Indonesia
NovelToon NovelToon
Terlalu Tinggi Untuk Kamu Gapai

Terlalu Tinggi Untuk Kamu Gapai

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Cintapertama / Tamat
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: Kacang atoom

Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Luka di Luar dan di Dalam

​Interior mobil Maybach hitam itu terasa begitu hening dan kedap udara, seolah-olah seluruh hiruk-pikuk kota Jakarta di luar sana dienyapkan secara paksa.

Hanya hembusan pendingin udara yang terdengar konstan, membawa aroma kayu cendana murni yang menenangkan namun sarat akan keheningan yang menekan.

Siska duduk menciut di sudut kursi kulit yang sangat empuk, merapatkan tubuhnya seakan berusaha menghilang di balik kegelapan kabin mobil mewah tersebut.

​Di sampingnya, Rendy Adhitama duduk tegak. Sorot matanya lurus menatap ke depan, memperlihatkan rahangnya yang tegas dan tak tersentuh oleh emosi apa pun. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, tidak pula ada tatapan benci—hanya ada ketenangan yang dingin bagaikan benteng es yang tak mungkin lagi ditembus.

​Tiba-tiba, Rendy menjangkau kotak P3K khusus yang tersimpan rapi di konsol tengah mobil. Ia membukanya tanpa bersuara, mengeluarkan sebotol cairan antiseptik, kapas steril, dan gulungan perban medis yang baru.

​"Ulurkan tanganmu," perintah Rendy. Suaranya terdengar sangat datar, rendah, dan tanpa intonasi—sebuah instruksi singkat yang lebih mirip titah ketimbang tawaran.

​Siska tertegun sejenak. Dengan bibir yang gemetar dan mata yang masih sembab oleh sisa air mata, ia perlahan mengulurkan tangan kanannya. Pergelangan tangan yang halus itu kini dihiasi lebam kemerahan yang mengerikan—luka akibat cengkeraman kasar jemari Danang saat memaksanya di basement tadi.

​Rendy meraih jemari Siska. Sentuhan tangannya terasa hangat, kokoh, dan begitu hati-hati. Dengan gerakan yang teramat lembut—gerakan yang sangat bertolak belakang dengan raut wajahnya yang dingin—Rendy meneteskan cairan antiseptik ke atas kapas, lalu mengusapkannya perlahan ke atas luka memar Siska.

​"Aww..." Siska meringis pelan saat rasa perih menusuk kulitnya yang lebam.

​Namun, Rendy tidak menghentikan gerakannya. Ia

tetap membalut luka itu dengan presisi seorang profesional, memastikan gulungan perban melapisi pergelangan tangan Siska dengan sempurna tanpa menekan bagian yang sakit. Ketulusan dalam tindakannya begitu terasa, seolah jemarinya masih mengingat bagaimana cara menjaga wanita di depannya dengan sepenuh hati.

​Tetapi, tatapan mata Rendy tetap terkunci rapat pada tugasnya, tak sekalipun terangkat untuk menatap wajah Siska.

​"Jangan salah paham, Siska," ujar Rendy pelan saat ia mengikat ujung perban tersebut. Suaranya jernih, namun kata-katanya menghantam dada Siska dengan ketajaman yang melumpuhkan.

"Saya mengobati lukamu bukan karena saya masih memiliki perasaan padamu. Saya hanya tidak ingin asisten pribadi saya terlihat menyedihkan dan cacat di depan para staf Menara Adhitama besok pagi."

​Siska meresapi setiap suku kata yang keluar dari bibir pria itu. Rasanya jauh lebih menyakitkan daripada pukulan Danang atau rasa perih dari cairan antiseptik di kulitnya.

​"Rendy..." bisik Siska dengan suara yang sangat pecah dan serak, mencoba mencari secercah kehangatan yang dulu pernah menjadi milik penuh dirinya.

"Kenapa... kenapa kamu masih menolongku? Aku sudah jahat padamu... Aku bahkan hampir—"

​"Tugasmu hanya bekerja dan mematuhi perjanjian," potong Rendy tajam tanpa membiarkan Siska menyelesaikan kalimatnya. Ia menutup kembali kotak P3K dengan bunyi klik yang tegas, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memalingkan wajahnya menatap keluar jendela mobil yang gelap.

"Masalah Danang dan utang keluargamu adalah urusan bisnis. Jangan pernah mengira bahwa kebaikan fisik yang saya berikan malam ini adalah pintu untuk kamu kembali ke masa lalu."

​Rendy mengalihkan pandangannya sepenuhnya, membiarkan jarak di antara mereka berdua membentang sejauh samudra yang tak bertepi.

​Air mata Siska akhirnya pecah kembali, menetes deras tanpa suara membasahi gaun pelayan yang kotor dan perban baru di tangannya. Di dalam kabin mobil yang mewah dan hangat itu, Siska menyadari kenyataan yang paling mengerikan dalam hidupnya: kebaikan Rendy yang dulu begitu hangat dan mudah ia jangkau, kini telah berubah menjadi sebuah batasan tak terlihat yang sangat dingin.

Pria di sampingnya memang menyelamatkan tubuhnya dari kehancuran, namun hatinya telah sepenuhnya tertutup rapat, menyisakan Siska yang terkunci di luar—meratapi penyesalan abadi yang tak akan pernah bisa ia perbaiki lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!