Dia adalah Black Rose, pembunuh bayaran yang ditakuti dunia bawah tanah.
Dia adalah Adrian Virell, CEO dingin yang diam-diam merupakan pewaris dinasti mafia.
Lima tahun lalu, satu malam mempertemukan mereka tanpa nama dan tanpa janji.
Kini Black Rose kembali bersama seorang anak laki-laki bernama Noah.
Anak yang ternyata memiliki hubungan darah dengan sang CEO.
Namun Noah bukan anak biasa.
Di balik wajah polosnya, tersembunyi identitas lain yang bahkan tidak diketahui kedua orang tuanya.
Ketika masa lalu kembali memburu mereka, mampukah sang CEO melindungi pewaris yang selama lima tahun tidak pernah diketahuinya?
Dan sebenarnya...
siapa Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BLACK VAULT
Black Vault adalah sistem yang tidak bisa ditembus Noah, meski dia sudah mencoba dengan segala cara yang dia ketahui, dan bahkan beberapa cara yang dia ciptakan sendiri malam itu dalam keadaan terdesak.
Bukan hanya karena keamanannya yang luar biasa rumit, meski itu sendiri sudah cukup untuk membuat peretas dewasa paling berpengalaman menyerah dalam hitungan jam. Lapisan enkripsinya berlapis-lapis dengan cara yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, seperti labirin yang setiap kali dia berhasil menemukan jalan keluar dari satu bagian, muncul dinding baru yang belum pernah ada sebelumnya.
Sistem tersebut terasa seperti mengenali dirinya, sebuah perasaan yang sulit dijelaskan namun begitu nyata sehingga membuat bulu kuduk Noah berdiri di depan layar komputernya yang terang. Setiap kali dia mencoba pendekatan baru, sistem itu seolah sudah mengantisipasinya sebelum dia sempat menyelesaikan langkah pertamanya, mengubah pertahanannya dengan kecepatan yang mustahil dilakukan oleh sistem keamanan otomatis biasa.
Seolah-olah ada seseorang di sisi lain yang mengawasinya secara langsung, bukan program yang bekerja berdasarkan algoritma tetap, melainkan kecerdasan yang hidup, yang bereaksi terhadap setiap gerakannya seperti lawan catur yang sudah memperhitungkan sepuluh langkah ke depan.
Noah merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya, namun rasa takut itu justru bercampur dengan sesuatu yang lebih kuat: dorongan untuk terus mencoba, untuk membuktikan bahwa dia bisa menemukan celah yang belum pernah ditemukan siapa pun sebelumnya.
Selama hampir dua jam, dia bergerak melalui lapisan demi lapisan pertahanan, menggunakan setiap trik yang pernah dia pelajari, menggabungkan teknik-teknik yang biasanya tidak pernah dia gunakan bersamaan karena terlalu berisiko meninggalkan jejak. Beberapa kali dia hampir terlempar keluar oleh sistem pertahanan yang aktif, sebuah mekanisme yang seolah bisa mendeteksi kehadirannya bahkan sebelum dia menyentuh inti sistem.
Namun akhirnya, dengan kombinasi keberuntungan dan keahlian yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, Noah berhasil menembus satu celah kecil, sebuah folder terpencil yang sepertinya terlupakan di antara lapisan keamanan yang jauh lebih ketat di sekitarnya, seperti pintu belakang yang sengaja atau tidak sengaja dibiarkan tidak terkunci sempurna.
Di dalamnya terdapat sebuah simbol yang muncul sebagai gambar sederhana, sebuah ikon kecil yang digunakan sebagai penanda folder tersebut.
Mawar hitam.
Noah menatap gambar itu lama sekali, sesuatu di dalam dirinya terasa familiar meski dia tidak bisa langsung mengingat dari mana. Kemudian ingatan itu muncul dengan jelas: kalung kecil yang selalu disimpan ibunya di dalam kotak perhiasan tua, sebuah kalung yang tidak pernah dipakai ibunya namun juga tidak pernah dibuang, tersembunyi di dasar laci yang jarang dibuka.
