalu lama menggendong kalau tubuhmu masih lemah," kata Estelle sambil memperhatikan wajah Vivienne. "Kamu baru seminggu melahirkan."
"Aku tidak apa-apa," jawab Vivienne sambil mengusap punggung Ara.
Estelle menghela napas. "Kamu selalu bilang begitu."
Vivienne tersenyum tipis. "Karena memang aku tidak apa-apa."
Estelle menatap sahabatnya beberapa saat. Ia tahu Vivienne masih lelah. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih kuat daripada rasa lelah itu, ketakutan.
Vivienne takut seseorang datang dan mengambil Ara darinya. Karena itulah kelahiran bayi itu sengaja dirahasiakan dari keluarga Dominic. Tidak ada kabar yang dikirim kepada Victoria. Bahkan tidak ada seorang pun dari keluarga Aschroft yang diberi tahu bahwa Vivienne telah melahirkan.
Vivienne ingin memastikan Ara aman terlebih dahulu. Ia tidak mau mengambil risiko.
"Vivi," ujar Estelle pelan.
"Hm?"
"Menurutmu mereka akan mencari tahu?"
Vivienne terdiam. Tangannya berhenti mengusap punggung Ara. "Mereka pasti akan mencari tahu," jawabnya akhirnya.
Estelle mengerutkan kening. "Kalau begitu, kamu sudah menyiapkan semuanya?"
Vivienne mengangguk. "Aku sudah meminta semua orang di rumah untuk tidak memberikan informasi apa pun kepada siapa pun."
"Bagus." Vivienne menatap wajah Ara.
"Aku tidak peduli mereka marah." Suaranya terdengar tenang. "Yang penting Ara aman."
Estelle tersenyum tipis. "Kamu akan menjadi ibu yang hebat, Vivi!"
Vivienne tertawa kecil.
Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama. Suara bel rumah tiba-tiba terdengar.
Ting tong!
Vivienne mengangkat wajah. Estelle juga langsung menoleh ke arah pintu.
"Siapa?" tanya Vivienne dengan suara pelan.
Estelle berdiri. "Aku lihat dulu."
Estelle berjalan menuju pintu depan. Ia melihat layar kamera pengawas yang terpasang di dinding. Begitu melihat siapa yang berdiri di luar, wajahnya langsung berubah.
"Vivi ...!"
"Ada siapa?" tanya Vivienne.
Estelle menoleh. "Victoria dan Grace. Mereka datang."
Senyum Vivienne langsung menghilang. Tangannya refleks memeluk Ara lebih erat.
Estelle berjalan kembali menghampirinya. "Kamu mau aku suruh mereka pergi?"
Vivienne menatap pintu. Beberapa detik ia terdiam. Tatapan Vivienne berubah dingin.
Bel rumah kembali berbunyi. Kali ini lebih lama.
Ting tong! Ting tong!
Vivienne menunduk melihat Ara yang masih tertidur. "Tenang, Sayang," bisik Vivienne sambil mengecup kepalanya. "Mama tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu."
Estelle akhirnya membuka pintu. Victoria langsung melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan.
"Di mana bayinya?" tanya Victoria dengan nada tinggi.
Estelle menutup pintu perlahan. "Selamat pagi juga, Victoria."
Victoria mengabaikannya. "Vivienne di mana?"
"Di ruang keluarga."
Grace ikut masuk sambil melihat sekeliling rumah. "Aku ingin melihat anak Kak Dominic," ujar Grace dengan mata berbinar.
Estelle langsung menatapnya tajam. "Dia bukan barang pajangan."
Grace mendengus. "Kami keluarganya."
Estelle menyilangkan tangan di depan dada.
Victoria akhirnya berjalan menuju ruang keluarga. Begitu melihat Vivienne duduk sambil menggendong bayi, langkahnya langsung berhenti. Matanya membesar.
"Itu...!"
Vivienne mengangkat wajah. Tatapannya tenang.
"Selamat pagi, Victoria."
Victoria tidak menjawab salam itu. Tatapannya hanya tertuju kepada bayi di pelukan Vivienne.
"Jadi benar."
Victoria melangkah mendekat.
"Kamu sudah melahirkan."
Vivienne mengusap punggung Ara. "Iya."
"Kenapa kami tidak diberi tahu?" tanya Victoria dengan suara menahan marah.
Vivienne tersenyum tipis. "Karena aku tidak ingin memberi tahu."
Victoria membeku. "Apa?"
"Aku tidak ingin memberi tahu kalian," ulang Vivienne dengan nada tenang.
Grace langsung maju. "Vivi, kami hanya ingin melihat bayinya."
Vivienne menatap Grace. "Kamu sudah melihatnya."
Grace mengerutkan kening. "Aku ingin menggendongnya."
"Tidak."
Jawaban Vivienne begitu cepat hingga Grace langsung terdiam. Victoria ikut tersulut.
"Vivienne! Dia cucuku!" bentak Victoria.
Vivienne mengangkat wajah. "Dan aku ibunya." Ruangan mendadak sunyi.
