Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Untukmu Rania

Sementara itu...

Di sebuah taman yang berada di area rumah sakit, Rania duduk di bangku panjang dengan sebuah paper bag kecil berada di pangkuannya.

Di dalamnya terdapat obat untuk mengatasi rasa mual dan beberapa vitamin yang diberikan dokter.

Sementara itu, Daffa berdiri beberapa langkah di hadapannya.

Tatapan pria itu tertuju kepada Rania dengan sorot penuh kasih.

Kemudian perlahan, Daffa menekuk satu lutut di hadapan wanita itu.

Tangannya meraih jemari Rania. "Rania, dokter bilang kandunganmu sehat."

Rania terdiam.

"Dan untuk matamu..." Daffa tersenyum tipis. "Dokter mengatakan kau masih membutuhkan waktu untuk bisa melihat dengan normal."

Rania mengangguk pelan.

"Itu kabar baik, bukan?" tanya Daffa.

"Iya," jawab Rania lirih.

Rania mencoba menarik tangannya dari genggaman Daffa.

Namun Daffa justru sedikit mempererat sentuhannya. "Jangan menghindar."

Rania terdiam, ia tidak ingin membuat keributan di tempat umum.

Daffa kemudian tersenyum. "Aku punya sesuatu untukmu."

Sebelum Rania sempat bertanya, Daffa mengambil sebuah benda kecil dari sakunya.

Kemudian, tanpa meminta izin, ia memasangkan sebuah cincin pada jari Rania.

Rania langsung tersentak. "Daffa, apa yang sedang kau lakukan?"

Tangannya segera bergerak hendak melepaskan cincin tersebut.

Namun Daffa menahannya. "Jangan."

Rania membeku.

"Cincin itu milikmu," ucap Daffa.

"Daffa..." Rania menggeleng pelan.

"Aku sudah lama menantikan waktu ini, Rania." Jelas Daffa.

Rania terdiam, entah mengapa, tubuhnya terasa lemas, bukan karena cincin itu berat.

Melainkan karena ada sesuatu dalam cara Daffa berbicara yang membuat dadanya terasa sesak.

Daffa mengusap perlahan punggung tangan Rania. "Kau harus mengetahui kebenaran tentang masa lalu kita."

Rania menggeleng. "Kebenaran apa?"

Daffa menatap wajahnya.

"Dulu, ketika kita berpisah..." Suaranya terdengar lebih berat. "Pamanmu menolak keras hubungan kita. Begitu juga ayahku."

Rania mengerutkan kening.

"Mereka sama sekali tidak mengizinkanku menikahimu," ucap Daffa.

Rania tidak menjawab.

"Karena saat itu..." Daffa berhenti sejenak. "Ada ikatan saudara tiri di antara kita."

Rania membeku. "Apa?"

"Ya." Daffa menggenggam tangannya lebih erat. "Itulah alasan mengapa kita dipisahkan, bertahun-tahun aku mencari mu, tapi paman menyembunyikan mu di Desa."

Rania menarik napas, selama bertahun-tahun, ia tidak pernah mengetahui alasan sebenarnya ia terpisah dari kakak tirinya yang baik selalu menjaga dirinya.

Daffa kemudian mengangkat tangan Rania dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.

Gerakan itu justru membuat Rania semakin terkejut, ia refleks mendorong dada Daffa.

Dorongan itu membuat Daffa kehilangan keseimbangan.

Bruk!

Tubuhnya terjerembap ke atas rumput hijau.

Namun Daffa sama sekali tidak marah, pria itu justru tertawa kecil sebelum bangkit.

Ia menepuk kedua telapak tangannya, membersihkan sisa debu dan rumput yang menempel.

Kemudian tatapannya kembali jatuh kepada Rania, wanita itu sedang berusaha mengatur napasnya.

Mungkin bukan karena dorongan tadi.

Melainkan karena keterkejutan setelah mendengar kebenaran yang selama ini disembunyikan keluarganya.

Daffa melangkah mendekat, ia berhenti tepat di hadapan Rania.

Kemudian membungkuk sedikit dan berbisik di dekat telinganya. "Mulai hari ini..."

Rania menegang.

"Kau bukan lagi Rania, istri Brian Aristama." Daffa tersenyum tipis. "Tapi kau adalah tunangan Tuan Daffa Anggara."

Rania menggeleng. "Tidak..."

"Kau dengar itu, Rania Almira." Nada suaranya terdengar datar dan tenang.

Rania mencoba mundur, namun Daffa lebih cepat. Pria itu mengangkat tubuh Rania dari bangku.

"Daffa!" Rania memberontak. "Turunkan aku!"

Daffa tetap berjalan. "Terimalah kenyataan." Suaranya terdengar dingin. "Aku tidak mau mendengar alasan apa pun darimu."

Rania terus mencoba melepaskan diri. Namun Daffa tidak bergeming.

"Karena..." Langkahnya terhenti sejenak, tatapannya jatuh kepada wajah Rania. "Aku hanya ingin melihat Raniaku bahagia."

Rania menatapnya dengan napas memburu.

"Pahami perasaanku, Rania," ucap Daffa.

Tanpa sadar, tangan Rania memukul dada Daffa.

Sekali.

Kemudian sekali lagi.

Namun ketika tenaganya mulai melemah, jemarinya justru mencengkeram kemeja pria itu hingga menimbulkan beberapa lipatan kecil.

Daffa tidak marah, ia hanya menatap Rania, tatapan pria itu justru semakin dalam.

Kemudian, tanpa mengatakan apa pun lagi, Daffa membawa Rania meninggalkan taman rumah sakit.

Mobil hitamnya sudah terparkir tidak jauh dari sana.

Sementara Rania hanya bisa diam dalam pelukan pria itu.

Pikirannya kacau.

Cincin di jarinya terasa begitu asing.

Pengakuan Daffa mengenai masa lalu mereka terus terngiang di kepalanya.

Dan satu hal yang paling membuat hatinya sesak...

Daffa baru saja mengatakan bahwa dirinya bukan lagi istri Brian.

Padahal...

Di dalam hatinya, Rania sendiri belum pernah benar-benar berhasil meninggalkan pria itu.

Daffa membuka pintu mobil.

Namun sebelum memasukkan Rania ke dalam, ia kembali berbisik. "Mulai sekarang, Rania... jangan lagi melihat ke belakang."

Rania menundukkan wajah, namun di dalam pikirannya, satu nama yang kembali muncul.

Brian Aristama.

Dan untuk pertama kalinya...

Rania mulai bertanya-tanya apakah keputusan meninggalkan pria itu benar-benar merupakan keputusan yang tepat.

Dan tanpa Rania dan Daffa tahu, rencana Brian sudah mulai bergerak siang itu.

Nama Rania Almira perlahan naik di angkat media, medsos dan stasiun televisi.

Apa yang di rencanakan Brian?

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!