Simbol yang sama dengan masa lalu ibunya.
Jantung Noah berdebar lebih kencang, kali ini bukan karena ketegangan menghadapi sistem keamanan, melainkan karena kebingungan yang perlahan berubah menjadi kecurigaan. Dia mencoba membuka folder itu lebih jauh, namun tepat saat kursor mendekati ikon tersebut, layar komputernya tiba-tiba menampilkan pesan peringatan berwarna merah, sistem menutup dirinya sendiri dengan cepat, dan koneksi yang dia gunakan terputus paksa dalam hitungan detik.
Noah duduk terpaku di depan layar yang kini gelap, napasnya masih terengah-engah dari ketegangan yang baru saja dia lalui. Dia tahu dia seharusnya panik, seharusnya segera menghapus semua jejak aktivitasnya malam itu, memastikan tidak ada yang bisa melacak kembali kepadanya.
Namun pikirannya terlalu dipenuhi oleh satu pertanyaan yang jauh lebih besar daripada rasa takut akan konsekuensi teknis: mengapa simbol yang sama dengan benda milik ibunya muncul di dalam sistem paling rahasia dan paling ditakuti di dunia maya?
Selama beberapa hari setelah kejadian itu, Noah menjadi lebih pendiam dari biasanya, menghabiskan waktu luangnya memperhatikan ibunya dengan cara yang berbeda, memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah dia sadari. Cara ibunya selalu duduk menghadap pintu di ruangan mana pun mereka berada. Cara ibunya bisa mendengar suara langkah kaki di lorong bahkan sebelum orang itu sampai di depan pintu. Cara matanya berubah waspada sesaat, hanya sesaat, setiap kali ada suara yang tidak dikenalinya di luar.
Dia mulai memperhatikan bekas luka kecil di lengan ibunya yang selama ini selalu dia anggap sebagai kecelakaan biasa dari masa muda, kini terlihat berbeda, lebih rapi, lebih presisi, seperti bekas dari sesuatu yang jauh lebih disengaja daripada kecelakaan.
Suatu malam, ketika mereka sedang makan malam sederhana di meja kecil apartemen mereka, Noah memberanikan diri bertanya, meski dia sudah menyiapkan pertanyaan itu dengan hati-hati selama berhari-hari.
"Bu, kalung mawar hitam yang di laci itu, dari mana asalnya?"
Althea, yang sedang menyuap makanannya, berhenti sejenak. Hanya sepersekian detik, namun cukup lama bagi Noah, yang sudah terlatih membaca detail sekecil apa pun berkat kebiasaannya menganalisis sistem, untuk menyadari bahwa pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang sensitif.
"Itu hanya perhiasan lama," jawab Althea akhirnya, suaranya terdengar normal namun terlalu hati-hati untuk benar-benar terdengar santai. "Kenapa kau bertanya?"
"Tidak apa-apa," jawab Noah cepat, memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaannya malam itu, meski rasa penasarannya justru semakin membesar.
Untuk pertama kalinya, Noah mulai curiga bahwa kehidupan ibunya tidak sesederhana yang selama ini dia pikirkan, bahwa di balik sosok ibu yang selalu bekerja keras, selalu waspada namun juga selalu penuh kasih sayang, tersimpan sebuah masa lalu yang jauh lebih rumit dan mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang pernah dia bayangkan.
Dan entah kenapa, meski dia tahu seharusnya merasa takut dengan kemungkinan itu, yang dia rasakan justru rasa penasaran yang semakin sulit dia tekan, sebuah dorongan untuk mencari tahu lebih jauh tentang siapa sebenarnya ibunya, dan mengapa simbol mawar hitam itu tampak begitu penting bagi dua dunia yang seharusnya tidak pernah bersinggungan.