Victoria mengepalkan tangan. "Kamu sengaja menyembunyikan kelahiran anak itu dari keluarga Aschroft!"
"Iya." Vivienne tidak membantah.
"Kenapa?" tanya Victoria dengan suara bergetar karena marah.
Vivienne menatap wanita itu beberapa detik.
"Karena aku tahu apa yang akan kalian lakukan."
Victoria terdiam.
Grace juga tidak mampu langsung menjawab. Vivienne melanjutkan dengan suara tetap lembut.
"Kalian datang bukan karena ingin memastikan kondisiku."
Ia mengusap pipi Ara dengan ujung jarinya. "Kalian datang karena ingin mengambil bayi ini."
Wajah Victoria berubah.
"Kamu bicara apa?"
"Aku tidak bodoh, Victoria." Nada suara Vivienne masih tenang, tetapi setiap katanya terasa tajam.
"Sejak awal kalian sudah menganggap bayi ini sebagai milik keluarga Aschroft."
Victoria langsung menunjuk Ara. "Dia memang bagian dari keluarga kami!"
Vivienne mengangkat alis. "Begitu?"
"Dia anak Dominic!" bentak Victoria.
Vivienne menatapnya tanpa berkedip. "Dominic sedang berada di penjara."
Victoria terdiam.
"Kamu jangan menggunakan keadaan itu untuk mengambil anaknya!" lanjut Vivienne.
"Aku tidak mengambil apa pun!" bantah Victoria dengan wajah merah. "Aku hanya ingin cucuku!"
"Kalau hanya ingin melihat, silakan."
Vivienne menunjuk dari kejauhan. "Tapi kalau ingin menyentuh, menggendong, atau membawanya pergi, jawabanku tetap sama."
Ia memeluk Ara lebih erat. "Tidak."
Grace mulai kesal. "Vivi, jangan berlebihan. Bagaimanapun juga, Ara adalah anak kakakku."
Vivienne menatap Grace. "Kalau begitu, tunggu sampai semuanya jelas."
"Jelas apa?" tanya Grace.
Vivienne tersenyum tipis.
"Jelas bahwa tidak seorang pun bisa mengambil anak yang aku lahirkan hanya karena merasa memiliki hubungan darah dengannya."
Victoria langsung melangkah maju. "Aku akan memperjuangkan cucuku!"
Estelle yang sejak tadi berdiri di belakang akhirnya ikut bersuara. "Silakan."
Victoria menoleh tajam. "Kamu jangan ikut campur, Estelle."
Estelle tersenyum dingin. "Aku justru akan ikut campur kalau kalian mencoba membuat Vivienne tertekan."
Victoria mendengus. "Kamu pikir aku takut?"
Estelle mengangkat bahu. "Seharusnya kamu takut kalau memang berniat melakukan sesuatu yang melanggar hukum."
Grace memutar mata. "Selalu saja ikut campur."
Estelle tersenyum. "Karena kalian selalu membuat masalah."
Vivienne hampir tersenyum mendengar jawaban sahabatnya. Namun, ketika melihat Victoria kembali menatap Ara, ekspresinya berubah serius.
"Victoria."
"Hm?"
"Jangan pernah datang ke rumah ini untuk mencoba mengambil anakku."
Victoria menatapnya penuh kemarahan. "Dia bukan hanya anakmu."
Vivienne mengusap kepala Ara. "Untuk sekarang, dia hanya membutuhkan ibunya."
Victoria terdiam.
Vivienne kemudian berdiri perlahan. Tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi ia tetap berdiri tegak sambil memeluk Ara.
"Aku sudah kehilangan terlalu banyak orang dalam hidupku." Suaranya bergetar sedikit. "Aku tidak akan kehilangan anakku."
Victoria menatap Vivienne dengan wajah merah karena marah. "Kamu akan menyesal."
"Kita lihat saja." Vivienne tersenyum mengejek.
Victoria akhirnya berbalik. "Grace, ayo!"
Grace masih memandang Ara beberapa detik sebelum mengikuti Victoria. Sebelum keluar, Victoria kembali menoleh.
"Ini belum selesai."
Vivienne menatapnya tenang. "Aku tahu."
Pintu akhirnya tertutup. Rumah kembali sunyi. Estelle mengembuskan napas panjang.
"Aku benar-benar ingin mengusir mereka sejak tadi."
Vivienne menatap Ara yang masih tertidur.
"Aku tahu." Estelle mendekat. "Kamu baik-baik saja?"
Vivienne mengangguk. "Ya."
Namun, ketika Estelle melihat mata Vivienne yang mulai berkaca-kaca, ia tahu sahabatnya sebenarnya masih takut.
Estelle menyentuh bahu Vivienne. "Mereka tidak akan mengambil Ara dengan mudah."
Vivienne menunduk dan mengecup kening putrinya. "Aku juga tidak akan menyerah."
Di dalam pelukannya, Ara bergerak kecil. Vivienne tersenyum.
"Tenang, Sayang." Ia mengusap pipi mungil putrinya. "Selama Mama masih ada, tidak akan ada seorang pun yang mengambilmu."
Ara pasti sangat menggemaskan pakai baju princess